
"Tapi, La. Apa mungkin Priscilla cuma simpen satu salinan aja? Pasti dia punya banyak salinan video itu," jawab Gita yang ragu pada ajakan Yolla.
(Nggak, Git. Gue udah pastiin kalau Priscilla bener-bener udah nggak punya salinannya lagi,) ucap Yolla meyakinkan sahabatnya itu.
"Masa iya, La? Lo bisa tau dari mana?"
(Sebenarnya gue minta tolong sama tante lo, Git. Buat cari tahu melalui Viola.)
"Hah? Lo minta tolong Tante Indira? Berarti lo kasih tau tentang gue ke Tante Indira, La?" ucap Gita membelalakkan matanya.
(Iya, Git. Sorry banget, ya ... gue terpaksa kasih tau Tante Indira, gue nggak sanggup bayangin Zefa yang sering banget nanyain tentang Daddy nya, Git. Kalo Zefa lagi sama gue, dia sering banget nanyain apa dia punya Daddy atau nggak, apa Daddy nya masih hidup atau nggak, hati gue sakit banget denger setiap pertanyaannya, Git.) terang Yolla panjang lebar.
Gita pun menitihkan air matanya kembali sambil menatap kedua buah hatinya.
"Mommy, Mommy jangan menangis lagi ya ... Maafin Jepa ya, Mommy," ucap Zefa sambil menghapus air mata yang membasahi wajah cantik sang mommy kemudian memeluknya, membuat Gita tersenyum karena tingkah manis sang putri.
Yolla yang di sebrang telepon pun mendengar celoteh Zefa yang cadel, ia pun ikut menitihkan air matanya.
Sejak saat itu, Gita pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia demi mempertemukan kedua buah hatinya itu dengan ayah kandungnya, Zico.
Sebelum kembali ia sudah sempat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT di Jakarta, dan ia pun mendapat pekerjaan menjadi sekretaris eksekutif di perusahaan yang cukup besar namun sedang mengalami masalah keuangan itu, karena pengalaman Gita yang pernah bekerja di perusahaan yang cukup besar di Paris.
***
Satu bulan pun berlalu...
Di ruangan CEO salah satu cabang perusahaan milik Williams Group.
"Tuan, ini dokumen yang harus Tuan tanda tangani untuk meeting jam 9 nanti," Sean memberikan beberapa dokumen pada Zico yang sekarang menjadi atasannya itu dengan wajah serius.
Ya, Memang Sean sama seperti sang ayah, ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan William Groups. Sean saat ini bekerja sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi untuk sahabatnya sendiri, yakni Zico. Karena Zico menolak untuk memiliki sekertaris perempuan, ia yang bilang pada daddy Austin bahwa dirinya tak ingin memiliki sekertaris selain Sean, akhirnya Sean yang tadinya enggan untuk menjadi sekertaris Zico pun tak berani menolaknya setelah daddy Austin yang memintanya secara langsung.
"Nggak usah panggil gue Tuan segala, cuma ada kita berdua doang, kok," ketus Zico, ia sebenarnya sangat risih dipanggil Tuan oleh sahabatnya sendiri, tapi karena profesionalitas mau tidak mau ia harus mau dipanggil Tuan oleh sahabatnya itu.
"Eh iya gue lupa, Zi. Maklum kebiasaan, hehe," ucap Sean sembari menunjukkan barisan gigi putihnya seperti kuda. Sedangkan Zico hanya tetap memasang raut wajah dingin dan datarnya. Sama persis seperti saat ia belum dekat dengan Gita.
Bahkan disaat namanya sedang melambung seperti sekarang ini, begitu banyak wanita yang sibuk mendekatinya, dari mulai model, selebriti sampai kolega bisnisnya. Namun ia tak pernah meladeni satu wanita pun, karena hatinya hanyalah milik Gita seorang. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga hatinya untuk Gita sampai ia bertemu lagi dengan Gita kelak.
Saat ini Zico sudah menjadi sosok pengusaha muda yang sukses, karena ia selalu saja berhasil mengembangkan semua cabang perusahaannya karena ide-ide nya yang brilian.
Bahkan saat ini Zico sudah menggelar predikat pengusaha muda tersukses se-Asia.
__ADS_1
Sampai-sampai para wartawan pun selalu sibuk mencari beritanya tentang hubungan Zico dengan lawan jenisnya, namun selalu saja nihil. Bahkan para paparazi pun tak pernah bisa mendapatkan foto Zico dengan seorang wanita mana pun karena memang tak ada satupun wanita yang diladeni oleh Zico.
"Oya, Zi. besok malam Tuan Romi dari Stanley Group mengadakan pesta Anniversary pernikahannya, dia mengundang banyak kolega bisnis kita, apa lo mau datang kesana?" tanya Sean sambil menunggu beberapa dokumen yang sedang ditanda tangani Zico.
"Enggak!" jawabnya singkat.
"Oh, ya udah," sahut Sean menggaruk ujung alisnya yang tak gatal itu dengan jari telunjuknya. "Oya Zi, kemaren ini gue papasan sama Yolla di restoran dekat kantor kita, dia lagi telfonan, tapi dia kayak sebut-sebut nama Gita gitu, deh," lanjutnya.
Sontak Zico pun menghentikan pergerakan tangannya yang sedang membolak-balikkan dokumennya itu, ia pun menatap ke arah Sean.
"Lo serius?" tanya Zico dengan tatapan tajamnya yang dingin.
