
Zico yang menyadari sang istri sedang menangis pun mendekatinya sambil memegang tangannya. Namun, segera ditepis kasar oleh Gita.
"Sayang, jangan marah dong. Besok pesta resepsi pernikahan kita, lho. Masa nanti di pelaminan kamunya cemberut? Tar berkurang dong cantiknya," goda Zico mencoba membujuknya.
"Sejak kapan aku cantik, aku memang jelek, kok. Jauh sama cewek tadi!" cetus Gita sambil terisak.
"Kamu jealous sama Laura ya, Sayang?" tanya Zico. Sudah tahu Gita cemburu, untuk apa dipertanyakan. Jelas saja itu hanya akan membuat Gita bertambah kesal.
"Terus aja sebut namanya!" ketus Gita lagi.
"Sayang, maaf kalo aku udah buat kamu kesal. Aku cuma temenan kok sama dia, dia juga udah tau kalo aku udah nikah sama kamu," terang Zico.
"Kalo memang dia udah tau, terus kenapa kamu jawabnya ragu-ragu gitu?"
"Ragu-ragu apanya sih, Sayang? Aku sama sekali nggak ragu, kok."
Gita hanya diam saja, malas menyahut lagi. Ia segera menyeka air matanya karena melihat mommy Celine, Zayn, Zefa dan para suster yang sedang berjalan dan sudah mendekati mobil. Tadi Zayn dan Zefa ditemani oleh para suster di ruangan bermain khusus anak-anak yang ada di butik itu.
"Sayang," bujuk Zico lagi.
Gita masih tetap diam tak bergeming, ia lebih memilih menulikan telinganya.
Supir mommy Celine pun membukakan pintu mobil untuk mereka yang sudah tiba di depan pintu mobil.
Zayn dan Zefa masuk ke dalam mobil dan Zefa duduk di pangkuan Zico, sedangkan Zayn duduk di belakang bersama Gita dan juga suster Kiki, sedangkan suster Deby duduk di depan di kursi samping pengemudi.
"Mommy, are you okay? Why are you crying?" tanya Zayn pada sang mommy.
Mommy Celine yang mendengar ucapan Zayn pun menoleh ke belakang, dan benar seperti kata Zayn, Gita terlihat seperti habis menangis. "Kamu kenapa, Sayang?"
"Enggak apa-apa kok, Mom. Gita cuma lagi kelilipan aja," jawab Gita.
"Kalau kelilipan doang nggak akan sampe basah begitu wajah kamu ... Zi, kamu apain istri kamu sampe nangis gitu?" omel mommy Celine memicingkan matanya pada sang putra.
"Enggak kok, Mom. Ini nggak ada hubungannya sama Zico," sahut Gita. Ia tak ingin kedua buah hatinya memiliki banyak pertanyaan tentang kenapa ia bertengkar dengan daddy nya.
__ADS_1
"Beneran?" tanya mommy Celine lagi memastikan.
"Iya, Mom."
"Mommy nggak mau besok raut wajah kamu seperti itu ya, Nak. Mommy mau kamu besok harus fresh, harus full senyum. Karena tamu kita itu orang-orang penting. Mommy nggak mau mereka mengira kamu nggak bahagia masuk ke keluarga kita," jelas mommy Celine mengingatkan Gita.
"Iya, Mom," sahut Gita lagi mencoba mengulas senyum sambil menghapus air matanya. Namun, saat Zico menoleh ke belakang dan menatapnya, Gita langsung memalingkan wajahnya.
"Ya sudah, kita pergi ke salon ya, Wira!" ucap mommy Celine kepada sang supir.
"Baik, Nyonya!" jawab Wira.
"Kalian pergi treatment ke salon Mommy, terus Mommy sama anak-anak pulang ke mansion, ya. Nanti habis mengantar kami, Wira jemput kalian lagi. Setelah treatment kalian harus istirahat yang cukup. Jangan mampir ke mana-mana lagi," ucap mommy Celine.
"Iya, Mom."
