
"What's???" Teriak Yolla dan Sean, sedangkan Zico hanya membelalakkan matanya dan berdiri.
"Hah?" Gita pun terkejut, tapi ia ingin memastikan lagi.
"Maksud Tante Viola temannya Priscilla dan Chaterine?"
"Yes, that's true! Kamu mengenalnya?"
Tanya Indira dengan wajah sumringah, ia berharap Gita bisa berhubungan baik dengan putrinya.
Gita menunjukkan wajah gelisah, Zico yang melihatnya segera beranjak menghampiri Gita berdiri di samping sofa single yang diduduki Gita dan merangkulnya.
Ia pun yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Tante tau gak? Anak Tante itu su..... Auww!!" Teriak Zico kesakitan sambil mengusap-usap pahanya.
Karena Gita menghentikan perkataan Zico dengan mencubit pahanya.
Gita tidak ingin Tantenya mengetahui perbuatan yang sudah dilakukan Putrinya kepadanya.
"Kenapa? Anak Tante kenapa?" Tanya Indira menatap Zico penasaran.
Zico yang ditatap tajam oleh Gita pun hanya diam tidak berani menjawab.
"Nggak apa-apa kok Tan... Oya Tante, apa aku boleh tanya?" Gita mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Boleh dong sayang, kamu mau tanya apa sama Tante?" Sahut Indira.
"Sebenarnya kenapa Ibu pergi dari rumah Tan?" Tanya Gita penasaran.
"Mmmm... Itu... Kak Sophia pergi dari rumah karna Ayah kami gak setuju kalau dia menikah dengan Kak David Ayahmu." Terang Indira.
"Kenapa Tan? Kenapa Kakek gak setuju Ibu menikah dengan Ayah?" Tanya Gita lagi.
"Karena Ayah ingin menjodohkan Kak Sophia dengan anak dari teman bisnisnya, tapi Kak Sophia menolak keras, karena Kak Sophia sudah menjalin hubungan lama dengan Kak David, lalu dia pergi dari rumah." Tutur Indira.
"Oh!" Gita hanya menatap meja didepannya, 'ternyata sesulit itu hidup Ibu selama ini, aku kira Ibu memang tidak punya keluarga, aku menyesal Bu tidak pernah menanyakannya pada Ibu, maafin Gita ya Bu.' Batin Gita.
Setelah mereka terdiam beberapa menit, Indira mencoba memecah keheningan, "Oya Gita, kamu kan cuma sendiri disini, gimana kalau kamu pindah ke rumah kita aja ya?" Titah Indira.
"Rumah Tante? Nggak perlu Tan, aku gak apa-apa kok tinggal sendiri disini, lagipula sebentar lagi aku masuk universitas, dan sepertinya nanti aku akan tinggal di asrama aja Tan." Tolak Gita halus.
"Yaaaah.... Padahal Tante berharap banget kamu bisa tinggal dirumah kita, itu rumah kita Gita, bukan rumah Tante, itu rumah Kakek kamu, kamu juga memiliki hak untuk semua peninggalan Kakekmu." Ujar Indira.
Gita hanya terdiam, ia hanya masih trauma berurusan dengan Viola dan Priscilla.
"Oya, kamu pacarnya Gita ya?" Tanya Indira menatap Zico.
"Iya Tante." Sahut Zico singkat.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" Tanya Indira lagi.
"Nama saya Zico Tante." Sahut Zico lagi.
"Oooh! Kamu tinggal didekat sini juga?"
"Tidak Tan, saya tinggal di Grand hills." Jawab Zico.
"What's? Satu kompleks dong kita?" Tanya Indira terkejut. Ia melanjutkan, "Kamu tinggal dijalan apa Zico?"
"Di jalan Peony." Jawab Zico seperlunya.
'Hah? Itu kan Mansion Tuan Austin, apa mungkin Zico ini putranya?' Batin Indira.
Karena dijalan Peony hanya ada satu Mansion, Mansion itu adalah tempat tinggal Keluarga William yang luasnya sekitar satu hektar.
"Itu artinya kamu putranya Tuan Austin?" Tanya Indira lagi.
"Iya Tante." Sahut Zico singkat, Zico memang tidak pernah banyak bicara kecuali dengan Gita dan Maminya, dengan orang lain ia selalu memasang mode kulkasnya.
Indira hanya tersenyum, ia senang melihat perhatian Zico pada Gita, dari tatapan Zico terlihat sekali bahwa Zico amat menyayangi Gita.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ia mendapat telpon dari suaminya, setelah berbincang dengan suaminya, ia pun pamit kepala Gita dan Zico.
