
“Hei Git!” Zico yang melihat Gita melamun melambaikan pelan telapak tangannya di depan wajah Gita.
Gita yang menyadarinya seketika menatap Zico.
“i.. iya Zico, kenapa?” ia malah bertanya.
“Kok kamu malah melamun? Ayo dimakan.” Tegur Zico.
“Iya, Maaf.” Gita tersenyum malu.
Mereka pun menyantap makanannya, saat Gita sedang menyantap makanannya, disudut bibirnya ada saus steak, Zico yang melihat itu refleks menghapus saus itu dengan ibu jarinya.
Gita terkejut, ia pun refleks membersihkan mulutnya dengan serbet yang disediakan di meja itu.
Zico yang melihat itu pun hanya tersenyum.
“Kenapa?” Gita melihat Zico memperhatikannya sambil senyum-senyum.
“Enggak apa-apa, aku cuma seneng aku bisa ngedate seperti ini sama kamu.” Jawab Zico yang membuat Gita terdiam menunduk.
“Zico, apa kamu nggak malu jalan sama aku?” Tanya Gita yang tidak bisa menatap Zico, ia bertanya tapi dengan masih kepalanya yang menunduk.
Zico menghembuskan nafasnya agak kasar, ia sedikit kesal melihat Gita yang selalu insecure seperti itu.
“Gita, memang menurut kamu kenapa aku harus malu jalan sama kamu? Memangnya kamu kenapa?” Zico malah bertanya balik dengan wajah dinginnya.
“Yaaa.. aku kan…” Gita tidak bisa melanjutkan perkataanya saat melihat ekspresi dingin di wajah Zico, ia hanya melipat bibirnya, ia teringat kata-kata Zico kemarin tentang semua manusia sama di mata Tuhan.
“Kamu masih ingat kan apa yang aku bilang kemarin?.” Tanya Zico lagi.
“Bu.. bukan itu maksud aku Zico.” Kilah Gita.
“Lalu apa?”
__ADS_1
“Mmmm… Udahlah nggak usah dibahas.” Gita bingung mau bicara apa.
Zico memegang tangan Gita, iya usap lembut punggung tangan Gita dengan ibu jarinya.
“Gita, kamu nggak perlu insecure seperti itu, apa kamu tahu? Aku malah sering merasa kamu jaga jarak sama aku kemarin karna kamu nggak suka sama aku, aku berpikir... apa mungkin kamu menyukai cowok yang pintar nya sama seperti kamu.”
“Enggak kok, aku nggak pernah ada mikir seperti itu.” Kilah Gita.
“Nah! makanya kamu jangan pernah insecure, aku tuh justru akan sangat bangga dan merasa jadi cowok yang paling beruntung kalau aku bisa punya pacar seperti kamu, udah cantik pintar pula.”
“Ah kamu gombal banget.” Gita mengerucutkan bibirnya, menutupi perasaanya yang sedang berbunga-bunga.
Zico tertawa kecil, “Lho kok gombal? Aku serius Gita.” Jawab Zico dengan tatapan mencoba menyakinkan Gita.
“hmmm..” Gita mendengus sambil membuang pandangannya, ia melanjutkan, “Pasti udah banyak cewek yang kamu gombalin!”
“Git, emang pikir kamu, aku tuh bersikap seperti ini sama semua cewek?” Zico tiba-tiba memasang wajah dinginnya.
“Lho? Memang iya kan?” Jawab Gita tanpa merasa berdosa sudah menganggap Zico seperti laki-laki buaya darat, karena sejujurnya ia tak percaya laki-laki setampan Zico tidak pernah pacaran.
“Yaaaa.. disekolah sih enggak, tapi kan aku nggak tau kalau diluar.” Gita masih saja menyudutkan Zico.
“Ya ampun Gita, seburuk itu aku ya dimata kamu? Terserah kamu deh!” Zico benar-benar marah, tidak ada lagi lengkungan disudut bibirnya, hanya memasang ekspresi dingin.
Gita baru menyadari ekspresi Zico, Gita benar-benar takut pada Zico yang dingin seperti ini. Ia mencoba menaklukan Zico.
