
Mike yang baru saja tiba di kantor Yolla segera masuk ke ruangan Yolla, karena di luar tidak ada Mika, Mika sedang makan di luar karena ini adalah jam istirahat.
Akan tetapi, saat Mike membuka pintunya, betapa terkejutnya ia saat melihat ada seorang pria yang sedang mencumbu kekasihnya.
"Mike?" pekik Yolla terbelalak saat melihat Mike yang tiba-tiba ada di ruangannya.
Sontak Mike pun berlari menghampiri Sean, menarik kerah bajunya dan menghajar wajah Sean berkali-kali.
Yolla bangkit dari kursinya dan mencoba melindungi Sean.
"Stop it, Mike! Stop! Ini salah aku, bukan dia!" teriak Yolla sambil memeluk tubuh Mike. Seketika Mike melepaskan tangannya yang mencengkram kerah baju Sean.
"Apa maksud kamu, Baby?" tanya Mike.
"Aku yang sudah mengkhianati kamu, kalau kamu marah, pukul aku, jangan pukul dia!" terang Yolla sambil terisak.
"Beib, kamu masih ...."
"Ya, Mike! Aku masih mencintai Sean. Maafin aku, Mike. Maafin aku," lirih Yolla sembari terus terisak memeluk Mike.
"Lalu? Apa selama ini kamu benar-benar tidak bisa mencintaiku sedikitpun?" tanya Mike dengan netranya yang sudah mengembun.
Mike melepaskan pelukan Yolla dan menangkup wajah Yolla dengan kedua telapak tangannya, mendongakkan wajah Yolla agar menatapnya. Sedangkan Sean hanya berdiri mematung menyaksikan mereka, Sean memberi waktu untuk Yolla menyelesaikan semuanya.
"Jawab, Beib," pinta Mike.
"Aku sayang kamu, Mike. Tapi sepertinya rasa sayang itu hanya rasa sayang untuk seorang sahabat, tidak bisa lebih dari itu. Maafin aku, Mike. Maafin aku," ucap Yolla jujur dengan air matanya yang terus mengalir membasahi wajah cantik Yolla.
Karena memang itulah yang dirasakan oleh Yolla. Yolla memang menyayanginya, tapi tidak pernah bisa untuk mencintai Mike.
Mike selalu ada di sisi Yolla di saat dirinya terpuruk karena patah hati pada Sean. Namun, ia malah kembali pada Sean. Ia benar-benar merasa jahat pada Mike, lelaki yang selama ini bersedia menunggu untuk mendapatkan cinta darinya. Tapi, ternyata Yolla hanya memberikan harapan palsu untuk Mike.
__ADS_1
Air mata yang sedari ditahannya pun akhirnya meluncur begitu saja dari sudut matanya. Mike melepaskan tangannya dari wajah Yolla dan memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari Yolla.
Hati Mike benar-benar merasa sakit, ia menempuh perjalanan yang begitu jauh hanya untuk melepas rindu pada sang kekasih. Namun, yang ia dapati hanya sebuah pernyataan yang sangat menyakitkan untuknya.
"Mike," panggil Yolla masih sambil menangis.
"La, jika itu memang keputusanmu, aku terima. But, I hope you will never regret what you said today," ucap Mike.
Yolla hanya terdiam mendengar perkataan Mike.
"Please forgive me, Mike," lirih Yolla.
"Aku akan memaafkan kamu. But, aku minta waktu kamu nanti malam, kita dinner berdua for the last time. Apa kamu bisa?"
Tanpa meminta persetujuan Sean, ia pun mengiyakan permintaan Mike.
"Okay, nanti malam aku akan ke restoran di hotel tempat kamu menginap," ucap Yolla.
"Okay! I'll be waiting for you," ucap Mike sambil menatap nyalang pada Sean, kemudian pergi meninggalkan Yolla.
Dengan cepat Yolla menarik tangan Sean. Ia mengira jika Sean sedang marah kepadanya karena dirinya tadi yang memeluk Mike.
"Han, kamu marah, ya? Maafin aku. Aku cuma merasa bersalah sama Mike, makanya aku peluk dia," terang Yolla dengan wajah memelas.
