First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Tante?


__ADS_3

Saat Zico membuka pintunya ada seorang wanita paruh baya yang menyapanya.


"Selamat malam!" Sapa wanita paruh baya itu, yang ternyata ia adalah Indira adik dari Sophia, yang tidak lain adalah Tantenya Gita.


"Malam! maaf.. cari siapa ya?" Tanya Zico dengan mode kulkasnya.


"Saya adik dari Kak Sophia, saya baru mendengar kalau ternyata beliau wafat." Ujar Indira sembari menangis.


Kemudian ia menyeka air matanya dengan tissue, "Mmmm... saya ingin bertemu anak dari kak Sophia, apa dia masih tinggal disini?" Tanya Indira yang masih berdiri didepan pintu karena Zico belum mempersilahkannya untuk masuk.


"Gita maksudnya?" Tanya Zico memastikan.


"Oh namanya Gita ya?" Indira malah balik bertanya.


Ya, memang Indira sama sekali tidak mengetahui kabar tentang Sophia semenjak Sophia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya.


Walaupun Ibunya tidak menyukai Sophia, tapi berbeda dengan Indira, Indira sangat menyayangi kakaknya, karena sedari kecil Sophia selalu menyayanginya dan memperlakukannya dengan baik, apa yang ia minta pada kakaknya selalu dituruti, bahkan tidak pernah Sophia sedikitpun berkata kasar atau keras padanya.


Bahkan saat Sophia pergi pun Indira selalu menangisinya dan meminta sekretaris Ayahnya untuk mencari keberadaan Sophia, tapi Ibunya ternyata melarang sekretaris suaminya itu untuk memberitahukan keberadaan Sophia kepada Indira.


Oleh karena itu Indira tidak pernah mengetahui kabar tentang Kakak tercintanya, tapi tadi saat ia sedang shopping, tiba-tiba saja ia mendapat panggilan di ponselnya dari sekretaris sang Ayah yang telah pensiun.


Ia memberitahukan kabar kematian Sophia pada Indira.


'Katanya adiknya Ibu, tapi kenapa nama keponakannya aja dia gak tau?' gumam Zico dalam batinnya.


"Bolehkah saya masuk?" Tanya Indira lagi.


"Zi! Ada siapa? Kok gak disuru masuk aja?" Gita setengah berteriak. Ia merasa heran kenapa Zico membukakan pintunya lama sekali.


"Ya, Silahkan masuk." Zico mempersilahkan.


Indira pun masuk dan menghampiri Gita yang sedang berdiri menatapnya.


"Kamu? Kamu Gita anak Kak Sophia?" Tanya Indira menatapnya dengan tetesan air mata di pipinya.


"Hah? i... iya aku anaknya... maaf, Tante siapa ya?" Tanya Gita mengerutkan dahinya, ia tak mengenal sama sekali wanita paruh baya ini, ia juga merasa penasaran, kenapa wanita ini memanggil Ibunya dengan sebutan 'Kak'.


"Aku... Aku tantemu Gita." Ucap Indira.


"Tante? Maksudnya? Tante dari mana?" Gita menyatukan alisnya.

__ADS_1


"Aku adik dari Kak Sophia." Sahut Indira.


"Hah? Adik? Setahuku...." Gita tidak meneruskan kalimatnya, 'Selama ini Ibu gak pernah cerita tentang keluarganya, Ibu hanya pernah menunjukkan foto nenek yang katanya sudah tiada... Apa benar ya kalau Tante ini adiknya Ibu?' Pikir Gita dalam benaknya. Ia melanjutkan.


"Memang nama Tante siapa?" Tanya Gita lembut.


Indira mulai tersenyum sambil menyeka air matanya dan menjawab pertanyaan dari keponakan satu-satunya itu.


"Aku Indira Widjaya."


'Nama belakangnya sama seperti nama Ibu.' Batin Gita.


"Nama belakangku sama kan seperti Kak Sophia? Sophia Widjaya, Indira Widjaya, dan Ayah kami adalah Bratawidjaya." Tutur Indira.


"Bratawidjaya?" Gita mengingat nama itu, saat ia SMP, ia pernah diajak sang Ibu ke pemakaman seseorang, tapi ia berdua hanya melihatnya dari jauh, Ibunya tidak berani mendekat, dan yang wafat itu adalah Bratawidjaya, tapi Ibu nya tidak pernah memberi tahunya kalau Bratawidjaya adalah Kakeknya, Gita melihat kalau Ibunya begitu terpukul, ia sering sekali mendapati Ibunya sedang menangis setelah menghadiri pemakaman itu, tapi ia tidak pernah berani bertanya kepada Ibunya tentang siapa Bratawidjaya.


