
“Git? Kenapa? Kok lo malah nangis?” Yolla terkejut melihat reaksi Gita, ia segera memeluk Gita sangat erat, bahkan ia pun turut menitikkan air matanya.
“Ibu La…” Gita masih menangis terisak dipelukan Yolla.
“Ibu kenapa Git?” Tanya Yolla sembari mengusap punggung Gita.
“Kanker… darah… La…” Gita mengucapkannya sambil terisak.
Yolla yang mendengar ucapan Gita pun membelalakkan matanya, seketika melepaskan pelukan Gita.
“What's? serius?” seru Yolla dengan suara yang terdengar sedikit kencang, sampai Sophia terbangun, dan melihat Gita yang sedang dirangkul oleh Zico dalam keadaan menangis, ketika Yolla melepaskan pelukan Gita, Zico segera menyandarkan Gita di dada bidangnya sembari membelai rambutnya, Sophia pun menjadi penasaran dengan apa yang terjadi.
“Gita… Kamu kenapa nak?” Tanya Sophia cemas melihat putri kesayangannya sedang menangis.
Gita yang sedang duduk di sofa seketika berlari kecil berhambur ke pelukan sang Ibu, ia menangis terisak lagi, Sophia membalas pelukannya dan membelai punggung Gita dengan lembut, mencoba menenangkan putrinya, saat Gita sudah tidak terisak lagi Sophia melepas pelukannya, ia bertanya lagi, “Ayo cerita, Kamu kenapa nak?”
Gita melepaskan pelukannya dan menatap sang Ibu dengan air mata yang masih menetes, “Ibu jangan tinggalin aku ya bu, Ibu janji ya Ibu harus sembuh.”
Setelah mendengar ucapan Gita, Sophia terdiam, ia pun mengerti penyebab Gita menangis.
Sejujurnya ia sudah tahu tentang penyakitnya, ia pernah di diagnosa oleh salah satu dokter, hanya saja ia belum pernah melakukan CT Scan karena takut dengan hasilnya, dan selama ini ia menyembunyikannya dari putrinya, karna ia tahu akan seperti inilah Gita saat sudah tahu tentang penyakitnya, apalagi Gita tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya di dunia ini.
Melihat Ibunya yang hanya terdiam Gita penasaran.
“Ibu kenapa diam aja? Apa jangan-jangan sebenarnya Ibu udah tahu, tapi Ibu menyembunyikannya dari Gita?” Duga Gita.
Sophia pun akhirnya menitikkan air matanya, ia memeluk lagi putrinya dengan erat.
Gita pun kembali terisak.
Setelah Gita tidak terisak lagi, Sophia melepaskan pelukannya.
“Sayang, Ibu akan bertahan sekuat Ibu nak, tapi… kita semua tidak ada yang tahu kemana takdir akan membawa kita nantinya, Ibu tidak bisa berjanji apapun kepadamu nak.” Sophia mengucapkannya tersenyum sembari menitikkan air matanya.
Gita pun tidak bisa berkata apapun lagi hanya air mata lah yang mengungkapkan perasaannya saat ini, ia teringat kenangan saat-saat terakhir bersama sang Ayah.
Flashback On…
__ADS_1
“Ayah, nanti minggu depan setelah aku selesai ujian kita ke taman hiburan ya yah?” Ajak Gita disaat satu minggu sebelum kepergian Ayahnya.
“Oke sayang, nanti kita kesana.” Sahut sang Ayah.
“Promise Ayah?” Gita mengulurkan jari kelingkingnya.
“Yes, I’m Promise.” Ayahnya pun menautkan jari kelingkingnya.
Satu minggu kemudian…
Ketika ia sedang belajar, tiba-tiba terdengar suara Ibu nya yang sedang berbincang di telpon.
“Tidak! Tidak mungkin itu suami saya! anda pasti bohong kan? Anda menipu saya kan?!” Teriak Sophia sembari menangis.
“Ibu, itu siapa bu? Ayah kenapa bu?!” Tanya Gita, ia pun turut menangis melihat Ibunya yang sedang histeris.
“Tidak!!! Itu tidak mungkin!!!”
Brukkk…
“Ibu! Ibu kenapa?” Gita menangis dan mengambil gagang telpon itu, Gita hanya diam dengan meletakkan gagang telpon di telinganya.
(Bu, kami benar-benar dari Rumah Sakit Kasih Anugerah bu, Kami membutuhkan tanda tangan Ibu sebagai Wali dari Dokter David Adhinata bu, Dokter David melompat dari atap gedung rumah sakit kami 1 jam yang lalu bu.)
