
"Sayang. Kamu udah selesai kan datang bulannya? Ayo jujur!" tanya Zico tiba-tiba, membuat Gita terbelalak.
Zico sebetulnya sudah mengetahuinya jika Gita sudah berhenti datang bulan. Karena tadi pagi ia memeriksa tempat sampah di dalam kamar mandi, dan tidak ada bekas pembalut di sana.
"Ma-masih, kok," jawab Gita gugup.
"Nggak usah bohong sama aku, Sayang. Tadi pagi aku liat lho di tempat sampah udah nggak ada bekas pembalut kamu," ujar Zico tersenyum, lagi-lagi membuat Gita membelalakkan matanya.
"A-aku ... itu, memang udah sedikit, jadi aku nggak pakai pembalut lagi," jawab Gita masih berusaha berbohong.
"Jujur aja, Sayang. Aku nggak minta sekarang, kok. Tenang aja, nanti aku ngelakuinnya di Maldives aja," bisik Zico sambil memainkan li dahnya di telinga Gita membuat Gita sedikit menggeliat, ia sengaja memancingnya, karena itu adalah salah satu bagian sensitif pada tubuh Gita.
"Zi, stop ... aaaaght." Gita mulai mende sah, membuat Zico tersenyum dan semakin semangat menggoda istri tercintanya yang sedang merajuk itu.
Tangan Zico mulai menggenggam dua buah kehidupan milik Gita dan mere masnya pelan.
"Kamu panggil aku apa tadi?" Coba panggil aku kayak gitu lagi," bisik Zico lagi dengan napas yang mulai memburu.
"Iya, Sayang. Maaf," lirih Gita.
Zico mulai menelusuri leher jenjang Gita dengan bi birnya, mengecup dan menye sapnya.
"Sayangh, eummh," Gita mulai mende sah lagi.
"Kenapa, Sayang? Enak?" goda Zico tersenyum menatap raut wajah Gita yang mulai menginginkan.
"Mau sekarang apa nanti di Maldives?" godanya lagi. Gita pun membalikkan tubuhnya menghadap Zico.
"Maaf ya, aku udah bohong. Sebenernya dari kemarin juga aku udah selesai, Sayang. Cuma aku mau kita melakukannya nanti setelah pesta resepsi," tutur Gita sambil menatap Zico.
"Lusa, setelah pesta resepsi, paginya kita langsung ke Maldives, ya?" ajak Zico.
"Kenapa harus ke Maldives sih, Sayang? Kenapa nggak ke Bali aja biar anak-anak ikut sekalian?" keluh Gita. Ia benar-benar merasa bersalah pada anak-anaknya jika harus meninggalkan mereka hanya untuk berbulan madu.
"Sayang, kalo kita bawa anak-anak itu namanya liburan, bukan honeymoon," ucap Zico mencubit pelan ujung hidung Gita.
"Aku merasa kita egois banget kalo harus ninggalin anak-anak pergi cuma demi honeymoon," keluh Gita.
"Enggak lah, Sayang. Masa gitu doang egois. Kan cuma lima hari kita di sana. Kan kita mau buat adik bayi buat mereka," goda Zico menci um bibir Gita sekilas.
"Hah? Lima hari? Lama banget?"
"Enggak lama lah, Sayang. Sebentar, kok."
"Kamu memang tega tinggalin anak-anak selama itu? Pasti nanti Zefa nanyain kita terus, Sayang. Kalau Zayn aku percaya dia bisa ngerti, tapi kalo Zefa, dia pasti sering nangis nanti karena nyariin kita, kasian mommy. Udah cape urusin pesta resepsi kita, terus yang harusnya mommy istirahat setelah acara, eh malah harus jagain anak-anak kita lagi. Kamu nggak kasian sama mommy?" omel Gita.
"Iya juga, ya. Tapi semua akomodasinya udah di urus Sean, Sayang. Gimana, dong?"
"Makanya kalo apa-apa tuh ngomong, jangan putusin sendiri. Buat apa kamu nikah, tapi segala sesuatunya masih kamu putusin sendiri. Terus apa gunanya aku jadi istri kamu?"
"Iya, Sayang. Maaf ... terus gimana dong? Atau nanti aku minta Yolla sama Sean sering-sering ke sini aja temenin mereka main. Gimana?"
Gita hanya mendengus kesal tak menjawab.
"Soalnya kalo cuma tiga hari gitu kita cape di jalan doang, Sayang. Penerbangan ke sana aja kurang lebih sebelas jam, lho!"
"Ya udah lah terserah kamu! Mau gimana lagi, udah terlanjur juga. Udah ah, aku capek mau tidur," ucap Gita kemudian hendak membalikkan tubuhnya memunggungi Zico lagi. Namun, Zico segera memeluknya erat.
