
"Mereka berdua sebenernya kenapa, sih?" gumam Gita dalam hati, manik matanya bergantian melirik Sean dan Yolla. Kemudian bergumam lagi, "Apa mungkin ..., ?" sontak Gita menutup mulutnya karena pikiran yang terlintas di benaknya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Zico mengernyitkan dahi.
"Hah? Eng-enggak ... Enggak apa-apa kok," kilah Gita gugup mengalihkan pandangannya.
Memperhatikan manik mata Gita yang terus melirik Sean dan Yolla, Zico pun tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Gita. Zico menyunggingkan senyumnya.
"Sayang, katanya kamu mau ada meeting jam dua? ini udah jam satu lho," tutur Gita sambil menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya.
"Sean, tolong cancel aja meeting-nya," titah Zico pada Sean sambil merangkul Gita dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Lho? Kok malah di cancel sih?" Gita menyatukan alisnya.
"Kalo aku meeting, nanti kamu balik ke kantor sama siapa, Sayang?" jawab Zico santai.
"Tapi lo kemaren udah cancel meeting ini lho, Zi. Ini udah gue re schedule, masa iya harus di cancel lagi. Gue harus buat alesan apa lagi coba?" gerutu Sean.
"Jangan di cancel, Sean!"
"Kamu cepetan pergi meeting sama Sean, aku mau jalan sama Yolla, abis itu ke rumah kamu jemput anak-anak," ujar Gita.
"Katanya kamu mau balik ke kantor lagi?"
"Enggak jadi ah! Kamu bisa kan bilang ke kantor kalo aku ikut meeting sama kamu? Aku mau ngajak Yolla massage, badan aku pegel-pegel banget," keluh Gita memasang wajah memelas.
"La, bisa kan temenin gue ke spa?" tanya Gita sambil menghampiri Yolla dengan tatapan memohon.
"Of course! Apa sih yang nggak buat lo," sahut Yolla sambil menaik-naikkan alisnya.
Setelah mendapatkan jawaban dari Yolla, mereka pun keluar dari ruangan Yolla, dan tentunya mereka berempat semakin menjadi pusat perhatian dan menjadi bahan perbincangan para karyawan Yolla.
Mereka bertanya-tanya tentang hubungan Zico dan Gita yang terlihat begitu mesra, bahkan CEO tampan itu terlihat selalu tersenyum saat berjalan bersama Gita. Ada yang turut mengagumi kecantikan Gita, ada pula yang iri padanya dan mencari tahu tentangnya dengan menelusuri sosial medianya di sosial media milik Yolla. Namun, hasilnya nihil. Mereka sama sekali tak mendapatkan info apapun tentang Gita. Karena Gita memang tidak pernah membuat akun sosial media. Ia hanya mempunyai satu aplikasi chatting berwarna hijau.
Sampai kehebohan tentang Zico dan Gita pun sampai ke para wartawan, bahkan ada beberapa dari staff Yolla yang menjual foto Gita dan Zico saat berada di kantor Yolla.
Sehingga terpampang lah foto-foto mereka di beberapa akun gosip di beberapa sosial media yang di miliki sejuta umat.
Bahkan ada yang memberinya judul CEO tampan pemain wanita, karena yang mereka tahu selama ini Zico berpacaran dengan Aline. Model internasional yang pernah sekali mendampingi Zico pada acara malam penganugerahan untuk para pengusaha. Foto Zico dan Alice terpampang di beberapa majalah bisnis dan juga majalah gosip.
Namun, baik Zico maupun Alice memang tidak pernah mengonfirmasi apapun tentang hubungan mereka.
__ADS_1
***
Setelah satu minggu berlalu, karena Gita terus di ganggu oleh para wartawan di depan apartemennya, Gita dan anak-anaknya akhirnya pindah ke mansion Zico. Karena di sana lebih aman. Para pemburu berita itu tidak akan bisa sembarangan masuk ke kompleks elit dengan keamanan super ketat itu.
Gita menjadi sangat khawatir tentang anak-anaknya, ia takut jika sampai orang-orang mengetahui tentang status anak-anaknya. Memikirkannya saja sudah membuatnya sering menangis.
Seperti sekarang ini, ia sedang menangis sendirian di dalam kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Sayang! Aku masuk, ya?" panggil Zico.
"Iya!" sahut Gita segera menyeka air matanya.
Ceklek...
Zico menghampiri Gita yang sedang duduk di atas ranjangnya sambil bersandar pada sandaran ranjang.
Zico pun menyadari mata Gita yang sembab seperti habis menangis.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zico sambil membelai wajah sembab Gita.
Gita hanya menggeleng pelan dan menundukkan pandangannya.
Gita terisak kembali setelah mendengar pertanyaan Zico. Zico pun seketika memeluknya sambil membelai rambut panjang Gita dengan lembut dan mengecup pucuk kepalanya.
