First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Dibalik Sikap Dingin


__ADS_3

“Eeitts..! Ini Zico Mom!” Zico tertawa meledek Mommy nya yang sedang terkejut, “Masa anak sendiri mau dipukul sih Mom.” Seru Zico masih tertawa kecil.


“Maafkan Mommy nak, Mommy tidak tahu kalau kamu yang memeluk Mommy, lagian kamu tumben sekali memeluk Mommy seperti itu! Mmmm... sepertinya kamu sedang bahagia sekali nak?” Celine menyadari ekspresi di wajah putra semata wayangnya itu, ia pun penasaran.


“Hmmm? Eng... Enggak kok Mom.” Jawab Zico gugup teringat ciuman tadi, tidak mungkin kan ia cerita pada Mommy nya.


Celine tersenyum dan mencubit hidung putranya itu, “Kamu itu tidak bisa bohong sama Mommy nak, Mommy bisa melihat dari wajahmu itu, pasti ada sesuatu yang membuat kamu senang kan? Ayo jujur sama Mommy.” Selidik Celine.


“Mmmm… Mom, Zico boleh pacaran kan Mom?” Zico meminta izin pada Mommy nya, karena memang baru kali ini Zico tertarik pada wanita, selama ini ia selalu acuh tak acuh saat para gadis mendekatinya.


Celine yang mendengar itu bukannya marah tapi malah kegirangan mendengar anaknya mulai tertarik pada wanita, ternyata Celine sempat merasa khawatir karena anaknya belum pernah tertarik pada lawan jenis.


Padahal banyak sekali gadis-gadis yang mendekati putranya yang tampan itu, bahkan sering ada yang mengirimkan Zico hadiah ke rumahnya, tetapi selalu dibuang oleh Zico.


Ia pun penasaran siapa gadis yang sudah berhasil menaklukkan hati putranya yang sedingin es seperti suaminya itu. Ia pun tertawa.


“Tentu saja nak, kamu kan sudah dewasa, memang siapa sih gadis yang sudah berhasil mencairkan hati kamu yang seperti es batu itu?” Tanya Celine penasaran pada putranya sambil tersenyum mengejek.


“Ada lah Mom di sekolah, dia pintar dan cantik, tapi Zico nggak tahu dia juga tertarik atau nggak sama Zico.” Zico mengatakannya dengan malu-malu sambil memegang daun telinganya yang memerah.


Dibalik sikap dingin Zico, ia selalu bersikap manja dan lembut pada Mommy nya, dan hanya pada Celine lah ia selalu tersenyum. Karena sedari kecil Celine memang selalu memanjakannya, selalu memperlakukannya dengan lemah lembut.


Berbeda dengan Austin Daddy nya yang selalu bersikap tegas padanya, Austin tidak suka melihat sikap manja Zico pada Mommy nya, ia selalu mengajarkan Zico untuk bisa bersikap tegas dan dingin seperti dirinya, agar orang-orang segan dan menghormatinya, karena bagaimanapun suatu saat nanti Zico akan berkecimpung di dunia bisnis, Zico lah yang akan meneruskan perusahaannya, oleh karena itu ia mendidik putranya agar bersikap dingin sepertinya, walaupun sebenarnya Celine tidak ingin anaknya menjadi seperti suaminya, Celine ingin anaknya lebih ramah kepada orang lain, tidak bersikap dingin seperti itu.


“Nanti kapan-kapan bawa dia menemui Mommy ya nak?” Pinta Celine.


“Ck.. Jadian aja belum Mom.” Gerutu Zico.


Celine tertawa. “Lho? Belum ternyata? Mommy kira sudah nak, belum jadian aja udah bikin wajah kamu berubah seperti itu.”


“Belum Mom, baru juga beberapa hari ini Zico mendekatinya, dan dia itu agak sulit untuk didekati Mom, malah kata Sean dan Alex dia tuh nggak mau pacaran karena dia mau fokus pada cita-citanya menjadi dokter.”


Zico menjelaskan kepada Celine sambil duduk lesu dan mengetuk-ngetukkan kunci mobilnya di atas meja.


Celine yang melihat anaknya tidak percaya diri seperti itu langsung menyemangatinya.


“Itu kan baru katanya kan, kamu kan belum dengar langsung dari dia.” Hibur Celine.


“iya sih Mom, yasudah Mom, Zico naik ke atas ya Mom.” Pamit Zico.