Sekitar sepuluh menit mereka pun tiba di mal di mana salon milik mommy Celine berada. Karena salon mommy Celine yang besar itu berada di samping mall tersebut. Salon milik mommy Celine adalah salon langganan para model, selebritis dan juga para istri pejabat.
Setelah tiba di sana, mommy Celine pun ikut masuk mengantar mereka untuk memberi instruksi pada staff-staffnya yang akan melakukan treatment pada anak dan menantunya itu. Kemudian mommy Celine kembali ke rumah bersama kedua cucunya dan juga para suster. Karena dirinya benar-benar merasa sangat kelelahan. Untung saja untuk masalah dekorasi gedung dan juga katering sudah di urus kemarin. Jadi, hari ini mommy Celine hanya perlu beristirahat saja.
Mereka pun melakukan treatment di ruang terpisah. Setelah tiga jam berlalu, mereka kembali pulang ke mansion. Di dalam mobil mereka hanya bertiga dengan Wira.
"Sayang, kamu masih marah?" tanya Zico yang menyadari bahwa sang istri masih mengerutkan dahinya. Namun, Gita diam saja tak mau menjawab apa pun.
"Sayang, aku kan udah sering bilang sama kamu, cuma kamu perempuan yang aku cinta, dari dulu sampai sekarang. Bahkan selamanya, sampai maut memisahkan kita, aku akan tetap mencintai kamu, Sayang," jelas Zico. Namun, tentu saja Gita tak akan mudah terkena bujuk rayu sang suami.
"Halah! Kamu sendiri yang pernah bilang kamu pernah ada rasa sama dia. Dia kan wanita yang kamu ceritain waktu itu! Pantas aja kamu ramah banget sama dia, pake cipika cipiki segala!" cibir Gita tanpa menoleh pada Zico. Gita sangat hafal dengan karakter Zico, jika selama ini Zico hanya bersikap lembut hanya pada dirinya. Namun, tadi Zico terlihat bersikap ramah pada Laura. Sikap dinginnya tidak terlihat sama sekali ketika dia sedang bersama Laura tadi.
"Sial! nyesel aku pernah terus terang tentang itu sama kamu, Sayang," gumam Zico dalam batinnya.
Ya, seperti itulah wanita, jika sudah mengetahui hal-hal seperti itu pasti akan terus di ungkitnya. Maka dari itu, para pria lebih sering memilih berbohong daripada jujur pada pasangannya.
"Sayang, itu kan udah masa lalu, udah dong jangan di ungkit terus. Kan kamu sendiri yang bilang sama aku, kalo kamu nggak mau aku masih cemburu-cemburu sama Kenzo kalo kita udah nikah. Tapi sekarang malah kamu yang kayak gini."
"Ya beda dong! Kamu nggak pantas cemburu sama Kenzo karena aku nggak pernah sedikitpun ada perasaan spesial ke dia. Tapi kamu, yang aku kira selama ini di hati kamu cuma ada aku, tapi ternyata aku nya aja yang bodoh karena berharap terlalu besar sama kamu!" ucap Gita kembali terisak.
__ADS_1
"Sayang, kan aku bilang cuma sedikit tertarik, bukan cinta. Jauh berbeda lah sama perasaan aku ke kamu. Apalagi dulu aku sedikit tertarik sama dia pun karena ada sisi dia yang mirip banget sama kamu, cuma sekedar kagum, bukan cinta. Tolong lah, Sayang. Jangan meributkan hal kayak gini, benar apa kata Mommy, besok banyak sekali tamu-tamu pentingnya mommy dan daddy, jangan sampai kamu cemberut terus kayak gini di pesta resepsi besok. Nanti orang-orang bakal mengira kalo kamu nggak bahagia sama aku," tutur Zico panjang lebar, mencoba meyakinkan sang istri akan perasaannya. Namun, Gita masih diam saja tak menyahut, hanya terisak dengan air matanya yang terus bergulir di wajah cantiknya.
