
(Zico! Kamu sama Gita kemana? Kenapa kalian tidak pulang ke rumah?!) omel daddy Austin dari sebrang telponnya. Rupanya yang menelpon menggunakan ponsel maminya adalah daddy Austin.
Daddy Austin merasa sangat khawatir karena putra semata wayangnya dan juga putri dari sahabatnya yang sangat ia sayangi itu tidak pulang dari kemarin pagi.
Gerald pun yang sedang berada di mansion Zico untuk bertemu Gita merasa khawatir, ia yang meminta uncle nya itu untuk menelpon Zico, karena ia sudah mencoba menghubunginya tapi selalu di reject oleh Zico.
Ia ingin menemui Gita karena masih hafal hari ulang tahun Tasya alias Gita kecil. Ia sengaja sudah menyiapkan sebuah kado untuk Gita dan berharap bisa memberikannya pagi ini, tapi nyatanya Gita malah tidak ada di mansion Zico.
"Zico sama Gita semalam menginap di apartemen Gita, Dad," terang Zico dengan santainya, membuat Gita memukul pahanya.
(What's? Tasya lo apain, Zico?) sahut Gerald emosi di sebrang telpon, rupanya daddy Austin melakukan panggilannya di loudspeaker.
Mendengar omelan Gerald membuatnya semakin ingin membuatnya emosi, akhirnya ia bisa balas dendam pada saudara sepupunya yang sudah membuatnya merasa kesal beberapa hari yang lalu.
"Terserah gue lah! Kepo banget, Lo!" sahut Zico ketus, padahal wajahnya terlihat sangat senang karena telah berhasil membuat Gerald marah.
"Siapa itu, Sayang?" tanya Gita penasaran, karena tidak mungkin Zico berbicara lo gue dengan orangtuanya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Gita, Zico tak menjawabnya, hanya melirik Gita sambil tersenyum usil.
"Iiish! Kamu kok malah tertawa, Sih?" gerutu Gita.
(Zico! Kamu sama Tasya pulang sekarang juga!) titah daddy Austin terdengar begitu marah.
Gita yang mendekatkan telinganya ke telinga Zico pun bisa mendengar omelan daddy Austin, seketika ia merampas ponsel Zico dan mencoba menjelaskannya pada daddy Austin.
"Dad, ini Tasya. Ini nggak seperti yang Daddy pikirin, kok. Tadi malam Zico sama teman-teman kasih aku surprise karena aku ulang tahun hari ini, terus mereka semua termasuk Zico tidur di apartemen aku, ada Naura juga, kok, Dad," terang Gita panjang lebar, ia sangat takut daddy Austin salah paham padanya dan juga Zico.
(Oh, begitu rupanya! Ya sudah, nanti sore kalian pulang ke rumah ya, kita adakan perayaan untuk ulang tahun kamu!) titah daddy Austin.
(Tidak boleh menolak, Tasya! Pokoknya nanti malam kita makan malam sekeluarga di restoran biasa,) tegas daddy Austin di sebrang telpon, terdengar tak ingin di bantah.
"Baiklah, Dad," sahut Gita menurut.
daddy Austin pun memutuskan panggilannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sayang? Daddy ngomong apa?" tanya Zico penasaran karena melihat wajah Gita yang tiba-tiba terlihat murung.
Gita menghela nafasnya panjang,
"Hmmm ... Daddy minta kita pulang nanti sore, katanya ingin mengadakan makan malam di restoran biasa untuk merayakan ulang tahun aku," terang Gita menundukkan pandangannya sembari mencabuti rumput yang ada di sampingnya.
"Ya bagus, dong! Terus kenapa kamu malah murung gitu?" tanya Zico lagi.
"Aku nggak enak, Sayang ... Rasanya aku selalu merepotkan Mommy sama Daddy," jawab Gita yang masih murung.
"Merepotkan apanya? Kan Daddy cuma ajak kita makan malam untuk merayakan ulang tahun kamu. Ya berarti Daddy memang sayang banget sama kamu," tutur Zico.
"Iya, sih ... Aku memang merasa seperti itu, Mommy sama Daddy terlihat sayang banget sama aku, aku beruntung memiliki kamu dan mereka, Sayang ... Makasih ya kamu selama ini selalu ada buat aku," imbuh Gita.
Zico hanya memeluknya erat sembari mengecup pucuk kepala Gita.
Mereka pun melanjutkan menyantap makanannya lagi.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap makanannya mereka pun kembali ke apartemen Gita, tak lupa mereka membawakan ketoprak itu beberapa porsi untuk teman-temannya dan juga Naura yang entah saat ini sudah bangun atau masih terlelap.