First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Permintaan Zefa


__ADS_3

"Kenapa, Sayang?" tanya Gita begitu lembut kepada anak perempuannya yang cantik dan imut itu, ia berjongkok agar posisinya setara dengan putrinya.


"Jepa ... Jepa di ejek teman, Mommy," keluh Zeva yang masih cadel.


"Di ejek apa, Sayang? Siapa yang sudah berani mengejek princess Mommy yang cantik ini, hm?" ucap Gita tersenyum merayu sang putri sambil mencolek ujung hidungnya.


"Katanya meleka kacihan cama Jepa kalena Jepa nggak punya Daddy, Mom. hiks, hiks," adu Zeva masih sambil menangis kepada Mommy nya, yang membuat hati Gita benar-benar terasa perih, sakit sekali rasanya mendengar kata-kata yang keluar dari bibir mungil sang putri. Manik mata Gita seketika mengembun.


Kenzo yang menyadari raut wajah Gita yang seketika berubah pun, segera mencoba membujuk Zeva.


"Zeva ... kalau Zeva sedang kesal, Zeva harus makan yang manis-manis supaya rasa kesalnya bisa hilang. Bagaimana kalau kita makan ice cream di luar? Mau, ya?" bujuk Kenzo.


Sejak Zayn dan Zeva bisa berbicara, Kenzo tidak sedingin dulu lagi, ia pun terlihat lebih sering bicara sekarang dibandingkan sebelum adanya mereka.


Gita yang menyadari air matanya tiba-tiba terjatuh pun seketika membalikkan badannya dan segera menyeka air matanya.


"Benar kata Uncle Ken, tuh. Sana gih Zeva pergi makan ice cream sama Uncle Ken, ajak Mommy kamu sekalian," titah Yolla yang baru saja keluar dari kamarnya.


Sedangkan Zayn yang memiliki karakter dingin seperti Zico itu pun hanya diam saja duduk di atas sofa sambil menyetel TV.


"Mommy ikut cama Jepa dan Uncle Ken, yuk?" ajak Zeva dengan tatapan penuh harap dan pipi merahnya yang masih basah karena air matanya yang sedari tadi mengalir, bahkan bulu matanya pun masih tampak basah.


Gita pun mengulas senyuman menatap putrinya sambil mengangguk.


"Zayn ... Ayo, Nak. Kita makan ice cream di luar," ajak Gita pada Zayn yang sedang serius menatap layar TV nya.


"Zayn nggak mau, Mom. Zayn mau sama Bunda Yolla aja di rumah," tolaknya tanpa menoleh pada Gita.

__ADS_1


Gita pun menghela nafas panjangnya.


"Beneran kamu mau sama bunda aja di rumah? Padahal lebih enak makan ice cream lho daripada di rumah doang," goda Yolla kepada putra tampannya Gita itu.


Ia yang mengusulkan untuk dipanggil bunda oleh anak kembar Gita.


Yolla begitu menyayangi anak kembar itu seperti menyayangi anaknya sendiri.


"No! Aku lebih suka di rumah, Bun," tolaknya lagi.


"Ya udah kalo kamu nggak mau ikut, tapi jangan nakal sama Bunda ya, Nak," Gita mengingatkan.


"Okay, Mom," sahutnya. Ia memang sudah fasih dalam berbicara, berbeda dengan Zeva yang masih cadel.


Walaupun wajah tampannya itu menurun dari Zico, tapi IQ nya menurun dari Gita, ia sangat pintar dan IQ nya sudah seperti anak kelas 3 SD, padahal ia masih sekolah di Taman Kanak-kanak.


"Makacih ya Uncle Ken udah taktil kita ekim. Uncle Ken baaaaaaiiiik cekali," tutur si cadel Zeva sambil memeluk Kenzo.


Sedari kecil Zeva memang sangat terlihat manja pada Kenzo, berbeda dengan Zayn yang sangat susah untuk di dekati.


"Iya, Sayang," jawab Kenzo tersenyum sambil menyeka es krim yang ada di sudut bibir Zeva.


Gita pun tersenyum melihat reaksi keduanya.


"Uncle! Uncle mau nggak jadi Daddy Jepa?" tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari bibir mungil putri kecilnya Gita.


"Uhukkk ... Uhukkk ..." Gita dan Kenzo yang sedang asyik menyantap es krim nya pun tiba-tiba tersedak saat mendengar kalimat itu, Gita menjadi salah tingkah dibuatnya. Sedangkan Zefa menyatukan alisnya menatap heran pada dua orang dewasa yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Mommy sama Uncle, kenapa? Kok batuknya baleng?" tanya Zefa dengan polosnya.


"Hmm?" sahut Gita kebingungan harus menjawab apa.


Kenzo pun tersenyum melihat Gita yang sedang salah tingkah itu.


"Uncle mau kok jadi Daddy nya Zefa," ucap Kenzo sambil mencubit dagu Zefa.


"Uhukkk ... Uhukkk ..." lagi-lagi Gita tersedak, namun kali ini bukan tersedak es krim, melainkan tersedak oleh salivanya sendiri karena lebih terkejut mendengar ucapan Kenzo dibandingkan pertanyaan putrinya tadi.


"Mommy kok tecedak lagi, cih? kan Mommy udah nggak makan ekim." tegur sang putri.


"Hmm? Mommy ... tenggorokan Mommy cuma lagi agak gatal aja kok, Nak," kilahnya gugup. "Oya, kita pulang yuk kalau sudah selesai. Mommy sebentar lagi berangkat ke rumah sakit soalnya," lanjutnya mengalihkan perhatian.


"Ayo, Mom," sahut Zefa dengan suara imutnya.


Mereka pun berjalan bertiga bergandengan, tangan kanan Zefa menggenggam tangan Gita, sedang tangan kirinya menggenggam tangan Kenzo.


"Uncle, tadi Uncle bilang Uncle mau jadi Daddy Jepa, Uncle benelan mau?" tanya Zefa lagi sambil mendongakkan kepalanya menatap Kenzo.


'Ya ampun Zefa! Kamu kok masih aja sih ngebahas itu, Nak!' gerutu Gita dalam batinnya.


Kenzo pun menghentikan langkahnya, berjongkok menatap Zefa sambil memegang kedua bahunya, "Iya, Uncle mau. Tapi ... Uncle harus tanya Mommy kamu dulu, boleh atau nggak kalau Uncle jadi Daddy kamu," tutur Kenzo kepada gadis kecil itu.


"Mommy!" panggil Zefa mendongakkan kepalanya menatap Gita yang masih berdiri, "Boleh 'kan?" terusnya.


"Sayang ... Please, ya! Stop membahas ini!" jawab Gita dengan tegas.

__ADS_1


"Huaaaaaaaa!!!" Zefa kembali menangis kencang.


__ADS_2