
Dengan posisinya saat ini, ia jadi membayangkan bagaimana rasanya tidur di kamar dan ranjang yang sama dengan Gita di setiap harinya, oh indahnya, itulah yang ada dibenak Zico.
"Hah? Iishh Kamu ngomong apa sih? Kita baru juga kuliah tiga bulan, masa udah mau nikah aja!" Cebik Gita.
"Aku serius sayang... aku gak sabar banget tau pengen jadi suami kamu." Ucap Zico yang membuat jantung Gita berdebar tak karuan, takut debaran jantungnya diketahui Zico, ia pun segera beranjak dari pangkuan Zico.
"Sayang... please ya! jangan bahas ini dulu... mungkin kalau kamu menikah sekarang pun gak masalah, tapi kalau aku? Mana bisa aku menikah sebelum lulus? gak bisa sayang, aku harus selesaikan kuliah aku dulu, okay?" Tutur Gita tegas.
Zico hanya menghela nafasnya panjang.
"Udah yuk kita ke bawah, nanti Daddy benar-benar curiga lagi sama kita." Ucap Gita tertawa.
"Hmmm...." Sahut Zico singkat memasang mode kulkasnya.
'issshh, udah ngambek lagi aja, tau ah! pusing!' batin Gita.
Gita pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zico dan menuju ke bawah, Sedangkan Zico pergi ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.
Melihat Zico tidak mengikutinya, Gita pun hanya bisa pasrah kalau memang Zico marah lagi padanya, ia tetap melanjutkan langkah kakinya menuju ruang makan.
Melihat Gita hanya tiba di ruang makan sendirian Austin mengerutkan dahinya.
"Tasya... kemana Zico? Kok dia gak ikut turun?" Tanya Austin tegas, ia lebih senang memanggil Gita dengan sebutan 'Tasya' seperti waktu Gita masih kecil.
Gita menghela nafas panjang.
"Hemmmmm... Gak tau tuh Dad, males ah bujukin dia lagi." Jawab Gita lesu.
Mendengar itu Mommy menghela nafas berat, menggelengkan kepalanya dan bergumam dalam hatinya.
'Anak sama Daddynya sama aja!'
Tidak lama kemudian Zico pun tiba diruang makan dengan mode kulkasnya.
Melihat wajah Zico seperti itu Gita pun hanya diam saja malas untuk menegur Zico.
Austin duduk di kursi utama diujung meja makan yang lumayan panjang itu, yang terdiri dari delapan kursi, Gita memilih duduk disamping Mommy Celine, sedangkan Zico duduk disamping Daddynya.
Setelah menyelesaikan hidangannya, Bu Wati pun pamit kembali ke dapur.
Keadaan ruang makan itu begitu hening, Austin, Celine dan Gita bergantian melirik Zico, sedangkan Zico hanya fokus menyantap makanannya saja.
Mommy Celine pun mencoba memecah keheningan itu dengan menuangkan sayur pada piring Gita.
__ADS_1
"Gita sayang... ini Mommy tambah sayurnya ya, biar kamu nanti awet muda seperti Mommy." Kekeh Mommy Celine sembari meletakkan telapak tangan di dagunya sendiri.
Gita yang sedang kesal pada Zico pun jadi tertawa, ia sangat senang melihat Mommy Celine yang selalu terlihat ceria itu.
"Makasih ya Mom." Jawab Gita tersenyum menatap Mommy Celine.
Zico hanya melirik Mommy Celine dan Gita sekilas.
Austin yang sedang tersenyum melihat tingkah istrinya sekilas melirik Zico, ia heran kenapa Zico bersikap seperti itu saat ada Gita, padahal biasanya wajah Zico selalu terlihat sumringah saat berada didekat Gita.
Sebenarnya ia sangat ingin menegur Zico kenapa sikapnya seperti itu, tapi ia urungkan niatnya, karena ia tidak ingin perdebatannya dengan putranya membuat Gita kapok untuk berkunjung ke rumahnya lagi.
Ia memutuskan untuk menanyakannya pada Zico nanti setelah Gita kembali ke asramanya.
Setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga, mereka bertiga, Austin, Celine dan Gita sedang berbincang dan bersenda gurau, Gita terlihat sangat bahagia dengan sikap Celine dan Austin yang terlihat begitu tulus menyayanginya, bahkan ia merasa dianggap seperti layaknya seorang putri bagi mereka.
Sedangkan Zico hanya duduk sendiri di sofa single membaca komiknya.
Gita sesekali melirik Zico, tetapi Gita benar-benar tidak melihat Zico meliriknya sama sekali.
Entah kenapa hati Gita tiba-tiba terasa perih melihat Zico bersikap seperti itu, perasaan kesal dan sedih jadi satu membuat manik mata Gita mengembun.
Menyadari air matanya akan segera tumpah, ia pun gegas pamit kepada Celine dan Austin untuk pergi ke toilet.
