
“Ka.. kamu kenapa Zico? Sakit ya? Mana yang sakit?” Tanya Gita beruntun, ia sangat cemas, ia merasa bersalah karna ia telah ceroboh menyebrang jalan sembarangan dan membuat Zico terluka.
Zico yang ditanya malah tersenyum, ia sangat senang melihat Gita mencemaskannya seperti ini.
Melihat Zico tersenyum Gita mengerutkan alisnya, “iih kok kamu malah senyum-senyum sih? Aku tanya sama kamu, mana yang sakit?” Tanya Gita sembari mengerucutkan bibirnya.
“Aku enggak apa-apa Git, ini kaki aku cuma terkilir.” Terang Zico, ia menjelaskan dengan tersenyum lembut.
“Enggak apa-apa gimana? Jelas-jelas tangan kamu luka begitu, ayo kita ke rumah sakit!” Ajak Gita memaksa, ia segera merangkulkan tangan Zico dibahunya dan tangan satunya ditautkan ke pinggang Zico, ia memapah Zico berjalan, kemudian menghentikan taksi dan segera menuju ke rumah sakit terdekat.
Di dalam taksi mereka hanya diam tanpa mengobrol sepatah katapun, setelah tiba di rumah sakit Gita bergegas turun dari taksi dan membukakan pintu sebelahnya dan membantu Zico turun dan memapahnya kembali menuju ruang IGD dengan merangkulkan tangan Zico dibahunya lagi.
Setelah tiba diruang IGD dokter segera mengambil tindakan, Gita menunggunya diluar sampai dokter keluar dan menjelaskan kalau Zico baik-baik saja, hanya cedera otot di pergelangan kakinya dan luka ringan saja ditangannya, Zico hanya perlu berjalan memakai tongkat sampai cedera otot di kakinya pulih.
Gita dengan wajah sedihnya segera menghampiri Zico yg sedang duduk di brankar.
“Zico... Maaf ya, gara-gara aku ceroboh kamu jadi harus berjalan pakai tongkat kata dokter.” Air mata Gita menetes di pipinya, ia merasa sangat bersalah sudah menyebabkan Zico seperti itu. Zico segera menghapus air mata Gita dengan kedua ibu jarinya, “Ini cuma sakit sedikit kok Git, kamu enggak perlu merasa bersalah seperti itu Gita, aku nya juga kok yang ceroboh, kalau aku lebih hati-hati kaki aku nggak akan terkilir dan kita enggak akan jatuh seperti tadi.” Sembari tersenyum Zico mencoba menenangkan Gita agar ia tidak menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Zico. Ia melanjutkan, “Oh iya, kamu enggak ada yang terluka kan?” Zico memeriksa tangan Gita, dan melihat ke arah kaki Gita.
“Aku baik-baik aja kok.” Gita malah menangis terisak, ia sedih karna disaat dirinya sendiri sedang terluka tapi Zico malah mengkhawatirkannya.
__ADS_1
“Sssst… Sssst...” Melihat Gita menangis Zico mencoba menenangkan Gita, ia segera memeluknya dan membelai lembut rambutnya, entah mengapa Gita pun merasa nyaman dipelukan Zico, ia merasa sedikit tenang dan berhenti menangis, ia pun melepaskan pelukannya.
Zico tersenyum sambil menghapus sisa-sisa air mata Gita dengan kedua ibu jarinya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah Gita.
“Kamu aku antar pulang yuk, kita naik taksi lagi.” Ajak Gita.
“Kamu beneran mau antar aku pulang?” Zico tidak percaya dengan perubahan sikap Gita yang benar-benar menunjukkan kepeduliannya pada Zico.
“Ya terus kamu gimana kalau aku nggak antar kamu pulang? Apa kamu mau telpon Sean aja?” seru Gita.
Mendengar itu Zico langsung menolak, kapan lagi ia bisa ajak Gita ke rumahnya.
“Baiklah.” Gita segera membantu Zico turun dari brankar, memberikan tongkat nya pada Zico, Zico pun berjalan menggunakan 1 tongkat menuju lobby rumah sakit, karna hanya kaki kirinya saja yang cedera.
Zico pun naik ke dalam taksi dibantu oleh Gita, sambil naik ke dalam taksi Zico tersenyum-senyum terlihat sumringah, tak terlihat seperti orang yang sedang cedera, walaupun kakinya cedera tapi rasanya tidak terlalu sakit karna ada Gita yang menemani dan membantunya.
Mereka pun tiba di Mansion mewah bernuansa putih 4 lantai milik keluarga Zico.
Setelah turun dari taksi dan membantu Zico turun Gita terperangah melihat Mansion Zico yang benar-benar terlihat sangat mewah seperti istana, pantas saja dari gerbang nya sampai tiba dirumahnya lumayan jauh, sekitar 500 meter, ternyata memang sangat mewah Mansion Zico, waktu taksi akan masuk ke gerbangnya saja para penjaga nya sangat ketat memeriksa nya, sampai Zico membuka kaca dan mereka menyadari bahwa Zico yang ada didalam taksi itu, baru taksinya diizinkan masuk, itu pun supirnya harus meninggalkan kartu identitas.
__ADS_1
Saat Gita sedang terperangah tiba-tiba Mommy berteriak melihat keadaan putra kesayangannya.
“Son!!!” Teriak Mommy yang terlihat sangat cemas.
Tadi Mommy sedang berjalan hendak ke dapur dan melewati ruang tamu, Ia melihat ada taksi yang berhenti didepan pintunya, ia bertanya-tanya, kok bisa taksi itu sampai didepan pintunya, padahal suaminya Austin telah membuat peraturan bahwa taksi hanya diizinkan sampai depan gerbang saja, ia memperhatikan siapa yang turun dari taksi itu, dan saat melihat ternyata putra kesayangannya yang turun dan dalam keadaan terluka, ia pun berteriak.
Ia segera menghampiri putranya, “Kamu kenapa Son bisa sampai seperti ini? Kamu jatuh atau bagaimana? Kok bisa sampai pakai tongkat seperti ini? Lalu mobil kamu kemana? Kok tadi Mommy lihat kamu naik taksi?” Tanya Mommy beruntun.
Wajah Mommy Celine yang sangat cantik itu terlihat sangat cemas sampai menitikkan air matanya.
“Zico nggak apa-apa Mam, cuma terkilir aja kok, Cuma kata dokter harus pakai tongkat ini supaya cepat pulih.” Terang Zico, sambil menghapus air mata Mommy dan memeluknya.
Gita yang sedang berdiri disamping Zico benar-benar terpukau akan kecantikan Mommy Celine. ‘Pantas aja Zico setampan itu, ternyata Mommy nya aja secantik ini.’ Pikir Gita dalam batinnya.
“Lalu ini siapa nak?” Mommy mengerutkan alisnya dan bertanya, ia heran kenapa Zico mau di antar seorang gadis, selama ini hanya Sean, Alex dan Kenzo yang pernah menginjakan kaki di Mansion mewahnya itu.
“Ini Gita Mam.” Sahut Zico tersenyum lembut.
“Oooh!” Mommy tercengang, baru kemarin Zico bilang kalau Gita menjauhinya, tapi sekarang malah sudah dibawa ke rumah.
__ADS_1
“Selamat sore tante.” Sapa Gita.