First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
First Kiss Yolla


__ADS_3

Sean mendekap erat Yolla dan tanpa sadar menciumi pucuk kepala Yolla berkali-kali, ia benar-benar sangat takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Yolla. Yolla pun yang tubuhnya masih gemetaran merasakan kenyamanan dalam pelukan Sean. Ia tak memberontak seperti sebelumnya. Hanya merasakan apa rasa nyaman itu sembari menitihkan air matanya.


Gita berlari menghampiri Yolla, "La," lirih Gita terisak.


Yolla pun melepaskan pelukannya dari Sean kemudian memeluk Gita yang sedang terisak.


"Maafin gue, La. Lo jadi kayak gini karena gue," lirih Gita lagi, tangisnya semakin menjadi.


"Enggak, Git. Lo nggak salah apa-apa. Emang Priscillanya aja yang udah nggak waras," kilah Yolla. Ia tak mau Gita terus merasa bersalah kepadanya.


"Ini pasti sakit banget ya, La?" tanya Gita menyentuh luka sayat di leher jenjang Yolla.


"Enggak kok, perih-perih dikit doang," jawab Yolla berbohong, padahal sejujurnya lukanya itu saat ini terasa perih sekali karena telah bercampur dengan keringat yang keluar dari pori-pori nya karena teriknya matahari pada siang ini.


"Ayo, ikut gue ke mobil Zico, di sana ada P3K lengkap, biar gue obatin di sana," ajak Gita.


"Sayang, di bawah kan ada ambulans, pasti di sana obatnya lebih lengkap," tutur Zico.


"Oh iya, Ya. Ya udah ayo kita ke bawah," seru Gita kemudian memapah Yolla berjalan. Gita bisa merasakan tubuh Yolla yang masih terasa gemetar.


Zico dan Sean mengikutinya dari belakang. Namun, saat sedang berjalan, Yolla tiba-tiba teringat pada supir taksi online yang tadi menemaninya.


"Sean, supir taksi itu ke mana?" tanya Yolla.


"Tadi udah di bawa sama polisi ke bawah," jawab Sean.


"Lho? Kok dibawa polisi? Dia kan korban sama kayak aku."


"Iya, aku tau. Tapi, dia dibawa polisi itu ke mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit. Bukan ke kantor polisi, Sayang. Soalnya tadi dia kan pingsan dan belum juga sadarkan diri," terang Sean.

__ADS_1


Zico dan Gita terbelalak saling menatap satu sama lain karena mendengar Sean dan Yolla berbicara dengan kata 'aku kamu', apalagi Sean memanggil 'sayang' kepada Yolla.


"Oh, ya udah, kalo gitu nanti temenin aku ke rumah sakit ya ketemu sama bapak itu," sahut Yolla. Sean pun mengiyakan permintaan Yolla dengan menganggukkan kepalanya.


Mereka bergegas kembali ke bawah dan menghampiri mobil ambulans yang sedang di gunakan Gita untuk mengobati luka sayat Yolla di lehernya.


Setelah selesai mengobati luka Yolla, Gita, Sean dan Zico pun pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian atas segala kejahatan yang Priscilla dan Miko lakukan.


Priscilla yang berhasil selamat dari aksi nekatnya itu pun segera di bawa ke kantor polisi. Ia terancam hukuman penjara seumur hidup.


Ketika mereka telah selesai memberikan kesaksian mereka, Gita meminta izin sebentar untuk menemui Priscilla, namun Zico tidak mengizinkannya, lagi pula Priscilla belum bisa di kunjungi sampai penyelidikan kasusnya telah selesai.


"Terima kasih telah membantu saya menyelesaikan kasus ini, Pak," ucap Zico sambil bersalaman kepada salah satu petugas kepolisian tersebut.


"Justru harusnya kami yang berterima kasih, karena Bapak sudah membantu kami untuk menemukan tersangka," balas sang polisi.


Zico pun mengangguk kemudian mereka berpamitan dan keluar dari kantor polisi.


