First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Menagih Janji


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Zayn membuat Zico tersenyum, rupanya sang putra sangat peka pada perasaannya. Masih kecil tapi ia sudah bisa mempedulikan perasaannya. Zico membelai sebelah pipi sang putra.


"Nggak, Sayang. Daddy nggak akan marah."


"Okay, Daddy," Zayn terlihat antusias. Walaupun ia tidak terlalu lengket pada Kenzo, namun tetap saja, tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama membuat dirinya merindukan Kenzo. Karena dulu saat di Paris setiap harinya mereka selalu bertemu dengan Kenzo. Entah itu saat diantar ataupun dijemput sekolah.


Akan tetapi, setelah dua bulan tinggal di negara kelahiran sang mommy dan daddy-nya, mereka malah jarang sekali bertemu dengan Kenzo. Karena Kenzo sedang mengurus bisnisnya di Paris satu bulan belakangan ini. Oleh karena itu saat Zico mengalami kecelakaan Kenzo tidak menjenguknya sama sekali. Karena memang ia sedang mengurus bisnisnya yang sedang mengalami beberapa masalah di sana.


Begitu pun juga Alex, Alex memboyong Nadhira serta sang putra tinggal di negeri gingseng, karena perusahaan sang ayah yang membuka cabang di sana.


Setelah kedua buah hatinya setuju untuk bertemu dengan Kenzo, Zico menelpon Kenzo.


"Hallo, Ken!" sapa Zico.


(Iya, Zi. Kenapa?) sahut Kenzo to the point. Karena memang seperti itu lah Kenzo.


"Ken, Lo udah balik Indo, 'kan?"


(Iya, gue baru sampe tadi pagi, kenapa, Zi?)


"Ini, Zefa nangis mau ketemu lo, apa lo ada waktu buat ketemu anak-anak?"


(Tapi gue nggak bisa ke sana, Zi. Jam tiga sore gue ada meeting penting.)


"Gue sama anak-anak aja yang ke kantor lo. Kita ketemu di cafe samping kantor lo, ya? Gimana?"


(Okay!)


"Ya udah gue jalan sekarang ya, Ken."


(Yaps!) sahut Kenzo kemudian mengakhiri panggilannya.


Setelah mengakhiri panggilannya, Zico menghampiri Gita ke ruangan di mana Gita sedang melakukan treatment.


Tok... Tok... Tok...


"Sayang! Aku boleh masuk?" tanya Zico dari balik pintu.


Untung saja Gita hanya sedang di massage bagian betisnya, jadi tubuhnya tidak terlalu terbuka.


"Mbak, minta tolong bukain pintunya, ya," Gita meminta tolong dengan begitu ramah pada salah satu ahli terapis.


"Baik, Nona," sahut salah satu ahli terapis itu. Ia pun membukakan pintunya.


Zico menghampiri Gita yang sedang tengkurap, "Sayang, gimana? Enak di massage?" tanya Zico tersenyum lembut sambil membungkukkan tubuhnya menatap wajah Gita yang sedang memejamkan matanya menikmati pijatan dari ahlinya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kamu kenapa ke sini? Nggak mungkin kan kamu ke sini cuma untuk menanyakan hal itu?" tanya Gita yang baru membuka matanya.


"Hehe, kamu tau aja," sahut Zico mencolek ujung hidung mancung Gita.


"Aku sama anak-anak mau ketemu Kenzo dulu, Sayang. Nggak apa-apa kan kamu aku tinggal?" pamit Zico.


"Kenzo?" Gita seketika mengangkat kepalanya. "Emang Kenzo ada di sini? Bukannya dia di Paris?" tanyanya mengerutkan dahi.


"Dia baru balik kemarin, tadi aku udah telfon dia, Zefa nangis tiba-tiba minta ketemu Kenzo," ucap Zico.


"Ooh, tapi kamu nggak lupa kan Sayang sama janji kamu?" tanya Gita lagi memicingkan matanya. Ia menagih janji calon suaminya untuk meminta maaf dam berterimakasih pada Kenzo.


"Iya aku nggak lupa, kok. Makanya ini aku sekalian mau ngomong sama dia," tutur Zico.


"Ya udah, tapi janji ya, jangan sampe ada keributan, aku nggak mau denger kamu ada ribut sama Kenzo," pinta Gita masih memicingkan matanya.


"Iya, Sayang. Aku janji. Aku sama anak-anak pergi dulu, ya?" pamit Zico kemudian mengecup bibir Gita sekilas, membuat pipi Gita merona, ia merasa malu pada tiga wanita yang ada di dalam ruangan itu.


"Iissh, kamu! Malu tau!" gerutu Gita.


