First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Dinner


__ADS_3

***


Tiga hari kemudian Gita memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya saja pada Zico, ia mengajak Zico untuk dinner di restoran tempat biasa ia dan Zico selalu dinner. Di tempat itu ia ingin mengatakan tentang kehamilannya, karena ia sudah yakin kalau ia mau menikah dengan Zico secepatnya, toh Zico juga sudah berjanji akan bertanggung jawab padanya jika ia hamil. Bahkan ia rela menunda KOAS-nya sampai melahirkan anaknya nanti.


(Hallo, Sayang,) sahut Zico di sebrang telpon.


"Zi ... Kamu ada waktu nggak nanti malam?" ucap Gita dengan suara yang terdengar murung.


(Kamu kenapa, Sayang?) Zico malah bertanya balik karena merasakan kalau Gita sedang tidak baik-baik saja.


"Aku nggak apa-apa, kok," kilah Gita lalu bertanya lagi, "Kamu ada waktu nggak nanti malam?"


(Aku ini lagi ikut daddy ketemu sama rekan bisnisnya. Memang kenapa, Sayang? Kamu kangen ya sama aku?)


"Ya udah kalau kamu sibuk, lain kali aja, deh. Bye!" Gita mematikan telponnya. Entah kenapa, mendengar jawaban Zico membuat Gita sangat kesal, karena dua minggu belakangan ini Zico memang mulai sibuk menemani daddy-nya menemui rekan-rekan bisnisnya.


Sebelum-sebelumnya Gita selalu mengerti kesibukan Zico, tapi beberapa hari ini ia selalu merasa kesal dengan Zico, mungkin karena faktor hormon kehamilan yang sering membuat ibu hamil ini sensitif.


Zico yang merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap Gita pun menelpon balik Gita, tapi Gita tak kunjung mengangkat panggilannya. Ia pun mengirim pesan kepada Gita.


{Sayang, kamu kenapa? Kok matiin telponnya begitu aja?}


{Nggak apa-apa!} balas Gita.


{Aku ada salah ya sama kamu?}


Gita pun tak membalasnya, ia hanya membacanya lalu ia masukkan ponsel itu ke dalam sakunya dan bergegas mulai memeriksa pasien lagi.


***


Di restoran tempat Zico makan siang bersama daddy Austin dan para rekan bisnisnya.


'Gita kenapa, sih? Kok nggak balas pesan aku, ya? Apa dia kesal sama aku karena belakangan ini aku selalu sibuk?' gumam Zico dalam batinnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Zico?" bisik daddy Austin kepada calon penerusnya itu, karena melihat Zico melamun sejak menerima telpon dari Gita tadi.


"Nggak apa-apa kok, Dad," jawabnya.


"Ya sudah kamu lanjut berbincang dengan yang lain, jangan melamun saja," titah daddy Austin berbisik lagi.


"Baik, Dad," sahutnya.


Tapi sebelum ia mulai berbincang dengan yang lain, ia mengirim pesan lagi untuk Gita.


{Sayang, nanti malam kita dinner di tempat biasa, ya? Nanti aku jemput kamu di rumah sakit, Okay?}


{Nggak usah jemput, kita ketemu di sana aja!} Kali ini Gita langsung membalas pesannya.


'Bilang dong, Sayang. Kalau memang kangen sama aku, pake ngambek segala, sih!' batin Zico sambil tersenyum menatap layar ponselnya.


Zico pun melanjutkan berbincang dengan para rekan bisnis daddy-nya.


Setelah selesai Zico pamit kepada daddy-nya untuk pulang lebih awal dengan alasan ada janji dengan Gita.


***


Di restoran Riccio tempat biasa Gita dan Zico dinner...


Gita sudah tiba lebih awal, sedangkan Zico masih belum tiba karena terjebak macet.


{Sayang, maaf ya aku agak telat, aku terjebak macet.} Zico mengirim pesan itu pada Gita.


{Iya nggak apa-apa, kamu hati-hati menyetirnya.} balas Gita.


Zico pun tersenyum melihat balasan Gita, karena sepertinya Gita sudah tidak kesal lagi padanya.


Setelah lima belas menit Gita menunggu, akhirnya Zico pun tiba di restoran itu.

__ADS_1


"Sayang, maaf ya aku telat. Kamu udah nunggu lama, ya?" ucap Zico yang baru saja tiba sambil mencium kening Gita yang sedang duduk di kursinya.


Gita pun hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


Ia terpesona oleh ketampanan Zico yang bertambah dua kali lipat saat memakai setelan jas lengkap dengan dasinya, seperti saat ini.


'Apa kalau nanti anak kita laki-laki akan setampan kamu ya, Sayang?' gumam Gita dalam batinnya sembari mengulas senyum sambil menatap wajah tampan Zico.


"Kamu udah pesan makanannya belum, Sayang?" tanya Zico sambil duduk dan melepas kancing jasnya.


"Lho? Kamu kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Zico lagi sembari tertawa saat menyadari Gita yang terus menatapnya.


"Nggak apa-apa, kok," kilah Gita sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.


"Kamu kangen ya sama aku?" goda Zico sambil mencubit dagu Gita.


"Terus memang kamu nggak kangen sama aku?" ketus Gita bertanya balik mengerucutkan bibirnya.


"Ya pasti lah, aku kangen banget sama kamu, Sayang," jawab Zico sambil mengecup punggung tangan Gita yang sedang digenggamnya.


"Oya, Sidang skripsi aku kemarin lulus sayang, nilainya bagus, lho!" tutur Zico.


"Syukurlah, Sayang. Maaf ya aku kemarin nggak bisa datang," sahut Gita.


"Iya, nggak apa-apa kok, Sayang. Sekarang aku kan udah menyelesaikan skripsi aku, gimana kalau besok minggu kita temui daddy dan mommy untuk membicarakan pernikahan kita? Nggak udah nunggu kamu selesai KOAS, kelamaan, Sayang. Lagian kan kita cuma minta restu mereka aja nggak langsung nikah."


"Aku ... Aku ...," Gita tiba-tiba merasa gugup untuk membicarakan tentang kehamilannya.


"Kenapa lagi, Sayang? Jangan bilang kamu mau tunda lagi pernikahan kita! Aku nggak mau dengar alasan apapun lagi dari kamu, ya!" Zico menatapnya tajam.


"Ada sesuatu hal yang harus kamu tau, Zi," lirih Gita sambil menundukkan pandangannya sambil memainkan jemarinya.


"Apa, Sayang? Apa yang harus aku tau?"

__ADS_1


Kali ini Zico menatapnya lembut.


Baru saja Gita akan mengatakan tentang kehamilannya, tiba-tiba Gita mendapatkan pesan dari nomer tak dikenal yang berisi video singkat Zico dengan seorang wanita yang tak asing baginya.


__ADS_2