
“Kalau Mommy sih dari awal juga udah aku kasih tahu.” Zico menjawab dengan entengnya, padahal Gita selama ini mengira Mommy tidak tahu hubungan mereka.
“ih ngeselin! kok kamu nggak bilang-bilang sih kalau Mommy udah tau?!” Gita memukul pelan paha Zico.
“Hehehe…” Zico hanya nyengir kuda.
Satu bulan menjalani hubungan dengan Zico, Gita menjadi tahu lebih banyak tentang pribadi Zico yang sebenarnya, di mata Gita, Zico adalah sosok pria yang sangat perhatian dan pengertian, hanya satu hal saja yang menyebalkan dari Zico, sifat cemburunya yang terlalu, hanya melihat Gita sedang berbicara dengan Vino saja membuat Zico marah.
Zico pun meminta Gita memanggil panggilan 'Sayang' sesuai dengan janjinya.
“Sayang, coba panggil aku sayang juga.” Pinta Zico.
“enggak ah!” Jawab Gita malu-malu.
“Ayo cepetan bilang nggak, kalau nggak aku pulang nih?” ancam Zico.
“Jangan dong! Aku jenuh sendirian dirumah!” keluh Gita.
“Ya udah cepetan bilang sayang dulu!” Zico memaksa.
“Nggak mau!” tolak Gita.
“Dih kok gitu sih? Kamu nggak sayang sama aku ya?” gerutu Zico.
“Kalau nggak sayang ngapain aku mau pacaran sama kamu.” Sahut Gita.
“Terus kenapa berat banget sih bilang sayang doang? emang sesulit itu untuk kamu panggil aku sayang?”
“Aku cuma belum siap aja Zico. Nanti ya, kalau aku sudah siap aku akan turuti maunya kamu.”
“Okay.” Zico menurut saja, ia malas kalau harus berdebat dengan Gita, ia tak sanggup kalau sudah di acuhkan oleh Gita.
***
3 bulan pun berlalu…
Mereka pun menjalani hari-hari mereka dengan belajar bersama, ngedate, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.
Saat itu seperti biasa setiap pulang sekolah Zico selalu mengantar Gita pulang ke apartemennya, seringnya mereka jalan dulu, entah itu untuk makan diluar, jalan-jalan di mall ataupun sekedar nonton di bioskop, tetapi karena hari ini Zico ada pertandingan basket dengan sekolah lain, dan Gita tidak bisa ikut untuk melihat pertandingannya karena dia sedang datang bulan dan perutnya sakit, jadi Zico lebih memilih untuk mengantarnya pulang, bahkan ia mengantarnya sampai masuk ke rumahnya, tapi pada saat Gita masuk tiba-tiba ia berteriak.
__ADS_1
“Ibu!!!” Jerit Gita, ia shock melihat Ibu nya yang sudah tidak sadarkan diri tergeletak di lantai diruang keluarga mereka.
Zico yang sedang membuka sepatu pun terkejut mendengar teriakkan Gita, ia bergegas menghampiri Gita dan Ibunya, mereka sangat panik melihat Sophia seperti itu, Zico menghela nafas dengan berat, “Ayo kita bawa ke rumah sakit!”
Zico pun segera menggendong Sophia di punggungnya, Gita menjaganya dari belakang agar Ibunya tidak terjatuh, Zico setengah berlari begitupun dengan Gita, mereka membawa Sophia ke rumah sakit menggunakan mobil Zico.
Untung saja belakangan ini Zico selalu memakai mobil Audi E-Tron Sportback yang memiliki 4 kursi penumpang atas permintaan Gita, karena Gita sangat malu dan merasa tidak nyaman ketika dia menjadi pusat perhatian orang-orang ketika melihat mobil Aston Martin Vantage milik Zico, jadi Gita meminta Zico untuk menggunakan mobil yang sederhana saja, dan hanya mobil Audi E-Tron Sportback inilah mobil termurah yang dimiliki Zico.
Setelah mereka tiba di rumah sakit, Sophia segera dibawa ke IGD, dokter segera mengambil tindakan, sementara mereka berdua menunggu di depan ruang IGD.
Melihat Gita yang terus menangis Zico melepaskan jaketnya dan memakaikannya di punggung Gita, ia merangkul Gita sembari menepuk bahunya menenangkan Gita yang terus menangis.
“Jangan khawatir sayang, Ibu kamu pasti baik-baik aja kok.” Ucap Zico.
“hiks hiks hiks.. Selama ini aku hanya tau Ibu baik-baik saja Zico, tetapi tiba-tiba ibu seperti ini sekarang, pasti Ibu terlalu lelah bekerja, hanya demi memenuhi kehidupan kami berdua, ini salah aku Zico karena sudah menjadi beban untuk Ibu.” Gita mengungkapkan perasaan bersalahnya kepada Zico.
