
“Lho? Kamu kan juga tadi membalasnya sayang.” Sahut Zico tak mengerti.
Gita menghela nafas nya dengan berat dan menatap Zico.
“Zico, kalau sekedar kissing aku nggak masalah, tapi jangan pernah lebih dari itu, please?” Gita menitikkan air matanya.
Zico terdiam, ia menyadari kesalahannya, “Maaf ya sayang, maafin aku ya, tadi aku lepas kontrol.” Zico menggenggam tangan Gita dengan erat dan menghapus air matanya, ia merasa bersalah.
"Sayang... Please maafin aku." Zico menatap Gita memohon.
“Janji ya jangan gitu lagi?” pinta Gita terisak.
“Iya aku janji sayang.” Zico meyakinkannya kemudian mencium jemari Gita.
Gita menganggukkan kepalanya.
“Sayang… Sebenarnya waktu kamu nyatain perasaan kamu ke aku, aku curhat sama Ibu, aku minta izin apa aku boleh pacaran, lalu Ibu bilang boleh tapi Ibu berpesan kita pacarannya jangan yang aneh-aneh, nggak boleh melampaui batas, atau itu akan merusak masa depan aku dan kamu, aku nggak mau itu terjadi pada kita, jadi aku mau kita melakukan itu kalau kelak kita berjodoh dan sudah berstatus Suami Istri, kamu nggak keberatan kan sayang?” Tanya Gita, ia ingin ada batas pada hubungannya dengan Zico, karena ia tidak ingin masa depannya dan juga Zico rusak nantinya, kalau Zico mungkin tidak akan terlalu berpengaruh pada masa depannya, karena ia hanya akan melanjutkan perusahaan keluarganya, tapi berbeda dengan Gita yang harus benar-benar bekerja keras untuk menggapai mimpinya, ia bahkan sering terjaga dari tidurnya hanya untuk belajar dan memecahkan rumus-rumus soal.
Zico pun tidak keberatan dengan perkataan Gita, karena ia yakin laki-laki beruntung yang nantinya menjadi suaminya adalah dirinya. “Iya sayang, okay, aku akan lakukan apapun yang kamu mau, apapun yang menjadi keputusan kamu akan aku turuti, aku janji!”
Gita hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah ayo kita turun.” Ajak Zico.
Zico bergegas turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Gita.
Mereka pun berjalan berdua sembari menautkan jemari mereka, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Gita.
“Berduaaaa mulu!” Cebik Yolla yang kemudian berjalan di sebelah Gita.
“Lo buat gue kaget aja sih La!” sahut Gita kesal.
“Hehe… Maaf maaf… habisnya tadi gue panggil lo nya nggak menyahut sama sekali.”
“Masa sih? Emang lo manggil ya? gue nggak denger.” Jawab Gita.
“La, ada salam dari Sean!” Goda Zico, entah kenapa ia dan Gita senang sekali jika melihat Sean dan Yolla saling mendebatkan hal-hal yang tidak penting.
“Iih apa sih?! Males banget! Amit-amit! ” Cebik Yolla dengan tampang yang masam, sedangkan Zico tergelak melihat reaksi Yolla.
“Hei! nggak boleh ngomong gitu, nanti jatuh cinta aja tau rasa lo!” tegur Gita mengejek.
“Bisa nggak sih kalian berdua tuh jangan ngejek gue terus! sumpah ya, gue tuh benci banget sama laki-laki lemes itu!” Ketus Yolla.
“Hmmm… iya iya sorry!” sahut Gita menahan tawanya, karena ia tahu Yolla benar-benar mulai marah.
“Emang kenapa sih La? lo kok benci banget sama Sean? Dia kan lumayan ganteng lho, ya… biarpun masih gantengan gue sih, iya nggak sayang?” Zico bertanya sembari menggoda Gita.
Gita hanya menggeleng tersenyum.
__ADS_1
“Ganteng apanya? Lemes gitu mulutnya, males gue!” Yolla selalu ketus jika membahas Sean.
“Zico!!!” Teriak Sean dari belakang Zico, lalu berlari dan merangkul Zico sembari berjalan sejajar.
Melihat Sean datang Yolla melirik sinis kemudian berlari ke kelasnya.
Sean mengerutkan alisnya, “Kenapa dia?”
Zico dan Gita hanya mengangkat bahunya sembari senyum-senyum.
Merasa dirinya di abaikan, Sean pun mempercepat langkahnya meninggalkan dua sejoli itu tanpa sepatah kata pun.
“Cih.. kenapa tuh anak?” Cebik Zico.
“Lucu ya sayang, masa dua-duanya ngambek gitu.” Gita tertawa kecil.
Di kejauhan ada 3 pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.
“Zico tuh matanya kemana ya, lebih cantik lo kemana-mana Pris daripada Gita.” Hasut Chaterine.
“Mungkin disekolah ini gue nggak bisa berkutik, tapi lihat aja nanti setelah gue lulus dari sekolah ini, gue akan rusak hubungan mereka!” Gerutu Priscilla.
