
Gita terperangah menatap Zico yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam.
"Zi-Zico ..." ucap Gita dengan netranya yang mulai mengembun.
Flashback On
Zico baru saja tiba di perusahaan yang baru saja di akuisisi oleh Williams Group. Ia akan mengadakan meeting penting bersama direktur dan sekretaris eksekutif baru di perusahaan tersebut.
Zico melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift sambil membuka-buka dokumen yang dibawanya. Ternyata ada satu dokumen penting yang tertinggal di kantornya, ia pun melangkahkan kakinya kembali ke luar dari lift, ia hendak menelpon Sean terlebih dulu untuk meminta Sean membawakan dokumennya.
Ketika sedang menelusuri riwayat panggilan keluar di ponselnya untuk mencari nomor Sean sambil berdiri di lobi, ia melirik ke arah luar, ia tersentak saat melihat sosok yang tak asing baginya, sosok itu keluar dari sebuah mobil SUV Rolls-Royce Cullinan berwarna hitam. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Sean.
Bahagia sekali rasanya saat melihat sosok yang selama ini sangat dirindukannya itu, sosok yang selama ini menghilang selama 6 tahun. Sosok yang sudah dicarinya sampai ke belahan bumi lainnya. Sosok yang Ingin sekali ia peluk erat ketika bertemu kembali dan tak ingin ia lepas lagi. Dengan langkah yang cepat Zico pun hendak menghampirinya dengan raut wajah yang sumringah seperti anak kecil yang baru saja bertemu dengan ibu kandungnya. Baru saja ia ingin melangkah keluar dari pintu utama perusahaan, tiba-tiba ia melihat sosok lelaki yang tak asing keluar dari mobil itu, begitu pula dengan sepasang anak kecil yang turun dari mobil yang sama.
"Mommy!!!" panggil Zefa yang tak rela di tinggal sebentar oleh sang mommy, padahal Kenzo sudah menjanjikan akan mengajak main di mal dekat perusahaan tersebut.
Gita pun terlihat menggendong Zefa, ia memeluk erat Zefa dan mencium pipi chubby nya, lalu memberikan Zefa pada Kenzo, Kenzo pun menyambutnya menggendong Zefa, Gita pun terlihat tersenyum pada Kenzo, begitupun juga dengan Kenzo yang tersenyum sambil memegang sebelah bahu Gita dan membisikkan sesuatu pada Gita tentang ke mana ia akan membawa Zefa dan Zayn bermain, Gita terlihat seperti seorang istri yang sedang di antar kerja oleh suami dan juga anak-anaknya.
"What's? Mommy?!" ucap Zico yang benar-benar tersentak pada apa yang di lihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Jantungnya terasa bergemuruh, nafasnya pun memburu, benar-benar menyesakkan melihat semua pemandangan yang baru saja dilihatnya. Ia merasa seperti baru saja di serang oleh ribuan anak panah yang tertancap secara bersamaan tepat di jantungnya, sakit sekali rasanya.
Ia kembali masuk ke dalam lift untuk pergi ke meeting room yang ada di lantai 88, air mata yang sedari tadi mendesak ingin keluar akhirnya pun tumpah saat ia tiba di ruangan itu, untung saja di sana belum ada siapapun.
Zico benar-benar tak sanggup menerima kenyataan bahwa wanita yang sangat dicintainya itu ternyata telah memiliki anak dengan sahabatnya sendiri, itulah yang ada di benaknya. Karena apa yang di lihatnya tadi benar-benar tampak seperti sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia.
Menyesakkan, itulah yang ia rasakan. Ia yang sudah menunggu dan mencari Gita selama 6 tahun benar-benar merasa di khianati oleh kekasih dan juga sahabatnya sendiri. Rupanya apa yang selama ini ia curigai tentang tatapan Kenzo pada Gita pun benar adanya. Terbukti dengan apa yang dilihatnya hari ini. Ia dulu selalu menaruh rasa curiga pada Kenzo, ia merasa Kenzo memiliki perasaan khusus pada Gita. Namun ia tak habis pikir dengan Gita, bagaimana mungkin Gita bisa menikah dengan Kenzo dan memiliki Anak. Apa sejak dulu Gita memiliki perasaan pada Kenzo? Itulah yang terlintas di benak Zico.
Zico pun segera pergi ke toilet yang berada di dalam ruangan meeting. Ia tatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menyadari rapat akan segera dimulai, dan suara para staff perusahaan pun sudah terdengar berdatangan, ia segera membasuh wajahnya agar tak nampak bahwa ia baru saja menangis.
Setelah selesai membasuh wajah dan menyekanya dengan sapu tangan, Zico kembali ke ruangan meeting dan duduk di kursinya.
Seorang manager perusahaan memberikannya sebuah dokumen untuk di tandatangani.
__ADS_1
Setelah membaca isi dokumen tersebut dan hendak menandatanganinya, ia melihat sebuah nama yang tercantum di dokumen itu.
Netranya pun mengembun saat memandang nama itu, nama seorang wanita yang sangat ia cintai dan selalu ia lindungi, ternyata tidak menikah dengannya, melainkan dengan sahabatnya, Kenzo.
