First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Uncle or Daddy?


__ADS_3

"Kenapa?" Zico bertanya dengan tatapan tajam dan wajah yang menampakkan karakter dinginnya.


"Zi, tolong ngerti, ya?" Gita menatap memohon pada Zico, "Untuk menjelaskan sama anak-anak tentang siapa Daddy-nya itu nggak semudah seperti yang kamu bayangin, pasti akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan sulit untuk kita jawab. Terutama Zayn, dia itu pemikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan anak-anak seusianya, dia nggak akan pernah puas hanya dengan jawaban yang asal-asalan, dia akan terus bertanya sampai dia merasa puas dengan jawaban kita," jelas Gita panjang lebar.


"Mommy ngerti, Mommy sudah sedikit mengetahui tentang karakter Zayn, dia memang bukan anak kecil yang bisa di bohongi," mommy Celine menimpali.


Sedangkan Zico hanya diam saja, ia kembali merenungi semua kesalahannya, ia menundukkan kepalanya dan menjambak rambutnya dengan kedua tangannya.


"Aku bodoh! Ini semua salah aku!" ucap Zico sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Ia benar-benar menyesal karena pernah membohongi Gita, andaikan ia tak pernah membohongi Gita, mungkin Gita akan mendiskusikan dulu tentang masalah ancaman Priscilla, dan pastinya tidak akan semudah itu Gita memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Dan anak-anak mereka pun akan bahagia merasakan kasih sayang dari orangtua yang lengkap sejak mereka dilahirkan. Tidak seperti saat ini, yang bahkan di usia nya yang sudah menginjak lima tahun mereka tidak pernah mengetahui tentang siapa ayah kandungnya.


Melihat Zico seperti itu, mommy Celine menghampiri sang putra, mencoba menghentikan tangan Zico dan memeluknya erat sambil terisak.


Sedangkan Gita masih duduk di tempat yang sama, ia diam dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


"Enggak, Zi. Ini semua salah aku, andaikan aku diskusi dulu ke kamu tentang ancaman Priscilla, pasti kita bisa cari solusinya bareng-bareng," Gita turut menyalahkan dirinya sendiri, "aku cuma takut Priscilla dulu akan mencelakai aku kalau dia tau aku lagi hamil anak kamu, Zi. Priscilla itu orang yang nekat, kamu tau sendiri kan, waktu sekolah aku pernah dikurung sama dia di toilet, aku trauma kalau ingat kejadian itu, Zi. Aku nggak mau Priscilla memperlakukan aku lebih parah dari itu disaat dia tau kalau aku lagi mengandung anak kita," jelas Gita terisak.


Mendengar itu Zico pun menoleh dan memeluk Gita sambil menciumi pucuk kepala Gita.


"Kamu jangan salahin diri kamu, Sayang. Aku yang salah, aku yang nggak becus cari kamu."


Mereka pun menangis terisak lagi sambil berpelukan seperti saat di ruang meeting tadi.


Setelah mereda, mereka pun melepaskan pelukannya satu sama lain lantas menghapus air mata yang membasahi wajah mereka.


Setelah hening selama beberapa saat, Zico pun mencoba memecahkan keheningan, "Terus anak-anak panggil aku apa?"


"Mereka taunya ... Uncle Zico," jawab Gita masih menunduk, ia merasa iba melihat wajah sedih Zico.


Zico pun tersenyum getir saat mendengarnya.


"Oya, Git! Kamu sama anak-anak menginap saja di sini ya, Nak? Kasihan anak-anak kalau harus pulang malam-malam begini, ini sudah larut," pinta mommy Celine mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Tapi, Mom ...."


"Tidak ada tapi-tapi, Tasya!" tegas daddy Austin yang tiba-tiba saja berada di ruangan itu.


Gita pun menghampiri daddy Austin dan menyalaminya.


"Jangan pulang, ya! Kamu tidur di kamar sebelah anak-anak saja!" titah daddy Austin tak ingin dibantah, Gita pun hanya bisa menuruti perintah daddy Austin, karena ia tahu benar karakter daddy Austin yang tidak suka kalau dibantah.


