First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Jus Jeruk Terkutuk


__ADS_3

"Siapa yang kasih jus jeruk itu ke kamu, Zi?" tanya Gita menatapnya tajam.


"Pelayan, ada seorang pelayan yang kasih jus jeruk itu ke aku," jawab Zico.


"Di pesta itu siapa aja yang kamu temui?" tanya Gita lagi.


"Aku ... Aku ...," Zico menggantung kalimatnya.


'Kalau aku bilang pada Gita aku ketemu cewek iblis itu, Gita bisa curiga kalau aku sudah melakukan itu sama dia,' gumam Zico dalam batinnya.


"Nggak, Sayang. Aku nggak ketemu siapa-siapa, kok," jawabnya. Lalu mendekati wajah Gita dan berbisik di telinga Gita.


"Sayang, tolong aku ... Aku nggak sanggup menahannya lagi ... kamu mau ya melakukannya sama aku? Aku pasti tanggung jawab, Sayang. Kan kita sudah tunangan, aku nggak mungkin tinggalin kamu. Kamu kan tau aku cinta banget sama kamu," pinta Zico dengan nafasnya yang memburu, membuat sekujur tubuh Gita seketika seperti tersengat aliran listrik dari ujung kaki sampai ke pucuk kepalanya.


"Tapi, Zi ... Ibu ... Aku udah janji sama Ibu, Zi," lirihnya menitihkan air mata.


"Ibu kan berpesan seperti itu karena dulu kita masih remaja dan masih anak SMA, tapi sekarang kan kita udah dewasa, Sayang. Bahkan kita udah tunangan, dan kita akan menikah beberapa bulan lagi setelah kamu menyelesaikan KOAS kamu. Please, Sayang. Aku nggak akan meminta kamu melakukan ini sekarang kalau bukan karena jus jeruk terkutuk itu," tutur Zico terdengar begitu frustasi sambil meremas dan mengacak-acak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang menaruh obat perangsang di jus jeruk itu, Zi," duga Gita.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu," jawab Zico.


Zico pun beranjak dari sofa itu dan menyambar jas hitamnya ingin keluar dari apartemen Gita, tapi Gita tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.


"Sayang, kamu jangan pergi," lirih Gita menyandarkan sebelah pipinya di punggung Zico dan melingkarkan lengannya di perut Zico. Ia tak mau kalau Zico pergi keluar dan melampiaskan efek obat itu pada wanita lain di luar sana.


"Aku nggak sanggup kalau di sini terus," sahut Zico dengan terus mengibas-ngibaskan kerah kemejanya karena hawa panas ditubuhnya, apalagi dengan Gita yang memeluk tubuhnya seperti itu, membuatnya semakin menginginkannya.


"Aku ... aku mau ...," ucap Gita ragu-ragu.


"Serius, Sayang? Kamu beneran mau?" tanya Zico membelai pipi Gita.


Gita pun mengangguk, "Tapi ... Aku takut, Zi."


Zico sedikit membungkuk dan menyambar bibir Gita lagi. Ia lu mat bibir mungil Gita dengan lembut, Gita pun mengalungkan lengannya di leher Zico dan membalas luma tannya, bahkan saat ini li dah mereka pun saling bertaut, yang tadinya ciuman itu terasa lembut, tapi lama-lama menjadi ciuman yang begitu bergairah.

__ADS_1


Zico menggendong Gita dengan tangannya yang menahan paha Gita dan betis Gita pun melingkar di pinggangnya tanpa melepaskan bibirnya yang saling bertaut, mereka terus saling melu mat dengan Zico yang terus berjalan masuk ke kamar Gita dan membaringkan Gita di atas ranjangnya.


Ia lepaskan kemeja yang sedang dikenakannya, kemudian ia mulai melepaskan kancing piyama yang dikenakan Gita satu persatu.


Saat baru dua kancing yang terlepas, Gita tiba-tiba menutup bagian depan tubuhnya itu dengan kedua tangannya.


"Aku ... Aku takut, Zi," lirih Gita.


"Jangan takut, ya, aku akan melakukannya pelan. Ini pun adalah kali pertama aku melakukannya. Pejamkan mata kamu dan berpegangan di pundak aku!" Zico membimbing Gita. Gita pun mengangguk dan memejamkan matanya sambil berpegangan pada pundak Zico.


Jemari Zico dengan lincahnya menelusuri lekuk tubuh Gita yang ada di bawah kungkungan tubuhnya. Jemarinya membuka lagi kancing piyama yang Gita kenakan satu persatu. Hingga nyaris terbuka sempurna.


Zico menjamah setiap inci kulit Gita dengan bibirnya. Sebelah tangannya membuka penutup buah kehidupan Gita dengan penuh gairah.


“Aaaaght,” Gita yang tidak bisa menahan hasratnya pun melenguh dengan pasrah. Gita mengangkat sebagian tubuhnya, menggeliat sambil menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Zico, laki-laki yang sangat dicintainya itu.


Bibir Zico terus saja bermain di buah kehidupan Gita dengan lincah, sesekali ia membuat gigi tan nakal yang membuat kekasihnya itu semakin tak berdaya untuk menolak setiap hisa pan yang ia buat. Zico terus menghi sap buah kehidupan milik Gita, sebelah tangannya terus mere mas benda itu dengan sekuat-kuatnya.

__ADS_1


“Jangan, aku takut, Zi,” ucap Gita sambil menutupkan kedua kakinya saat Zico hendak membuka celananya. Gita mengapit kedua belah tangan dengan kakinya, mencoba melindungi sesuatu yang paling berharga yang ia miliki saat ini.


“Apa yang buat kamu takut, Sayang?” tanya Zico berbisik di telinga Gita dengan bisikan yang lembut disertai endusan napas yang keras.


__ADS_2