“Lho, makan siang dulu dong nak, baru istirahat, dari kemarin kamu tidak makan siang lho.” Tegur Celine.


“Zico belum lapar Mom, nanti kalo lapar Zico makan kok, Zico ke atas dulu ya Mom.” Zico pamit lagi kepada Mommy nya sambil mencium pipi Mommy nya.


Zico pun naik ke atas ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, iya tersenyum membayangkan wajah Gita yang sedang gugup.


“Kamu lucu banget Git kalau sedang gugup, pipimu sangat merona membuatmu tambah cantik.” Gumam Zico sambil senyum-senyum.


Zico memejamkan matanya, dan ia pun tertidur pulas sampai menjelang sore.

__ADS_1


Ketika terbangun ia membayangkan mimpi nya saat tertidur, ia bermimpi Gita bergandengan tangan dengan Vino, ia menjadi sangat kesal saat mengingat mimpi itu.


“Nggak akan aku biarin siapapun memiliki kamu selain aku Git.” Zico menggerutu kesal.


Ia pun membuka Hp nya, ia membuka kontak Gita, ia mencoba mengirim pesan pada Gita.


{Hai Gita! Ini aku Zico} Isi pesan Zico.


Zico menunggu balasan dari Gita tapi tak kunjung ada balasan, ia pun bergegas menelpon Gita.


(Halo!)


(Hai Gita! Ini aku Zico!)


(Oh!)


(Kamu sedang apa? Kok aku kirim pesan nggak dibalas?)


‘memangnya ada pesan masuk ya?’ batin Gita sambil memeriksa kotak masuk di Hp nya.


(Maaf Zico aku baru lihat kalau ada pesan masuk, aku baru buka Hp saat ada telpon.)


(Oh, kamu di rumah?)


(Iya.)


(Aku lagi belajar, kenapa?)


(Oh, Aku ganggu ya?)


(Enggak kok!)


(Terus kok jawabnya singkat-singkat banget?)


(Maaf Zico, aku nggak biasa telponan.)


(Ya udah kita saling bertukar pesan saja gimana?)


(Oke!)


(Tapi beneran kamu balas ya? )


(Iya!)


Mereka pun menutup teleponnya masing-masing.


Zico mengirim pesan.


{Gita, besok berangkat ke sekolah jam berapa?}

__ADS_1


{Jam 6 dari rumah}


{Aku jemput ya?}


{Enggak usah Zico, terlalu lama kalau kamu jemput aku dulu.}


{Nggak apa-apa Gita, please?}


{Maaf Zico nggak bisa}


{Ya udah besok pagi aku tunggu kamu digerbang sekolah ya?}


{Baiklah!}


{Okay, Good Night Gita, mimpi indah}


{Iya Zico, terima kasih}


Zico merasa mood nya sangat baik hari ini, sedangkan Gita bertanya-tanya,


“Sebenarnya sifat dia yang asli tuh seperti apa ya? Terkadang dia bersikap dingin, eh tapi kadang juga agak ramah ke aku.” Gumam Gita lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Tau ah!”


***


Keesokan harinya Digerbang sekolah Zico menghampiri Gita dan bersikap manis padanya, tidak lupa juga dia memberikan Gita Strawberry Milk.


“Morning Gita!” Sapa Zico, ia berlari ke arah Gita dan berjalan di sebelah Gita mengikuti langkah Gita.


Gita menatap ke sebelah kanannya untuk melihat siapa yang ada di sampingnya itu.


“Morning!” Ia tersenyum canggung. Ia melipat bibirnya.


“Ini!” Ia memberikan strawberry milk pada Gita.


“Hmmm? Oh, Terima kasih.” Sahut Gita masih tersenyum canggung.


“Mmmm.. Kamu tadi naik bus ya?” Tanya Zico.


“Iya.”


“Mulai besok aku jemput aja ya? Please?” Zico menampakkan wajah memohon.


“Enggak perlu Zico, rumah kamu sama rumah aku nggak searah kan?”


“Siapa bilang? Searah kok.” Zico terpaksa berbohong agar Gita bersedia dijemput olehnya. Padahal rumahnya dengan Gita berbeda arah, dari rumah Zico ke apartemen Gita memakan waktu kurang lebih 40 menit.


“Oh, aku kira kita berbeda arah.”


“Bagaimana? Mau ya aku jemput besok?” Bujuk Zico sambil memelas lagi dan berdiri di hadapan Gita, menghalangi jalannya.

__ADS_1


__ADS_2