"Kenapa? Kak Sophia pernah cerita ya tentang Ayah? Ah maksudku, tentang Kakekmu." Tanya Indira.


"Aku dan Ibu pernah menghadiri pemakamannya." Jawab Gita dengan netra yang mengembun.


"What's? Serious? Tapi aku tidak melihat Kak Sophia disana, padahal aku berharap sekali bisa bertemu dengan Kak Sophia waktu itu." Indira mulai menitikkan air matanya lagi.


Mereka semua terdiam sejenak dan keadaan menjadi canggung.


Yolla yang sedari tadi duduk di sofa dengan Sean dan menyimak semua pembicaraan mereka, mencoba memecah keheningan dengan mempersilahkan Indira untuk duduk. Ia berdiri dan menarik Sean untuk ikut berdiri.


"Tante silahkan duduk dulu Tan." Ucap Yolla.


"Oh iya Tan, ayo silahkan duduk." Gita ikut mempersilahkan.


Zico masih hanya diam berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding sembari menyilangkan tangan didepan dadanya, ia masih penasaran, ada banyak pertanyaan dalam benaknya, kalau memang Indira ini Tantenya Gita, bagaimana mungkin Gita sama sekali tidak mengenalnya.


Indira pun duduk di sofa.


"Sebentar ya Tante, Gita ambilkan minum dulu." Pamit Gita. Tapi baru saja akan beranjak ke dapur, Yolla menarik pergelangan tangannya.


"Gue aja Git yang ambilkan minum, lo disini aja lanjutkan ngobrolnya." Titah Yolla. Yolla merasa sedikit lebih tenang mengetahui jika Gita masih mempunyai keluarga di dunia ini.


"Oh ya udah La, makasih ya." Seru Gita.


Yolla hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Yolla pun segera beranjak ke dapur di ikuti oleh Sean, Sean dan Zico duduk di kursi makan sedangkan Yolla sedang membuka lemari es mengambilkan segelas air putih untuk Indira, Yolla memang tidak pernah menyentuh dapur, oleh karna itu ia hanya bisa menyediakan segelas air putih saja, ia tidak bisa membuatkan teh.


Setelah menyuguhkannya ia kembali ke kursi makan bersama Sean dan Zico, membiarkan Gita dan Indira mengobrol.


"Zi, Sen, gue kok seperti gak asing ya melihat Tantenya Gita, seperti pernah liat tapi lupa dimana gitu." Bisik Yolla.


"Masa sih?" Jawab Sean berbisik juga.


Zico hanya diam, netra nya menatap Gita dan Indira yang sedang duduk disofa ruang keluarga.


Ya, karena Apartemen ini memang tidak mewah, hanya sebuah apartemen kecil dengan dua kamar, satu kamar mandi, dapur minimalis dan ruang keluarga yang bersebrangan dengan dapur, jadi mereka masih bisa mendengar perbincangan Gita dan Indira.


"Gita, kalau Tante boleh tau, sebelum pergi Kak Sophia sakit apa?" Tanya Indira masih dengan netra yang mengembun.


"Leukimia Tan, Kanker darah." Lirih Gita.


Indira menghela nafas panjang, bulir air matanya pun ikut tertumpah dari pelupuk matanya.


"Hemmmmm...." Ia tidak menyangka Sophia akan pergi secepat ini. Bahkan sebelum mereka berdua bertemu.


Gita pun membasahi pipinya dengan air mata lagi, tapi segera ia seka air matanya, ia sudah berjanji pada Zico untuk berhenti meratapi kepergian Ibunya.


Indira pun menyeka air matanya dengan tissue, kemudian ia berusaha mencairkan suasana.


"Oya, kamu sekarang kelas berapa Gita?"


"Aku baru aja lulus Tan." Sahut Gita singkat.


"Oya? sama donk seperti anak Tante... Memang kamu sekolah dimana?" Tutur Indira tersenyum.


Sebenarnya Viola berbeda satu tahun lebih muda dari Gita, hanya saja Viola masuk sekolah lebih cepat satu tahun dari yang seharusnya.


"Di Pelita Harapan Internasional Tan." Sahut Gita.


Indira membelalakkan matanya, "What's?? Sama dong seperti anak Tante!"


"Hah? Masa Tan? Siapa Tan namanya?" Tanya Gita penasaran, ia senang ternyata ia satu sekolah dengan saudara sepupunya.


"Viola!"


"What's???"

__ADS_1


__ADS_2