
Sean yang mendapat panggilan dari Yolla pun bergegas menghampiri Yolla di hotel tempat Mike menginap.
Ia mendengar semua yang dilakukan Mike pada Yolla, karena Yolla benar-benar tidak mematikan panggilannya sehingga Sean dengan jelas mendengar semuanya.
Saat tiba di hotel ia kesulitan untuk naik ke kamar Mike, lalu ia membiarkan resepsionis hotel mendengarkan panggilan dari Yolla. Terdengar sangat jelas Yolla yang sedang berteriak meminta tolong, akhirnya resepsionis hotel pun meminta security untuk mendampinginya. Namun, Sean meminta untuk di dampingi dengan seorang petugas wanita saja, agar Mike tidak curiga dan mau membukakan pintunya. Karena ia khawatir kalau security tiba-tiba membuka pintunya dan Yolla sudah dalam keadaan tak berpakaian, ia tak ingin membuat Yolla malu di hadapan banyak orang.
Untung saja Sean datang tepat pada waktunya, ia menghampiri Yolla yang sedang duduk gemetar di atas ranjang dengan keadaan yang sudah tidak karuan sambil menangis. Ia melepas jas nya untuk menutupi bagian depan tubuh Yolla.
"Tenang ya, Sayang," ucap Sean mencoba menenangkan Yolla sambil menangkup wajah Yolla.
Melihat kondisi Yolla yang seperti itu. Benar-benar membuat Sean sangat murka pada Mike. Ia menghampiri Mike yang baru saja berdiri setelah tadi jatuh terjengkang di atas lantai.
Ia menghajar wajah Mike berkali-kali sekuat tenaganya sampai wajah Mike babak belur dan mengeluarkan darah segar di kedua sudut bibirnya.
"Han, Stop it!" teriak Yolla namun masih duduk mematung di tempatnya.
"Dia nggak bisa di biarin, Sayang. Dia udah keterlaluan," jawab Sean dengan wajah yang penuh amarah.
"Tolong bawa aku pergi dari sini," ucap Yolla menangis terisak.
"****!" maki Sean pada Mike sambil menghajar wajahnya sekali lagi baru melepasnya.
"I'll keep you locked up in a prison in my country!" ancam Sean pada Mike. Ia akan membuat Mike terkurung di dalam penjara.
"Enggak, Han! Jangan! Jangan laporin dia ke polisi, biarin dia balik ke negaranya aja," ucap Yolla.
"What's?" Sean mengernyitkan dahi, "dia udah melecehkan kamu lho, Sayang. Terus kamu mau lepasin dia gitu aja?" omel Sean pada Yolla.
"Biarin dia balik ke sana, Han. Please. Selama ini di sana dia udah ngelindungin aku, anggap aja ini balas budi aku sama dia," ucap Yolla lagi masih sambil menangis.
Sean yang melihat Yolla terus menangis pun akhirnya menghampiri Yolla lagi kemudian ia mencoba merapikan rambut Yolla dengan jemarinya.
__ADS_1
"Ayo ke toilet dulu, rapihin dulu baju kamu baru kita keluar," ucap Sean.
Yolla pun mengangguk dan menurut untuk pergi ke toilet yang pintunya sudah rusak itu.
Setelah memapah Yolla ke toilet, Sean menghampiri Mike kemudian mengancamnya lagi.
"Malam ini juga, lo balik sana ke negara lo! Kalau gue masih mendapati lo di sini, gue akan jeblosin lo ke penjara!"
"Aku akan kembali setelah pesta pernikahan Zico dan Gita, tolong kasih aku waktu sampai hari itu," pinta Mike. Karena memang tujuannya datang ke Indonesia karena untuk menghadiri pesta pernikahan Zico dan Gita. Zico lah yang sudah mengundangnya.
"Zico dan Gita nggak bakal sudi lo datang ke pesta pernikahan mereka setelah mereka tau apa yang udah lo lakukan sama Yolla!"
