
Tok... Tok... Tok...
"Zico!"
Mendengar ketukan itu membuat Gita dan Zico tersentak dan saling melepaskan diri satu sama lain.
Untung saja kaca mobil Zico tidak akan terlihat dari luar, walaupun wajah Gerald saat ini menyentuh kacanya.
Ya, memang Gerald lah yg tiba-tiba mengetuk kaca mobil Zico. Mengganggu sekali!
Gita pun segera merapihkan rambut dan bajunya sebelum Zico membuka kaca mobilnya.
"Apa sih, Lo? Ganggu aja! Auwww!!!" pekik Zico yang dicubit lengannya oleh Gita.
"Memang lagi ngapain Tasya, Lo?" omel Gerald.
"Ya terserah gue, lah! dia cewek gue, kok! Iya nggak, Sayang?" tutur Zico menaik-naikkan alisnya usil.
Gita pun hanya mendengus, kesal pada dua lelaki yang selalu saja bertengkar itu.
"Kalian lanjutin aja deh bertengkar nya, aku mau masuk duluan ke dalam," cetus Gita sambil membuka pintu mobilnya dan meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, tunggu!" teriak Zico saat melihat Gita berjalan begitu cepat dan sedang disusul oleh Gerald yang berjalan ke arahnya.
Zico bergegas turun dari mobil dan berlari ke arah Gita, ia berjalan di samping Gita dan merangkul Gita.
"Tasya ... Selamat ulang tahun, ya!" ucap Gerald tersenyum.
"Makasih, Kak," jawab Gita menatap ke arah Gerald sambil mengulas senyumnya.
"Ini ... buat kamu," Gerald memberikan sebuah paper bag kecil yang berisi kotak kecil yang dibalut kertas kado bermotif love.
"Apa ini, Kak?" tanya Gita mengernyitkan dahi kemudian menghentikan langkah kakinya.
"Kado buat kamu," sahut Gerald tersenyum.
Zico melirik sinis pada Gita yang sedang menatapnya lalu melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam restoran.
Gita menghembuskan nafasnya kasar.
'Hmmm ... Pasti ngambek, deh!' batinnya.
"Sayang! tunggu dong!" panggil Gita sambil berlari ke arah Zico.
Gita memeluk lengan Zico sambil tersenyum menatapnya yang sedang cemberut.
__ADS_1
Sedangkan Gerald berjalan di belakang mereka tersenyum getir.
'Aku benar-benar telat ketemu kamu, Sya. Andai aja aku ketemu kamu lebih dulu daripada Zico,' Gerald bergumam dalam batinnya.
Didalam restoran...
"Sayang ... Selamat ulang tahun ya, Nak. Do'a yang terbaik dari Mami untuk kamu," ucap mommy Celine sembari memeluk Gita dan mencium pipinya kanan dan kiri.
"Makasih ya, Mam," jawab Gita menitihkan air matanya, ia merasa terharu atas semua perhatian keluarga Zico, ia merasa hidupnya sangat beruntung, di saat ia kehilangan ibunya, Tuhan hadirkan orang-orang di sekelilingnya yang sangat menyayanginya.
"Selamat ulang tahun ya, Tasya," ucap daddy Austin juga ke Gita sambil merangkulnya.
"Makasih ya, Dad," sahut Gita mengulas senyumnya.
"Ya sudah ... Mari kita makan,"
Mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh para pelayan.
Setelah selesai menyantap hidangannya, Zico pun memulai obrolannya.
"Mom, Dad ... Boleh nggak kalau Zico dan Gita tunangan dulu?" Zico to the point meminta izin pada kedua orang tuanya.
"Uhukkk ... Uhuukkk ...," Gita yang sedang meminum jus stroberinya pun tersedak karena mendengar perkataan Zico barusan.
"Minum ini, Sayang,"
Setelah Gita tidak terbatuk-batuk lagi, daddy Austin mulai menjawab perkataan Zico.
"Zico! Kamu sudah bicarakan ini dengan Gita sebelumnya?" tanya daddy Austin dengan tegas.
"Belum, Dad," sahut Zico singkat.
'Benar-benar seperti aku!' gumam daddy Austin dalam batinnya.
Ia seperti mengalami dejavu, momen saat ini seperti kembali ke momen nya saat dulu dirinya melamar sang istri tercinta.
"Kamu itu benar-benar seperti Daddymu, Son," cebik mommy Celine.
"Maksud, Mommy?" tanya Zico menyatukan alisnya.
"Daddymu itu dulu sama seperti kamu. Dia melamar Mommy itu saat makan malam bersama seperti ini, tanpa menanyakan kepada Mommy terlebih dahulu," cetus mommy Celine sambil memutar bola matanya.