"Jangan belakangin aku gitu dong, Sayang," ucap Zico menci um mesra kening Gita lalu turun ke bi bir manis Gita dan melu matnya sekilas.
__ADS_1
Terdengar bunyi chat masuk dari ponsel Zico, ia pun meraih ponsel itu dan membuka chatnya, ternyata chat itu adalah chat dari Sean. Ia memberikan link di mana mereka bisa menonton konferensi pers yang dilakukan daddy Austin.
"Sayang, kamu mau nonton konferensi pers daddy nggak?" tawar Zico.
"Mana? Aku mau lihat dong," pinta Gita.
Zico pun membuka link tersebut dan menonton nya berdua dengan Gita.
"Selamat siang semuanya! Saya duduk di sini hari ini ingin memberikan klarifikasi mengenai mendiang ayah dari menantu saya, yang tidak lain beliau adalah sahabat saya sendiri, dokter David Adhinata. Sebelum wafat, David memang terlibat kasus malpraktek yang membuatnya putus asa dan akhirnya kehilangan nyawanya. Namun, karena saya sangat mengenal sosoknya yang jenius dan sangat tidak mungkin menurut saya jika beliau melakukan kesalahan seperti itu. Maka dari itu, saya dan anak saya sengaja menyelidiki kasus itu kembali, dan ternyata memang benar dugaan saya, beliau hanyalah di fitnah oleh bawahannya sendiri. Maka dari itu, saya ada di sini hari ini, dengan tujuan untuk membersihkan nama baik sahabat saya. Jadi, saya mohon untuk tidak menyebarkan lagi rumor yang tidak mendasar. Karena jika ada yang mencoba mengusik keluarga saya, saya tidak akan berpikir dua kali untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib."
Setelah mendengar itu, Zico pun mematikan ponselnya karena tidak tega melihat Gita yang terus terisak saat mendengar perkataan daddy Austin tentang ayahnya.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi, Kita kan sudah berhasil mengembalikan nama naik ayah, pasti ayah dan ibu sudah tenang sekarang di atas sana. Apalagi kamu udah bahagia sekarang, ada aku dan anak-anak kita di hidup kamu sekarang, kamu nggak sendiri lagi, Sayang. Kamu punya kita," tutur Zico mencoba menenangkan Gita.
Bukannya berhenti menangis, tapi tangis Gita malah semakin menjadi. Semakin terisak di dalam pelukan Zico.
"Makasih ya, Sayang. Kamu dan daddy udah bantu aku memulihkan nama baik ayah," ucap Gita masih terisak.
"Iya, Sayang. udah ya jangan nangis lagi."
Gita pun mulai mengulas senyumnya dan memeluk erat sang suami.
Mereka mulai terlelap sambil berpelukan sampai waktunya jam makan malam, mereka baru terbangun dari tidurnya. Itu pun karena mereka mendengar suara tangisan Zefa di depan pintu kamar.
"Sayang, lepas dulu, aku mau bukain pintu," ucap Gita sambil melepaskan lengan Zico yang sedang melingkar di perutnya. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri pintu untuk membukakan pintunya.
"Mommy!" teriak Zefa sambil menangis kencang.
"Kenapa, Sayang? Kok malam-malam gini menangis?"
"Jepa mau tidul cama Daddy cama Mommy," rengek Zefa manja. Ia sepertinya ketagihan tidur bersama mommy dan daddy nya.
"Enggak apa-apa Sus, kamu istirahat aja, biar Zefa tidur di sini sama saya dan daddy nya," tutur Gita.
"Baik, Nyonya."
"Oya, Zayn sudah tidur, 'kan?" tanya Gita lagi.
"Sudah, Nyonya. Tadi dia sempat marah-marah karena tidurnya terganggu karena tangisan Zefa, makanya saya cepat-cepat mengajak Non Zefa keluar dari kamarnya," jelas Suster Kiki lagi.
"Oh, ya sudah. Terima kasih ya, Sus."
"Iya, Nyonya."
Suster Kiki pun kembali ke lantai dua. Para suster menempati kamar yang ada di sebelah kamar anak-anak, karena Zefa sering sekali menangis di tengah malam jika bermimpi buruk.
"Princess Daddy, kenapa? Kok, menangis?" tanya Zico lembut kepada sang putri.
"Jepa mau bobo cama Daddy cama Mommy, tadi Jepa mimpi buluk, Daddy," keluh Zefa mengerucutkan bibir mungilnya.
"Oh, mimpi buruk? Mimpi apa?"
"Mimpi Daddy gendong adik bayi," jawab Zefa polos, membuat Zico dan Gita saling menatap dan sama-sama menahan tawa.