"Gita, Kamu beneran gak mau pulang ke rumah kita sayang?" Tanya Indira lagi.
"Nggak Tante, Gita sudah terbiasa kok tinggal sendiri, dulu kalau Ibu ada pekerjaan diluar kota, Gita selalu sendiri di apartemen." Jawab Gita lembut.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menemui Tante ya sayang." Tutur Indira kemudian melepaskan pelukannya dan membelai pipi Gita.
"Baik Tante, makasih ya Tante sudah mau menemui Gita." Ucap Gita tersenyum lembut.
Indira tersenyum anggun dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Zico, Tante titip Gita ya, tolong jaga Gita dengan baik, kalau ada masalah apapun tolong hubungi Tante ya?" Titah Indira.
"Baik, Tante." Sahut Zico.
"Teman-teman Gita, Tante pulang dulu ya!" Pamit Indira juga kepada Yolla dan Sean.
"Iya Tante, hati-hati ya Tan." Sahut Yolla dan Sean.
Indira tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya.
Indira pun sudah keluar dari apartemen Gita.
Yolla berlari kecil ke arah Gita yang sedang dirangkul oleh Zico, diikuti pula oleh Sean.
Ya, Memang semenjak Sean mengajak Yolla untuk berteman, Sean sudah seperti ekornya Yolla, Yolla kemanapun ia selalu ikut, terkecuali kalau Yolla pulang ke rumah.
__ADS_1
"Git, gue gak nyangka ternyata lo sepupuan sama si Viola oon itu!" Seru Yolla.
"Iya Git, gue juga kaget banget lho!" Seru Sean pula.
"Sayang, kamu jangan mau ya kalau kamu diajak Tante kamu tinggal disana!" Tegas Zico tak ingin dibantah.
"Memang kenapa Zi?" Padahal ia sudah tahu jawabannya, tapi ia masih ingin memastikan alasan Zico.
"Aku khawatir kalau kamu tinggal disana, di sekolah aja dia berani mengurung kamu di toilet, gimana kalau kamu dirumahnya, aku gak kebayang kamu bakal di apain sama dia." Terang Zico menatap dingin pada Gita.
Gita menghela nafas panjang dan mengusap seluruh wajah Zico dengan telapak tangannya.
"Kamu tuh mulai deh pasang Mode kulkas kaya gitu, jelek tau!" Ejek Gita menjulurkan lidahnya berlalu meninggalkan Zico dan pergi ke kamar mandi diikuti Zico.
"Kamu mau ngapain sayang?" Tanya Zico didepan pintu kamar mandi.
"Ya Mandi lah!!!" Teriak Gita dari dalam kamar mandinya.
Yolla dan Sean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar harus kuat iman kalau sedang melihat kebucinan Zico pada Gita yang membuat mereka gemas.
Zico menghampiri Yolla dan Sean yang sedang menyantap mie instan di meja makan, Sean yang membuatkan Mie nya ya, karena seorang Yolla bahkan tidak bisa menghidupkan kompor.
"La, Lo udah di izinkan ortu lo kan untuk menginap disini menemani Gita?" Tanya Zico serius.
"Udah kok Zi, santai...." Sahut Yolla.
"Oh ya udah, Syukur deh." Seru Zico. Ia melanjutkan, "Sean, gue tidur dirumah lo aja ya? Gue malas pulang ke rumah kejauhan, badan gue masih cape banget." Zico amat kelelahan, karena dari kemarin sore ketika Sophia menghembuskan nafas terakhirnya, ia selalu terjaga menemani Gita.
"Ya udah gak apa-apa Zi tidur dirumah gue aja, soalnya gue juga gak bisa nganter lo, gue juga ngantuk banget." Sahut Sean.
Setelah Gita selesai mandi, ia meminta Zico untuk segera pulang karena sudah larut.
Zico dan Sean pun pulang ke kediaman Sean.
***
Indira yang sudah sampai di Mansionnya, ia segera menghampiri Viola dikamar tidurnya.
"Vio!.... Viola.. buka pintunya nak!"
Viola pun membuka pintunya.
"Ada apa sih Mom?" Tanya Viola menguap karena mengantuk.
"Kamu kenal Gita gak Nak?" Tanya Indira antusias.
"Hah? Gita? Kenapa Momom nanyain dia?"
"Dia itu sepupu kamu sayang." Ucap Indira antusias.
__ADS_1
"What's??? Sepupu???" Sontak Viola membelalakkan matanya.