“Zico, kamu marah ya? Maaf ya?” Gita menyadari kesalahannya, ia meminta maaf sembari menarik pelan ujung jari kelingking Zico.
Zico masih diam saja dengan pandangannya ke arah lain, walaupun sebenarnya jantungnya berdetak tak karuan, karna baru kali ini Gita menyentuh tangannya lebih dulu walaupun hanya sekedar ujung jari kelingking.
“Zico...” Gita menatap Zico wajahnya sangat memelas saat ini, ia benar-benar merasa bersalah sudah menyudutkan Zico seperti itu. Karna melihat Zico tidak merespon sama sekali, Ia melanjutkan, “Zico, aku benar-benar minta maaf udah buat kamu tersinggung dengan perkataan aku tadi, maaf kalau aku udah salah paham sama kamu.”
Melihat Zico masih tak merespon, Gita merasa kesal, ia pun melepaskan tangannya dan menundukkan kepalanya seperti biasa.
__ADS_1
Suasana makan siang mereka menjadi hening, mereka hanya sama-sama diam, padahal makanan mereka pun belum selesai di santap.
Zico akhirnya memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran, ia mengeluarkan kartu debitnya dan memberikannya kepada pelayan.
Setelah pelayan mengantarkan kembali kartu milik Zico, Zico berdiri hendak mengajak Gita pulang.
“Ayo pulang.” Ajak Zico masih dengan ekpresi dingin diwajahnya.
Gita pun hanya berdiri saja mengikuti Zico dibelakangnya sambil menunduk.
Saat di lobby restoran itu, Gita tiba-tiba menarik ujung sweater Zico.
“Zico!” panggil Gita.
“Hmmm..” Jawab Zico singkat dengan acuh tak acuh.
“Aku mau pulang naik bus aja ya, Makasih makan siangnya.” Gita membungkukkan badannya sedikit dan hendak pergi melangkahkan kakinya.
“Aauuww!!!” Pekik Gita. Langkahnya tiba-tiba terhenti karna Zico yang sedang emosi menarik pergelangan tangannya agak keras, membuat Gita memekik karna merasakan sakit.
“Kamu kenapa Gita?!” Zico terkejut melihat Gita kesakitan, ia tidak menyadari kalau dirinya lah yang membuat Gita kesakitan, karna sedang emosi ia tidak menyadari kalau ia terlalu kencang saat menarik tangan Gita.
“Tangan aku sakit! Lepasin tangan aku!” Teriak Gita, Kali ini Gita yang marah pada Zico.
“Maaf Git maaf!” Zico memegang sebelah bahu Gita dan satu tangan lainnya menggenggam tangan Gita, ia terlihat sangat cemas, ia merasa sangat bersalah karena tanpa disadari telah bertindak kasar kepada Gita sampai Gita kesakitan seperti itu. Ia melanjutkan, “Maafin aku Git, aku enggak sadar karna aku emosi tadi, aku nggak mau kamu pulang sendirian, aku antar kamu pulang ya?” Pinta Zico.
“Aku bisa pulang sendiri!” Gita bergegas melangkahkan kakinya keluar dari restoran menuju ke halte bus, ia berlari dengan perasaan kesal, ia tidak melihat sekitar ketika hendak menyebrang menuju halte bus.
Disaat Zico mengejar Gita, ia melihat ada sepeda motor kurir pembawa paket yang sedang mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
“Aaaaaa!!!” Gita terkejut karna tiba-tiba Zico memeluknya dan membawanya berlari ke tepi jalan.
Beruntung Zico juga sedang berlari mengikutinya, Zico yang menyadari kalau Gita akan tertabrak pengendara sepeda motor itu bergegas berlari memeluk Gita dan membawa Gita ke tepi jalan.
__ADS_1
Sayangnya kaki Zico malah terkilir dan mereka berdua pun terjatuh, Zico berada dibawah Gita, mereka saling menatap, jantung mereka pun berdetak tak karuan, Saat menyadari nya Gita seketika berdiri, Gita aman tidak terluka sama sekali, sedangkan Zico terluka dibagian tangan karna terkena aspal, dan kakinya yang terkilir.
“Aauwwww!” Zico kesakitan karna kakinya yang terkilir saat hendak berdiri.