Gita melepaskan gagang telpon itu hingga terjatuh ke lantai, ia menatap nanar pada Ibunya yang terbaring dilantai.
‘Ayah, ayah kan sudah janji sama aku yah, Ayah janji akan mengajak aku ke taman hiburan besok, kenapa Ayah bohong yah? Kenapa ayah malah pergi ninggalin aku dan Ibu? Kenapa yah?!’ Batin Gita sambil terisak.
Flashback Off
Setelah mengingat semua memori menyakitkan itu, ia membenarkan ucapan Ibunya, ia tak bisa memaksa Ibunya untuk berjanji seperti Ayahnya.
Gita berlari keluar dari kamar VIP itu, ia sudah tak sanggup menangis didepan Ibunya lagi, dadanya benar-benar terasa sangat sesak.
__ADS_1
“Nak Zico, tolong ikuti Gita ya, tolong jaga dia, Ibu takut dia kenapa-kenapa.” Pinta Sophia.
“Baik bu.” Sahut Zico, ia pun berlari mengejar Gita.
“Yolla, kamu pulang saja, ini sudah hampir malam, nanti Mama kamu cari-cari kamu lho.” Tutur Sophia.
“Nggak apa-apa kok bu, Yolla sudah bilang tadi sama Mama , nanti saja kalau Gita sudah kembali kesini baru Yolla pulang ya bu.” Sahut Yolla.
“Oh ya sudah kalau begitu, Makasih ya nak sudah sangat care pada Ibu dan Gita…. Nanti… kalau terjadi sesuatu pada Ibu, Ibu titip Gita ya nak, jangan biarkan dia sendiri, dia tidak punya siapapun lagi didunia ini selain Ibu.” Imbuh Sophia.
Sophia hanya percaya pada Yolla, karena Gita dan Yolla sudah dekat sedari kelas 1 SMP, bahkan Yolla lah yang sudah merubah Gita menjadi lebih percaya diri seperti sekarang, karena kejadian yang menimpa sang Ayah, Gita sempat trauma tidak ingin bersosialisasi lagi dengan teman-temannya, Hanya Yolla yang terus mendekati Gita dan bersahabat dengan Gita hingga saat ini, ia sangat bersyukur Gita memiliki sahabat seperti Yolla.
Yolla tersenyum tetapi air matanya jatuh di pipi chubby nya, ia memeluk Sophia begitu erat, “Baik bu, Yolla janji akan selalu ada untuk Gita.”
“Terima kasih ya nak.” Sophia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Yolla.
Zico yang sedang mengikuti Gita melihat arah Gita berlari, Gita berlari ke atap Rumah Sakit.
Zico tadi mengikutinya diam-diam, karena ia tahu Gita membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya sendiri, ia hanya mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.
“Ayah… kenapa ayah harus pergi? Lalu sekarang Ibu juga sakit ayah, aku harus gimana ayah kalau ibu pergi meninggalkan aku sama seperti ayah, aku nggak punya siapapun lagi didunia ini ayah.” Gita berbicara sendiri sembari terisak seolah sedang bertanya pada ayahnya.
Zico yang sedang mengintip di balik pintu menghampiri Gita yang sedang duduk sambil menangis.
Zico membungkuk, ia memeluk erat Gita dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kanan Gita.
Dari wangi parfum nya Gita sudah tahu kalau yang memeluknya itu Zico, Citrus Mint adalah parfum ciri khas Zico, makanya ia tak berontak.
“Sayang... menangis lah sepuas kamu disini sekarang, nanti setelah perasaan kamu jauh lebih tenang, kita kembali ke kamar Ibu ya, kasihan Ibu pasti kepikiran kamu.” Imbuh Zico.
Gita hanya menganggukkan kepalanya. Ia bersyukur saat ini ada Zico yang selalu bisa menenangkannya, tapi ia tidak ingin bergantung pada Zico, tak ingin pula terlalu banyak berharap padanya, karena benar kata Ibunya, kita tidak akan pernah tahu kemana takdir akan membawa kita.
Gita berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Zico, ia melingkarkan lengannya di pinggang Zico, ia memeluknya dengan erat, dengan pipinya disandarkan pada dada bidang Zico, sangat membuat Gita tak ingin kehilangan sosok Zico yang selalu membuatnya nyaman seperti ini.
“Sayang, aku janji…” belum sempat Zico menyelesaikan kalimatnya tetapi sudah dihentikan oleh Gita, Gita meletakkan jari telunjuknya di bibir Zico.
“Hussst!”
__ADS_1