
***
Keesokkan harinya seperti biasa Zico pagi-pagi sekali menjemput Gita di rumah sakit, mengantarnya ke apartemen dan berangkat ke sekolah bersama.
Setelah pulang sekolah Gita ingin bergegas ke tempat kerjanya, tapi ia khawatir Zico akan mengikutinya, jadi ia memutuskan untuk pulang sendiri agar Zico tak tahu tempatnya bekerja.
Saat Bell pulang berbunyi ia bergegas pulang, bahkan tanpa pamit pada Yolla.
“Git! Lo mau kemana? Kok gue ditinggal sih?” Panggil Yolla.
“Apa dia mau pergi sama Zico ya? Semangat banget sampe lari gitu keluarnya.” Gumam Yolla, ia pun bergegas keluar ingin menyusul Gita, tapi ternyata Gita sudah tak terlihat.
“Lho La? Gita mana?” Tanya Zico sembari menengok ke dalam kelas mencari Gita.
“Itu tadi dia pas Bell pulang dia langsung lari, gue kira dia mau pergi sama lo Zi!” Sahut Yolla.
“Nggak kok! gue nggak ada janjian mau pergi sama dia, apa dia mau langsung ke tempat kerjanya ya? Kok nggak tungguin gue ya, gue kan mau tau tempat kerja dia.” Gerutu Zico.
“What’s? Gita mau kerja Zi?” kaget Yolla.
“Iya dia mau kerja katanya La, dia tuh kemaren menghilang karena lagi nyari kerjaan.” Tutur Zico.
“Kenapa nggak bilang sama gue sih tuh anak kalau mau kerja? kan bisa di salon nyokap gue aja.” Gerutu Yolla.
“Gue juga udah bilang sama dia La kerja di butik nyokap gue aja, tapi dia nya nggak mau.” Jawab Zico.
“Yaah begitulah Gita Zi, dia tuh nggak mau ngerepotin orang lain, termasuk orang terdekatnya sekalipun.” Cetus Yolla.
“Ya udah gue susul dia dulu yaa La! Sean, gue duluan ya!” Pamit Zico menepuk bahu Sean, lalu bergegas mengejar Gita.
Yolla pun melanjutkan langkah kakinya, tapi seketika langkahnya terhenti karena pergelangan tangannya yang dipegang Sean.
“La tunggu!” Ucap Sean.
“Ck… Apa sih?!” Jawab Yolla ketus.
__ADS_1
“Gue minta maaf ya kalo selama ini gue suka ketus sama lo, please kita jangan musuhan lagi ya, kita berteman aja gimana? Kan sahabat kita pacaran, masa kita sebagai sahabatnya malah musuhan sih.. hehe.” Ucap Sean nyengir kuda.
Yolla hanya diam memutar bola matanya dan menyunggingkan bibirnya.
“Please dong La! Mau ya temenan sama gue?” Tanya Sean lagi dengan tatapan memohon.
Yolla yang melihat Sean memasang tampang memelas itu pun seketika menganggukkan kepalanya.
“Yes! Thank’s ya La.” Ucap Sean dengan senyum sumringah.
“Segitu senengnya lo temenan sama gue?” Tanya Yolla heran, karena memang sikap Sean berubah seratus delapan puluh derajat, yang tadinya ketus pada Yolla, tiba-tiba berubah jadi ramah, bahkan memintanya berteman, ia pun melanjutkan langkah kakinya, di ikuti pula oleh Sean, mereka berbincang sambil berjalan.
“Iya dong seneng, kan gue dapet temen baru jadinya, gue bete banget La semenjak Zico jadian sama Gita, gue nggak ada temen main.” Keluh Sean.
“Sama! Gue juga ngerasa gitu, Gita sibuk sama Zico mulu, belum lagi sekarang Ibunya sakit, apalagi dia sekarang kerja juga, udah deh, tambah nggak ada waktu buat gue, sahabat gue kan cuma dia!” Gerutu Yolla, ia melanjutkan, “Oh iya, lo kan masih punya temen si Alex sama Kenzo, kok bisa lo bilang nggak ada temen main?” Tanya Yolla bingung.