Flashback Off
"Maaf, apa Anda mengenal saya sebelumnya?" tanya Zico menatapnya dingin, berpura-pura tak mengenalnya.
"Euhmm? Ti-tidak ... Maafkan saya karena sudah lancang, Tuan," sahut Gita dengan netranya yang mengembun.
Air matanya sudah berdesakan ingin keluar dari kelopak mata indahnya, tapi ia menahan diri sebisa mungkin karena ia tidak mungkin menangis di dalam ruangan itu.
Zico hanya mengabaikannya dan kembali duduk di kursinya.
Melihat Gita yang hanya diam berdiri mematung, manager perusahaan itu pun mempersilahkannya untuk duduk dengan menarik kursi yang disediakan untuk Gita.
"Silahkan duduk, Bu Gita!" ucap sang manager.
"Wouw, sekretaris eksekutif baru kita ternyata masih sangat muda ya, cantik pula," cetus salah seorang staff.
"Iya, ya. Saya kira Anda seumuran dengan saya, ternyata masih muda," seorang wanita paruh baya yang menjabat sebagai manager keuangan menimpali.
Gita hanya tersenyum, tak menjawab perkataan mereka. Sedangkan Zico, otaknya terasa mendidih mendengar salah satu staff lelaki itu memujinya, rupanya rasa cemburu itu masih ada di dalam dirinya walaupun ia sudah merasa dikhianati oleh Gita.
"Sudah! Jangan membicarakan hal yang tidak penting, kita di sini untuk membicarakan tentang manajemen perusahaan ini, bukan untuk ajang pertunjukan memuji sekretaris baru!" ketus Zico dengan raut wajahnya yang dingin.
Seluruh staff terdiam mendengar perkataan Zico, sedangkan Gita seketika menunduk karena air matanya yang sudah tak dapat tertahan lagi untuk keluar, ia menunduk membiarkan air matanya itu menetes membasahi tas yang ia taruh di atas pangkuannya. Ia mengerjapkan matanya sambil mengatur nafasnya, agar air matanya berhenti menetes.
Mereka pun memulai meetingnya, selama kurang lebih satu jam mereka baru menyelesaikan meetingnya.
"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, apakah Anda bisa meluangkan sedikit waktu Anda untuk saya?" tanya Gita ketika Zico bangkit dari kursinya dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan meeting.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak ada waktu!" jawab Zico sambil melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.
"Sebentar saja, saya mohon, Tuan," ucap Gita lagi dengan tatapan penuh harap.
Zico yang sedang meliriknya pun tak tega untuk mengabaikan Gita, ia pun sebenarnya merasa penasaran akan apa yang sebenarnya ingin Gita bicarakan dengannya.
"Baiklah! ... yang lain tolong silahkan keluar," ucap Zico dengan tegas memerintahkan seluruh staff untuk meninggalkan ruangan tersebut. Ia pun duduk di kursinya kembali, begitu pula dengan Gita.
Setelah para staff meninggalkan ruangan, keadaan ruangan itu pun menjadi sangat hening.
"Anda mau membicarakan apa?" tanya Zico memecah keheningan, ia masih berpura-pura tidak mengenalnya.
"Zi ... di ruangan ini udah nggak ada siapapun, kamu nggak perlu pura-pura nggak kenal sama aku lagi," lirih Gita.
Zico hanya diam saja tak mengatakan apapun, ia hanya menatapnya dengan tatapan dingin dan raut wajah yang terlihat penuh dengan amarah yang terpendam.
"Zi ... aku tau kamu marah karena aku udah pergi tinggalin kamu, tapi kamu sendiri udah tau kan apa alasannya?" ucap Gita memegang tangan Zico dan membelainya lembut dengan ibu jarinya.
Zico menarik tangannya, menghindari sentuhan Gita dan menatapnya dengan jijik.
"Zi ... kamu tau sendiri kan ini semua karena Priscilla! Priscilla yang udah menjebak kamu dan ...,"
Zico berdecih, "Ciih ... bagus Priscilla sudah menjebak saya, kalau dia tidak menjebak saya, mana saya tau sifat asli kamu yang sebenarnya!" ucap Zico memotong perkataan Gita sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
"Mak-Maksud, kamu?" Gita terperangah sambil menitihkan air matanya karena ucapan Zico, ia sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan Zico.
"Sudahlah! Saya sudah tau semuanya, tidak ada lagi hal yang perlu kamu jelaskan, benar seperti katamu 6 tahun lalu, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal! Saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani!" tutur Zico kemudian bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Gita sendirian di ruangan itu.
Gita pun menangis terisak di ruangan itu, tak menyangka dengan sikap Zico tadi padanya.
Inilah yang selalu ia takutkan saat bertemu dengan Zico kembali. Ia takut dengan sikap Zico yang dingin dan ketus seperti tadi, belum mengatakan tentang anak-anaknya saja Zico sudah bersikap seperti itu, bagaimana kalau ia mengatakan tentang keberadaan Zayn dan Zefa? Apa mungkin Zico akan mempercayainya begitu saja bahwa anak-anaknya itu adalah buah cinta mereka berdua?
__ADS_1