Yolla masuk ke dalam mobil Sean setelah Sean membukakan pintu untuknya. Saat Sean masuk ke dalam mobil, Sean melihat Yolla seperti sedang melamun. Ia pun memutuskan untuk bertanya.


"Yolla, kamu kenapa, Sayang?" tanya Sean sambil mengelus punggung tangan Yolla yang digenggamnya.


"Sean, apa kamu bener-bener cinta sama aku atau hanya sekedar obsesi?" tanya Yolla tiba-tiba tanpa menoleh pada Sean.


"Obsesi? Maksudnya obsesi apa?" Sean bertanya balik karena tak mengerti maksud dari pertanyaan Yolla.


"Ya obsesi karena kamu belum pernah jadiin aku pacar kamu, jadi sekarang kamu deketin aku cuma karena sekedar untuk mendapatkan aku," lirih Yolla menunduk dan menitihkan air matanya.


"Hah? Ya nggak mungkin lah aku begitu," bantah Sean. Kemudian ia mendekatkan tubuhnya ke Yolla, ia meletakkan kedua tangannya di kedua belah pipinya dan mengarahkan wajah Yolla untuk menatap dirinya.

__ADS_1


"Kamu dengerin aku ya, Sayang. Aku cinta sama kamu ya karena aku memang cinta dan sayang sama kamu, bukan hanya sekedar obsesi. Sekarang coba kamu tatap mata aku, apa aku keliatan lagi bohongin kamu? Apa kamu gak bisa liat seberapa besar cinta aku untuk kamu?"


Yolla hanya diam, lalu masuk ke dalam pelukan Sean.


"Sekarang kamu percaya kan sama aku?" tanya Sean lagi.


Yolla pun mengangguk lemah, Sean tersenyum melihatnya.


"Kamu sayang nggak sama aku? Perasaan kamu masih ada kan untuk aku?" giliran Sean yang bertanya balik tentang perasaan Yolla padanya.


Yolla hanya mengangguk lemah lagi saat menjawabnya.


"Ya udah, deal kamu sekarang pacar aku," ucap Sean memutuskan sepihak sambil merenggangkan pelukannya dan kembali menatap Yolla dengan raut wajah bahagia.


"Sean, tapi kamu kan tau aku udah punya Mike," lirih Yolla menundukkan pandangannya lagi.


"Nggak apa-apa, aku akan sabar tunggu kamu sampai kamu merasa siap untuk  bicara sama dia tentang perasaan kamu yang sebenernya," ujar Sean kemudian mengecup lalu melu mat bibir Yolla dengan mesra sambil memejamkan matanya, Yolla pun terbelalak di buatnya. Karena ini adalah ciuman pertama baginya.


Karena tidak ada respon dari Yolla, Sean pun melepaskan ciumannya, ia takut Yolla marah kepadanya. Namun, ia dibuat terkejut karena Yolla tiba-tiba menarik kerah bajunya dan bergantian melu mat bibir tipis Sean dengan lembut.


Sean pun tersenyum lalu membalasnya, ia melu mat bibir atas Yolla dan Yolla melu mat bibir bawah Sean. Mereka berciuman dengan begitu mesra yang penuh kelembutan sampai Yolla merasa hampir kehabisan nafas dan melepaskan bibirnya yang saling bertaut.


Sean pun tersenyum sambil mengusap lembut bibir Yolla yang masih basah karena salivanya dengan menggunakan ibu jarinya.


"Makasih, Honey. Kamu udah mau terima cinta aku. I love you," ucap Sean menatap lembut Yolla, membuat pipi Yolla merona bak kepiting rebus. Yolla hanya menganggukkan kepalanya.


"Kok nggak di jawab? Jawab dong," pinta Sean terus menatap wajah cantik Yolla.


"Love you too," jawab Yolla malu-malu.

__ADS_1


Sean pun tersenyum kemudian mengecup kening Yolla dengan mesra. Ia kembali membenahi duduknya di kursi pengemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Sean berkali-kali menautkan jemari mereka sambil mengecup punggung tangan Yolla jika tangan kirinya sedang menganggur.


__ADS_2