
(Enggak dong! Nanti kan nikahnya gue planning pas Yolla nggak datang bulan,) sahut Sean terkekeh.
"Yolla? Maksud lo? Lo mau nikah sama Yolla? Memang lo udah lamar dia?"
(Lho? Memang Gita nggak kasih tau lo, Zi?) sahut Yolla.
Seketika Zico pun menatap Gita.
"Aku lupa, Sayang. Habisnya kan kamunya sibuk terus. Mana sempat aku cerita sama kamu. Lagian kamu tiap hari sama Sean, terus kenapa dia nggak cerita sama kamu coba?"
Kali ini gantian Yolla yang memicingkan matanya pada Sean.
(Kamu beneran nggak cerita sama sekali sama Zico, Han?)
(Hehe, aku sibuk, Sayang. Jadinya nggak ada waktu buat bahas itu. Kamu tau sendirilah Zico kalo lagi kerja kan mode kulkas,) jawab Sean menunjukkan barisan gigi putihnya seperti kuda.
Saat mereka sedang berdebat, terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu kamar Zico dan Gita. Terdengar suara mommy Celine yang sedang memanggil mereka.
"Masuk, Mom!" teriak Gita menyahuti ibu mertuanya yang sangat cantik dan anggun itu.
(Siapa itu, Git?) tanya Yolla dari seberang telepon.
"Mommy sama anak-anak," jawab Gita.
(Ada anak-anak? Video call, ya? Gue kangen banget sama mereka,) pinta Yolla.
"Okay!" jawab Gita kemudian merubah panggilannya menjadi panggilan video.
"Mommy tumben baru bangun?" tanya Zayn polos.
"Iya, Sayang. Semalam Mommy nunggu daddy pulang soalnya. Oya, ini bunda kalian mau ngomong nih," ucap Gita sambil memberikan ponselnya pada Zayn dan Zefa. Mereka pun duduk di sofa sembari video call bersama Yolla. Sedangkan Gita mengobrol bersama mommy Celine.
"Sayang, kamu siap-siap, ya. Nanti jam sepuluh kita jalan ke butik, mau fitting gaun kamu lagi, kemarin kan yang kebesaran sudah di jahit lagi. Sekalian Zico juga kan belum fitting tuxedo nya," ujar mommy Celine.
"Iya, Mom," jawab Gita tersenyum.
"Son, kamu hari ini nggak ke kantor, 'kan?" tanya mommy Celine.
"Enggak kok, Mom. Sean nanti yang handle semuanya. Aku udah bilang Sean, satu minggu ke depan aku nggak akan ke kantor, soalnya abis pesta resepsi, Zico mau ajak Gita honeymoon ke Maldives," tutur Zico.
"Hah? Ke Maldives? Kamu kok nggak bilang-bilang dulu sama aku?" kaget Gita.
__ADS_1
"Memang kamu nggak mau? Kemarin-kemarin kan waktu aku tanya mau apa nggak kalo pergi honeymoon, kamu jawab mau, ya udah aku langsung minta Sean urus semuanya," Zico malah bertanya balik.
"Ya aku kira cuma sekedar ke Bali gitu, kenapa mesti jauh-jauh? Kasian anak-anak dong kalo di tinggal lama-lama," keluh Gita.
Mommy Celine yang memperhatikan anak dan menantunya itu mulai berdebat pun segera melerai nya dan mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Sudah jangan meributkan hal itu dulu, kalo masalah anak-anak gampang, kan ada Mommy sama daddy. Sekarang kalian fokus dulu sama acara besok. Habis fitting baju, kalian harus ke salon Mommy, kalian berdua harus menjalani body treatment dan face treatment, Supaya besok wajah kalian berdua terlihat lebih fresh. Apalagi Zico tuh, kusut banget mukanya," ujar mommy Celine.
Gita pun tersenyum membelai pipi dan memandang wajah suami tercintanya yang memang terlihat sangat kusut, terlihat sekali kalau Zico benar-benar nampak kelelahan.
"Iya, Mom," sahut Gita tersenyum.
"Aku tidur sebentar lagi ya, Sayang. Aku masih ngantuk banget," rengek Zico manja pada Gita.
"Eh! Nggak ada! Kan sudah Mommy bilang, jam sepuluh kita berangkat, ini sudah jam setengah sembilan, belum mandi, belum sarapan. Nanti telat! Ayo, cepetan bangun!" omel mommy Celine.
"Iya-iya, Mom!" sahut Zico sembari bangkit dari tampat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi dengan langkahnya yang gontai karena masih mengantuk.
Setelah Zico selesai, Gita pun ikut bersiap dan pergi sarapan ke bawah bersama Zico.
Usai sarapan mereka pun pergi ke butik bersama mommy Celine, kedua buah hatinya pun ikut serta bersama mereka. Mereka pergi menggunakan mobil Alphard, karena Gita tidak ingin Zico mengendarai mobil, mengingat wajah Zico yang terlihat sangat lelah.
***
Mobil Alphard yang mereka tumpangi itu pun akhirnya berhenti di sebuah butik besar dan mewah. Belum ada satu pun pengunjung yang terlihat di sana. Mungkin mommy Celine memang membookingnya di jam ini hanya untuk anak dan menantunya melakukan fitting baju. Sebagai orang terpandang yang uangnya tak berseri itu pun tentu saja dia pasti dijadikan prioritas oleh pemilik bridal.
"Selamat siang! Silakan masuk, selama datang di Chantily Bridal!" ucap dua orang pelayan butik yang berdiri menyambut mommy Celine, Zico dan Gita. Gita dan mommy Celine pun menanggapinya dengan senyuman ramah. Tapi tidak dengan Zico. Ia hanya memasang wajah dingin dan datar. Memang seperti itulah Zico jika di hadapan banyak orang, terutama jika ia tidak mengenal orang-orang tersebut.
