
***
"Sayang, " panggil Zico yang baru saja terbangun dari tidurnya dengan suara seraknya, ia melihat sekitar kamarnya, tapi tak nampak ada Gita di dalam kamar.
"Lho? Gita kemana? Kok nggak ada?" ucap Zico saat membuka matanya.
"Kamu kemana sih, Sayang? Nggak mungkin kamu udah pulang, Kan?" gumam Zico.
Zico pun beranjak dari tempat tidurnya, tubuhnya sudah terasa lebih baik, ia turun ke lantai bawah untuk mencari Gita.
Baru saja pintu lift terbuka. Ia mendengar suara Gita sedang mengobrol dan tertawa terbahak.
Ia arahkan langkah kakinya menuju ruang keluarga di mana asal sumber suara Gita terdengar.
Benar saja, setelah tiba di sana Zico melihat Gita sedang berbincang dan tertawa lepas bersama Gerald.
Sungguh ia sangat benci melihatnya, darah di dalam tubuhnya terasa bergejolak karna emosi melihat Gita yang bisa tertawa lepas seperti itu dengan Gerald, sedangkan kalau bersama dirinya Gita tidak pernah tertawa selepas itu.
Cemburu? Ya! Tentu saja Zico cemburu melihatnya.
Saat ini wajah Zico terlihat merah padam, sorot matanya seakan hewan buas yang ingin menerkam mangsanya.
Bagaimana dirinya tak terbakar cemburu, ia berpikir Gita lebih senang berbincang dengan Gerald dari pada menjaganya yang sedang tertidur, sungguh benar-benar merasa kesal dibuatnya.
"Gita!!!" sentak Zico.
Gita yang sedang tertawa pun seketika menoleh ke arah Zico, wajahnya memucat karena terkejut dengan sentakan Zico. Apalagi melihat wajah Zico saat ini sangat terlihat bahwa Zico sedang marah besar padanya.
"I-Iya, Sayang! Kamu udah bangun?" Gita menyahut sembari bergegas menghampiri Zico.
Kedua netra Zico masih menatap tajam pada sosok Gerald yang masih duduk santai di atas sofa sambil menunjukkan barisan gigi putihnya.
Zico tidak berbicara apapun, ia tarik pergelangan tangan Gita dan ia pun membawa Gita kembali ke kamarnya.
Gita hanya diam saja menurut, tak mau berontak, ia juga merasa bersalah karena telah meninggalkannya dan malah berbincang bahkan tertawa lepas bersama Gerald yang ternyata adalah seniornya di kampus.
Gerald adalah lulusan dari universitas dan fakultas yang sama dengan Gita. hanya saja, Gerald melanjutkan sekolah spesialisnya di John Hopkins University, dan baru saja menyelesaikan sekolahnya.
Di dalam kamar Zico hanya diam saja duduk di tepi ranjang dan mengabaikan Gita, membuat Gita berpikir untuk membujuknya saja dari pada susananya menjadi canggung seperti itu.
__ADS_1
"Sayang! Kamu marah, ya?" Entah apa yang ada di pikiran Gita, sudah tahu kekasihnya itu sedang marah, ia malah mempertanyakan hal itu.
Karena tidak ada respon dari Zico, Gita pun berjongkok di hadapan Zico, ia pegang jemari Zico.
"Sayang, Maafin aku, ya?" Gita memohon dengan tampang memelas dengan tatapan penuh harap.
Zico hanya menatapnya saja tanpa berkata apapun, Gita yang melihat itu pun mencoba merayu Zico ia bangkit dan membungkukkan tubuhnya, lalu ia kecup sekilas bibir Zico.
Cup!
Zico yang sudah lama merindukan Gita pun seketika menarik lengan Gita dengan cepat sehingga sekarang posisi Gita duduk di pangkuannya.
Ia tangkup wajah Gita dengan kedua tangannya, ia lu mat bibir Gita dengan penuh gairah, gairah yang tertahan sejak beberapa bulan terakhir ini, karena Gita yang selalu sibuk merawat Giselle dan tidak pernah ada waktu berduaan seperti ini.
Sama halnya dengan Zico, Gita pun sudah sangat merindukan ciuman itu, ia juga membalas lum atan itu sambil mengalungkan lengannya di tengkuk Zico.
"Eeeummph," terdengar suara lenguhan Gita karena tangan Zico yang menelusup masuk ke baju Gita.
Entahlah, saat ini keduanya mulai kehilangan kendali, merasakan sentuhan Zico di punggungnya itu pun membuat sekujur tubuh Gita seperti tersengat aliran listrik, ia melu mat bibir Zico lebih kasar dari sebelumnya.
Zico yang mendengar lenguhan itu pun menjadi lebih bergairah, apalagi lum atan Gita saat ini yang membuat gejolak gairah yang ada pada tubuhnya semakin meningkat.
Zico yang gairahnya semakin menjadi pun membalikkan tubuh Gita hingga Gita berada di bawah kungkungannya saat ini.