"Terus kamu kenapa terima permintaan dia untuk dinner berdua sama kamu? Apa kamu nggak curiga misal dia ada niat buruk sama kamu?"
"Itu nggak mungkin lah, Han. Mike itu nggak sejahat itu. Dia orang yang sangat baik dan tulus, nggak mungkin dia ada niat buruk sama aku," tutur Yolla.
"Itu dulu, sebelum kamu sakitin dia. Sekarang saat dia merasa tersakiti kayak gitu, apa kamu yakin dia masih bisa bersikap baik sama kamu?"
"Enggak, Han. Dia nggak mungkin ada niat buruk sama aku, ini cuma sekedar dinner perpisahan aja. Setelah itu aku janji akan menetap di sini, aku nggak akan balik lagi ke Paris, okay?" tutur Yolla mencoba meyakinkan Sean. Ia rela mengubur mimpinya menjadi designer internasional, ia sudah memutuskan untuk tinggal di negara kelahirannya, ia akan membantu meneruskan perusahaan konveksi sang papa. Ia juga ada rencana untuk membuat brand baru yang di desain oleh tangannya sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, terserah kamu!" ucap Sean kemudian pergi meninggalkan Yolla dengan raut wajah yang terlihat marah.
Yolla yang merasa kesal atas apa yang terjadi barusan pun hanya bisa menangis terisak di meja kerjanya.
***
Menjelang malam hari, Yolla baru menyelesaikan pekerjaannya. Karena tidak ada waktu untuk pulang, Yolla pun hendak menghampiri Mike ke hotelnya dengan masih memakai pakaian kerjanya.
Sebelum melajukan mobilnya, ia mengirim pesan pada Sean dan mengatakan jika ia ingin menemui Mike di hotel Mercure Hills. Namun, setelah menunggu selama 10 menit, Sean tak kunjung membalas pesannya. Yolla tahu jika Sean masih marah padanya.
Yolla pun melanjutkan mengendarai mobilnya menuju hotel Mercure Hills.
Setelah tiba di sana, Yolla mendatangi restoran di hotel itu, karena sebelumnya ia sudah berjanji pada Mike akan menemuinya di hotel itu. Namun, setelah menunggu selama 30 menit, Mike tak kunjung datang. Padahal saat baru tiba ia sudah mengirim pesan padanya. Akhirnya Yolla pun mencoba menghubungi Mike.
"Hallo, Mike! Kamu di mana? Aku udah di restoran dari tadi. Kamu nggak baca chat aku?" tanya Yolla.
(La, Sorry ... My head hurts so bad,) keluh Mike dengan suara merintih.
"Hah? Kamu sakit? Terus kamu udah minum obat?" tanya Yolla panik.
(Belum, La. I can't find it here,) keluhnya lagi.
"Nomer kamar kamu berapa, Mike? Di lantai berapa?"
(Aku di lantai 5 nomer 297, La.)
"Ya udah, kamu tunggu, ya. Aku cari obat dulu, abis itu aku pergi ke kamar kamu," ucap Yolla kemudian bergegas pergi mencari apotik.
Setelah mendapatkan obat dan vitamin untuk Mike, Yolla pun bergegas pergi ke kamar Mike. Namun, karena keamanan hotel yang sangat ketat. Yolla tidak bisa sembarangan pergi ke kamar Mike. Setelah menghubungi Mike dan Mike menghubungi resepsionis memberitahunya untuk mengantarkan Yolla pergi ke kamarnya, akhirnya Yolla pun tiba di depan kamar Mike diantarkan oleh salah satu karyawan hotel.
Karyawan hotel itu pun bergegas pergi setelah mengantarkan Yolla.
__ADS_1
Yolla menekan tombol bel nya, setelah menunggu sekitar 5 menit di depan pintu, Mike baru membukakan pintunya. Dengan perasaan cemas pada Mike, ia pun dengan cepat melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Mike.
Yolla tercengang melihat Mike yang sedang berdiri mematung di depannya hanya berbalut handuk putih yang dililitkan di pinggangnya.