"Kalo kita nikah aja secepetnya, gimana? Kamu siap nggak?" imbuh Zico sambil melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Gita.
"Tapi, Zi. Nanti kamu di bilang nikah sama cewek nggak bener kalo mereka tau aku udah punya anak tapi belum pernah nikah. Nanti citra kamu jadi ikut jelek," tutur Gita.
"Sayang! Listen to me! Yang ngelakuin itu sama kamu kan aku. Aku nggak akan biarin nama kamu jelek sendirian. Kamu tenang aja, kita bisa atur itu nanti, yang penting kamunya setuju dulu kalo pernikahan kita dipercepat. Gimana? Kamu mau 'kan?" terang Zico.
Gita hanya diam, ia belum siap menjawab apapun ajakan Zico.
"Sayang, please? Ini semua demi anak-anak kita," ucap Zico lagi dengan tatapan penuh harap sambil menggenggam kedua tangannya.
Akhirnya setelah menghela nafas panjang, Gita pun mengangguk, mengiyakan ajakan Zico.
"Kamu nggak romantis banget, sih. Masa ngelamar aku kaya gini doang, nggak romantis kaya di drama-drama korea," cebik Gita mengerucutkan bibirnya, membuat Zico tertawa.
"Kamu lupa ya, Sayang? Dulu sebelum kamu kabur kan aku udah pernah ngelamar kamu," imbuh Zico.
__ADS_1
Gita berpikir sambil mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya pada Zico.
"Yang waktu di restoran lho, Sayang. Waktu kita dinner sama Mommy dan Daddy," terang Zico lagi.
"Oh iya! Maaf ya, Sayang. Aku lupa," akhirnya Gita pun mengulas senyum manisnya.
"Ya udah, kita ke bawah, yuk! Kita omongin ini sama Mommy dan Daddy. Mereka pasti seneng dengernya," ajak Zico.
Gita pun tersenyum sambil mengangguk.
Mereka bergabung bersama mommy Celine , daddy Austin dan anak-anak mereka di ruang keluarga.
Setelah anak-anak mengantuk, Gita dan Zico menidurkan kedua buah hati mereka di kamar tidurnya. Zefa dibacakan dongeng oleh Zico, sedangkan Zayn dibacakan dongeng oleh Gita, karena ia masih enggan untuk berdekatan dengan Zico, bahkan panggilannya saja masih 'Uncle'.
Ketika Zayn dan Zefa sudah terlelap, mereka kembali ke ruang keluarga dan berbincang tentang rencana pernikahan mereka. Benar seperti kata Zico, mereka sangat bahagia mendengarnya. Namun, mereka sempat khawatir tentang bagaimana cara menjelaskan tentang anak-anak mereka kepada wartawan pada saat konferensi pers nanti. Karena Zico memang berencana untuk mengadakan konferensi pers setelah resepsi pernikahannya nanti. Ia mempunyai rencana sendiri untuk menjelaskan semuanya kepada para awak media.
***
Tiga hari pun berlalu, Gita dan Zico berencana mengadakan pernikahan mereka akhir pekan ini, dan resepsinya di adakan satu minggu setelahnya.
Hari ini adalah dua hari menjelang pernikahan mereka, karena Gita ada setumpuk pekerjaan di kantornya, hari ini Zico lah yang akan menjemput kedua buah hati mereka, Zayn dan Zefa.
Namun ban mobil Zico mendadak bocor, ia pun meninggalkan Sean dengan mobilnya. Dan bergegas naik taksi ke sekolah sang anak.
Saat tiba di sekolah, sekolah sudah mulai sepi, hanya tinggal Zayn dan Zefa yang di temani oleh ibu guru mereka, Miss Cantika.
"Maaf ya, Miss. Saya terlambat, tadi ban mobil saya bocor, jadi saya naik taksi ke sini," sapa Zico ramah.
"Iya, Tuan. Tidak apa-apa," jawab Miss Cantika yang tak kalah ramah.
Zico pun berlutut di depan Zayn dan Zefa.
"Maafin Daddy ya, Nak. Daddy terlambat jemputnya," tutur Zico kepada kedua buah hatinya.
"Iya, Daddy. Tidak apa-apa ... Daddy capek, ya?" tutur Zefa sambil menyeka keringat di dahi sang daddy dengan telapak tangannya yang mungil.
"Enggak kok, Sayang. Daddy nggak capek, kok."
Berbeda dengan Zefa, Zayn terlihat kesal, dengan tatapan dingin dan datarnya itu, ia berlari menuju luar gerbang.
Zico segera berlari mengejar Zayn, dan ....
__ADS_1
"Aaaaaaaaaa!!!"
BRAKKK!!!