
"Wait, Aku coba hubungi Mike dulu, ya!" seru Zico, ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Mike. Namun sampai beberapa kali ia mencoba tetap saja tak ada jawaban dari Mike ataupun Yolla.
"Gimana, Sayang?" tanya Gita.
Zico menggelengkan kepalanya, "Nggak diangkat-angkat telponnya, Sayang."
Raut wajah Gita seketika menjadi murung.
"Git, lo kenapa?" tanya Giselle.
"Yolla itu siapa, Kak?" tanya Naura dengan polosnya, ia penasaran kenapa Gita terlihat sangat sedih karena tidak bisa menghubungi orang yang bernama Yolla itu.
"Nggaaaak... Nggak apa-apa, kok. Udah, yuk. Kita masuk!" ajak Gita seketika mengubah raut wajahnya menjadi senyum yang dipaksakan.
Gita tak mau acara bersama teman-temannya itu menjadi berantakan hanya karena mood nya yang tiba-tiba berubah.
'Gita kenapa, ya? Apa ada hubungannya dengan, Yolla?' Giselle bertanya-tanya dalam batinnya.
"Ayo, Sel!" ajak Sean ketika Giselle hanya diam mematung, sambil merangkul bahu Giselle.
"Emmm!" sahut Giselle tersenyum menganggukkan kepalanya.
Mereka semua memasuki taman hiburan setelah Zico membeli tiketnya, Naura mengajak mereka untuk menaiki jenis wahana permainan kapal bajak laut atau yang biasa kita kenal dengan sebutan kora-kora, semua dari mereka menaiki wahana itu.
Setelah turun dari wahana itu wajah Zico terlihat pucat.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Gita tertawa.
"Enggak, kok. Nggak apa-apa," kilah Zico.
"Nggak apa-apa gimana? Muka lo aja pucat begitu! Ahahaha," Alex menertawakan Zico, dan yang lain pun ikut menertawakannya termasuk Kenzo yang terlihat menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Kamu pusing ya, Sayang?" Gita membelai pipi Zico yang ternyata terasa sangat dingin.
"Kakak payah banget sih, Kak! Baru kora-kora aja udah mabok, gimana naik yang lain! Ahahaha," ejek Naura tertawa terbahak.
"Diam kamu, Naw-Naw!" ancam Zico membulatkan matanya dengan sempurna.
"Sssst ... Udah udah jangan berantem! Ayo, kita naik wahana yang lain!" ajak Gita mulai melangkahkan kakinya sembari memeluk lengan Zico.
Kenzo yang ada di belakangnya pun mulai merasakan hawa panas pada tubuhnya.
'Sial! kenapa gue selalu ngerasa gerah ya kalau melihat kemesraan mereka berdua,' gumam Kenzo dalam batinnya sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya.
Melihat itu membuat Naura bertanya padanya, "Kakak, kenapa? Gerah, ya? Mau aku belikan minuman?" tawarnya pada Kenzo.
"Nggak usah, Naw. Kakak aja yang beli, kamu mau minum apa? Biar kakak belikan sekalian," Kenzo malah menawarkan balik.
"Aku ikut Kakak aja, deh," sahut Naura.
"Kak Gita! Aku sama Kak Kenzo beli minuman dulu ya ke sana sebentar!" pamit Naura sembari menunjuk sebuah counter minuman di dekat sana.
Gita pun menganggukkan kepalanya.
Setelah Kenzo dan Naura selesai membeli minuman, mereka pun berjalan ke arah wahana permainan halilintar.
Melihat wahana itu sedang berjalan memutar-mutar membuat wajah Zico semakin memucat.
Gita yang menyadarinya pun mencoba melarang Zico untuk nekat menaiki wahana itu, tetapi karena mempertahankan harga dirinya, ia pun memilih untuk tetap menaiki wahana itu.
Namun benar saja dugaan Gita, setelah turun dari wahana tersebut, Zico muntah-muntah dibuatnya.
Para sahabatnya yang melihatnya, lagi-lagi menertawakannya.
__ADS_1
"Pantesan dia nggak pernah mau kita ajak ke sini, Sean, Ken! Ternyata seperti ini toh! Ahahaha," Alex sangat merasa lucu, Zico yang dikenalnya sebagai manusia yang perfeksionis, ternyata memiliki kelemahan juga.
Menyadari dirinya ditertawakan, Zico pun menatap tajam pada mereka.
"Ya udah, kita naik bianglala aja yuk, Zi?" ajak Gita.
Ia selalu mengidamkan ingin menaiki kincir raksasa itu dengan kekasih nya kelak, akhirnya hari itu pun tiba.
Mereka menaiki biang lala masing-masing berdua.
Zico sudah merasa lebih relax saat menaiki biang lala itu hanya berdua saja. Andaikan saja tadi dia tidak muntah, pasti Zio sudah melu mat bibir Gita.
Semuanya menikmati waktu mereka di taman hiburan itu hingga senja, dimana matahari mulai menenggelamkan sinarnya.
Mereka pun bergegas pulang ke rumah masing-masing karena Gita sudah berjanji pada daddy Austin akan malam malam bersama.
Namun karena keadaan lalu lintas yang sangat padat, akhirnya Zico dan Gita menghubungi papi Elbert dan memintanya menunggu di restorannya saja, jadi Zico segera melajukan mobilnya ke restoran milik papinya.
Saat tiba di sana Gita membukakan botol air mineral untuk Zico.
"Sayang, minum ini dulu," titah Gita mengulurkan tangannya memberikan botol tersebut.
"Makasih, Sayang," ucap Zico membelai pipi Gita lalu menghabiskan air mineralnya.
"Ayo, turun!" seru Gita sambil melepaskan seatbelt dan merapihkan rambutnya.
Ketika hendak membuka pintu mobil, lengan kiri Zico menarik lengan kanan Gita, dan lengan kanannya menahan tengkuk Gita dan melu mat bibir mungil Gita dengan mesra.
Gita yang awalnya tersentak karena ciuman yang tiba-tiba itu, akhirnya ia pun terbuai dalam luma tan itu, ia mengalungkan lengannya pada leher Zico dan membalas lu matannya.
Ketika mereka sedang menikmati ciumannya, ternyata ada seseorang yang mengetuk kaca mobil Zico.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...