
“Ini cepetan diminum dulu obatnya, itu muka lo udah parah banget Gita.” Seru Sean.
“Iya Sean, makasih banyak ya.”
Gita segera meminumnya, dan ia pun tertidur ditengah perjalanan.
Setelah tiba di apartemen Gita, Sean membangunkan Gita dengan menepuk pelan bahu kanan Gita.
“Gita, bangun, kita sudah sampai di depan apartemen lo.”
Gita pun terbangun, ia merasa tidak enak pada Sean karena tertidur.
“Maaf ya Sean, gue malah ketiduran.” Ia mengucek matanya, terlihat seperti bayi baru bangun tidur.
“Nggak apa-apa kok, itu pasti efek obatnya, lo mau gue anter sampai depan pintu apa sampai sini aja?” tawar Sean.
“Nggak usah Sean, Udah sampai sini aja, makasih banyak ya, maaf ngerepotin.” Jawab Gita.
“Enggak kok, Kan rumah kita juga searah.” Sahut Sean.
“Beneran searah kan? Jangan-jangan kamu bohong kaya Zico!” tuduh Gita.
“Ahahaha.. emang dia bilang sama lo rumah dia searah?” Sean tertawa, ia tidak menyangka Zico sampai membohongi Gita saking ingin berangkat dan pulang sekolah bersama.
“Iya, waktu itu dia bilangnya searah, eh tau nya tadi pas gue antar dia ternyata beda arah, jauh pula.” Gita mengerucutkan bibirnya.
“Lo tau nggak? Dia bohong kaya gitu karena dia pengen banget berangkat sekolah bareng lo, walaupun pernah lo tinggal, dia nggak pernah marah kan.”
Gita terdiam membatin, ‘Berarti dia berangkat pagi-pagi sekali ya sewaktu dia menjemput aku kesini, aku jadi merasa bersalah karna sering menolaknya.’
Ia menghembuskan nafas kasar.
“Hmmmm…”
“Git, udah dong lo jangan jauhin Zico lagi, kasian dia tau, gue janji deh kalau Priscilla macem-macem sama lo gue akan bantu lo.” tutur Sean.
“Gimana juga gue bisa ngejauhin dia sekarang? Dia kaya gitu gara-gara nolongin gue, terus tadi Mommy nya juga bilang gue harus membantu merawatnya sampai pulih.” terang Gita.
Sean tertawa terbahak-bahak, “Ahahahaha… Mommy beneran bilang gitu?”
“iya.” Gita menganggukan kepalanya. “kamu kenapa ketawa Sean?”
“hmmm? Nggak apa-apa kok.” Sean mencoba menahan tawanya dengan mengulum bibirnya.
__ADS_1
‘Mommy bermain peran ternyata.’ Batin Sean.
“Ya udah Git lo cepetan naik sana, takutnya nanti ortu lo nyariin, ini udah jam 9 Lho.” Sean menunjukkan jam tangannya ke arah Gita.
“Sean, gue mau tanya boleh?”
“Boleh banget! Mau tanya apa? Tanya tentang Zico pasti ya?” tebak Sean.
“iih.. kok lo tau sih?”
“Tau lah.. udah jelas dimata lo tuh terpancar aura jatuh cinta.. Ahahahaha…” Sean Senang sekali bisa menggoda Gita seperti dirinya sedang menggoda Zico.
“iih apa sih! Udah ah nggak jadi nanyanya! gue pulang , bye Sean!” Gita segera turun dari mobil dan masuk ke apartemennya.
“Ahahahaha…” Sean tertawa terbahak-bahak. Dan masih saja menggoda Gita, “kok kabur sih lo? Beneran nih nggak jadi nanya?” teriak Sean masih sambil tertawa.
Gita tak menggubrisnya, ia tetap melangkahkan kakinya, tidak menengok ke arah Sean sama sekali.
“haha.. Lucu ya kalo godain orang lagi jatuh cinta tuh..” gumam Sean sambil nyengir macam kuda.
Ia pun melanjutkan perjalanannya sampai ke rumahnya.
Sedangkan Gita sudah sampai dirumahnya, dan ternyata Ibunya sudah ada dirumah, tidak lembur seperti biasanya. Gita terkejut melihat Ibunya sedang duduk di sofa.
“Lho? Ibu sudah pulang? Tumben bu?” Gita menghampiri Ibunya, mencium punggung tangannya dan memeluknya.
