
“Mom, Dad, Zico sama Sean berangkat sekolah dulu ya.” Pamit Zico mengulurkan tangannya mencium punggung tangan orang tuanya, begitu pula dengan Sean hanya tersenyum dan mengikuti pergerakan Zico, karena jika ada Austin, ia tak berani banyak bicara, ia sangat segan kepada Sahabat sekaligus Pimpinan Papanya itu.
“Lho berangkatnya pagi-pagi sekali nak? Breakfast dulu dong sayang, kasihan tuh Sean pagi-pagi udah ke sini, pasti belum sempat sarapan dirumahnya, iya kan Sean?” Tanya Celine sambil melirik Sean.
"Hehe.. Mommy tahu saja." sahut Sean nyengir kuda.
“Kamu kenapa berangkat pagi-pagi sekali?” Tanya Austin dengan sikap dingin dan tegas.
“Zico sama Sean ada urusan Dad.” Sahut Zico.
“Urusan apa? Kalian tidak berbuat yang aneh-aneh kan?” Selidik Austin dengan menatap tajam bergantian, ke Zico lalu ke Sean.
“Tidak kok Dad!” Sahut Zico cemberut, kemudian ia menenggak segelas susu yang sudah di sediakan ART nya Bu Wati hingga tandas, ia benar-benar sudah tidak tahan jika berada dekat dengan Daddy nya seperti ini, selalu banyak pertanyaan yang membuat emosi.
Sean melihat tatapan tajam Austin yang menatap ke arahnya, “Tidak kok Om, kita tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh!" Sahut Sean, jika dengan Celine ia bisa berbincang dengan santai, bahkan memanggilnya ‘Mommy’, tetapi jika dengan Austin ia benar-benar sangat gugup, bahkan ia selalu menggunakan bahasa baku.
Austin hanya diam melanjutkan menyantap sarapannya.
Sean ikut menenggak susu yang disediakan untuknya hingga tandas.
“Ayo kita berangkat!” Ajak Zico.
“Eitsss... Wait a moment Son!” Seru Celine, ia mengambil kotak makan dan memasukkan beberapa Sandwich ke dalamnya.
“Ini Sean, nanti bisa sambil di makan di mobil.” Celine mengulurkan tangannya memberikan kotak makan itu pada Sean.
“Makasih ya Mom!” Sahut Sean tersenyum.
“Ya udah Mom, kita berangkat ya Mom.” Zico memeluk dan mencium pipi Mommy nya itu.
“Dad... Zico sama Sean berangkat!” Pamit Zico dengan sikap dinginnya, ia memang selalu bersikap seperti itu jika ke Daddy nya, sangat berbanding terbalik dengan sikap Zico ke Mommy nya, karena Austin sendiri yang menanamkan ke anaknya untuk bersikap seperti itu.
“Hmmm!” Sahut Austin singkat.
Zico yang hendak masuk ke mobilnya pun melihat Sean masih berbisik-bisik dengan Mommy nya. Ia berteriak.
“Sean cepetan dong!!!”
“eh iya iya tunggu!” sahut Sean setengah teriak. Lanjut pamit pada Celine, “ Sean pergi dulu ya Mom... Om Sean berangkat Om.” Ia mencium punggung tangan Celine dan Austin lagi.
Sean segera naik ke mobil Zico.
“Nggak sabaran banget yang mau ketemu pujaan hati.” Sean menggoda dengan nyengir kuda nya.
__ADS_1
Zico tidak menjawab, ia hanya melirik sinis hingga membuat Sean merapatkan bibirnya.
Zico segera melajukan mobilnya, sedangkan Sean duduk santai di sebelah Zico sembari menikmati sarapan yang di bawakan Celine.
“Lo nggak mau nih Zi?” Tawar Sean.
“Enggak!” Sahut Zico singkat.
***
Setelah sekitar empat puluh menit mereka pun tiba di depan apartemen Gita.
Sean menunggu di dalam mobil, sedangkan Zico Naik ke apartemen Gita.
Zico menekan Bell nya.
Ceklek
Suara pintu terbuka, seorang wanita paruh baya terlihat dari balik daun pintu. Zico terkejut melihat bukan Gita yang membukakan pintunya.
“Pagi Tante!” Sapa Zico tersenyum ramah.
“Pagi! Maaf... cari siapa ya?” Tanya wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah Sophia.
“Oh, tapi Gita nya sudah berangkat nak Zico, dia dijemput Yolla sekitar 5 menit yang lalu.” Imbuh Sophia.