"Soalnya dia sebut-sebut nama orang di sebrang telponnya itu Git, siapa lagi kalo bukan Gita 'kan?" terang Sean yang memang sangat hafal dengan kebiasaan Yolla.
"Gue mau, lo bener-bener cari tahu tentang siapa orang yang sering Yolla hubungi, Sen. Kalo bener itu Gita, berarti selama ini Yolla dan Mike udah bohongin gue! Damn!" tutur Zico dengan rahang yang mengetat sembari menggebrak meja itu dengan kepalan tangannya dan meremas kertas yang ada di mejanya.
"Okay, Zi. Gue akan cari tau nanti setelah meeting kita selesai."
"Sekarang! Sekarang juga lo cari tau! Gue bisa meeting sendiri," titah Zico.
"Tapi, Zi. Kayaknya kalo dari yang gue denger, Yolla kayak nyuru Gita balik ke sini gitu, Zi. Takutnya nanti kalo gue tiba-tiba tanya sama Yolla tentang Gita, Gita malah nggak jadi balik ke sini."
"Ya jangan sampe Yolla ta?u, lah! Heran gue, otak lo kok jadi tambah dangkal gitu sih, Sen!" ketus Zico.
"Eh, berani lo ya sama gue? Mau gue potong gaji lo bulan ini?" ancam Zico melihat sahabatnya itu cemberut.
"Jangan dong, Zi. Tega banget lo sama sahabat lo ini," ucap Sean memelas.
"Makanya cepetan lo cari tahu, kalau lo berhasil dapetin info di mana Gita sekarang, gue kasih lo bonus 1 M!"
"What's? 1 M? Serius lo, Zi?"
"Serius!" tegas Zico sembari membuka-buka dokumennya lagi.
"Okay, Zi. Gue bakal cari tau semuanya sekarang juga."
"Ya udah, cepetan pergi sana," ketus Zico.
"Pergi ke mana, Zi?"
"Ya Tuhan! Coba deh lo banyakin makan salmon sama jagung biar otak lo nggak lemot begitu, Sen! Ck-ck," omel Zico dengan tatapan bossy sambil berdecak.
__ADS_1
"Oh, maksud lo gue ikutin Yolla nya mulai sekarang?"
"Enggak! Tahun depan!" sentak Zico.
Sean pun menuruti perintah sahabatnya sekaligus bos nya itu, ia merasa horror jika sudah melihat tatapan Zico seperti itu, bisa-bisa gajiannya benar-benar dipotong oleh Zico.
Saat Sean beranjak keluar menutup pintu ruangannya dan ia telah selesai menandatangani semua dokumennya, Zico membuka laci mejanya yang di mana di dalam laci itu terdapat pigura foto yang terpasang fotonya dengan Gita saat kuliah dulu.
"Sayang, kenapa sih sulit banget buat ketemu kamu? Kenapa segitu bencinya kamu sama aku sampai terus menjauh dari aku sampe selama ini?" gumam Zico sembari menghembuskan nafasnya kasar dan membelai wajah Gita pada pigura itu.
Ia masih sangat begitu mencintai Gita, bahkan setiap bergumam tentang Gita, panggilan sayangnya itu selalu terucap dari bibirnya.
***
Di Bandara internasional Soekarno-Hatta ...
"La, lo di mana? Kok belum sampai? Kasian nih anak-anak, La. Kita udah tunggu lo satu jam di sini, kalo lo nggak bisa jemput nggak apa-apa kita naik taksi aja ya, La," ucap Gita yang sedang menelpon Yolla.
(Iya, Git. Sorry banget ya, tadi meetingnya lama, Git. Ini gue baru selesai.)
"Ya udah gue langsung ke apartemen gue aja ya, La. Gue nggak tega soalnya sama anak-anak, Zayn udah kelaparan, Zefa juga sampe ketiduran, nih lagi gue gendong,"
(Oh, Ya udah deh, Git. Maaf banget ya, coba aja tadi gue sempatin hubungin lo, mereka nggak akan kelelahan kayak gitu.)
"Nggak apa-apa, La. Ya udah ya, gue mau cari taksi dulu. Bye, La."
(Bye, Git. Take care, ya!)
"Iya, La. Thank's."
Mereka pun menutup panggilannya masing-masing.
Yolla yang tadinya hanya mematung di lobi perusahaannya sambil menelpon Gita pun mulai melangkahkan kakinya lagi dan naik ke mobilnya menuju apartemen Gita.
Ia tak menyadari jika sebenarnya saat dirinya sedang menelpon tadi ada sepasang mata yang sedang mengintainya.
Ya, dia adalah Sean, Sean sengaja menunggu Yolla di lobi perusahan Yolla karena ingin menguntit Yolla demi mendapatkan informasi tentang Gita, dan tentu saja yang lebih penting adalah demi mendapatkan bonus 1 Milyar dari Zico.
Bahkan pakaian yang dikenakan Sean saat ini sama seperti para penguntit di drama-drama korea, memakai pakaian, topi dan masker yang serba hitam. Mungkin Sean kebanyakan nonton drama korea kali ya.
Dan dewi fortuna pun sepertinya memang berpihak pada Sean, ia yang berpikir akan menguntit Yolla beberapa hari ke depan demi mengetahui keberadaan Gita, malah dengan begitu mudahnya ia mendapatkan informasi itu, karena lagi-lagi ia tak sengaja mendengar Yolla sedang berbicara dengan Gita melalui ponselnya.
__ADS_1
Setelah mobil Yolla melaju, Sean pun segera mengambil mobilnya di parkiran dan mengikuti mobil Yolla.