"Baik, Dad."


"Ya udah yuk kita ke atas, aku mau lihat anak-anak," ajak Zico menggenggam tangan Gita dan naik ke lantai 2.


Gita kali ini tak menepisnya, setelah melihat Zico menyalahkan dirinya sendiri seperti tadi, Gita jadi merasa bersalah karena dulu pernah meninggalkannya.


Mommy Celine pun tersenyum kembali melihat mereka bersama seperti itu.


Baru saja Gita dan Zico keluar lift sudah terdengar suara tangisan Zefa.


"Mommy! Mommy!"


Ceklek...


"Mommy!!!"


"Oh My God, Zefa!" Gita berlari saat membuka pintu kamar, ia mendapati Zefa duduk di atas lantai, sepertinya gadis kecil itu baru saja terjatuh dari tempat tidur.


Gita segera menggendongnya dan memeluknya sambil menepuk-nepuk punggung sang putri.


"Mana yang sakit, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Gita lembut.


Zico yang melihat Gita yang begitu terlihat menyayangi putrinya itu pun tersenyum bahagia, berada di dalam kamar yang sama bersama Gita dan juga kedua buah hatinya, membuat jantungnya berdebar, merasa seperti mempunyai keluarga yang bahagia.


"Boleh aku gendong Zefa?" Zico meminta izin pada Gita, Gita pun menjawabnya dengan anggukan.

__ADS_1


"Zefa, di gendong sama Uncle dulu ya, Nak?" bujuk Gita.


"Uncle Ken?" Zefa seketika membuka sempurna kelopak matanya, padahal ia masih mengantuk.


Mendengar putrinya sendiri memanggil Kenzo, lagi-lagi membuat hati Zico teriris, karena putrinya lebih mengenal sahabatnya dibandingkan dirinya yang notabene nya adalah ayah kandungnya.


"Bukan Uncle Ken, Sayang. Ini Uncle Zico," tutur Gita menjelaskan pada sang putri.


"Uncle kan yang milip cama Kak Jayn!" seru Zefa sambil memandang wajah Zico yang sedang menggendongnya.


"Uncle mirip kan sama Kak Zayn? Kalau begitu, gimana kalau Zefa jangan panggil Uncle, panggil Daddy aja, mau, ya?" bujuk Zico membuat Gita Membelalakkan matanya.


"No, Uncle! Kalau Uncle mau jadi Daddy Jepa, Uncle halus menikah dulu cama Mommy cepelti Plincess yang menikah dengan pangelannya," tolak Zefa.


"Mommy-nya yang nggak mau di ajak menikah, Sayang. Gimana, dong? Zefa mau kan bantu Daddy bujuk Mommy supaya mau menikah dengan Daddy?" Gita mencubit perut Zico.


"Auuuwww!" pekik Zico.


"Kenapa Daddy?" tanya Zefa dengan wajah polosnya karena Zico memekik kesakitan.


"Yes! Tadi kamu bilang apa Sayang? Coba ulangi," Zico memastikan bahwa ia tak salah mendengarnya.


"Daddy kenapa?" tanya Zefa lagi.


Membuat Zico dan Gita membelalakkan matanya saling menatap satu sama lain.


Zico tak menyangka ternyata semudah itu meminta Zefa memanggilnya Daddy, begitu pula dengan Gita, ia terkejut melihat Zico semudah itu membujuk sang putri.


"Mulai sekarang panggil Daddy, ya? Jangan Uncle! Daddy janji nanti kalau Mommy kamu sudah siap, Daddy akan menikah sama Mommy seperti Prince and Princess, Okay?"


"Okay, Daddy!" sahut Zefa dengan suara imutnya, membuat Zico gemas dan menghujani ciuman di wajah Zefa sampai membuat Zefa tertawa geli.


Aura bahagia pun terpancar dari raut wajah Zico dan Zefa, Gita yang memandangnya juga tak kalah bahagianya. Ia hanya tinggal memikirkan bagaimana cara menjelaskannya pada Zayn yang sekarang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Zefa pun tertidur saat Zico menceritakan sebuah dongeng untuknya.


__ADS_2