"Itu benar, Mike. Lebih baik kamu pulang, Zico nggak kan biarin kamu balik kalo dia tau apa yang udah kamu lakukan ke aku," Yolla menimpali setelah keluar dari toilet.
"Yolla, I'm sorry about that. I was mistaken, I'm really sorry," ucap Mike menyesal.
Yolla pun hanya menganggukkan kepalanya, kemudian menyambar tasnya yang berada di atas ranjang kemudian pergi keluar dari kamar hotel itu dengan air matanya yang terus mengalir. Sean pun mengejar Yolla dan merangkulnya.
Yolla pun hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Setelah tiba di parkiran dan sudah berada di dalam mobil Sean, melihat Yolla yang terus menangis ia mendekatkan tubuhnya ke Yolla dan memeluknya. Namun, tidak seperti biasanya yang selalu menyambut pelukan dari sang kekasih. Kali ini Yolla menolaknya.
"Honey, kamu kenapa?" tanya Sean tak mengerti.
"Aku udah kotor, Sean. Aku udah di sentuh dia, aku jijik sama tubuh aku sendiri!" Yolla terisak sambil mengusap kasar bibirnya yang bekas di ***** paksa oleh Mike. Ia bahkan menjambak rambutnya sendiri.
"Sayang, kamu tenang, ya. Aku paham kamu shock atas apa yang terjadi tadi, aku minta maaf sama kamu karena aku datang terlambat, ini salah aku, harusnya aku nggak biarin kamu ketemu sama dia," ujar Sean sambil menangkup wajah Yolla.
"Enggak, Sean. Kamu nggak salah. Kamu udah ingetin aku tadi, tapi aku nya yang ngeyel nggak mau dengerin apa kata kamu," balas Yolla masih sambil menangis.
"Ya udah jangan nangis lagi, ya. Kamu mau pulang ke mansion kamu atau ke apartemen?" tanya Sean sambil memeluk erat tubuh Yolla dan mengusap lembut punggungnya.
__ADS_1
"Aku takut sendirian, kamu mau nggak temenin aku di apartemen? Aku takut kalo Mike tiba-tiba datang lagi."
"Okay, aku temenin. Udah sekarang kamu tenang, jangan nangis lagi, ya?"
Yolla pun menganggukkan kepalanya sambil menyeka air matanya dengan punggung tangannya sendiri.
Sean menangkup wajahnya kembali dan memberikan kecupan hangat di keningnya. Ia pun melajukan mobilnya menuju apartemen Yolla.
Lima belas menit pun berlalu dan mereka sudah tiba di basemen apartemen Yolla. Namun, Yolla tertidur, Sean yang tidak tega untuk membangunkannya pun membiarkannya, menunggu Yolla bangun dengan sendirinya.
Sean menghadapkan tubuhnya menghadap Yolla sambil menatapnya.
"Aku cinta banget sama kamu, Sayang. Aku janji secepatnya aku akan melamar kamu, aku akan membuat kamu menjadi milik aku seutuhnya," gumam Sean tersenyum memandangi Yolla.
Setelah satu jam berlalu, Yolla baru terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat Sean yang sedang menatap layar ponselnya seperti sedang menelusuri sesuatu.
"Han, kita udah sampai? Kok kamu nggak bangunin aku?" tanya Yolla.
Sean yang terkejut karena ternyata Yolla sudah bangun pun seketika mematikan layar ponselnya dan menatap Yolla.
"Kamu udah bangun, Sayang? Tadi aku nggak tega bangunin kamu, makanya aku biarin dulu kamu tidur. Kalo aku gendong kamu pasti kamu bangun," tutur Sean.
"Ya udah ayo kita naik," ajak Yolla sambil meregangkan tubuhnya.
Sean pun tersenyum, "Kamu capek ya, Sayang?"
Yolla mengangguk dan mulai mengulas senyum manisnya.
Mereka pun naik ke apartemen Yolla yang terletak di lantai sepuluh.
Dengan ragu Sean melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Yolla. Karena baru pertama kali ia masuk ke dalam apartemennya. Biasanya ia hanya mengantarnya sampai lobi saja.
__ADS_1