
"Yaaah ... Baru juga ditinggal sebentar udah nggak tahan jagain Zayn sama Zeva," ejek Gita tertawa.
(Bukan, Git. Bukan itu! Mereka masih pada tidur, kok. Ini masalah lain. Pokoknya, lo cepetan pulang, ya!) Yolla mematikan telponnya tiba-tiba.
"Ini anak sebenarnya kenapa, sih? Ck... Masalah apaan sih yang dia maksud?" Gita pun segera mengambil pesanannya yang kebetulan sudah selesai.
Ia pun berjalan pulang ke apartemennya.
Ceklek...
Gita membuka pintu rumahnya dan tiba-tiba saja ia ditarik oleh Yolla.
"Kenapa sih, La?" tanya Gita mengerutkan dahinya.
"Tadi nggak ada yang ikutin lo kan, Git?"
"Ikutin? Ngapain juga orang ikutin gue? Orang siapa yang lo maksud sih, La?" Gita tambah tak mengerti dengan ucapan sahabatnya itu.
"Jadi gini ... Tadi itu Mike telpon gue, Git. Katanya Zico telpon, Zico bilang sama Mike katanya sepupu Zico ada yang tinggal di Oxford juga. Nah, sepupunya itu telfon Zico tadi, dia liat lo katanya di cafe. Makanya Zico katanya lagi siap-siap mau terbang ke sini, Git. Dia mau mau cari lo," tutur Yolla panik.
"Hah? Terus gue harus gimana dong, La?" Gita terlihat lebih panik dari Yolla, ia terus menggigiti kuku-kukunya.
"Ya lo maunya gimana, Git? Apa mau mau pindah ke paris aja sama gue?" tanya Yolla.
"Tapi Zico kan tau apartemen lo di Paris, La."
"Itu gampang, Git. Nanti kita pindah apartemen aja," terang Yolla.
"Ya udah, gue bilang Kenzo dulu, ya!" ucap Gita sembari berlari ke sebelah unit apartemennya.
Setelah Gita menekan bel-nya, Kenzo bergegas membukakan pintunya. Melihat wajah Gita yang terlihat panik, Kenzo pun bertanya padanya.
"Kamu kenapa, Git?" tanya Kenzo menyatukan alisnya.
__ADS_1
"Zico, Ken ... Zico udah tau kalau aku di sini, kata Mike dia mau nyusul aku ke sini," terang Gita.
"Mike yang kasih tau Zico?"
"Enggak, bukan Mike, Ken. Katanya sepupu Zico yang berpapasan sama aku. Apa kamu tau siapa sepupu Zico yang ada di sini?" tanya Gita.
"Aku nggak tau," jawab Kenzo menggelengkan kepalanya, "Terus apa rencana kamu?"
"Sepertinya aku akan pindah ke paris sama Yolla, Ken. Makanya aku ke sini untuk pamit sama kamu," terangnya menundukkan pandangannya.
"Aku akan ikut sama kamu," sahut Kenzo dengan tatapan dinginnya.
"Tapi, Ken. Bukannya kamu mau lanjutin kuliah kamu di sini?" Gita membelalakkan matanya, tak menyangka Kenzo akan ikut pindah dengannya.
Kenzo diam saja tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Gita.
"Sudah cepat, kamu persiapkan semua barang-barang yang akan kamu bawa, kita harus pergi sebelum Zico tiba di sini," titah Kenzo sambil memegang sebelah bahu Gita.
Gita pun hanya mengangguk kemudian berlalu kembali ke unit apartemennya untuk membereskan barang-barangnya.
***
"Nggak, Zi. Karena setelah gue telfon lo, ada klien gue datang. Gue kan di cafe ini karena lagi ada janji sama klien. Gue sih waktu ngobrol sama klien juga sambil liatin dia, sebelum dia pergi gue liat dia call sama seseorang, and then, after call dia pergi tergesa-gesa gitu naik sepeda, Zi. Kayaknya dia tinggal di sekitar sini, deh," tutur Rey.
Zico pun terdiam mendengarnya.
