First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Menjaga Jarak


__ADS_3

"Apa kamu bilang? Putus?!! Kamu yang awalnya udah buat kesalahan, Nadhira! Kamu tadi enggak angkat telpon aku berkali-kali! Sekarang aku udah mengalah minta maaf sama kamu duluan, tapi apa? kamu minta putus sama, aku?!! Damn!!!" sentak Alex menggebrak setir mobilnya.


"Aku gak mau tau! pokoknya aku mau kita putus Alex!!!" jerit Nadhira dengan tatapan yang tak kalah garang dari Alex, bagian putih di bola matanya sudah memerah karena tersulut emosi.


"Enggak!!! nggak ada kata putus! kamu selamanya milik aku, Nadhira!!!" sentak Alex lagi.


Nadhira mendengus kesal menyunggingkan sudut bibirnya.


"Apa? Selamanya milik kamu? Aku cuma pacar kamu Alex! Bukan istri kamu!!!" balas Nadhira berteriak juga, lalu membuka pintu mobil dan turun dari mobil Alex sembari membanting pintunya sangat kencang sampai membuat Zico dan Gita yang sedang berbincang pun menoleh ke arah mobil Alex, kemudian ia berlari masuk ke kamar kost nya dengan amarah yang masih membara.


Zico dan Gita terperangah, bingung dengan apa yang terjadi di depan mata mereka.


Zico dan Gita berlari menghampiri Alex, Zico mengetuk jendela mobilnya, lalu Alex pun segera membukanya dengan wajah yang terlihat sangat kesal, "Nadhira kenapa, Lex?" tanya Zico.


"Dia minta putus, Zi!" sahut Alex sambil mengurut pelipisnya.


"Lho? Kok bisa?" kaget Zico dan Gita serempak.


Alex menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Entahlah! Gue balik ya, Zi!" bukannya menjawab, ia malah pamit untuk pulang dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Gita dan Zico saling menatap, bingung kenapa mereka bertengkar sampai Nadhira minta putus.


"Sayang, itu Alex nggak apa-apa ngebut begitu?" Gita khawatir melihat Alex yang mengemudikan mobilnya seperti orang yang sedang kerasukan.


"Nggak apa-apa sayang, dia udah biasa kaya gitu kalau lagi marah," ucap Zico menenangkan Gita, menautkan lengannya di pinggang Gita dengan posisi yang berhadapan.


"Ya udah kamu pulang ya, ini udah malem banget, nanti mommy sama daddy cari-cari kamu," titah Gita.


"Mmmm ..., " Zico menganggukkan sedikit kepalanya. Lalu melanjutkan, "Kamu istirahat ya, Sayang ... Oya, besok pagi kamu ada kelas jam berapa? Nanti biar aku jemput kamu." Tutur Zico.


"Aku besok ada kelas pagi jam delapan, kamu jam segini aja belum pulang. kamu nggak usah jemput aku, Sayang. kan dekat sama kampus, cuma 5 menit doang udah nyampe, kok. Siang atau sorenya aja kita ketemu lagi, ya," tutur Gita mengelus pipi Zico dengan Ibu jarinya.


"Okay, tapi besok kamu hati-hati ya, Sayang." pinta Zico.


Gita tersenyum menganggukkan kepalanya, membuat Zico gemas dan mengecup sekilas bibir mungilnya.


Cup

__ADS_1


"Iisshh, kamu! Malu tau! nanti kalau ada orang lihat gimana?" cebik Gita memukul pelan dada bidang Zico.


"Dimana ada orang? Nggak ada yang lihat kok, Sayang. kan cuma ada kita berdua di sini." kilah Zico.


"Kan ada CCTV, Zico!" Gita menunjuk CCTV itu dengan dagunya.


"Iya iya, Sayang. Ya udah aku pulang dulu, kamu mimpi indah, ya," Pamit Zico memeluk sang pujaan hati, Gita pun membalas pelukannya.


Di kamar kost Nadhira...


Saat Gita masuk ke kamar Nadhira, ia melihat Nadhira yang sedang duduk menangis terisak di ranjang sembari memeluk lututnya sendiri, ia pun menghampiri dan duduk di sampingnya lalu merangkul pundaknya.


"Nad ... Lo kenapa?" tanya Gita lembut, seketika Nadhira memeluknya.


"Gue ... Gue putus, Git ..." Nadhira menangis terisak.


"Lo atau dia yang minta putus?" tanya Gita lagi.


"Gu ... Gue ..., " jawab Nadhira makin terisak.


"Terus kenapa lo nangis? Lo sayang kan sama, Alex? Kenapa harus minta putus?" tanya Gita beruntun, sebab ia tahu kalau sahabatnya ini sangat mencintai kekasihnya, Alex.


"Gu... Gue ... Gue nggak tahan Git sama sikap kasar dia kalau sedang emosi." ujar Nadhira yang masih terisak.


Setelah Nadhira merasa tenang dan tertidur, Gita kembali ke kamar Giselle, karena memang niatnya yang ingin menjaga Giselle, ia pun tertidur sembari memeluk Giselle.


Keesokan harinya Gita hendak berangkat ke kampus dengan Nadhira tanpa Giselle, karena kondisi Giselle yang masih sedikit lemah, Gita melarang Giselle untuk beraktifitas di luar rumah dulu.


