
“Maaf Git! Tangan kamu masih sakit ya?” tanya Zico sambil mengusap lembut pergelangan tangan Gita. Ia melanjutkan menunjuk ke sudut kamarnya, “Disana ada kotak p3k, tolong ambilkan, aku obati dulu tangan kamu, nanti baru kamu pulang ya, sambil menunggu Sean sampai.”
“Aku nggak enak Zico kalau dikamar kamu lama-lama, rasanya nggak pantas kalau kita berduaan didalam kamar kaya gini.” Tolak Gita.
“Ya udah aku minta Mommy memanggilkan dokter kesini aja ya? Gimana?” Tanya Zico tapi lebih terdengar seperti mengancam.
“Enggak enggak! Jangan! ini cuma sakit sedikit kok, besok juga sembuh, nggak perlu sampai panggil dokter segala Zi.” Tolak Gita lagi.
“Makanya sini aku obati aja pakai obat yang ada di kotak p3k itu, cepat ambilkan.” Pinta Zico.
“hmmmph.. Baiklah.” Gerutu Gita, ia segera mengambilkan kotak p3k dan memberikannya pada Zico.
“Sini duduk.” Zico tersenyum mempersilahkan Gita duduk disampingnya.
Gita pun duduk disamping Zico. Ia membuka kotak p3k nya dan mencoba mengobati luka nya sendiri.
“Sini aku aja yang olesin obatnya.” Zico mengambil obatnya dan mengoleskannya pada pergelangan tangan Gita dan meniupnya dengan lembut.
Gita merasa sangat nyaman diperlakukan seperti ini oleh Zico, tanpa sadar ia memandangi wajah Zico yang sedang meniup pergelangan tangannya.
Zico pun merasa sedang diperhatikan oleh Gita, manik matanya melirik Gita, Gita membuang muka nya, ia malu saat sadar dirinya ketahuan sedang memandang Zico.
Zico hanya tersenyum melihat Gita yang sedang malu-malu, ia selalu merasa gemas pada Gita yang sedang tersipu malu.
Andaikan Gita sudah jadi kekasihnya, mungkin ia akan segera memeluk Gita.
“Git, aku boleh minta tolong?” Tanya Zico.
“Minta tolong apa? Kamu butuh apa?” Sahut Gita.
“Aku haus.” Sahut Zico lagi.
“Oh kamu mau minum? Baiklah, aku ambilkan ya, tunggu sebentar.” Gita segera mengambilkan Zico minum di dispenser yang ada disudut kamar Zico.
Zico segera mengirim pesan pada Sean untuk mengambilkan mobilnya di restoran tempat ia lunch tadi dengan Gita.
Tadi ia berbohong pada Gita kalau ia sudah mengirim pesan pada Sean, padahal belum sama sekali ia membuka ponselnya sejak direstoran tadi.
Zico : {Sean, Tolong Ambil mobil gue di restoran Riccio ya!}
Sean : {Lho? Bukannya lo tadi kesitu sama Gita? Kok bisa mobilnya lo tinggal? Lo naik bus lagi sama dia?}
Zico : {Udah bawel, lo cepetan ambil mobil terus ke rumah gue aja dulu, tar juga lo tau.}
__ADS_1
Sean : {Okay Brother!}
Sean mempunyai cadangan kunci remote mobil Zico, karna Zico memang sering meminta tolong seperti ini padanya.
Gita menghampiri Zico memberinya gelas yang berisi air putih hangat.
“Ini Zico, aku isi gelasnya dengan air hangat biar tubuh kamu nanti relax istirahatnya.”
“Baik dokter Gita!” Sahut Zico sambil tersenyum menggoda Gita.
“ih kamu apa sih? Kok panggil aku begitu?”
“Lho? Memang aku salah ya? Kata anak-anak disekolah kamu mau jadi dokter.”
“Enggak salah sih, emang cita-cita aku jadi dokter, tapi tergantung nilai aku, aku harus dapat beasiswa agar aku bisa masuk fakultas kedokteran gratis, karna kan kamu tau sendiri biayanya nggak sedikit kan, aku nggak mau menyusahkan Ibu aku, kalau aku nggak dapat beasiswa ya aku nggak akan kuliah kedokteran.” Imbuh Gita.
“Ooh! Terus kamu gimana mau belajar dong kalau kamu harus kesini setiap hari? Aku akan minta Mommy deh untuk membatalkan syaratnya yang tadi.” Tutur Zico.
“Jangan Zico, enggak apa-apa kok, nanti aku kan bisa sambil belajar disini.”
“Okay.” Zico menganggukan kepalanya.
“Oh iya Zico, kamu kan tadi di restoran belum sempat makan, tadi sebelum kita pulang aku lihat makanan kamu masih utuh, apa tadi itu kamu nggak lapar?” Tanya Gita khawatir.