"Ngapain malu, besok juga kita udah nikah," sahut Zico asal. "Bye, Sayang!" teriak Zico sambil menutup pintu.


Ketiga ahli terapis itu pun tersenyum melihat kemesraan calon pengantin itu.


***


"Mika, Yolla nya ada, 'kan?" tanya Sean menghampiri meja Mika.


"Maaf, Tuan! Tuan jangan masuk, nanti Bu Yolla marah lagi sama saya," jawab Mika ketakutan.


"Kamu tenang aja, dijamin dia sekarang nggak akan marah," ucap Sean menaik-naikkan alisnya yang tebal kemudian beranjak menghampiri pintu ruangan Yolla.


"Eitss! Stop, stop! Biar saya tanya Bu Yolla dulu, sebentar," tegas Mira sambil mencegat langkah Sean dengan membentangkan kedua lengannya di hadapan Sean.


"Okay," sahut Sean tersenyum.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" teriak Yolla.


"Kenapa, Mika?" tanya Yolla saat Mika membuka pintu ruangannya.


Tanpa Mika sadari, Sean berdiri tepat di belakang Mika kemudian melambaikan tangannya pada Yolla tanpa suara.


Belum sempat Mika bicara, Yolla sudah lebih dulu menegur Sean.

__ADS_1


"Kamu udah sampe? Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya Yolla pada Sean.


Mika pun seketika menoleh pada seseorang di belakangnya.


"Sa-saya yang melarangnya, Bu. Kan sebelum-sebelumnya Ibu sendiri yang bilang kalo ada Tuan Sean jangan di izinkan untuk masuk," terang Mika.


"Itu kan kemarin. Sekarang beda, sekarang saya sudah jadi pacarnya Boss kamu," terang Sean sambil menghampiri Yolla yang sedang menahan senyumnya mendengar ucapan Sean. Sean membungkukkan tubuhnya kemudian mencium kening Yolla yang sedang duduk di kursinya.


"Hah?" Mika terbelalak, membuka mulutnya dan berdiri mematung.


"Mika, kamu mau terus berdiri di situ?" ketus Yolla mengusir Mira secara tidak langsung. Ia sangat malu sebenarnya pada Mika. Karena belum lama ini ia berkelahi dengan Sean dan Yolla memarahi Mika karena membiarkan Sean masuk tanpa seizinnya. Tapi tiba-tiba hari ini Sean malah mendeklarasikannya status hubungan mereka berdua pada Mika. Terlebih lagi Mika tahu kalau Yolla sudah mempunyai pacar bule bernama Mike. Karena Mike pernah datang ke kantor Yolla saat Yolla baru satu bulan menjalankan perusahaan papanya.


"I-iya, Bu. Saya keluar dulu, permisi, Bu." pamit Mika bergegas keluar dan menutup pintu kacanya.


"Honey, kamu jangan galak-galak sama Mika, kasian tau," tutur Sean sambil mencubit pelan ujung hidung Yolla.


"Lagian dia ngapain tadi berdiri kaya patung di situ," sahut Yolla.


"Ya wajar dong dia kaya gitu, dia tuh kaget denger kita tiba-tiba pacaran, makanya dia shock gitu," ujar Sean sambil duduk sedikit di tepi meja kerja Yolla sambil menghadap Yolla.


"Gimana kalo Gita tau, ya? Aduh, pasti aku bakal di ceramahin habis-habisan nih sama dia," gerutu Yolla.


"Ceramahin? Ceramahin kenapa?"


"Ya karena aku terima kamu padahal aku masih sama Mike," jelas Yolla menundukkan pandangannya.


"Enggak apa-apa, Honey. Nanti kalo Gita marah-marah kamu bilang aja sama aku, nanti aku yang jelasin semuanya sama dia," imbuh Sean mencoba menenangkan Yolla.


"Kita jadi kan makan siang di luar?" tanya Sean memegang tangan Yolla dan mengelus punggung tangannya dengan lembut.


"Yaaah, aku nggak bisa. Kerjaan aku masih banyak banget," keluh Yolla mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah, kalo gitu kita delivery order aja, kita makan di sini, gimana?" tawar Sean memberi solusi.


"Tapi kamu nggak apa-apa kalo kita makannya di sini doang?"


"It's okay, Nggak apa-apa, kok."


"Ya udah kalo emang kamu nggak keberatan."


"Kamu mau makan apa? Biar aku orderin," tawar Sean lagi.


"Emmm ... Aku mau sushi," jawab Yolla.


"Okay!" sahut Sean kemudian memesankan apa yang Yolla inginkan.

__ADS_1


"Oya, luka kamu gimana? Masih perih, ya?" tanya Sean yang tiba-tiba mengingat luka sayatan di leher Yolla yang sekarang masih tertutup perban.


__ADS_2