First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Di luar ruangan ICU, daddy Austin memanggil Sean untuk berbincang.


"Sean, ikut saya sebentar," titah daddy Austin lalu mengajak Sean ke sebuah cafe sebelah rumah sakit. Sean pun mengikutinya.


"Ada apa, Tuan?" sahut Sean pada bos besarnya.


Ya, status bos besar di william groups masih atas nama Austin William, karena Austin William belum menyerahkan hak waris sepenuhnya kepada Zico. Karena sejak ia tahu kalau dirinya mempunyai cucu, ia memutuskan akan mewariskan seluruh aset kekayaanya pada sang cucu. Entah Zico menikah dengan Gita ataupun orang lain, daddy Austin memutuskan untuk mewariskannya pada kedua cucunya saja.


"Mulai sekarang, kamu cari tahu tentang siapa yang sudah menabrak Zico tadi siang. Kata Miss Cantika pelaku itu segera kabur setelah menabrak Zico. Saya yakin pasti ada dalangnya dibalik kejadian ini," ujar daddy Austin.


"Baik, Tuan. Saya pun memikirkan hal demikian," sahut Sean.


"Kamu tanya sama Papa kamu, dia mempunyai orang-orang yang selalu bisa di andalkan dalam mengerjakan hal-hal seperti ini," titah daddy Austin sambil menepuk bahu Sean. Ia meminta Sean untuk meminta bantuan pada papanya, Bayu Pratama. Sekretaris daddy Austin yang selalu bisa di andalkan.


"Siap, Tuan," jawab Sean lagi.


***


Setelah satu bulan berlalu, Zico masih terbaring koma setelah operasi itu. Gita sampai mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja karena ia ingin selalu berada di sisi Zico.


Setiap harinya Gita selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit. Ia begitu telaten merawat calon suaminya itu. Tubuh Gita terlihat lebih kurus dari sebelumnya karena ia tak memiliki nafsu makan sejak melihat Zico terbaring koma. Kalau bukan karena paksaan dari mommy Celine dan juga Yolla, ia tidak akan ingat untuk mengisi perutnya sendiri.


Mommy Celine selalu mendampingi Gita setelah menjemput kedua cucunya bersekolah dan mengantar pulang ke mansionnya.


Sedangkan daddy Austin terpaksa harus kembali bekerja di perusahaannya untuk menggantikan posisi Zico.


Berbagai pemeriksaan sudah di lakukan oleh dokter Gerald, semua hasilnya bagus, namun entah kenapa Zico masih belum sadarkan diri.


Di perusahaan William Groups, Sean mendatangi Austin William untuk memberikan laporan tentang kasus tabrak lari Zico.


"Selamat siang, Tuan," sapa Sean sambil mengulurkan tangannya memberikan beberapa dokumen yang perlu di tandatangani oleh daddy Austin.


"Siang," sahut daddy Austin sambil menyambut beberapa dokumen yang diberikan Sean.


"Oya, bagaimana kelanjutan hasil penyelidikan tabrak lari itu?" lanjutnya.


"Saya masih mencarinya, Tuan. Saya sudah mencari orang itu dengan mendatangi alamat kontrakannya, namun kata orang yang mempunyai kontrakan, pria itu sudah satu bulan tidak terlihat pulang ke kontrakannya, Tuan," terang Sean.

__ADS_1


"Kamu sudah minta Bayu untuk membantumu?"


"Sudah, Tuan. Namun sama saja, belum ada hasilnya."


Daddy Austin pun menghela nafas berat hingga jantungnya terasa sakit, ia terus memegangi bagian dadanya yang terasa sakit. Dengan sigap Sean mengambilkan obatnya di laci meja kerja daddy Austin dan memberikannya segelas air putih.


"Tuan, ini di minum obatnya," ucap Sean panik.


Daddy Austin pun segera menelan obatnya dan meminum air putih yang diberikan oleh Sean, lalu bersandar di kursinya sambil memejamkan mata dan mengatur nafasnya secara perlahan.


"Apa Tuan sudah merasa baikan? Setelah ini lebih baik Tuan beristirahat di rumah, karena sudah tidak ada meeting lagi, dan semua dokumen pun sudah di tandatangani," Sean memberi saran, karena ia sangat khawatir pada kesehatan tuan besarnya itu. Jantungnya sering kambuh ketika sedang bekerja. Padahal ia jarang ke kantor, ia ke kantor jika ada meeting bersama orang-orang besar saja, sedangkan jika hanya meeting dengan klien-klien kecil, Sean lah yang mewakilkannya. Dan jika ada dokumen yang perlu di tandatangani pun, Sean yang akan mendatangi daddy Austin ke rumah sakit sekalian menjenguk Zico.


Setelah pulang bekerja, Sean sengaja mengirim pesan pada Yolla dan memintanya untuk menemani Gita di rumah sakit sekaligus untuk meminta bantuan pada Yolla.


"Git, ini gue bawain makanan buat lo, lo pasti belum makan, kan?" tanya Yolla yang baru saja tiba di rumah sakit.


