
Mereka menikmati makan malam romantis itu hanya berdua. Zefa pun benar-benar tertidur lelap tak mengganggu momen romantis mommy dan daddy nya.
Setelah selesai menyantap makan malam, Gita bangkit dari kursinya dan berdiri menyandarkan lengannya pada pagar balkon memandang langit yang terlihat bertabur bintang pada malam itu. Zico pun mendekatinya, memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya pada sebelah bahu Gita.
"Sayang, kamu nggak akan pernah khianatin aku, 'kan?" tanya Gita tiba-tiba pada Zico.
"Enggak dong, Sayang. Kamu kan tau seberapa besar aku cinta dan sayang sama kamu. Kalo aku nggak secinta itu sama kamu, aku mungkin udah menikah sama orang lain di saat kamu pergi tinggalin aku waktu itu," jawab Zico.
"Maafin aku ya karena aku udah tinggalin kamu selama itu, Aku nggak bisa bayangin kalo ternyata kita nggak berjodoh, gimana nasib Zayn dan Zefa nantinya," ucap Gita lirih.
"Udah, Sayang. Jangan memikirkan masa lalu terus. Yang penting kan sekarang kita udah sama-sama. Aku janji sama kamu, aku akan buat kamu dan anak-anak kita bahagia. Dan aku akan selalu melindungi kalian, nggak akan ada yang berani menyakiti kalian lagi," imbuh Zico.
Gita pun tersenyum dan menolehkan kepalanya ke wajah Zico kemudian mencium pipinya.
"Aku sayaaaaaaang banget sama kamu," ucap Gita.
"Me too," jawab Zico kemudian melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Gita hingga mereka saling berhadapan. Lagi-lagi mereka pun berciu man dengan mesra. Rasanya Zico sudah tidak tahan sekali ingin melakukannya yang lebih dari sekedar berciuman. Namun, ia berusaha menepati janjinya pada Gita. Bahwa ia akan melakukannya saat di Maldives nanti, agar momen malam pertama mereka sebagai suami istri akan menjadi memori yang indah di hati mereka berdua.
Setelah mengakhiri ciu mannya, mereka pun kembali ke tempat tidur, dan tertidur sembari memeluk Zefa.
***
"Mommy, Daddy. Ayo bangun!" seru Zefa mencoba terus membangunkan kedua orang tuanya.
"Hmm? Iya, Sayang," jawab Gita dengan suara parau nya sambil menguap.
"Daddy! Bangun Daddy!" seru Zefa lagi sembari menepuk-nepuk pipi Zico.
"Di cium daddy nya, Sayang. Jangan di pukul seperti itu. Seperti ini nih ... Cup! Morning, Daddy! Begitu caranya," tutur Gita mengajarkan sang putri, ia mengecup pipi sang suami untuk membangunkannya. Karena memang Zico tidak akan bangun jika Gita tidak menciumnya. Zefa pun tersenyum dan mempraktekkannya.
Cup!
"Mooning, Daddy!"
"Hmm? Morning too, My Princess!" balas Zico dengan suara parau khas bangun tidur, namun matanya masih terpejam.
"Daddy! Buka dong matanya!" omel Zefa, Gita pun terkekeh dibuatnya.
"Sayang, bangun iih! Anaknya udah bangunin terus juga," ucap Gita sambil membelai pipi sang suami kemudian mengecup pipinya lagi.
"Iya, Sayang." Akhirnya Zico pun membuka matanya.
"Zefa, Zefa mandi dulu ya sama Ncus Kiki, Mommy sama Daddy mau mandi juga," tutur Gita pada sang putri.
"Iya, Mommy."
__ADS_1
Gita pun menelpon ke kamar suster dan meminta suster Kiki untuk menjemput Zefa ke kamarnya. Dan tak lama berselang, suster Kiki sudah tiba dan membawa serta Zefa ke kamarnya untuk di mandikan.
"Sayang, mandi berdua, yuk!" ajak Zico yang gai rahnya sedang meningkat di pagi hari.
"Enggak, ah! Nanti bukannya mandi malah yang aneh-aneh pasti," tolak Gita.
"Cuma mandi kok, Sayang. Nggak aneh-aneh. Apa kamu yang mau aneh-aneh?" goda Zico menaik-naikkan alisnya.
"Iissh, apa sih! Nggak, pokoknya nggak. Aku nggak mau. Lagian katanya mau mulainya nanti di Maldives? Malah kamu sendiri yang udah nggak tahan, 'kan?" Gita menggoda balik.
Zico pun terkekeh, memang ia sudah sangat tidak tahan sebenarnya ingin meluapkan gai rahnya yang terpendam begitu lama.
"Lagian, Sayang. Kamu ingat kan kalo aku kesakitan saat kita melakukannya dulu? Sampe sakit banget kalo dibuat jalan tau. Kamu mau nanti di pesta resepsi aku begitu?" lanjut Gita.