“Enggak kok bu, tadi teman Gita terluka karna nolongin Gita waktu sedang menyebrang bu, jadi Gita bawa dia ke rumah sakit terus antar dia sampai rumah.” jelas Gita.
“Oalah, kamu kok nggak bilang ibu? Lalu gimana keadaan teman kamu itu? Kamu tidak terluka kan nak?” Tanya Sophia cemas.
“Gita baik-baik aja kok bu, kalau temen Gita…” Gita terdiam sejenak menampakan wajah sedihnya lalu menghembuskan nafasnya kasar dan melanjutkan, “Hmmm... dia kakinya terluka bu, ototnya cedera, jadi jalannya harus pakai tongkat.”
“Hah pakai tongkat? Kasian sekali... teman kamu yang mana Nak? Yolla bukan?” Duga Sophia, karena hanya Yolla teman Gita yang Sophia tahu.
“Bukan bu, Zico yang terluka.” Gita tertunduk.
“Zico?” Tanya Sophia heran sambil mengingat, karena ia merasa seperti tidak asing mendengar namanya.
“Iya bu, Zico, Ibu nggak akan kenal.”
“Oooh iya Ibu ingat, nak Zico itu 2 hari yang lalu kesini pagi-pagi menjemput kamu, tapi kamu nya sudah dijemput Yolla, Ibu lupa tidak bilang sama kamu nak.”
“Masa bu? Kok dia nggak bilang ya sama Gita?”
__ADS_1
Sophia hanya mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ibu lihat sepertinya dia suka sama kamu ya?” tebak Sophia.
“Eng..enggak kok bu!" sahut Gita gugup.
“Lalu kenapa kamu gugup seperti itu? Kamu tuh nggak bisa bohongi Ibu nak.” Sophia membelai rambut putrinya.
“i.. iya bu, tadi dia nyatain perasaannya sama Gita bu, tapi belum Gita jawab.”
“Lalu kamu sendiri gimana? Kamu suka juga sama dia?” tanya Sophia, tapi Gita tidak menjawab hanya menunduk.
Sophia melanjutkan, “Kalau kamu suka ya kamu harus jujur sama perasaan kamu… nak Zico itu tampan sekali, sikapnya juga sopan dan ramah, wajar kalau putri kesayangan Ibu ini juga suka padanya.” Sophia menggoda Gita sembari tersenyum.
“Ah ibu malah mengejek Gita.” Gita mengerucutkan bibirnya.
“Lho? Siapa yang mengejek? Ibu serius nak.”
“Memangnya... Gita boleh pacaran bu?”
“Tentu saja boleh, asal pacaran nya tidak yang aneh-aneh ya.” Sophia mengingatkan.
“Maksudnya aneh-aneh tuh seperti apa bu?” Tanya Gita bingung, saking polosnya ia tidak mengerti maksud Ibunya.
“Maksudnya, kamu boleh berpacaran, tapi ya sekedar berpacaran saja, jangan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah, apa kamu paham maksud ibu?”
“Iya bu, Gita paham.” Gita menganggukan kepalanya.
“Lalu gimana? Kamu mau terima Zico?”
“Gita belum tahu bu, akan Gita pikirkan lagi.”
“Ya sudah, pikirkan dulu baik-baik ya.”
“Baik bu.” Gita tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Oh iya bu, tadi itu kan Gita jelasin ke Mommy nya Zico kalau Zico terluka karna menolong Gita, eh Mommy nya minta Gita untuk membantunya merawat Zico sampai pulih, jadi setiap pulang sekolah Gita harus ke rumahnya Zico, boleh tidak bu?” Terang Gita.
“Boleh kok, tapi dia rumahnya dimana Nak?”
“Di Grand hills bu, yang isinya Mansion-mansion mewah dekat sekolah itu lho bu, dari sini sekitar 40 menit bu, kalau dari sekolah hanya 10 menit.”
‘Oh anak pengusaha toh? Apa orangtuanya akan memperlakukan Gita dengan baik ya?’ Duga Sophia dalam batinnya, karena hanya para pengusaha ternama lah yang tinggal di komplek itu, termasuk saudara sepupu Sophia.
__ADS_1
“Ya sudah, tapi pulangnya jangan terlalu larut seperti ini ya? Jam 7 dari sana sudah pulang, jadi kamu jam 8 harus sudah sampai rumah.” Pesan Sophia.
“Baik bu, makasih ya bu.” Jawab Gita tersenyum dan memeluk Sophia.