
Dua hari yang lalu di apartemen Yolla di paris...
"Haaaaah ... Akhirnya liburan juga ... gue mau kasih surprise buat Gita, dia pasti kaget banget kalo tiba-tiba gue ada di depan dia.. hehe," gumam Yolla terkekeh sendiri.
"Semoga aja Mama nggak bilang sama Gita kalau gue mau pulang." gumamnya lagi sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
Ia menghela nafas berat membayangkan dirinya akan bertemu lagi dengan Sean. Ia pun bergumam lagi,
"Hmmm ... Aku harus gimana ya kalau nanti ketemu Sean? ... Oh God, belum ketemu dia aja jantung gue udah nggak karuan begini rasanya!"
***
Di Bandara internasional paris...
Yolla menelpon sang mama.
(Hallo, Mam!)
(Hallo, Sayang, kamu belum take off?)
(Belum, Mam. Ini baru aja aku duduk di pesawat, sebentar lagi take off. Aku mau minta tolong sama Mama, jangan kasih tau Gita ya kalau aku pulang, aku mau kasih surprise sama Gita, Mam!)
(Okay, Sayang. Ya udah kamu hati-hati ya, nanti sekitar 16 jam ke depan Mama dan Pak Yadi jemput kamu di Bandara ya, Nak.)
(Okay! See you, Ma!)
(See you, Sayang!)
***
17 jam kemudian di Bandara internasional jakarta...
Seorang gadis berjalan sambil menarik kopernya, ia terlihat begitu stylish dengan rambut panjang curly berwarna ash brown yang terurai dengan topi kupluk ala-ala korea yang terpasang di atas rambutnya, menggunakan turle neck berwarna krem yang di pasangkan dengan long blazer selutut sebagai atasannya, dengan celana jeans putih yang menutupi kaki jenjangnya dan sepatu boot berwarna coklat yang dikenakannya, tak lupa juga kacamata hitam yang digunakannya membuat tampilannya terlihat sangat sempurna.
Sangat berbeda dengan penampilan Yolla saat SMA dulu, pipinya pun sudah tak chubby lagi, sudah terlihat lebih tirus, mungkin Gita pun tidak akan langsung mengenalinya saat bertemu dengan sahabatnya itu.
"Duh, Mama mana ya? Katanya mau jemput, gue udah setengah jam nunggu di sini tapi masih belum datang juga... gue telpon aja deh!" Gumamnya.
(Hallo, Ma!)
(Hallo, Sayang! Maaf ya, Nak, ini Mama sama Pak Yadi kejebak macet. Kamu tunggu sebentar ya.)
(Oh ya udah, Mam!)
Yolla pun mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
"Gue udah gak sabar banget mau ketemu Gita ... Oh iya, dia pasti sekarang ini lagi di rumah sakit nemenin Giselle, apa gue langsung ke rumah sakit aja ya?" gumam Yolla yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya itu, karena memang ia belum bertemu sama sekali dengan Gita sejak kepergiannya ke paris, kalau dengan kedua orangtuanya ia tidak terlalu rindu, karena kedua orangtuanya itu sering sekali mendatanginya ke negara fashion tersebut.
"Mama!!!" teriak Yolla saat melihat Chintya sang mama, ia segera berlari menghampiri dan memeluknya, yang kemudian pelukannya pun disambut oleh Chintya.
"Anak Mama tambah cantik aja sih." Puji Chintya sembari menangkup wajah putri tunggal kesayangannya itu dan mencium pipinya.
"Of course! Mamanya juga kan cantik, masa anaknya jelek!" Yolla membalas pujian sang mama.
"Pak Yadi! sehat kan Pak? Kangen gak sama aku?" Tanya Yolla pada supir pribadinya yang selalu menemaninya kemanapun sejak dirinya masih sekolah TK sampai sebelum ia berangkat ke paris.
"Sehat Non sehat.. Tentu saja saya kangen sekali, semenjak nggak ada Non Yolla saya sering sekali menganggur di rumah." Jawab Pak Yadi yang sangat merindukan putri dari Tuannya tersebut.
Yolla pun tersenyum mendengarnya.
"Oh iya Mam! Aku mau langsung ke rumah sakit aja ya? Aku mau ketemu Gita, Aku kangen banget sama dia." Ujar Yolla.
"Lho? Gita sakit? Kalau begitu mama ikut aja, mama mau besuk dia!" Seru Chintya yang mengira kalau Gita yang sedang sakit.
"No, Mam! bukan Gita yang sakit! Yang sakit itu temennya Gita, kebetulan aku juga kenal sama temennya itu, Gita yang kenalin aku by phone." Terang Yolla.