Gita hanya menggeleng lemah. Yang tadinya ia selalu mencoba untuk terlihat kuat, namun tiba-tiba saja ia terisak kembali saat bertemu Yolla. Apalagi ketika menerima perhatian dari Yolla, ia mendadak merasa sangat rindu akan semua perhatian-perhatian Zico.


Rasa rindu yang selama ini ia tahan pun, akhirnya pecah menjadi sebuah tangisan. Yolla memeluk Gita erat, ia sangat paham apa yang Gita rasakan saat ini, karena kerinduan ini pasti lebih menyiksa batin Gita dibandingkan dengan kerinduannya pada Zico saat mereka berpisah enam tahun lamanya.


"Git, gue ngerti banget perasaan lo. Kalo lo mau nangis, nangis lah sepuas lo sekarang, Git. Jangan di tahan-tahan lagi, ya ... Yang penting lo jangan nangis di depan Zayn dan Zefa. Kalo lo butuh seseorang yang bisa dengerin segala unek-unek lo, lo telpon gue, sesibuk apapun gue pasti bakal langsung datengin lo, okay?" tutur Yolla sambil mengusap-usap pelan punggung Gita yang masih berada di pelukannya.


"Maaf ya, La ... lo ke sini gue nya malah nangis kayak gini," ucap Gita masih dengan sisa-sisa isakannya.


"Kan gue udah bilang, kalo lo mau nangis nggak apa-apa, luapin aja sama gue, jangan lo tahan sendiri, Git."


"Makasih ya, La. Lo udah selalu ada buat gue," jawab Gita.


"Git, maaf! Gue boleh pinjem Yolla nya sebentar nggak? Ada sesuatu yang harus gue omongin sama Yolla," tutur Sean.


"Hmm? Iya, nggak apa-apa," sahut Gita mengangguk pelan.


"Ngo ... ngomong? Ngomong apa, sih?" Yolla ikut menyahut. Seperti biasa, ia selalu berada dalam mode gugup dan jutek jika ada Sean di dekatnya.


"Udah, lo ikut gue dulu sebentar, ya?" jawab Sean sambil menarik pergelangan tangan Yolla dan terus menggiring Yolla mengikuti langkah kakinya.


"Sean! Kita mau ke mana, sih?" tanya Yolla sambil terus mengikuti langkah kaki Sean.

__ADS_1


"Udah, ikut aja sebentar."


Sean pun membawanya ke sebuah tangga darurat.


"Lho? Ngapain dia ngajak gue ke sini? Kok perasaan gue jadi nggak enak, ya? Biasanya kalo di drakor-drakor tuh kan si cowok narik si cewek ke tempat beginian buat nyium si cewek ...," Yolla refleks menutup mulutnya saat memikirkan hal itu dalam batinnya. "Enggak mungkin kan dia ...?"


"Lo kenapa, La? Kok nutup mulut begitu? Emang gue bau, ya?" tanya Sean sambil mengendus ketiaknya dengan menaikkan kedua lengannya ke atas secara bergantian.


"Hah? Eng ... enggak! Gue nggak apa-apa, kok. Tadi cuma menguap doang," bohong Yolla sambil berpura-pura menguap.


"Oooh," sahut Sean.


"Terus lo sendiri ngapain ngajak gue ke sini?" tanya Yolla sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak berani menatap mata Sean lebih dalam. Karena walaupun ia berpacaran dengan Mike, tapi di hatinya masih selalu ada Sean.


"La, gue mau minta bantuan lo."


"Bantuan? Bantuan apa?" jawab Yolla yang kemudian menatap Sean karena rasa penasarannya.


"Tentang kecelakaan Zico, La."


"Hah? Kecelakaan Zico? Emang kenapa? Bukannya cuma kecelakaan biasa?"


"Sepertinya bukan, La. Karena supir itu kabur dan sampai sekarang nggak pulang-pulang. Sepertinya dia sengaja kabur karena di suru sama orang yang nyuru dia buat tabrak Zico," terang Sean panjang lebar.


"Kurang ajar! Siapa pelakunya? Siapa yang udah berani celakain Zico, Sen?" gerutu Yolla sambil mengepalkan tangannya dan meninju-ninju lengannya sendiri.


Sean menghela nafas panjang dan tersenyum melihat wajah kesal Yolla. Padahal sebelumnya ia terlihat sangat gugup, tapi tiba-tiba berubah jadi mode kesal. Ia terkekeh pelan di buatnya.


"Lo kenapa ketawa?" tanya Yolla memicingkan matanya pada Sean.


"Enggaaaak ... Enggak kenapa-napa, kok," jawab Sean masih tersenyum.


"Oh, Tuhan! Kenapa dia tambah ganteng sih sekarang," gumam Yolla dalam batinnya lagi.


Sean pun menunjukkan sebuah foto pria berpakaian serba hitam yang sudah menabrak Zico.


"Ini foto supir yang nabrak Zico, La."

__ADS_1


"Wait-wait! Kayanya gue tadi lihat cowok itu deh!" sahut Yolla teringat akan kejadian di cafe tadi siang saat ia melihat seseorang yang terlihat tak asing sedang mengobrol bersama pria asing berpakaian serba hitam tersebut.


__ADS_2