“Ah si Alex tuh rese La! kalo main sama dia ada aja gangguannya, yang ceweknya minta jemput lah, yang minta ditemenin shopping lah, ujung-ujungnya selau ninggalin gue berdua sama Kenzo, pusing gue!” gerutu Sean.
“Lah kenapa mesti pusing? kan masih ada Kenzo, kenapa nggak main sama dia aja?” Tanya Yolla lagi menyatukan alisnya.
“Halah… dia lagi… dia mah udah kek patung, jarang ngomong, gue kalo ngomong sama dia kek ngomong sama tembok.” Cebik Sean.
Mereka sudah tiba di gerbang sekolah, Pak Eko supirnya Yolla sudah membukakan pintu mobilnya untuk Yolla.
“Sean, gue pulang dulu ya, lo pulang naik apa? Mau ikut bareng gue nggak?” Tawar Yolla.
“Nggak usah La, kan rumah kita nggak searah, gue bisa naik taksi kok.” Tolak Sean. Memang rumah Yolla searah dengan Zico, kompleks mereka bersebelahan, sedangkan rumah Sean berdekatan dengan apartemen Gita.
“Bener nih?” Tanya Yolla lagi.
Sean hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya udah, gue balik duluan ya, bye Sean!” Pamit Yolla tersenyum.
Sean pun membalasnya tersenyum.
__ADS_1
“Tunggu La!” Sean menahan pintu mobil Yolla yang akan tertutup.
“Kenapa? Jadi mau ikut gue?” Tawar Yolla lagi.
“Enggak, bukan itu! Gue minta nomer HP lo boleh nggak?” Pinta Sean.
“Oh! Ya udah sini Hp lo nya!” Pinta Yolla mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menghadap atas.
Sean memberikan ponselnya pada Yolla, Kemudian Yolla memasukkan nomer ponselnya di ponsel Sean.
“Nih udah gue masukin nomer gue!” Yolla memberikan ponsel Sean.
“Thank’s ya La!” Ucap Sean tersenyum puas.
Yolla menganggukkan kepalanya.
“Ya udah gue pulang dulu ya! bye..” Pamit Yolla.
“Okay La, Bye... hati-hati ya!” Ucap Sean lagi.
Sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat Sean tiba-tiba tertarik pada Yolla.
Flashback On…
Beberapa hari yang lalu, Sean sedang berhenti di lampu merah, tiba-tiba melihat sosok gadis yang tak asing didepan mobilnya, saat itu hari minggu ia sedang mengendarai mobil Papanya, ia sedang di minta Papa nya mengantarkan beberapa berkas ke Mansion Austin.
Ada seorang gadis manis yang sedang menuntun seorang nenek tunanetra yang sedang menyebrang, ia menuntunnya dengan sangat hati-hati, setelah memastikan nenek itu menyebrang sampai tujuannya, gadis itu pun bergegas masuk ke mobilnya yang berada di sebelah mobil Sean.
“Hah? Itu kan Yolla? Ternyata bener ya kata Gita, hati dia tuh baik, cuma mulutnya aja yang suka ketus.” Gumam Sean.
Flashback Off…
Setelah melihat sisi baik Yolla, Sean mulai tertarik pada Yolla, itu yang membuat Sean berubah menjadi agak pendiam belakangan ini, ia tidak ingin Yolla semakin membencinya.
Ia berniat mendekati Yolla, namun ia malu jika harus meminta bantuan pada Zico dan Gita, karena yang mereka tahu Sean dan Yolla selalu saja bertengkar, apa kata mereka jika tiba-tiba Sean mengatakan jika ia tertarik pada Yolla, entah akan seperti apa Zico akan mengejeknya nanti, membayangkannya saja sudah membuat Sean malas untuk bercerita pada Zico.
__ADS_1
Sean sedang galau, tak tahu bagaimana caranya mendekati Yolla, tidak ada tempat untuk bercerita pula, oleh karena itu ia menjadi tidak fokus belakangan ini, sampai membuat kakinya terkilir saat sparring basket kemarin.
Namun sekarang ia sudah memberanikan diri mengajak Yolla berteman, Ya walaupun sebenarnya ia mengharapkan lebih dari sekedar teman, tapi, ia mencoba berteman saja dulu agar Yolla merasa nyaman terlebih dulu dengannya.