“Kenapa mesti nunggu lulus Pris? Kenapa nggak sekarang aja?” Tanya Viola yang tulalit.
“Iih nih anak, lo lupa kemaren kita berdua habis kena SP?” Priscilla emosi pada sahabatnya yang lambat berpikir ini.
“Gue inget kok, emang apa hubungannya sama SP kita Pris?” Tanya Viola lagi.
“Emang gue lemot kenapa? Kan gue cuma tanya Pris.”
“Viola… Lo kemaren denger kan? Kalau kita berulah lagi, kita bakal di DO dari sekolah ini, paham?”
“Iya.. terus apa hubungannya?” Tanya Viola masih dengan tulalitnya.
“Ya ampuuun…” Priscilla menepuk dahinya. “Ya terus kalau kita ganggu Gita lagi udah pasti kita bakal di DO! lo mau? Kepala yayasan sekolah kita tuh Uncle nya Zico, jadi kita benar-benar nggak bisa berkutik Vio.” Tutur Priscilla.
“Ck… cape kalau ngomong sama dia tuh Pris!” gerutu Chaterine.
“Banget!” sahut Priscilla.
***
Jam pulang sekolah sudah tiba, Bell pun telah berdering, dan seperti biasa, Zico segera bergegas ke kelas Gita.
“Zi, nanti sore main basket yuk bareng Alex sama Kenzo!” Ajak Sean sambil merangkul Zico didepan kelas Gita.
“Sorry ya, gue nggak bisa, gue harus ke rumah sakit nemenin Gita, Ibunya sedang dirawat.” Jawab Zico.
Gita dan Yolla berjalan keluar kelas, Yolla yang sedang memeluk lengan Gita pun mendengar yang Zico katakan pada Sean.
__ADS_1
“What’s? Ibu sakit Git? Kenapa lo nggak cerita sama gue?” Tanya Yolla beruntun, ia merasa sedikit kecewa karena Gita tidak memberi tahu Yolla sama sekali.
“Gimana gue mau cerita sama lo coba? lo aja dari pagi cemberut terus.” Sahut Gita gemas sambil mencubit pipi kiri Yolla.
“Ibu sakit apa Git?” Tanya Yolla lagi serius.
Gita menghela nafas panjang, raut wajahnya terlihat sedih, “Hmmmm.. belum tahu La, semalam habis CT Scan, kita belum tahu hasilnya, mungkin hari ini keluar hasil tes nya, makanya gue mau langsung ke rumah sakit.”
“Udah sayang, jangan terlalu dipikirkan, kita berdo’a aja, semoga hasil tes nya menunjukkan bahwa Ibu baik-baik saja.” Hibur Zico membelai rambut Gita.
Gita menganggukkan kepalanya.
“Gue ikut ke rumah sakit ya? Boleh kan?” Pinta Yolla.
“Boleh banget lah, ya udah nanti ikutin mobil Zico aja ya.” Tutur Gita.
Yolla menganggukkan kepalanya.
Sean sedari tadi hanya diam menatap mereka yang sedang berbincang, terkadang curi-curi pandang ke Yolla.
“Lo nanti pulang sama siapa yan?” Tanya Zico, karena biasanya Sean pulang bersamanya, tapi semenjak Zico pacaran dengan Gita, Sean tidak pernah pulang bersama Zico lagi.
“Sama Alex atau Kenzo paling.” Sahut Sean. “Ya udah, gue duluan ya, salam buat nyokap lo ya Git.” Pamit Sean.
Sebenarnya Zico sudah sering meminta Sean memakai mobil Zico yang lainnya, tetapi Sean selalu menolaknya, karena Papa nya yang melarang, karena keluarga mereka sudah banyak sekali dibantu oleh Austin Daddy nya Zico.
“Hati-hati Yan!” seru Zico.
Sean hanya mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya tanpa menoleh.
“Sayang, Sean kenapa? Kok wajahnya murung gitu?” Bisik Gita.
Zico hanya mengangkat bahu nya, ia juga sebenarnya penasaran kenapa sahabatnya itu terlihat murung, tetapi ia juga tidak tahu jawabannya.
“Ayo!” Zico menggenggam tangan Gita.
“Ayo La!” Gita pun turut menggandeng Yolla, mereka berjalan bertiga.
***
Mereka pun telah tiba di Rumah sakit Permata Kasih, dan segera mendatangi Sophia di kamar VIP nya.
“Ibu!” Gita berlari kecil menghampiri Ibunya dan memeluknya.
“Anak Ibu.” Sophia membalas tersenyum memeluk sang putri.
“Lho? Ada Yolla ya?” Sahut Sophia.
Yolla ikut memeluk Sophia bersama Gita.
__ADS_1
“Ibu, maaf ya Yolla baru kesini, Gita baru kasih tahu tadi siang soalnya." Imbuh Yolla sembari melirik Gita.
“Iya nggak apa-apa nak, lagi pula Ibu baik-baik saja kok.” Tutur Sophia.