First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Gita Drop


__ADS_3

Setelah Gita pergi ke kamar Zico. Seperti biasa, Zico membacakan sebuah dongeng untuk Zefa. Saat Zefa sudah tertidur Zico menghampiri Gita ke kamarnya.


Ceklek...


Zico masuk dengan mengendap-ngendap agar tidak mengganggu istirahat Gita.


Ia melihat Gita tidur meringkuk seperti orang yang sedang menggigil kedinginan. Ia duduk di tepi ranjang kemudian mengelus pipi Gita dan ternyata Gita pun demam sama seperti Zefa, pantas saja wajahnya terlihat pucat.


"Ya ampun, Sayang. Kamu demam juga!" gumam Zico panik.


Dengan paniknya Zico menelepon bu Wati meminta di bawakan peralatan untuk mengompres Gita.


Setelah bu Wati membawakan sebuah baskom kecil yang berisi air biasa, sebuah handuk kecil, dan juga obat demam untuk Gita, Zico segera membangunkan Gita.


"Sayang, kamu bangun dulu sebentar, ya? Minum obatnya dulu, habis itu kamu tidur lagi," Zico mengulurkan tangannya memberikan obat pada Gita.


"Lho? kok kamu di sini? Zefa sama siapa? Jangan tinggal Zefa sendirian dong," gerutu Gita pada Zico sambil bangkit dari tidurnya. Padahal ia sendiri sedang sakit, tapi ia malah mengkhawatirkan Zefa tanpa mempedulikan kesehatannya sendiri.


"Sayang, aku udah minta mommy jagain Zefa, kok. Lagi pula demamnya dia udah turun. Kamu jangan cuma pikirin Zefa, kamu harus pikirin kesehatan kamu sendiri juga. Kamu sekarang istirahat, biar aku yang temenin kamu. Ini kamu minum dulu obatnya, setelah itu baru kamu tidur. Okay?" pinta Zico menangkup wajah Gita kemudian memberikan satu butir obat pada Gita dan satu gelas air putih.


Gita pun menurut dan membaringkan kembali tubuhnya setelah meminum obatnya. Zico begitu telaten menjaga Gita. Setiap handuk kecil basah yang diletakkan di atas dahi Gita sudah menyerap suhu tubuh Gita, Zico memasukkannya kembali ke dalam air kemudian di letakkan kembali di dahi Gita setelah di perasnya.


***


Saat pagi menjelang, Gita terbangun lebih dulu, sedangkan Zico tertidur di kursi yang diletakkannya di sisi ranjang sebelah Gita.


Gita yang melihatnya pun tak tega membiarkan Zico tertidur di kursi. Apalagi keadaannya belum terlalu pulih. Ia pun membangunkan Zico agar pindah ke atas ranjangnya.


"Sayang," Gita mencoba membangunkan Zico dengan memegang tangannya.


"Hmm?" sahut Zico sambil menguap dan merentangkan tubuhnya.


"Kenapa, Sayang? Kamu haus? Atau laper?" tanya Zico beruntun dengan wajah yang masih mengantuk.


"Enggak kok, Sayang. Sini kamu pindah ke kasur, jangan tidur di situ," pinta Gita sambil menepuk seprai di sebelahnya.


Dengan senang hati Zico pun pindah ke atas ranjang king size nya itu, ia memeluk perut Gita dan mengecup pipinya sambil memejamkan matanya lagi.


"Sayang, lepas dong. Aku mau liat Zefa," pinta Gita sambil mencoba melepaskan tangan Zico dari pinggangnya, namun sia-sia saja, Zico malah melingkarkan lengannya lebih erat.


"Zefa udah sehat kok, Sayang. Tadi jam 4 pagi aku ke kamar anak-anak, Zefa udah nggak panas lagi, dan tidurnya di temani Mommy," tutur Zico terkekeh pelan.


"Terus kenapa kamu ketawa gitu?" tanya Gita menyatukan alis.


"Lucu aja, kayanya baru kali ini deh aku liat Mommy ninggalin Daddy tidur di kamar sendirian," jawab Zico tertawa lagi.


"Iissh kamu tuh, kok malah ketawain Daddy ... Aku jadi nggak enak tau sama Mommy sama Daddy."


"Nggak apa-apa dong, Sayang. Mereka juga ngerti, kan kamu lagi sakit ... maaf ya, Sayang. Gara-gara kamu jagain aku lama di rumah sakit, kamu jadi drop gini, pasti kamu kecapean banget. Makasih ya, Sayang. Kamu udah bertahan sekuat itu untuk aku," tutur Zico sambil membelai pipi Gita.

__ADS_1


"I love you," lanjutnya.


"Love you more, Zi."


"Kamu janji ya, jangan pernah tinggalin aku, aku nggak sanggup kalo nggak ada kamu di sisi aku," ujar Gita memeluk Zico dan menangis terisak di pelukannya.


"Iya, Sayang. I'm promise for that. Mulai sekarang, kita akan menua bersama, membesarkan dan mendidik anak-anak kita bersama, kamu nggak sendirian lagi, Sayang. Jadi kalo Zefa atau Zayn sakit. Kamu bilang sama aku, jangan diam aja seperti kemarin. Okay?" imbuh Zico sambil mengusap air mata Gita.


"Tapi kan kamu masih dalam masa pemulihan, Zi. Kamu masih harus banyak istirahat, nggak boleh capek-capek dulu."


"Aku udah sehat, Sayang. Beneran deh. Kepala aku udah nggak pernah sakit lagi, kok."


Gita pun terdiam mendengarnya.


"Sayang, kita nikah minggu depan aja, ya? gimana?" tanya Zico.


"Kamu beneran udah sehat?" tanya Gita memastikan.


"Iya, aku udah sehat, kok. Apa perlu aku gendong kamu buat buktiin kalo aku udah sehat?" goda Zico tersenyum.


"Iissh kamu! Apaan sih! Emang aku Zefa digendong-gendong segala," ketus Gita. Melihat Gita mengerucutkan bibirnya selalu membuat Zico merasa gemas, ia tangkup wajah Gita dan dikecup bibirnya.


Cup!


"Iih, kam ..." belum selesai Gita mengomel Zico mengecup bibirnya lagi.


Cup!


Tak menunggu lama, Zico pun melu mat bi bir manis Gita yang sangat dirindukannya itu.


Gita yang tiba-tiba terbayang wajah Zico di saat hampir kehilangan nyawanya, akhirnya membalas luma tan Zico. Zico menekan tengkuk Gita hingga ciuman mereka lebih dalam.


"Son!" panggil mommy Celine.


Mendengar suara mommy Celine seketika Gita menekan dada Zico dan bangkit dari atas tu buh Zico, kemudian duduk di tepi ranjang dengan wajah yang tegang. Sedangkan Zico masih berbaring tersenyum melihat wajah tegang Gita.


Ceklek...


"Sayang, kok malah Zico yang tiduran? Memangnya kamu udah sembuh?" tanya mommy Celine saat masuk ke kamar Zico, kemudian menyentuh dahi Gita yang masih terasa hangat.


"Kamu kenapa, Son? Kok senyum-senyum gitu?" tanya mommy Celine mengernyitkan dahi saat melihat putra semata wayangnya itu malah terlihat senyum-senyum.


"Enggak, Mom. Nggak apa-apa," jawab Zico masih senyum-senyum sambil menatap Gita yang sedang memicingkan matanya.


"Ya sudah kamu bangun jangan baring di situ. Biar Gita yang tidur di sini. Kamu temenin anak-anak main sana," titah mommy Celine.


"Mom, biar aku aja yang temenin anak-anak main, kasian Zico semalaman gak tidur karena jagain aku."


"Sayang, kamu tidur lagi aja di sini sama aku," rengek Zico.

__ADS_1


"Eitss! No no no! Kalian belum menikah, Zico!" omel mommy Celine.


"Emang enak!" ejek Gita menjulurkan lidahnya kemudian bangkit dari ranjang Zico.


"Gita, Kamu istirahat aja di kamar kamu, Sayang. Biar Mommy sama Daddy yang ajak anak-anak main," titah mommy Celine.


"Gita mau ketemu anak-anak dulu, Mom. Gita mau periksa keadaan Zefa dulu," pinta Gita.


"Oh ya sudah, anak-anak ada di taman lagi sama Daddy. Mommy mau bicara sesuatu dulu sama Zico," ujar mommy Celine.


"Iya, Mom," jawab Gita. Kemudian ia pun keluar dari kamar Zico dan menghampiri anak-anaknya.


"Son."


"Iya, Mom? Kenapa? Mommy mau ngomong apa sama Zico?" tanya Zico penasaran.


"Kamu kapan mau nikahin Gita?" mommy Celine bertanya balik.


"Mom, waktu baru pulang dari rumah sakit pun Zico udah bahas masalah ini sama Gita, tapi dia bilang harus nunggu Zico pulih dulu. Sekarang Zico udah ngerasa bener-bener sehat, tadi Zico lagi bahas masalah itu sama Gita, Mommy malah dateng. Jadi Zico belum dapat jawabannya dari Gita," terang Zico.


"Ya sudah gimana kalau kita bahas masalah ini sama Daddy sekalian di taman. Biar Daddy bantu kamu bicara sama Gita. Kalo Daddy yang sudah bicara, Gita pasti nggak bakal nolak," ajak mommy Celine tersenyum sambil menaik-naikkan alisnya.


"Ayo, Mom!" Zico bangkit dari ranjangnya kemudian merangkul sang mommy menyusul Gita ke taman.


***


"Daddy! Kak Jayn nakal!" Zefa menangis berteriak memanggil daddy-nya saat Zayn menjahilinya.


Sejak Zayn mengakui Zico sebagai daddy nya, Zayn berubah menjadi anak yang periang, tidak jarang ia menjahili Zefa yang cengeng. Sepertinya mempunyai seorang ayah kandung adalah hal yang di idamkannya selama ini. Terbukti dengan kehadiran Zico, membuat kepribadian Zayn jauh berubah. Tidak lagi menjadi pendiam, ia menjadi lebih periang dan mudah di dekati. Semalam saja ia mau bermain dengan Sean. Padahal ia biasanya tidak mau dengan Sean. Dengan Kenzo saja yang sedari kecil ikut merawatnya, ia begitu sulit untuk di dekati.


"Zayn, jangan usilin adiknya dong, Sayang," tegur Gita sambil menghampiri Zefa yang masih menangis berteriak.


"Cup cup Sayang ... sudah, ya. Jangan nangis lagi. Nanti kalo Zefa nangis terus, Kak Zayn-nya semakin senang menjahili Zefa," bujuk Gita sambil memeluk putri kecilnya.


"Princess Daddy kenapa nangis?" tanya Zico sambil berjalan menghampiri Gita dan Zefa.


Seketika Zefa pun melepaskan pelukan Gita kemudian berlari menghampiri Zico. Namun, ternyata sudah di dahului oleh Zayn yang juga meminta di gendong oleh Zico.


Zefa semakin menangis kencang karena sang daddy lebih dulu menggendong Zayn yang jelas-jelas sudah membuatnya sangat kesal.


"Daddy, jahat!" Zefa menangis menghampiri Gita lagi, ia menangis di pelukan Gita lagi.


"Sayang, Ayo sama Daddy, Nak," ajak Zico masih sambil menggendong Zayn dengan tangan kirinya.


"Enggak!" sentak Zefa tanpa menoleh, ia benar-benar marah pada sang daddy.


Gita menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.


"Zefa, Princess Daddy yang cantik ... Mommy lagi sakit, Nak. Kasian Mommy. Zefa sama Daddy ya, Sayang?" bujuk Zico, saat melihat wajah Gita yang masih terlihat pucat.

__ADS_1


__ADS_2