First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Usaha Zico


__ADS_3

Yolla dan Gita sudah tiba dikamar Gita, Gita merebahkan dirinya yang masih terasa lemas.


“Git, lo kenapa cuekin Zico seperti itu? Kasihan tahu!” Tanya Yolla mengerutkan alisnya.


“La, lo tahu kan, apa yang terjadi sama gue hari ini karena Priscilla yang nggak suka kalau gue dekat sama Zico, gue nggak mau ada masalah seperti ini lagi, lo juga tahu kan kalau gue harus fokus belajar supaya beasiswa gue tuh nggak dicabut? Dan gara-gara kejadian tadi gue jadi ketinggalan pelajaran Pak Ryan.” Keluh Gita. ia melanjutkan, “gue juga nggak mau La cuma karna gue dekat sama Zico nilai-nilai gue turun dan beasiswa gue dicabut, gue nggak mau menambah beban Ibu gue kalau harus membiayai gue sekolah disitu tanpa beasiswa.”


Yolla tidak bisa menjawab apapun lagi, ia hanya menganggukkan lemah kepalanya.


Setelah hatinya merasa sedikit tenang, Gita tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya, Yolla pun bergegas pulang.


Saat keluar dari Lobby apartemen Gita, Yolla melihat mobil Zico yang masih terparkir disitu.


Yolla menghampiri mobil Zico dan mengetuk kaca mobilnya.


Tuk..tuk..tuk..


Zico yang sedang menunduk bersandar pada setir mobilnya pun seketika menegakkan tubuhnya melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya.


Saat melihat Yolla ia bergegas turun dari mobilnya.


“La, gimana Gita? Dia lagi ngapain? kira-kira gue bisa nemuin dia nggak?” tanya Zico beruntun.


“Gita udah tidur Zi, dia habis minum obat tadi, lalu tertidur.” Imbuh Yolla.


“La gue minta tolong sama lo, kalo disekolah lo jangan pernah biarin Gita sendirian kaya tadi lagi ya La, gue nggak mau Gita ngalamin kejadian kaya tadi lagi.” Zico tidak mau ada hal buruk yang terjadi lagi pada Gita.


“Pasti Zi, gue nggak akan biarin si Mak Lampir itu macem-macem lagi sama sahabat gue.” Sahut Yolla.


“Okay La, Thank you ya La!”


“Okay Zi, kalo gitu gue pulang dulu ya, lo juga balik gih, percuma lo disini, Gita nya juga udah di dunia mimpi!" Yolla tergelak.


“Okay La, Bye.” Zico tersenyum.


“Bye.”


Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


***

__ADS_1


Keesokan harinya pukul enam pagi Zico sudah standby di depan apartemen Gita.


Zico menunggu Gita sambil berdiri menyandarkan tubuhnya pada mobilnya sembari memasukkan tangannya ke saku celananya, sangat terlihat cool.


Setelah lima menit Gita keluar dari apartemennya, ia sempat menghentikan langkahnya saat melihat Zico, lalu ia bergegas melanjutkan langkahnya dengan cepat, berjalan menuju halte bus.


Zico yang melihat itu pun segera mengikuti Gita berjalan disampingnya.


“Morning Gita!” sapa Zico tersenyum.


Gita diam saja tidak menjawab sepatah katapun, melirik pun tidak, Zico terus berusaha mengajaknya bicara, dan berdiri didepan Gita sehingga Gita menghentikan langkahnya.


“Gita, ayo kita ke sekolah naik mobil aku aja.” Ajak Zico.


Lagi-lagi Gita hanya diam, ia menghindari Zico dan melanjutkan langkahnya dengan cepat.


Zico mengunci mobilnya dan mengikuti Gita akan naik bus pula ke sekolah.


Tapi sayang, saat Bus berhenti di halte, didalam Bus sudah sangat dipadati oleh penumpang, hanya cukup Gita saja yang naik ke bus itu.


Zico hanya mematung di tepian trotoar halte Bus, memandang Gita yang berdiri berhimpitan didalam Bus.


Usahanya pun sia-sia.


***


Saat jam pulang sekolah Zico mencoba menghampiri Gita di kelasnya, tapi ternyata kelas Gita sudah keluar lebih dulu, dan di halaman sekolah dan di halte bus pun tak terlihat ada Gita.


***


Keesokan paginya Zico meminta Sean untuk ke rumahnya.


