
“Kamu, kenapa?” tanya Zico yang merasa kaget dengan tingkah Gita yang tiba-tiba berubah dan tampak marah kepadanya.
“Aku takut, hamil. Aku nggak mau hamil, Zi,” ucap Gita yang tiba-tiba menangis terisak di atas ranjang empuk yang sedang mereka tiduri berdua.
Zico duduk dan mencoba menenangkan Gita, Zico sejenak menatap seprai dengan noda darah di sana. Zico pun semakin merasa bersalah, ia telah merenggut sesuatu yang paling berharga yang dimiliki Gita. Ia terus mencoba menenangkan Gita yang sedang menangis terisak.
"Ssssst! Kalau kamu hamil atau pun nggak, kamu itu tunangan aku, kamu calon istri aku. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan sama kamu malam ini,” Zico menghapus air mata Gita dengan ibu jarinya, mendengar perkataan Zico membuat Gita terdiam.
“Aku takut,” ucap Gita dalam pelukan Zico. Zico memeluk lembut tubuh Gita yang masih polos.
“Aku pasti akan bertanggung jawab, Sayang,” ucap Zico meyakinkannya lagi.
"Apa kamu mau aku nikahi besok? Kalau kamu bersedia, Ayo! Aku siap, kok," lanjutnya lagi.
"Nggak, Zi ... Aku belum selesai KOAS, empat bulan lagi aku baru selesai," sahut Gita.
"Ya udah, nanti kalau kamu sudah selesai KOAS nya, kita bicarakan sama Mommy dan Daddy tentang pernikahan kita, ya?" tutur Zico lembut sambil memeluk Gita begitu erat.
Gita pun mulai tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sayang, aku mandi dulu, ya!" Zico ingin mencoba menghilangkan efek dari obat perangsang yang masih terasa ditubuhnya itu, ia sebenarnya masih sangat ingin melakukannya, tapi karena Gita yang terlihat sangat sedih saat baru melakukannya sekali, ia tak tega untuk melakukannya lagi.
"Kok tengah malam gini mandi? Nggak bagus, Sayang. Nanti kamu sakit."
__ADS_1
"Aku masih merasakan panas dari pengaruh obat sialan itu, aku mau mencoba meredakan panasnya dengan air," Zico melepaskan pelukannya dan ingin beranjak dari ranjang Gita, tapi Gita menarik pergelangan tangan Zico.
"Kalau kamu mau ... nggak apa-apa kalau mau melakukannya lagi," ucap Gita malu-malu menundukkan pandangannya.
Zico pun tersenyum pada Gita, "Beneran nggak apa-apa?" tanya Zico lagi.
Gita mengangguk masih dengan menundukkan pandangannya, tak berani menatap Zico.
Zico yang sedang berdiri pun kembali merangkak ke atas ranjang Gita dan mengungkung Gita lagi, mereka melakukannya sampai tiga kali malam itu, hingga jam empat pagi mereka baru terlelap sambil memeluk satu sama lain.
Jam 7 pagi alarm Gita pun berdering.
Gita hendak bangun untuk mematikan alarmnya, tapi baru saja ia menggerakkan sedikit tubuhnya, ia merasakan perih di inti tubuhnya.
"Auwww!!!" pekiknya yang membuat Zico terbangun kaget.
"Sakit, Zi," lirih Gita.
"Apanya? Apa yang sakit?" Zico masih belum sadar apa yang dimaksud Gita, karena nyawanya yang belum terkumpul.
"Itu ...," ucap Gita menatap ke arah inti tubuhnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oooh," jawab Zico senyum-senyum menahan tawanya.
__ADS_1
"Iissh, kamu malah senyum-senyum, seneng ya kalau aku kesakitan?" cibir Gita.
"Nggak lah, Sayang. Maaf ya ... Maafin aku. Kamu mau kemana? Mau aku gendong aja ke kamar mandinya?" tawar Zico.
"Oya, Sayang. Kamu yakin mau ke rumah sakit hari ini? Kamu bergerak sedikit aja sakit, Gimana kalau pergi ke rumah sakit? Di sana kan kamu pasti banyak beraktivitas."
"Terus apa dong alasan aku ke Uncle Felix?"
"Udah kamu tenang aja, aku telpon Uncle Felix sekarang, aku bilang aja kamu sakit, Okay?"
"Ya udah deh ... Makasih ya, Sayang."
Zico pun segera mengambil ponselnya dan menelpon uncle Felix, setelah mendapatkan izin untuk tidak masuk hari ini, Zico pun berbaring lagi di samping Gita.
"Sayang, kita tidur lagi aja, ya? kamu pasti kecapean kan tadi malam?"
"Udah tau malah tanya!"
Zico yang merasa gemas melihat bibir Gita yang sedang manyun pun mengecupnya. Seketika pipi Gita pun memerah seperti kepiting rebus.
Saat ini mereka berbaring di atas ranjang Gita saling menatap hingga mereka pun terlelap lagi karena kelelahan setelah pergulatannya semalam.
Mereka terlelap sampai jam 11 siang, Zico terbangun karena ponselnya yang terus saja berdering.
__ADS_1
"Hallo, Mom?" sahut Zico dengan suara khas bangun tidur yang masih mendekap erat Gita dalam pelukannya.
(Kamu dimana, Son?! Kenapa dari semalam kamu nggak pulang?! Kamu pulang kemana?!) omel mommy Celine panjang lebar yang membuat Zico seketika terbangun duduk.