“Lapar sih, cuma tadi aku udah terlanjur badmood sama kamu, laparnya jadi hilang.” Zico senang sekali menggoda Gita seperti ini.
“Iya aku maafin, tapi kamu janji ya jangan pernah mikir kalau aku tuh playboy, aku nggak suka, kalau kamu nggak percaya tanya aja sama temen-temen aku, mereka tahu betul kok aku seperti apa sama cewek-cewek lain.” Imbuh Zico.
“Iya iya maaf.” Gita mengerucutkan bibirnya.
Zico hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya dan ia mencubit pelan pipi Gita, membuat Gita tersenyum malu sambil memegang pipi yang habis disentuh Zico.
“Oh iya, kamu bilang kan lapar, terus kamu mau makan gak? Biar aku ke dapur cariin makanan buat kamu, atau kamu mau aku masakin sesuatu nggak?” tawar Gita.
“Hah??? Memang kamu bisa masak?” Tanya Zico sedikit terkejut, ia tak menyangka kalau Gita bisa memasak.
“Ya lumayan sih, enggak jago-jago banget, tapi… masih bisa dimakan lah.. hehe..” Gita menunjukkan barisan gigi putihnya. Ia melanjutkan, “Aku kan sudah biasa dirumah sendirian Zico, jadi kalau Ibu kerja ya aku masak sendiri.”
“Ooh.. ya udah, gimana kalo kamu masakin aku nasi goreng aja?” tanya Zico antusias, ia ingin sekali mencoba masakan gadis pujaan hatinya itu, ia sangat bahagia karena Gita perhatian seperti ini kepadanya.
“Okay! Eh tapi… apa aku boleh masak didapur kamu?” Gita sadar ia ada di rumah Zico, apa mungkin ia boleh menyentuh dapurnya yang mewah itu, pikir Gita.
“Boleh lah, masa cuma mau masak aja nggak boleh, nanti aku minta Bu Wati temenin kamu masak ya?”
__ADS_1
“Iih jangan dong! Aku nanti gugup kalau masaknya diliatin.” Tolak Gita.
“Ahahahaha… kamu tuh lucu banget sih, masa uma masak diliatin aja gugup, apa perlu aku yang temenin kamu masak?” Tawar Zico.
“Jangan donk! Diliatin Bu Wati aja aku gugup, Apalagi diliatin kam…..” Gita menghentikan perkataannya, ia membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
“Hayooo… kenapa berhenti ngomong? Kamu mau bilang apalagi kalo diliatin aku kan? “ Goda Zico dengan senyum mengejek.
“Huh Pede banget!” gerutu Gita.
Zico hanya tersenyum melihat Gita cemberut seperti itu, lalu ia ingin menanyakan suatu hal padanya.
“Oya Gita, aku mau tanya boleh?”
“Tanya apa?”
“Kamu tuh sebenernya suka juga gak sih sama aku?”
“Uhukk..uhukkk..” Gita terkejut dengan pertanyaan Zico, ia tersedak salivanya sendiri.
Zico yang menyadari Gita tersedak memberinya air yang tadi diberikan Gita kepadanya.
“Ini minum!” Zico menepuk-nepuk pelan punggung Gita.
Gita segera meminumnya hingga tandas.
Melihat itu Zico tersenyum.
Gita mengerucutkan bibirnya lagi, merasa diejek oleh Zico. “Kenapa kamu senyum-senyum gitu?”
“Kamu haus?” bukannya menjawab pertanyaan Gita, ia malah bertanya balik.
“hah?” Gita bingung dan refleks melihat air didalam gelas yang dipegangnya sudah tandas.
“Kamu itu lucu banget sih? Ditanya suka apa enggak sama aku aja sampe tersedak begitu.” Zico mencubit kedua pipi Gita agak kencang, ia sangat gemas pada Gita, kalau Gita sudah jadi pacarnya pasti sudah ia peluk saking gemasnya.
Gita hanya diam tidak menjawab apapun, Zico bertanya lagi, “terus gimana jawaban kamu?”
Gita menyatukan alisnya, “Lho??? Kan kamu sendiri yang bilang aku gak perlu jawab cepet-cepet.”
“Oh iya ya..” Zico lupa kalau ia sendiri yang bilang kepada Gita untuk tidak cepat-cepat menjawabnya.
“Aku cuma pengen tahu aja Git, sebenernya perasaan kamu ke aku tuh gimana? Soalnya kamu tuh suka berubah-ubah, kadang terlihat nyaman sama aku, kadang juga seperti benci sama aku.”
__ADS_1
“Aku nggak pernah benci sama kamu kok!” Jawab Gita cepat, ia tidak mau Zico salah paham padanya.
Zico yang mendengar jawaban Gita malah menggodanya, “Kalau nggak benci berarti suka dong?”