"Iya, Sayang. Aku tahan sampai besok, ya. Tapi janji ya kalo kita udah sampe Maldives kamu nggak akan nolak lagi?"
"Iya, aku janji!"
Setelah perdebatan itu mereka pun pergi mandi bergantian. Zico yang pergi mandi terlebih dahulu, sedangkan Gita sedang merapihkan tempat tidurnya. Ia selalu melakukan pekerjaan itu sendiri, karena ia tidak mau jika tempat tidurnya dengan sang suami terjamah oleh orang lain.
Asisten rumah tangga di rumah itu hanya masuk ke kamar Zico dan Gita jika memasukkan dan menata baju-baju yang telah di laundry ke dalam walk in closet mereka dan sekedar membersihkan kamar mandi.
"Sayang, udah sana cepetan mandi, aku udah selesai," titah Zico saat melihat Gita yang masih duduk di atas tempat tidurnya sambil tersenyum menatap ponselnya, padahal biasanya Gita bergegas masuk ke kamar mandi jika Zico sudah selesai. Tapi, sekarang Zico sudah selesai memakai baju pun, Gita masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
"Iya sebentar, Sayang," jawab Gita tanpa menoleh pada Zico. Membuat Zico penasaran, ia pun menghampiri Gita dan duduk di sampingnya sambil mencium pipi Gita.
"Ini Giselle chat aku, Sayang. Dia katanya nanti mau datang ke pesta kita. Aku seneng banget dia mau datang, aku kangen banget sama dia," jawab Gita terlihat antusias, senyuman indah merekah di bibirnya.
"Syukurlah kalo dia bisa datang. Aku ikut bahagia kalo liat kamu ceria kayak gini," ucap Zico membelai pipi Gita kemudian memeluk Gita dan mengecup pucuk kepalanya.
"Ya udah kamu mandi dulu sana, nanti mommy keburu menyusul ke sini, lho!"
"Iya, Sayang."
Gita pun bergegas mandi dan pergi ke bawah bersama sang suami untuk sarapan bersama yang lainnya.
"Pagi, Mom, Dad!" sapa Zico pada kedua orang tuanya. Raut bahagia terpancar di wajah Zico dan Gita. Mommy Celine pun ikut bahagia melihatnya.
"Pagi!" sahut mommy Celine dan daddy Austin bersamaan.
"Setelah sarapan kita langsung bersiap ke gedung ya, Sayang. Make up artisnya sudah tiba di sana," ucap mommy Celine pada Gita.
"Iya, Mom," jawab Gita tersenyum sembari menuangkan sarapannya ke piring Zico.
"Makasih, Sayang," ucap Zico tersenyum, Gita pun membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
Mereka pun menyantap sarapannya dan setelah selesai mereka pun pergi ke gedung milik William Groups, tempat akan di adakannya pesta resepsi pernikahan Zico dan Gita.
***
Musik khas pernikahan mengalun. Lampu penerangan di dalam aula pun di matikan, hanya lampu di atas pelaminan dan lampu sorot yang sedang menyorot kedua pengantin bersama para pengiringnya lah yang menerangi ruangan itu.
Para tamu yang hadir di aula gedung milik William Groups itu langsung berdiri dan menoleh ke belakang.
Beberapa di antaranya berkaca-kaca, terutama para sahabat Zico dan Gita yang sangat mengetahui betapa besarnya cinta mereka satu sama lain. Walaupun sempat terpisahkan oleh jarak dalam waktu yang lama, namun mereka sama-sama tetap menjaga hati mereka satu sama lain dan berakhir dalan sebuah janji suci ikatan pernikahan. Mereka semua yang hadir menoleh ke arah pintu masuk gedung tersebut.
Kedua orang pemuda dengan pakaian setelan jas rapi dengan dasi kupu-kupu, membuka gerbang tersebut dengan kedua tangan mereka yang mengenakan sarung tangan putih. Wajahnya tampak mirip, mungkin masih kerabat.
Nadhira dari deretan tamu terdepan langsung mengeluarkan tissue dari clutch yang digunakannya. Ia benar-benar merasa terharu akan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Gita saat ini. Alex yang mengerti perasaan sang istri pun merangkulnya sembari mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan netranya yang mengembun. Karena ia pun sama seperti Nadhira, ia pun terharu melihat kebahagiaan sahabatnya itu.
Bayangan masa lalu di mana Zico hampir setiap hari mabuk dan meracau memanggil-manggil nama Gita sangat teringat jelas di benaknya saat ini. Betapa tersiksanya batin Zico ketika Gita memutuskan untuk menjauh dari hidupnya kala itu. Namun hari ini, aura kebahagiaan sangat jelas terpancar dari raut wajah Zico.