Saat mereka berdua sedang berjalan keluar dari rumah Kost nya, ternyata di depan gerbang Kost nya nampak sebuah mobil yang tak asing terparkir di sana dengan sosok lelaki yang berwajah tampan, bertubuh atletis dan warna kulit yang sawo matang sedang bersandar di mobil itu, tak lupa dengan kacamata hitamnya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Alex, Tentu saja ia datang ke sana karena ingin meminta maaf pada kekasihnya itu, ia tak sanggup membayangkan kalau dirinya benar-benar putus dengan Nadhira.


Nadhira yang melihat itu pun menarik pergelangan tangan Gita melangkahkan kakinya dengan cepat melewati Alex.


"Beb! Tunggu, Beb!" Alex mengejar menarik tangannya, seketika Nadhira menghempaskan kasar tangannya, Alex berdiri dihadapannya menghentikan langkah kaki Nadhira dan Gita.


"Nad, Lo bicarakan dulu baik-baik ya sama Alex, gue pergi duluan, Bye!" bisik Gita lalu berlari ke arah kampusnya.


Jarak antara tempat kost Nadhira dan Giselle ke kampusnya hanya sekitar 500 meter saja.

__ADS_1


"Beb, aku mohon maafin aku, ya? Kamu bilang sama aku apa yang kamu nggak suka dari aku, Aku akan coba untuk berubah Beb, aku janji." Alex memegang tangannya, memohon dengan tatapan yang penuh harap.


Melihat Nadhira yang hanya diam saja, seketika Alex memeluknya, Nadhira tidak memberontak ataupun membalas pelukannya, ia hanya diam mematung dengan bulir air mata yang terus tumpah.


"Beb, Please maafin aku ya, Beb. Aku janji aku nggak akan perlakukan kamu seperti itu lagi, aku janji." Alex terus memohon sampai menitihkan air matanya, bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan maaf dari Nadhira, ia tak sanggup membayangkan hari-harinya tanpa Nadhira.


Untung saja tadi pagi-pagi sekali sebelum Gita pergi ke kamar Nadhira, Gita menghubungi Alex, Gita meminta nomor ponsel Alex pada Zico.


Gita menelpon Alex, Gita lah yang menjelaskan tentang hal-hal yang membuat Nadhira marah, ia juga meminta Alex untuk mencoba merubah apa yang Nadhira keluhkan tentang sikap kasarnya itu, karena Gita tahu betul kalau mereka berdua saling menyayangi dan mencintai satu sama lain.


"Kamu ... beneran mau berubah?" tanya Nadhira terisak.


"Iya Beb, aku janji aku nggak akan kasar sama kamu lagi, kamu mau kan Beb maafin aku?" t?utur Alex sembari menyeka air mata Nadhira dengan Ibu jarinya.


Nadhira pun menganggukkan kepalanya dan mendekapnya erat.


***


Satu bulan pun telah berlalu, Gita dan Nadhira selalu mengingatkan Giselle untuk jadwal HD nya, mereka berdua selalu bergantian menemani Giselle di rumah sakit, Giselle merasa beruntung mempunyai sahabat seperti mereka, ia selalu ditemani dan dihibur oleh sahabat-sahabatnya itu, terutama ketika kondisinya sedang drop.


Bagaimana hubungannya dengan Sean? Ya, semenjak kondisinya semakin memburuk, ia memutuskan untuk menjaga jarak dari Sean, ia masih tidak ingin Sean mengetahui tentang penyakitnya ini.


Sean yang merasa terus dihindari oleh Giselle pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan alasannya pada Giselle, Sean menghampiri Giselle di depan kelasnya di fakultas hukum.


Giselle yang keluar dari kelas melihat Sean yang sedang menyandarkan punggungnya pada dinding, ia menundukkan pandangannya berpura-pura tak melihat Sean.


Sean menghampirinya dan berjalan di sampingnya.


"Hai, Sel!" sapa Sean tersenyum berjalan menyesuaikan langkahnya dengan Giselle.


"Hmmm? Hai, Sean!" Giselle menyapanya balik dengan tersenyum memaksa dan hanya melirik Sean sekilas.


"Sel, kamu kenapa, sih? Kok aku perhatiin sekarang kamu seperti menghindar dari, aku? Apa aku punya salah sama, kamu?" tanya Sean, ia memang merasa ada yang berbeda dari sikap Giselle kepadanya.


"Eng... Enggak kok, Aku cuma ... Aku cuma lagi banyak tugas aja," kilah Giselle, ia tak sanggup mengatakan kalau ia memang menghindar dari Sean, mungkin dibenaknya meminta dirinya untuk melupakan Sean, tapi berbeda dengan hatinya yang masih sangat mengharapkan Sean.


"Sel, kamu kok pucat banget, sih? Kamu, sakit?" Sean khawatir melihat wajah Giselle yang pucat pasi, ia menyentuh dahi Giselle dengan punggung tangannya, dan benar saja, dahinya terasa sangat panas saat Sean menyentuhnya, ia juga memegang tangan Giselle yang ternyata juga terasa sangat panas.


"Sel, kamu sakit, Sel! Ayo aku antar ke rumah sakit!" Sean menarik pergelangan tangan Giselle, yang kemudian ditepisnya.

__ADS_1


"Enggak usah, Sean. Aku ke rumah sakit sama Gita aja," Giselle menolaknya, karena ia sangat takut kalau Sean mengetahui tentang penyakitnya.


"Tapi kamu udah pucat banget, Sel! Ayo pokoknya aku antar kamu ke rumah sakit, kalau kamu masih nolak, aku gendong kamu sekarang juga!"


__ADS_2