Lalu Zico menyandarkan kepala Gita di bahunya, mengelus rambutnya dan mencium pucuk kepala Gita.
“Aku ngerti perasaan kamu, tapi kamu nggak salah apa-apa sayang, Ibu kamu hanya mencoba memenuhi tanggung jawabnya untuk menafkahi kamu, jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini ya.” Ucap Zico.
Gita hanya terdiam dengan air matanya yang tak henti mengalir.
“Bagaimana keadaan Ibuku dok? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Gita sangat cemas.
“Sepertinya untuk benar-benar memastikan diagnosanya, Bu Sophia harus melakukan CT Scan, silahkan konfirmasi ke bagian pendaftaran jika setuju kalau kami melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.” Jawab dokter.
“Baiklah, Terimakasih dokter Ryan.” Ucap Zico sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan dokter Ryan kebetulan ia kenal dengan dokter itu, karena Pamannya Daniel William adalah direktur rumah sakit ini, dr.Daniel adalah adik dari Austin William Daddy nya Zico.
“Kamu segera temui Ibu kamu, aku akan ke bagian pendaftaran untuk mengurus semuanya agar dokter bisa segera melakukan CT scan.” Terang Zico kepada Gita sambil menghapus air mata Gita.
“Baiklah, Makasih Zico, maaf ya udah merepotkan kamu.” Jawab Gita menunduk.
Zico tersenyum dan membelai rambut Gita, “Nggak kok, aku sama sekali nggak merasa direpotkan. Kamu tenangkan diri kamu, jangan memperlihatkan sedih kamu didepan Ibu, agar Ibu cepat pulih, okay?”
Gita hanya mengangguk dan segera menghampiri Ibunya, sedangkan Zico berjalan cepat menuju bagian pendaftaran, dan mengurus semua biayanya di kasir.
Saat Gita masuk Ibu nya sudah terbangun, Gita segera memeluk Ibunya yang sedang terbaring di brankar “Ibu, maafin aku sudah menyusahkan, Ibu pasti terlalu lelah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.” Ucap Gita pada ibunya sembari memegang tangan ibunya dan meletakkannya di pipinya.
Dengan lemah ibunya tersenyum menenangkan Gita, “Ibu nggak apa-apa sayang, Ibu hanya sedikit nggak enak badan aja kok.”
__ADS_1
“Sedikit apanya bu? Kalo sakitnya sedikit nggak mungkin Ibu sampai pingsan begitu.” Sahut Gita.
Sophia hanya tersenyum menutupi rasa sakit yang dirasakannya.
Setelah Zico menyelesaikan administrasi nya para perawat segera memindahkan Sophia ke ruang VIP di rumah sakit tersebut.
Gita dan Sophia terkejut bisa berada di ruangan VIP tersebut.
‘Pasti Zico’ pikir Gita dalam benaknya.
Baru saja Sophia akan menanyakan perihal kamar tersebut kepada putri kesayangannya.
Tiba-tiba Zico masuk ke ruangan VIP tersebut.
“Permisi…” Ucap Zico dengan sopan sembari masuk ke ruangan itu, dan memberi menunjukkan rasa hormatnya dengan mencium punggung tangan Sophia .
“Siapa?” Jawab Sophia sambil melirik ke arah Gita.
“Ehh.. ini.. Zico teman aku yang waktu itu menolong aku bu.” Jawab Gita gugup sambil melirik Zico.
‘What's? Teman?..hmmm’ pikir Zico dalam benaknya.
“Iya tante, saya temannya Gita yang waktu itu pernah datang ke rumah tante pagi-pagi.” Ucap Zico sambil tersenyum kepada Sophia dan melirik tajam pada Gita.
“Bagaimana keadaan tante? Apa sudah merasa lebih baik tan?” Tanya Zico dengan ramah.
“Oh iya Ibu ingat... sudah... Ibu sudah merasa lebih baik kok.” Jawab Sophia dengan senyumnya yang anggun.
Sophia memang seorang wanita yang anggun dan ramah, walaupun usia nya sudah kepala empat tetapi wajah dan tubuhnya masih terlihat seperti umur 30an.
“Syukurlah.” Ucap Zico tersenyum.
“Duduklah nak Zico.” Perintah Sophia mempersilahkan duduk.
“Baik tante.”jawab Zico.
Gita masih duduk kaku ditempatnya duduk, dia merasa bersalah pada Zico karena hanya memperkenalkannya kepada Ibunya dengan status teman.
__ADS_1