"Lho? Bukannya itu mimpi indah? Memang kenapa kalo Daddy gendong adik bayi? Harusnya Zefa happy dong kalo punya adik bayi," tutur Zico.
"No! Jepa nggak mau punya adik bayi, Daddy!" Zefa mulai mencebikkan bibirnya kemudian terisak kembali.
"Lho? Kenapa nggak mau, Sayang? Memang kenapa sama adik bayi? Adik bayi kan lucu," tanya Gita tersenyum.
__ADS_1
"Nanti Daddy gendong adik bayi telus cepeti di mimpi Jepa."
Gita dan Zico pun terkekeh mendengarnya, belum di buat saja sudah membuat Zefa cemburu.
"Ya udah sini tidur sama Daddy sama Mommy ya, Nak."
Zico menidurkan Zefa di tengah-tengah dan memeluknya sampai Zefa tertidur lelap.
"Sayang, aku lapar, tapi kalo kita makan ke bawah gimana Zefa?" bisik Zico pada Gita.
"Ya udah aku turun ke bawah ya, ambil makanan buat kita, terus kita makan di balkon aja, gimana?" usul Gita berbisik pula.
"Iya, Sayang," sahut Zico.
Gita pun turun ke bawah, dan meminta bantuan mbak Tami dan Mbak Siska untuk membantunya membawakan makanan ke atas. Mbak Tami dan Mbak Siska adalah asisten rumah tangga lain di mansion itu. Mereka bertiga dengan Mbak Mirna bertugas membersihkan seluruh mansion, dan juga membantu bu Ambar memasak.
Mereka pun meletakkannya di meja yang ada di teras balkon kamar Zico dan Gita.
"Terima kasih ya, Mbak. Maaf ya udah ganggu istirahatnya," ucap Gita tersenyum ramah.
"Sayang, Ayo! Makan malamnya udah siap!" bisik Gita di telinga Zico yang ternyata tertidur saat Gita sedang turun ke bawah.
"Hmm? Iya, Sayang. Maaf aku ketiduran."
"Iya nggak apa-apa, ayo kita makan dulu," ajak Gita.
"Cium dulu," pinta Zico sambil memonyongkan bibirnya seperti mulut ikan.
Gita tersenyum kemudian menye sap sekejap bi bir Zico.
"Udah, ayo!"
"Sebentar banget sih, Sayang. Kurang lama," rengek Zico lagi.
Gita pun mengembuskan kasar napasnya kemudian menye sap bi bir sang suami lagi, namun dengan cepat Zico menahan tengkuk Gita dan melu mat bibir Gita begitu bergai rah hingga Gita hampir kehabisan napas. Wanita itu memukul-mukul bahu Zico baru kemudian dilepaskan oleh Zico.
"Iiissh, kamu!" gerutu Gita kemudian berjalan ke arah balkon dan menyandarkan kedua lengannya pada pagar balkon.
Zico pun tersenyum melihat sang istri yang mulai cemberut lagi. Ia menghampirinya kemudian melingkarkan lengannya di perut Gita.
"I Love You," ucap Zico berbisik di sebelah daun telinga istri tercintanya. Namun, Gita tak menjawabnya karena masih kesal karena ciu man barusan.
"Sayang, kok nggak dijawab?"
"Aku kesal sama kamu, kebiasaan suka kasar gitu kalo cium aku, aku nggak suka!" omel Gita membuat Zico terkekeh mendengarnya.
"Kok malah ketawa, sih? Orang aku lagi marah juga!" gerutu Gita.
"Iya maaf," ucap Zico, kemudian membalikkan tubuh Gita agar menghadapnya, meletakkan kedua tangannya di kedua belah pinggang Gita dan menariknya mendekatkan tubuhnya dan melu mat bibir Gita dengan lembut. Gita yang terbuai akan perlakuan lembut sang suami pun mengalungkan lengannya di leher sang suami. Mereka begitu menikmati ciu man yang penuh kelembutan itu di suasana yang begitu romantis, karena Gita sengaja meletakkan beberapa lilin di sana agar suasana makan malam mereka terasa lebih romantis.
Zico melepaskan bibirnya yang saling bertaut hingga benang saliva terputus dari bibir mereka.
"Ayo kita mulai makan, perut aku udah lapar banget nih, tadi siang kan kita nggak makan," keluh Zico.
"Masa sih? Memang tadi siang kita nggak makan, ya?"
"Kan dari butik kita langsung ke salon, Sayang. Aku mau ajak kamu makan dulu tapi kamunya diemin aku. Kalau pun aku ajak pasti kamu bakal nolak. Ya udah aku pilih nahan lapar aja jadinya," keluh Zico lagi dengan tampang memelas.
"Maafin aku ya, Sayang ... Ya udah ayo kita makan, kasian banget suami aku kelaparan," ucap Gita tertawa.
__ADS_1