Zico meraih tangan Gita dan menciumi punggung tangannya. Kali ini Gita tak menepisnya. Ia hanya diam saja memandang ke arah luar jendela mobil yang sedang melaju. Karena ia tak ingin terus berdebat di dalam mobil itu, di mana ada Wira yang sudah pasti mendengarkan pertengkaran mereka saat ini.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka pun tiba di mansion. Ketika mobil baru berhenti, Gita melepaskan tangannya dari genggaman Zico dan bergegas turun dari mobil, lalu berjalan cepat menuju kamarnya meninggalkan Zico.
Zico hanya mengembuskan napas panjang. Ia pun menyusul Gita ke kamar. Namun, ketika Zico tiba, tidak terlihat ada Gita di sana, namun ada suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
Zico pun lagi-lagi menghela napas panjang. Kemudian merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Padahal ia sudah membayangkan jika esok adalah hari yang akan sangat membahagiakan untuknya dan juga Gita. Apalagi Gita bilang padanya jika esok ia sudah berhenti datang bulan. Zico sangat tidak sabar menantikan hal itu.
Ia sedang memutar otak, bagaimana caranya membuat Gita memaafkannya dan tidak mengungkit hal itu lagi. Namun, otaknya benar-benar buntu. Ia tidak dapat berpikir tentang hal itu.
Setelah melihat Gita keluar dari kamar mandi dan sedang duduk di depan meja rias sambil memakai skincare nya, Zico pun bangkit dari tidurnya dan memeluk bahu Gita dari belakang dengan membungkukkan tubuhnya.
"Cantik banget sih istri aku," ucap Zico kemudian memberikan kecupan di pipi Gita dan memandang Gita pada cermin yang ada di hadapannya.
Gita tak merespon apa pun. Hanya tetap melanjutkan aktifitasnya yang sedang memakai rangkaian skincare nya. Setelah selesai, ia melepaskan tangan Zico dari bahunya kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat tidurnya. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya.
Zico tak pantang menyerah, ia kembali menghampiri istri tercintanya yang sedang merajuk itu, ia ikut merebahkan diri di sampingnya sambil melingkarkan lengannya di pinggang Gita.
"Sayang, katanya kamu mau ketemu Nadhira? Aku telfon Alex minta ajak dia ke sini, ya?" bujuk Zico.
"Enggak usah, kamu denger kan kata Mommy, kita di suru istirahat," ketus Gita kemudian mengganti posisinya memunggungi Zico. Namun, Zico tetap memeluknya dari belakang. Ia bahkan sengaja meletakkan bibirnya pada daun telinga Gita.
"Sayang, kamu mau sampai kapan marah kayak gini sama aku? Kamu nggak dengar tadi mommy bilang apa? Kalo kamu cemberut gini terus nanti mommy bisa marah lho sama kita. mommy tuh miss perfeksionis, dia pasti akan kesal kalo acara yang udah dipersiapkan serepot itu sama dia, terus jadi nggak perfect karena pengantin wanitanya cemberut," bujuk Zico lagi.
"Kamu belum pernah kan lihat mommy marah?"
"Memang mommy bisa marah? Aku belum pernah lihat mommy marah. Jangan ngarang deh kamu!"
"Dih, nggak percaya ... kamu tau kan daddy itu nggak bisa di bantah orangnya, tapi kalo mommy udah marah-marah, mana bisa daddy melawan mommy. Diem aja daddy kalo mommy udah marah-marah," terang Zico.
"Masa sih? Ya udah besok aku tinggal berusaha pasang senyum palsu aja biar mommy nggak marah."
"Nggak bisa dong, Sayang. Pasti beda lah kalo lagi senyum palsu sama senyum yang bener-bener keluar dari dalam hati kamu yang sedang merasa bahagia. Emang kamu pikir mommy itu Zefa, bisa di bohongin."
__ADS_1
Gita pun menghela napas panjang, "Terus gimana? Aku nggak bisa lah bohongin perasaan aku untuk maafin kamu, hati aku aja masih kesal sama kamu!"