"Oh iya sayang.. sudah tau kan toiletnya dimana?" Jawab Celine.
Gita hanya menganggukkan kepalanya, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju toilet.
Didalam toilet air mata yang sedari tadi sudah mendesak ingin keluar, akhirnya pun tumpah begitu derasnya sehingga membasahi pipi Gita.
Di ruang keluarga...
Celine yang sedari tadi sudah sangat jengkel dengan sikap putra semata wayangnya itu pun akhirnya memutuskan untuk menegurnya.
"Son!" Panggil Celine.
Zico tidak mendengarnya karena terlalu fokus membaca komiknya.
"Zico!!!" Sentak Celine, merasa kesal telah diabaikan oleh Zico.
"Hah? Iya Mom? Kenapa sih?" Sahut Zico ketus, ia terkejut Mommy nya membentaknya seperti itu, karena selama ini Mommy nya selalu bersikap lembut padanya.
"Kamu kenapa sih sama Gita?! Kenapa dari tadi kamu mengabaikan dia seperti itu? Wajah Gita jadi terlihat sangat sedih, bahkan menurut Mommy dia sekarang ini pergi ke toilet itu bukan karna ingin buang air kecil, Mommy yakin dia itu ke toilet hanya karna ingin menangis." Tutur Celine.
__ADS_1
"Apa sih Mom? Paling dia cuma ingin buang air kecil." Sahut Zico ketus, ia merasa kesal pada Mommy nya karna dibentaknya tadi.
"Mommy bisa lihat tadi saat dia pamit matanya tuh udah mengembun, sangat terlihat dari wajahnya kalau dia tuh mau menangis." Ujar Mommy Celine.
Zico malas berdebat dengan Mommy nya, ia pun beranjak dari sofa single tempatnya duduk. Ia pergi naik menuju ke kamarnya tanpa pamit pada kedua orang tuanya.
"ZICO!!! MOMMY MU SEDANG BICARA!!!" Teriak Austin yang sudah merasa sangat kesal pada sikap putranya hari ini.
Zico benar-benar mengabaikan kedua orang tuanya, jangankan menghentikan langkahnya, menyahut pun tidak.
Austin dan Celine menghela nafas berat.
Gita yang ternyata mendengar pembicaraan mereka bertiga pun segera pamit untuk pulang, bahkan ia sama sekali tidak ingin pamit pada Zico.
"Mom, Dad... aku pulang ke asrama ya, aku mau mengerjakan tugas dulu, lagi banyak tugas soalnya." Pamit Gita berbohong.
"Lho? Tunggu Zico dulu sayang, Mommy panggilkan Zico dulu ya Nak." Titah Celine hendak melangkahkan kakinya ingin memanggil Zico melalui telepon rumahnya, tapi Gita segera mencegahnya dengan meraih tangan Celine.
"Nggak Mom... Gak usah ya Mom, Gita bisa pulang sendiri kok." Tutur Gita tersenyum dengan mata yang masih sembab.
"Mana ada kamu pulang sendiri? Kalau kamu memang gak mau pulang sama Zico, Daddy akan panggil Hendra untuk antar kamu kembali ke asrama, kamu gak boleh pulang sendiri!" Titah Austin tegas tak ingin dibantah. Ia pun segera menelpon hendra supir pribadinya yang sedang standby di gerbang Mansionnya, memintanya untuk mengantarkannya ke asrama.
Gita hanya bisa menuruti Austin, tidak berani ia membantah Austin.
Akhirnya Gita pun kembali ke asramanya.
Zico yang telah selesai mandi turun kebawah hendak mengantarkan Gita pulang, sebenarnya ia naik ke atas tadi karena ingin menyegarkan badannya, ia berniat untuk mengantar Gita kembali ke asrama.
Tetapi saat ia tiba di ruang keluarga, ternyata di ruangan itu sudah sepi, tak ada satupun orang disana, ia pun pergi ke kamar orang tuanya.
Tok.. Tok.. Tok...
"Mommy...Daddy..." Panggil Zico.
Austin dan Celine yang menyadari putranya itu memanggil mereka, mereka pun hanya diam saja tak ingin mengeluarkan suara, mereka tahu bahwa Zico pasti ingin menanyakan keberadaan Gita.
"Gak usah dijawab sayang... biarkan aja dia cari Gita sendiri." Bisik Austin.
Celine hanya menganggukkan kepalanya, ia masih sakit hati pada Zico.
Karena tidak mendengar jawaban dari kedua orang tuanya, akhirnya Zico memutuskan untuk menghampiri Bu Wati yang sedang berada di dapur.
"Bu... Gita kemana ya? Terus Daddy sama Mommy juga kemana Bu?" Tanya Zico beruntun.
__ADS_1
Hai readers... Jangan lupa baca terus Bab selanjutnya ya...