Gita yang sejak tadi memejamkan matanya menikmati ciuman itu pun seketika kedua matanya terbelalak dan ia pun melepaskan ciumannya dengan deru nafas yang masih saling memburu.
Kedua netranya masih saling beradu pandang dengan tatapan penuh gairah.
Zico pun sudah tak tahan lagi, ia lu mat lagi bibir Gita dengan kasar, ia tak perduli lagi kalau setelah melakukannya Gita akan marah padanya, kecemburuannya membuat Zico kehilangan akalnya, ia berpikir untuk melakukan hal itu dengan Gita agar Gita tak akan pernah berpindah ke lain hati.
Hatinya sungguh sangat sakit mengingat Gita yang tertawa lepas dengan Gerald saat tadi.
Ia berpikir, mungkin jika ia sudah melakukannya dengan Gita, Gita pun tak akan menolak jika diajaknya menikah.
Ia tautkan jemarinya pada jemari Gita, hingga kedua tangannya pun berada di samping kepala Gita dengan jemari yang saling bertaut.
Zico melepaskan bibirnya dari bibir mungil Gita, ia kecup seluruh wajahnya dari mulai dahi, mata, kedua pipinya, bibir, dan dagu.
Ia mulai menjelajahi leher jenjang nan putih milik Gita, ia jelajahi leher Gita dengan bibirnya, "eummph," Gita kembali melenguh, saat sudah sampai di tulang selangka Gita, ia menyesapnya meninggalkan bekas merah keunguan pada kulit putih Gita.
__ADS_1
Zico melepaskan satu tangannya yang tadinya saling bertaut itu, ia lepas kancing blouse yang dikenakan Gita satu persatu, hingga terpampang dua buah kehidupan milik Gita yang masih tertutup bra berwarna krem itu.
Zico menelusupkan lagi satu tangannya ke punggung Gita, sadar kalau Zico ingin melepaskan bra nya pun segera mencegahnya, ia tangkap tangan Zico,
"Please, Zi! Jangan," Gita memohon kepada Zico yang mulai kehilangan kendalinya sembari menggelengkan kepalanya.
"Ibu, Zi! Ibu pasti sedang melihat apa yang kita lakukan saat ini dari atas sana, aku nggak mau ibu sedih melihat aku yang nggak bisa menjaga diri, Zi," tutur Gita menitihkan air matanya.
Air mata Gita selalu saja bisa meluluhkan hati Zico.
Zico urungkan niatnya, bahkan ia pasangkan kembali kancing blouse yang dikenakan Gita, ia kecup bibir Gita dan bangkit dari posisinya, ia duduk di tepi ranjang, Gita pun segera bangkit dari posisinya yang tadi terbaring.
Saat ini mereka duduk berdampingan di tepi ranjang.
Melihat Zico yang diam saja, Gita memegang tangannya, "Maaf ya, Sayang. Aku nggak bisa melakukannya sekarang, kita bisa melakukannya nanti setelah kita menikah, ya." seru Gita sambil membelai pipi Zico.
"Memang kamu mau menikah sama aku? Waktu itu aja kamu nolak aku!" ketus Zico.
"Aku mau banget lah nikah sama kamu, Zi! Tapi nggak sekarang, kita tunggu kuliah kita selesai, dan setelah aku menyelesaikan sekolah spesialis, aku janji aku mau nikah sama kamu, Okay?" terang Gita.
"Kelamaan!" ucap Zico masih ketus.
"Nggak kok! Nggak lama, kita jalanin aja, nanti juga nggak terasa tau-tau kita udah wisuda," tutur Gita lagi.
Zico peluk erat tubuh Gita dan menyandarkan dagunya di bahu Gita, "Sayang, kamu jangan pernah tinggalin aku, ya? Aku nggak akan sanggup kalau kamu nggak ada di samping aku, aku cinta banget sama kamu, Sayang," pinta Zico yang masih memeluk Gita.
"Iya, Sayang. Aku juga cinta banget sama kamu, aku nggak tau kalau selama ini nggak ada kamu di samping aku, entah seperti apa aku akan menjalani hidup aku selama kehilangan, Ibu. Makasih ya kamu udah selalu ada untuk aku," imbuh Gita panjang lebar.
Ya, dia memang sangat bersyukur memiliki Zico dalam hidupnya, Zico benar-benar selalu ada di saat masa-masa tersulitnya.
Zico lepaskan pelukannya, ia tatap kedua netra Gita yang mengembun.
"Iya, Sayang. Aku juga makasih karena kamu udah mau nerima aku dalam hidup kamu," tuturnya lembut.
Gita mengulas senyumnya hingga air mata yang tadinya hanya mengembun pun, jatuh menetes di pipinya.
"Lho? Kok nangis? Udah dong jangan nangis, nanti cantiknya hilang, lho!" goda Zico sambil menghapus air mata Gita dengan ibu jarinya.
Gita pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan membelai pipi Zico, kemudian ia peluk lagi tubuh Zico yang selalu membuatnya merasa nyaman itu.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok..