
“Hussst! Kamu jangan pernah memberikan janji apapun sama aku Zico, benar kata Ibu, kita nggak akan pernah tahu takdir akan membawa kita seperti apa di masa depan, hanya Tuhan yang menentukan takdir itulah yang tahu takdir kita akan seperti apa nantinya.” Imbuh Gita tersenyum memaksa, tetapi sudah tidak menangis lagi, perasaannya saat ini sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Baiklah… kalau begitu aku janji sama diri aku sendiri, kamu selamanya akan jadi milik aku, cuma milik aku, dan aku pun cuma milik kamu, aku akan selalu ada untuk kamu.” Terang Zico.
Gita tidak menjawab sepatah katapun, ia memeluk Zico lagi, sangat erat, seolah tak ingin lepas.
Zico pun membalas memeluknya erat sembari mengecup pucuk kepala Gita, setelah itu ia melepaskan pelukan Gita, ia hapus sisa-sisa air mata di bulu mata Gita.
Zico tidak tahan untuk tidak mengecup bibir tipis Gita yang selalu membuatnya kecanduan itu, ia kecup bibir Gita, hanya sebuah kecupan singkat di bibirnya, tapi siapa sangka, di saat Zico melepaskan kecupannya, Gita berjinjit dan menarik kerah baju Zico, ia melu mat bibir Zico dengan lembut, Zico terbelalak, ia tak menyangka Gita akan se agresif ini, ia pun menikmatinya dan membalas luma tan Gita, tangan kirinya ia gunakan untuk menahan tengkuk Gita, tangan satunya lagi iya lingkarkan dipinggang Gita.
Ciuman itu menjadi lebih dalam karna Zico menekan tengkuk Gita, li dah mereka pun bertautan, tetapi Zico tiba-tiba teringat dengan komitmen Gita, akhirnya ia lepaskan pangutannya, karena ia tidak ingin kebablasan lagi seperti kemarin, ia seka bibir Gita yang basah dengan Ibu jarinya.
Gita terlihat malu-malu, Zico gemas melihatnya, ia peluk Gita erat-erat dan mencium keningnya.
“Sayang, Makasih ya!” Ucap Zico, ia merasa sangat puas dengan ciuman kali ini, karena kali ini Gita lah yang memulainya lebih dulu.
“Aku yang makasih sayang, kamu selalu ada disamping aku di saat-saat terberat seperti ini.” Tutur Gita.
“Aku akan selalu ada disamping kamu sayang.” Sahut Zico.
Gita tersenyum.
“Ayo kita ke Ibu, kamu janji ya sayang, di depan Ibu kamu jangan menangis lagi, kalau kamu menangis terus Ibu akan kepikiran, katanya kalau orang terkena kanker harus sering dikasih support agar kondisinya tidak gampang down.” Imbuh Zico.
“Iya sayang.” Sahut Gita.
Mereka pun pergi ke ruangan Sophia lagi sembari bergandengan tangan, menautkan jari-jari mereka.
“Lho? Lo masih di sini La?” Gita terkejut melihat Yolla masih di ruangan Ibunya.
“Gue belum tenang kalau lo nya belum balik kesini... gimana? Apa lo udah merasa lebih tenang?” Sahut Yolla balik bertanya.
Gita hanya tersenyum menganggukan kepalanya.
“Lo pulang aja La, nanti di cariin Mama lho!” Pinta Gita.
__ADS_1
“Ya udah gue pulang dulu ya Git, lo udah ya jangan nangis lagi, be strong okay?” Yolla memeluk Gita.
“Thank’s ya La.” Gita melepaskan pelukannya dan tersenyum, “Lo hati-hati ya La.” Pesan Gita.
“Okay… Zi, lo pulang nggak?” tanya Yolla pada Zico.
“Iya nanti sebentar lagi gue pulang.” Sahut Zico.
“Kamu pulang aja Zi, nggak apa-apa kok, sekarang perasaan aku udah jauh lebih tenang.” Ucap Gita.
“Bener kamu nggak apa-apa aku tinggal pulang sekarang?” tanya Zico sembari membelai pipi Gita dengan ibu jarinya.
“Iya aku nggak apa-apa kok.” Sahut Gita lagi.
“Iya Nak Zico, pulang saja, ini sudah malam, nanti orang tua Nak Zico khawatir.” Ucap Sophia.
“Baik Bu, kalau begitu Zico dan Yolla pamit pulang ya bu.” Pamit Zico mencium punggung tangan Sophia, di ikuti pula oleh Yolla.
“Hati-hati ya Nak Zico, Yolla.” Ucap Sophia.
Gita mengantar Yolla dan Zico keluar.
“Aku pulang dulu ya, kamu di sini aja, tidur yang nyenyak ya, kamu pasti lelah, jangan lupa mimpiin aku ya sayang.” Ucap Zico tersenyum dan mengecup kening Gita.
“Ya ampun! Duo sejoli ini bikin gue envy mulu! Sadar woy disini ada gue!” Kemudian Yolla melengos pergi meninggalkan mereka berdua.
Gita dan Zico tertawa melihat Yolla mengomel.
“Udah sana cepetan susul Yolla.” Seru Gita.
“Iya sayang.. Kamu juga masuk sana, istirahat, Bye sayang...” Ucap Zico mengelus rambut Gita.
“Bye...” sahut Gita tersenyum sambil melihat Zico pergi dari depan pintu.
‘Benar kata Yolla, aku sangat beruntung memiliki Zico disamping aku, dia sangat sigap dan benar-benar perhatian padaku dan Ibu, kalau tidak ada Zico entah apa yang harus aku lakukan saat panik melihat ibu seperti kemarin dan saat aku mendengar vonis dokter atas penyakit Ibu, cuma dia yang bisa menenangkan perasaan aku.’ Gumam Gita dalam hatinya.
__ADS_1
Zico mengejar Yolla, mereka berjalan berdua, “La, lo kenapa nggak sama Sean aja sih? Kalian berdua tuh cocok tau, nanti kan kita bisa double date La kalo lo pacaran sama Sean.” Ucap Zico pada Yolla, tapi Yolla menganggapnya itu hanya sebuah ejekan untuknya.
“Apa sih lo ah! Cocok dari segi mananya coba? Tiap ketemu aja gue berantem terus sama dia!” Gerutu Yolla.
“Ya makanya lo buka hati lo dong buat dia, jangan marah-marah terus!” Seru Zico.
“Udah ah, gue mau pulang, Bye Zi!” pamit Yolla melambaikan tangannya, mengacuhkan kata-kata Zico sebelumnya.
Zico hanya tersenyum sembari membalas melambaikan tangannya.
***
Keesokan harinya, seperti biasa, Zico menjemput Gita dan mengantarkannya ke apartemennya lalu berangkat ke sekolah, dan pulang sekolah Zico mengantarkan Gita ke rumah sakit, dan ia izin ke Gita untuk bermain basket bersama teman-temannya.
Di rumah sakit Gita sedang melamun, ia bergumam dalam hatinya, ‘Aku harus mencari kerja paruh waktu dimana ya? Aku nggak akan bisa mencari pekerjaan kalau Zico sedang bersama aku, Aku pulang dulu deh, coba-coba keliling mencari pekerjaan, mungkin mini market disekitar apartemen ada yg membutuhkan pekerja part time.
“Bu, Gita mau pulang dulu ya bu ke apartemen, nanti malam Gita kesini lagi Bu.” Pamit Gita pada Ibunya.
“Kamu nggak usah kesini nggak apa-apa nak, tidur di rumah aja ya, Ibu nggak apa-apa kok sendirian di sini.” Sahut Sophia.
“Enggak Bu, aku tidur di sini aja bersama Ibu.” Seru Gita.
“Ya sudah, kamu hati-hati ya nak.” Ucap Sophia sembari membelai pipi putri kesayangannya itu.
“Baik bu.” Gita mencium punggung tangan Ibunya dan pergi dari rumah sakit.
Awalnya ia mencari-cari di café sekitar rumah sakit, tetapi ternyata sudah tidak menerima pegawai part time baru lagi.
Kemudian ia pergi ke sekitar apartemennya, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah mini market.
Setelah selesai bermain basket, Zico mengirim pesan pada Gita, tapi tak kunjung mendapatkan balasan, ia telpon juga tidak ada jawaban.
Akhirnya ia segera ke rumah sakit, ternyata Gita tidak ada, akhirnya ia pergi ke apartemen, ia panggil-panggil pun tidak ada jawaban dari Gita, ia menjadi sangat menghawatirkan Gita.
“Kamu kemana sih sayang?”
__ADS_1