'Siapa sebenarnya yang telfon kamu, Sayang? Kamu nggak mungkin udah lupain aku, kan?' batin Zico dengan dadanya yang terasa sesak, ia sangat takut membayangkan Gita sudah melupakannya dan menemukan tambatan hatinya yang lain.
***
Selama kurang lebih tiga bulan Zico tinggal di sana dengan Rey, setiap harinya ia selalu nongkrong di cafe itu, tetapi tidak satu kali pun ia berpapasan dengan Gita. Ia pun mencoba mencari Gita ke sekitar cafe itu, menanyakannya kepada orang-orang yang ada di sekitar cafe dengan menunjukkan foto Gita, tapi tak ada yang mengenalnya, hanya kasir cafe itu yang mengaku sering melihatnya, tapi kasir itu mengatakan kalau tiga bulan terakhir ini Gita tak pernah terlihat datang lagi mengunjungi cafe itu.
Akhirnya ia pun menyerah hanya menunggu saja seperti itu, ia memutuskan untuk tinggal dengan Rey dan melanjutkan program masternya di Oxford saja, dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti akan ada saatnya ia akan berpapasan dengan Gita selama ia tinggal disana.
__ADS_1
Tetapi nyatanya, selama dua tahun Zico tinggal di sana sampai lulus program masternya, tidak satu kali pun ia bertemu atau sekedar berpapasan dengan Gita.
Sampai tiba-tiba ia mendapatkan telpon dari mommy-nya.
(Son ...) suara mommy Celine terdengar sedang terisak di seberang telpon.
"Mom? Mommy kenapa? Kok nangis?" tanya Zico khawatir saat mendengar suara mommy-nya sedang terisak.
(Daddy-mu, Nak ... Daddy-mu ... semalam terkena serangan jantung ....) mommy Celine semakin terisak.
"Serangan jantung? Kok bisa? Terus sekarang keadaan Daddy gimana, Mom?" tanya Zico panik.
(Daddy sekarang ada di ICU, Nak ... Kamu pulang ya, Sayang. Mommy nggak sanggup menghadapi ini sendirian, Mommy butuh kamu, Son,) lirih mommy Celine.
"Okay, Mom. I'll be back."
Zico benar-benar menyerah untuk terus menunggu Gita setelah mendapatkan kabar dari mommy-nya kalau kondisi Daddy-nya yang tiba-tiba drop dan dirawat di rumah sakit.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk membantu daddy-nya mengurus perusahaannya. Karena kondisi daddy-nya yang tidak memungkinkan untuk selalu datang ke perusahaannya setiap hari, walaupun kondisinya sudah stabil dan diperbolehkan pulang ke rumahnya, tapi daddy Austin sudah disarankan untuk pensiun oleh sang adik, yaitu dokter Felix.
Zico akhirnya benar-benar menyerah mencari Gita, Zico hanya fokus pada perusahaannya saja.
Sampai 3 tahun pun telah berlalu...
***
"Mommy!!!" teriak Zeva sambil menangis, ia dan juga Zayn sudah berumur lima tahun saat ini.
Ya, sekarang Zayn dan Zeva sudah berumur lima tahun. Mereka sekarang tinggal dengan Gita dan juga Yolla di Kota Paris. Mereka baru saja pulang sekolah dijemput oleh Kenzo.
Kenzo pun tinggal di sebelah apartemen Yolla dan juga Gita.
Kenzo lebih memilih untuk mengurus cabang perusahaan daddy-nya yang ada di paris, sedangkan Gita bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT, dan Yolla pun menjadi designer di kota fashion tersebut.
__ADS_1
Karena Gita gagal menyelesaikan KOAS-nya saat di Indonesia, jadi dia mengulang pendidikannya, dan dia mengambil jurusan sekretaris, karena ia tidak sanggup jika harus bekerja sebagai dokter yang jam kerjanya tidak menentu, karena ada kalanya seorang dokter harus tinggal di rumah sakit, apalagi saat KOAS, sedangkan ia sendiri memiliki bayi di rumah yang harus ia rawat.