"Ini tuxedo untuk mempelai pria," ucap manager butik itu sambil memberikan tuxedo berwarna putih kepada mommy Celine.
"Silakan ikut kami, Nyonya," ucap dua orang pelayan toko bersama managernya kepada Gita. Gita pun pergi mengikuti mereka ke fitting room.
"Ini kamu juga sekalian fitting sana, Son!" titah mommy Celine sembari memberikan tuxedo itu pada putra semata wayangnya.
Zico pun menuruti perkataan sang mommy dan pergi ke fitting room khusus laki-laki. Tidal lama berselang, Zico sudah keluar dari fitting room dan menemui mommy Celine.
"Oh My God! Anak Mommy semakin maksimal tampannya," puji sang mami sambil meletakkan kedua tangannya di kedua belah bahu Zico. Ia terpesona melihat putra semata wayangnya yang memang sangat tampan itu mengenakan tuxedo yang tentunya berharga fantastis itu. Karena memang ia pesan khusus dari desainer international ternama. Zico hanya tersenyum mendengar pujian dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Tidak lama, manager butik memanggil mommy Celine dan Zico agar melihat betapa cantiknya Gita dengan gaun pesanan mereka yang akan dipakainya besok. Mereka pun segera menghampiri Gita.
"Sayang, kamu cantik banget," puji Zico tersenyum sambil menangkup wajah istri tercintanya.
__ADS_1
"Kamu juga ganteng banget, Sayang," ucap Gita tersenyum menatap lekat sang kekasih. Zico membungkukkan tubuhnya dan menempelkan dahinya pada dahi Gita, hingga ujung hidung mereka pun saling bersentuhan.
"Aaah! You are so sweet! Maaf Tuan Zico dan Nyonya Gita, apa kalian mau jadi model butik kami untuk model pakaian pengantin?" tanya manager butik itu.
"Maaf, kami tidak bisa!" tolak Zico dengan tegas. Tentu saja ia menolaknya, uangnya yang mereka miliki sudah tak berseri.
"Sayang, kalo nolak yang halus dong, jangan jutek gitu," tegur Gita berbisik.
"Maaf ya, Mbak. Kami hanya tidak ingin kehidupan pribadi kami terekspos khalayak ramai. Apalagi butik ini juga kan sangat terkenal," Gita mengucapkannya dengan tersenyum, berusaha menolaknya dengan halus.
"Oh begitu, baiklah. Maaf ya, Tuan dan Nyonya kalau kalian merasa terganggu dengan ucapan saya, saya hanya merasa kalian benar-benar pasangan yang sangat sempurna, sama-sama good looking," jawab manager butik sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa," jawab Gita lagi tersenyum lembut.
"Tunggu sebentar, tahan dulu pose seperti itu. Mbak, punya kamera, 'kan? Tolong foto kan mereka dong," pinta mommy Celine.
"Baiklah, Nyonya. Tunggu sebentar," jawab manager butik, ia pun meminta staf nya untuk memanggilkan fotografer mereka.
Setelah selesai di potret dengan berbagai macam gaya, mereka pun kembali berganti pakaian. Zico telah selesai lebih dulu, sedangkan Gita masih ganti pakaian di fitting room.
"Hai, Zi!" sapa seorang wanita cantik yang hampir mirip dengan Gita. Ia adalah Laura, gadis yang dimaksud oleh Zico saat menceritakan pada Gita bahwa ia pernah terpikat pada seorang gadis karena kemiripannya dengan Gita. Ia adalah seorang model internasional.
"Hei, Ra. How are you? Kamu sama siapa ke sini?" tanya Zico terlihat ramah pada Laura sambil meladeni Laura yang menempelkan kedua belah pipinya pada kedua belah pipi Zico.
"I'm fine, and you? Oya, Aku ke sini sama manager aku. Kamu ke sini sama siapa?" jawab Laura.
"Aku juga baik. Aku ke sini sama ... istri aku," ucap Zico terlihat ragu-ragu mengatakannya sambil menggaruk alisnya yang tak gatal.
Gita pun yang kebetulan melihat itu semua pun menjadi salah paham. Ia berjalan keluar butik begitu saja, melewati Zico dan Laura yang sedang mengobrol tanpa permisi dan bergegas hendak masuk ke dalam mobil.
"Sayang!" panggil Zico pada Gita. Menyadari sang istri tercinta sedang cemburu, Zico pun berpamitan pada Laura dan pergi menyusul Gita ke mobil Alphard milik mommy Celine itu. Sedangkan mommy Celine masih mengobrol di dalam butik bersama manager butik sambil menyelesaikan pembayaran.
"Sayang, kok tinggalin aku, sih?" tanya Zico pura-pura tak mengerti. Padahal ia sangat tahu bahwa Gita pasti cemburu melihatnya tadi mengobrol dengan Laura.
Gita diam saja memalingkan wajahnya tak mau menatap wajah Zico sama sekali, air matanya pun sudah membendung di kelopak matanya. Namun, ia tahan sebisa mungkin.
"Sayang, kamu marah karena aku ngobrol sama Laura tadi, ya? Tadi aku mau kenalin kamu sama dia lho. Kamu nya malah pergi duluan," ujar Zico membuat alasan.
Gita berdecih, "Cih, yakin mau ngenalin? Cuma ngomong ke sini sama istri aja kamu ragu-ragu gitu kok bilangnya!" cibirnya.
"Hah? Aku ragu-ragu? Perasaan aku nggak gitu, kok," jawab Zico.
__ADS_1
Air mata yang sejak tadi di tahannya pun tak terbendung lagi dan bergulir dengan cepat di wajah cantik Gita.