Pukul enam Sean sudah tiba dirumah Zico.


“Morning Mom! hoaamm...” Sapa Sean sembari menguap saat melihat Celine keluar dari pintu kamarnya, Sean sedang menuju kamar Zico yang berada di lantai 4, lantai teratas di Mansion itu, yang memang melewati lantai 2 di mana kamar Celine dan Austin berada, biasanya lewat lift. Tapi karena lift sedang di cek rutin oleh maintenance jadi mau tak mau Sean harus menelusuri anak tangga itu.


Sejak kecil Sean sering bermain di rumah Zico, maka dari itu ia pun memanggil Celine dengan sebutan ‘Mommy’, Celine menganggap Sean seperti anak keduanya.


Sean menghampiri Celine dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


“Morning.. kamu masih mengantuk ya?” Celine tersenyum lalu membiarkan Sean mencium punggung tangannya, “Kamu kok tumben pagi-pagi sudah kesini?” Tanya Celine penasaran, karena biasanya Sean kalau datang ke rumahnya pasti setelah pulang sekolah, tidak pagi-pagi buta seperti ini.


“Sean juga nggak tahu nih Mom kenapa anak kesayangan Mommy itu memanggil Sean kesini, paling juga dia lagi malas nyetir mobil Mom.” Jawab Sean dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.


“Oh ya sudah Mommy mau ke bawah dulu ya membantu Bu Wati menyiapkan sarapan untuk kalian, kamu pasti belum sarapan kan? nanti kamu ikut sarapan dulu ya.”


 “Oke Mom!” Sahut Sean lalu menelusuri anak tangga lagi menuju kamar Zico.


Ia langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu kamar Zico.


Zico juga baru saja keluar dari kamar mandinya, ia hanya melilitkan handuk putih dipinggangnya.


“Kebiasaan lo nggak ketuk pintu dulu!” tegur Zico dengan wajah dinginnya.


“Ah kita kan sama-sama cowok, ngapain juga pake ketuk pintu, gua nggak akan nafsu liat punya lo, lagian lo juga nggak punya pacar kan, kalau lo udah punya cewek terus dikamar lo ini ada cewek lo, baru gue bakalan ketuk pintu dulu.” Sahut Sean sambil menggoda Zico yang selama ini selalu menjomblo.


“Cih… apa sih Lo! Nggak jelas! Diajarin sopan santun malah ngomongnya ngelantur kemana-mana!” Cebik Zico sambil memakai baju seragam sekolahnya, tanpa disadarinya wajahnya senyum-senyum, karena perkataan Sean ia jadi membayangkan berduaan dengan Gita dikamarnya.


“Ahahahaha…” Sean tertawa terbahak melihat wajah Zico, rasa kantuknya sampai hilang seketika, biasanya Zico hanya akan ketus saja dengan wajah dinginnya, tapi ini malah sambil senyum-senyum, membuat Sean semakin semangat menggoda Zico.


“Kenapa lo ketawa?!” Zico mengerutkan alis, kali ini memasang wajah sinisnya, tidak mengerti kenapa dirinya ditertawakan Sean.


“Lo tuh Lucu! Kalau mau marah ya marah aja, ini pake senyum-senyum, Lo pasti sambil mengkhayal lagi berduaan sama Gita dikamar ini kan? Ahahaha.... ngebayangin apa lo hayo?” Sean masih tergelak.


‘Sial nih bocah! Bisa banget nebak pikiran gue!’ batin Zico yang hanya memandang sinis ke Sean, lantas melempar bantal sofa ke wajah Sean.


“Ayo berangkat!” Ajak Zico.


Sean menghentikan tawanya, “Kita sarapan dulu kan dibawah? Gue laper banget Zi, cacing-cacing diperut gue udah pada demo nih minta dikasih makan.” Keluh Sean.


“Ck... Nanti aja dijalan atau dikantin sarapannya, nanti keburu Gita udah berangkat.”


“Oh ini kita mau jemput Gita? Kenapa gue harus ikut? Biasanya juga lo sendiri kan, masa nanti gue jadi obat nyamuk.” Keluh Sean.


“Ck... Berisik lo!” Cebik Zico.


Sean hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, menurut saja mengikuti kemauan Zico.


Mereka pun menuruni anak tangga, saat tiba di lantai bawah Zico dan Sean pergi ke ruang makan untuk berpamitan pada Celine dan Austin.

__ADS_1


__ADS_2