“Oh begitu tante, ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu ya tan, terimakasih.” Pamit Zico dan mengulurkannya untuk mencium punggung tangan Sophia.
Sophia pun mengulurkan tangannya dan menyahuti Zico.
“Baiklah, hati-hati ya nak Zico.”
“Baik tante, Mari tante.” Zico membungkukkan sedikit badannya.
Zico bergegas turun ke bawah dan naik ke mobilnya.
“Lho?? Gita nya mana Zi?” tanya Sean bingung tidak melihat Gita, padahal niat mereka menjemput Gita.
“Udah jalan dijemput Yolla.” Sahut Zico. Ia mulai melajukan mobilnya.
“Yaah, kasian banget sih Lo, udah jemput jauh-jauh eh malah ditinggal. Hahaha.” Ejek Sean tertawa terbahak-bahak.
“Sialan Lo! Ini gara-gara Lo tadi ngerumpi mulu sama Mami.” Gerutu Zico.
__ADS_1
“Laah nyalahin gue, hahaha… Emank si Yolla nya aja yang kepagian jemputnya.” Kilah Sean tak mau dirinya disalahkan.
Zico malas meladeni Sean, yang ada Sean akan semakin menggodanya kalau diladeni, ia hanya diam saja dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa sampai lebih dulu dari Gita dan Yolla.
Setelah tiba diparkiran ia menunggu Gita di depan gerbang, Gita tiba dan turun dari mobil bersama Yolla.
Saat Gita dan Yolla berjalan ia menghampirinya dan berjalan disamping Gita.
“Morning Git!” Sapa Zico.
Gita masih hanya diam saja tidak menjawab sama sekali, malas meladeni Zico takut Priscilla berulah lagi padanya.
Yolla merasa tidak enak pada Zico kalau harus ikut-ikutan mengabaikannnya, akhirnya ia pun menyapa Zico.
“Hai Zi!” Sapa Yolla.
“Hai La!” Sahut Zico tersenyum.
Gita melirik sinis pada Yolla, karna Yolla malah menyapa Zico, ia kesal dan mempercepat langkah kakinya, ia ingin sekali cepat sampai ke kelasnya.
“Gita, nanti siang pulang bareng yuk? Aku tunggu dihalte bus deh kalau kamu malu.” Ajak Zico yang tiba-tiba berdiri didepan Gita menghentikan langkah kaki Gita.
Gita pun terpaksa menghentikan langkah kakinya karna Zico menghalanginya, ia menjawab singkat.
“Enggak!” Gita memasang wajah ketus, lalu menghindari Zico dan berjalan secepat mungkin sampai ke kelasnya.
Zico sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengambil hati Gita, ia hanya diam mematung, saat berbalik Gita sudah masuk ke kelasnya.
“Sabar ya Zi.” Yolla menepuk bahu Zico sambil berjalan ke kelasnya.
“Tunggu La!” Zico menghampiri Yolla.
“Gue mau tanya deh sama lo, Gita kenapa sih jadi marah seperti ini sama gue? Apa gue ada salah?” Tanya Zico, sebab ia tak mengerti kenapa karena Priscilla yang mengurungnya di toilet tapi ia yang malah menjadi sasaran kemarahan Gita.
“Dia enggak marah sama lo Zi, dia hanya menghindari lo, karna katanya kemarin pas dia dikurung di toilet Priscilla mengancamnya untuk menjauhi lo, kalau Gita masih dekat-dekat sama lo katanya si Mak Lampir itu akan melakukan hal yang lebih dari itu, jadi dia lebih memilih untuk menjauhi lo, karna dia nggak mau sekolahnya terganggu hanya karna bermasalah terus sama Priscilla, dia takut kalau beasiswanya akan di cabut kalau sampai nilainya turun, apalagi dia juga nggak boleh dapat surat peringatan dari sekolah, kalau sampai dia dapat SP satu kali aja, beasiswanya bakalan dicabut Zi.” Terang Yolla.
“Oh gitu ya.” Jawab Zico dengan wajah dinginnya. Ia merasa Gita benar-benar hanya ingin fokus belajar dan tidak menginginkan dirinya sama sekali.
“Iya Zi, lo nggak apa-apa kan?” Tanya Yolla yang melihat wajah Zico mulai dingin lagi.
“Gue baik-baik aja kok La, ya udah gue nggak akan ganggu dia lagi La.” Jawab Zico, hendak beranjak pergi, ia merasa ini sudah waktunya ia... menyerah.
“Tunggu Zi!” Yolla menghentikan langkah Zico dengan menarik tas Zico.
__ADS_1
“Kenapa La?” Tanya Zico.