Matahari menyoroti aula yang pencahayaannya temaram dari art deco warna warni tersebut, sehingga pintu besar yang mirip gapura itu seolah bersinar terang. Semua tamu langsung memicingkan mata, sejak kedua belah daun pintu gerbang itu dibuka lebar.
Jantung mereka seolah seirama bertalu-talu ditabuh. Karena antisipasi mereka menantikan penampilan kedua mempelai pengantin. "Aduh, pasti pengantinnya cantik dan tampan sekali, ya?" bisik seorang tamu undangan wanita paruh baya kepada temannya. Mereka sepertinya istri dari para rekan bisnis daddy Austin.
"Pasti lah! Saya pernah melihat fotonya tanpa riasan yang tersebar di sosial media, tanpa riasan saja menantu Jeng Celine itu sangat cantik, apalagi di make up, pasti bertambah berkali lipat cantiknya," jawab rekannya yang terlihat seumuran dengan mommy Celine.
Gita Anastasya Adhinata, memasuki aula dengan anggunnya, digandeng oleh seorang pria, yang tentu saja ia adalah sang suami, Zico William. Mereka berdua mengulas senyuman terindahnya. Bahkan Zico yang terkenal akan sikap dinginnya, begitu tampan karena mengulas senyuman di hadapan para tamu ketika bergandengan dengan pengantin wanitanya.
Di belakang mereka di iringi oleh Yolla dan Sean yang bertugas sebagai pengiring pengantin sembari menggandeng kedua buah hati sang pengantin, Zayn dan Zefa. Kemudian di belakangnya lagi ada mommy Celine dan daddy Austin, juga om Aryo dengan sang istri sebagai wali dari Gita.
Beberapa petugas dari wedding organizer yang mengurus acara mereka terlihat berjaga di tepian dan mengatur langkah para pengiring agar tidak menginjak gaun panjang pengantin wanita.
"Itu anak mereka, ya? Ya ampun, cantik dan tampan sekali, ya?" bisik salah seorang tamu lainnya.
"Iya! Benar-benar keluarga kecil yang sempurna!" sahut salah seorang tamu lainnya.
Dilihatnya dekorasi pernikahannya itu begitu elegan dan mewah, wajar saja, karena Gita menikah dengan Zico yang adalah seorang anak konglomerat. Apalagi yang mengatur acara pesta ini adalah mommy Celine yang perfeksionis. Ia mengurus semua acara ini sangat mendetail, dari mulai dekorasi gedung sampai menu makanan dan minuman yang akan mengisi perut para tamu yang hadir, ia juga yang mengaturnya.
Pasalnya, wanita paruh baya yang terlihat masih muda itu harus menyelamatkan nama William Groups di hadapan para tamu yang sebagian besar juga dari golongan konglomerat dan juga para pejabat pemerintahan.
Sementara, mommy Celine yang turut mengiringi langkah Zico dengan berdampingan bersama sang suami, daddy Austin. Saat ini mulai sibuk menyeka sudut matanya dengan sapu tangan yang digenggamnya, daddy Austin pun tergerak untuk merangkul bahu sang istri dan mengusap-usap lengannya, bermaksud menenangkan sang istri.
Akan tetapi, perlakuan daddy Austin malah membuat mommy Celine semakin terharu dibuatnya. Air matanya justru semakin lancar mengalir dan ia semakin kewalahan menyekanya.
Mommy Celine bungkam, berusaha untuk tidak membuat suara apapun. Hal yang sama juga dirasakan oleh Gita. Ia mati-matian menahan air matanya itu meleleh ke pipinya seiring dengan perjalanannya itu.
Gita tidak pernah membayangkan seumur hidupnya, jika akan mendapatkan pasangan sesempurna Zico. Dan juga mendapatkan orang tua baru seperti mommy Celine dan daddy Austin yang begitu menyayanginya, setelah kepergian ibunya yang menyusul sang ayah. Teringat kenangan demi kenangan seperti potongan gambar yang terbit di dalam isi kepalanya. Mengingat saat-saat menyakitkan dalam hidupnya ketika ia kehilangan ayah dan juga ibunya.
Namun, Gita tidak mau larut dalam kenangan itu dan mengacaukan hari bahagianya ini. Dia segera mengalihkan perhatiannya dengan tersenyum memandang sang suami yang sedang melangkah bersama menuju pelaminan.
__ADS_1
Tepuk tangan dari para tamu terdengar sangat jelas seiringan dengan mereka yang sedang berjalan di atas karpet merah menuju pelaminan.
Mereka pun telah tiba dan berdiri di pelaminan saat ini. Gita begitu terlihat sangat cantik seperti seorang Putri dengan gaun putih yang dikenakannya. Dan juga Zico yang terlihat sangat tampan bak pangeran dengan tuxedo berwarna putih yang pas membungkus tubuhnya yang tegap dan proporsional dengan bunga putih dan saputangan sutera yang menyembul di saku jasnya.