"Oh begitu! Mama kira Gita yang sakit ... Tapi apa kamu nggak mau ketemu Papa dulu, Nak? Papa tadi minta Mama ajak kamu ke kantornya dulu, Papa udah kangen banget sama kamu katanya." Imbuh Chintya.
"Nanti malam juga kan ketemu, Ma! Lagi pula kan bulan lalu aja aku udah ketemu Papa waktu Papa ada perjalanan bisnis ke sana, kalau sama Gita kan aku belum pernah ketemu mah udah setahun ini." ujar Yolla.
Chintya menghela nafas panjang, pasrah saja dengan keinginan sang putri, karena ia tahu betul seberapa sayangnya Yolla pada Gita.
"Baik, Nyonya!" jawab Pak Yadi sembari menarik koper Yolla.
***
Sesampainya di lobby rumah sakit, Yolla pun bergegas ke kamar VIP tempat Giselle dirawat setelah menanyakan ruangan tempatnya dirawat di bagian pendaftaran.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
Yolla mendorong handle nya setelah mengetuk pintu itu,
"Hai! Aku...."
BRAAKKK!!!
Parsel buah yang dibawanya pun jatuh ke lantai, buah-buahan segar itu pun berserakan di lantai ruangan itu. Kalimatnya pun menggantung saat melihat dua insan yang sedang berpelukan itu.
Netranya mengembun, bulir bening mendesak ingin keluar dari kelopaknya.
__ADS_1
"Maaf cari siapa ya?" tanya Giselle yang tak mengenalinya, karena Giselle hanya pernah melihat foto Yolla yang pipinya masih terlihat chubby dengan penampilan yang masih sangat polos, sangat berbeda dengan sosoknya yang sekarang seperti bak model atau selebriti papan atas.
Sean pun mengerutkan dahinya, ia belum menyadari siapa yang menatapnya itu, ia masih berpikir sembari menatap Yolla.
'Sepertinya gak asing.. Tapi siapa ya?' pikir Sean dalam benaknya.
"Maaf! Gue salah kamar!" Yolla pun berbalik dan keluar dari ruangan itu, ia berlari di lorong rumah sakit dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya itu.
"Itu siapa, Sean? Kok dia sepertinya kenal sama kamu? Tadi dia lihatin kamu terus." tanya Giselle.
'Yolla! Itu sepertinya Yolla!' Bukannya menjawab Sean bergumam dalam batinnya.
"Sen, kamu kenal dia?" tanya Giselle lagi.
"Aku... Aku lupa Sel, Aku nggak tau itu siapa!" sanggah Sean berbohong, ia tak mau kalau Giselle merasa bersalah lagi kepada Yolla, karena sangat jelas terlihat kalau Yolla menangis saat pergi tadi.
"Oh ..." Sahut Giselle singkat.
"Sel, Aku keluar dulu ya sebentar cari makan." pamit Sean mencium kening Giselle lagi.
Di lorong rumah sakit...
BRUUKKK!!!
"Auww!" Gita memegang bahunya yang terbentur bahu Yolla.
"Sorry!" Ucap Yolla tanpa melihat siapa yang ditabraknya, ia terus saja berjalan menundukkan pandangannya tanpa menoleh sedikitpun.
Gita berbalik, ia mengerutkan dahinya dan memandangi sosok gadis yang yang terus berjalan membelakanginya itu, ia perhatikan dari cara berjalannya dan juga tercium wangi parfum yang biasa dikenakan Yolla sejak dulu.
"Yolla? Zi, itu seperti Yolla? Yolla!!!" teriak Gita mencoba memastikan kalau itu adalah benar-benar sahabat yang sangat dirindukannya.
Yolla pun berbalik saat mendengar suara yang terdengar tak asing di telinganya itu.
"Gita?!" Ucap Yolla, tapi bukan menghampirinya, Yolla malah menghindar dengan masuk ke dalam lift dan menekan tombol lift itu secepat mungkin.
"Zi! itu Yolla Zi! Kok dia ada di sini? Terus ... kenapa dia nangis? Atau Jangan-jangan ..."
"Itu beneran Yolla, Git?" Tanya Sean yang berlari menghampiri Gita dan sudah mendengar apa yang Gita bicarakan pada Zico.
"Sen, tadi Yolla ketemu kamu sama Giselle, Sen?" Selidik Gita.
"Iya, Git... Tadi pas dia masuk gue sama Giselle lagi pelukan," ujar Sean sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh My God!!! Zi, aku harus kejar Yolla Zi!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...