"Tau nih, Mom. Tadi nggak bilang apa-apa, tau-tau malah bilang seperti itu," cebik Gita sambil memanyunkan bibirnya.
Zico pun seketika menggeser kursinya dan berlutut disamping Gita, mengeluarkan sebuah cincin emas putih yang terdapat berlian kecil ditengahnya.
__ADS_1
Gita dan Mommy pun membelalakkan matanya melihat Zico yang ternyata sudah menyiapkan semuanya untuk melamar Gita, bahkan saat ini ada seorang pelayan yang membawakan buket bunga yang sangat cantik yang sudah disiapkan Zico.
"Sayang, kamu mau kan nanti menikah sama aku?" ucap Zico lembut dengan tatapan penuh harap.
"Menikah? Tadi katanya tunangan?" sahut Gita.
"Iya maksudnya kita tunangan dulu, Sayang. Nanti setelah kamu mendapatkan gelar dokter kamu, baru kita menikah. Kan aku melamar kamu dengan tujuan untuk menikah saat kamu sudah siap nantinya," terang Zico.
"Ooh ...," jawab Gita sambil berpikir.
"Kamu mau kan, Sayang?" tanya Zico lagi dengan tatapan yang benar-benar penuh harapan bahwa Gita akan menerima lamarannya.
"Gimana, Sayang? Kamu udah siap terima lamaran Zico? Kalau kamu belum siap juga nggak apa-apa, Nak. Tolak saja," tutur mommy Celine tersenyum usil.
"Mommy!" tegur Zico menatap kesal mommy nya. Ia kesal sekali saat ini, bukannya mendukungnya, tapi malah berbicara seperti itu pada Gita.
"Maksud Mommy tuh, Gita jangan sampai menerima kamu hanya karena merasa segan atau nggak enak sama Mommy dan Daddy ... Gita harus benar-benar menerima kamu karena hatinya memang sudah siap," imbuh mommy Celine.
'Aku nggak tega kalau menolak Zico lagi, dulu saja waktu di kamarnya dia marah karena aku tolak, apalagi ini ada Kak Gerald yang selalu berhasil membuat dia cemburu. Aku nggak mau kalau sampai Zico merasa malu karena di tolak di depan Kak Gerald ... Pasti dia bakal marah banget sama aku. Aku nggak mau kehilangan Zico, aku nggak rela kalau sampai Zico sama wanita lain, mengingat kejadian kemarin saja sudah membuat hati aku merasa sakit sekali saat melihat Zico bersama wanita lain, sebelum aku tau kalau itu adalah Naomi, sepupunya,' pikir Gita dalam benaknya.
"Sayang ... Kok malah melamun? Gimana? Kamu mau, Kan?" tanya Zico lagi yang menatapnya dengan penuh cinta.
Gita pun tersadar dari lamunannya, ia menatap Zico dan menganggukkan kepalanya sembari mengukir senyuman indah diwajahnya.
"Serius, Sayang?!" tanya Zico lagi yang masih belum percaya.
"Iya, Sayang," sahut Gita masih mengulas senyumnya.
Zico pun seketika berdiri dan memeluk Gita yang masih duduk di kursinya.
"Makasih ya, Sayang," ucap Zico, lalu mencium dahinya.
Gerald yang melihatnya pun tersenyum getir, rupanya kesempatannya benar-benar sudah hilang, sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya mendapatkan Gita. Karena baik Zico maupun Gita, mereka benar-benar terlihat saling mencintai.
Mommy Celine dan daddy Austin pun tersenyum melihat putra semata wayangnya sudah berhasil melamar Gita.
Zico melepaskan pelukannya dan duduk di kursinya kembali, ia pakaikan cincin berlian itu di jari manis tangan kiri Gita.
Gita benar-benar terlihat sangat bahagia, tak menyangka kalau hubungannya dengan Zico akan menjadi semakin erat seperti ini.
Mereka pun menjalani hari-hari mereka dengan perasaan yang bahagia setelah lamaran itu, tanpa ada lagi rasa takut kehilangan di antara mereka, karena sudah ada cincin yang melingkar di jari manis mereka satu sama lain.
Mommy Celine dan daddy Austin sudah meminta mereka menggelar pesta pertunangan yang mewah untuk mereka berdua, tapi karena Gita yang menolaknya dengan alasan ia tak ingin identitas keluarganya di cari tahu oleh para wartawan, apalagi tentang kematian sang ayah, akhirnya mommy Celine dan daddy Austin pun mengerti, dan tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi.
Apalagi para wartawan memang selalu ingin mengulik tentang kehidupan pribadi keluarga seorang Elbert William, pengusaha terkaya se-Asia tenggara itu.
__ADS_1