
Menyadari sang istri yang kelaparan, Zico pun meraih gagang telepon yang berada di atas nakas kemudian menelpon room service dan memesan makanan untuk mereka makan siang.
"Maaf ya, Sayang. Aku lupa banget, lapar banget pasti, ya?" tutur Zico.
"Iya aku lapar, tapi aku ngantuk banget, Sayang. Aku boleh tidur dulu nggak sebentar aja, sambil nunggu makanannya datang," rengek Gita manja.
"Ya udah, Sayang. Kamu tidur aja dulu, nanti kalo makanannya udah dateng aku bangunin kamu," ucap Zico kemudian mencium keningnya.
Gita mengangguk kecil dan mulai memejamkan matanya kembali di dalam pelukan Zico.
Sekitar dua puluh menit berlalu, seorang room service tiba dan mengantarkan makanan yang dipesan oleh Zico. Lelaki itu pun bangkit dari tidurnya dan memakai bajunya kemudianĀ membukakan pintu dan menerima makanan itu, setelah itu ia mencoba membangunkan Gita.
"Sayang, ayo makan dulu, ini makanannya udah dateng, nih," ucap Zico sambil menghujani ciuman pada wajah sang istri.
"Hmm? Aku ngantuk banget, Sayang. Tar aja ya makannya?" ucap Gita. Sepertinya Gita baru merasakan jet lag.
"Makan dulu lah, nanti habis makan baru tidur lagi, Sayang. Aku suapin mau?" bujuk Zico.
Gita pun membuka matanya dan mengulas senyuman sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ayo duduk dulu," titah Zico lembut.
Gita pun menurut dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Sssst," desis Gita kesakitan, merasakan ada yang terasa perih di bawah sana.
"Kenapa, Sayang?" tanya Zico melihat Gita mendesis kesakitan.
"Perih," rengek Gita.
"Apanya?"
"Pake tanya, ya itunya lah!" ucap Gita sambil menunjuk ke arah inti tubuhnya dengan tatapan matanya. Zico pun terkekeh mendengarnya.
"Maaf ya, Sayang. Tapi enak, 'kan?" goda Zico menaik-turunkan alisnya.
"Tau, ah!" ketus Gita mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Zico hanya tersenyum dan mulai menyuapi makanan pada Gita. Setelah menghabiskan makanannya Gita pun meminta untuk tidur kembali, sejujurnya ia takut akan di gempur lagi oleh Zico. Jadi ia memilih untuk kembali tidur.
Zico pun mulai menyantap makanannya, namun saat baru saja beberapa suapan yang masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja ada panggilan video masuk dari mommy Celine, ia sudah tahu pasti kedua buah hatinya lah yang meneleponnya.
Sebelum mengangkatnya, ia pun membangunkan Gita, memberitahunya jika kedua buah hatinya menelpon. Gita pun segera bangkit dari tidurnya dan mulai memakai bajunya yang tergeletak di atas seprai.
"Hallo, Sayang!" sapa Gita pada kedua buah hatinya yang berada di seberang telepon. Sedangkan Zico melanjutkan menyantap makanannya di sofa yang berada dalam kamar resort. Ternyata yang meneleponnya adalah Zefa.
"Mommy! Mommy dan Daddy cudah campai di tempat keja daddy?" tanya Zefa si cadel.
"Iya, Sayang. Mommy sama Daddy sudah sampai, kok," jawab Gita.
"Telus Daddy nya mana, Mommy? Jepa kangen Daddy," rengek Zefa yang merindukan daddy nya.
"Daddy nya lagi makan, Sayang. Nanti ya, tunggu Daddy selesai makan ... memangnya Zefa cuma kangen sama Daddy aja, ya? Nggak kangen sama Mommy?" goda Gita pada Zefa.
"Kangen, kok. Tapi lebih kangen Daddy," jawab Zefa polos.
Zico yang sedang menyantap makanannya pun tersenyum melihat istri tercintanya mengerucutkan bibir saat mendengar jawaban polos dari Zefa.
"Ya udah, Mommy mau buat adik bayi aja, Zefa nya nggak sayang lagi sih sama Mommy," tutur Gita menggoda Zefa. Karena yang ia tahu Zefa sama sekali tidak mau memiliki adik.
Zico yang sudah selesai menyantap makanannya pun menghampiri Gita yang sedang tidur tengkurap di atas ranjang sambil menghadapkan layar ponselnya pada wajahnya. Zico pun menyandarkan kepalanya pada bahu Gita agar dirinya terlihat dalam layar ponsel.
"Hallo, My Princess Zefanya William," sapa Zico menggoda sang putri.
"Hallo, Daddy! Jepa kangen cama Daddy, Daddy kapan pulang?" tanya Zefa terlihat begitu antusias setelah melihat sang daddy yang berada di layar ponsel.
"Kan Daddy baru sampai, Sayang. Daddy masih lima hari lagi di sini, Zefa yang sabar, ya. Jangan nakal, jangan nangis, harus nurut sama Genma dan Genpa, Okay?" pinta Zico pada putri tersayangnya.
"Okay, Daddy!" sahut Zefa antusias.
"Genma sedang apa, Nak?" tanya Gita pada Zefa.
"Genma cedang mandi, Mom," jawab Zefa.
"Ooh, kalau kakak Zayn lagi ngapain, Sayang?" tanya Gita lagi.
__ADS_1
"Kak Jayn lagi main PS cama uncle Ceno cama bunda Yolla, Mom."
"Oh, lagi ada Bunda Yolla di sana? Sejak kapan Bunda di situ, Nak?"
"Cejak ciang, Mom."
"Oh, ya udah Zefa main sama Bunda Yolla aja sana, kasian Genma nya biar istirahat dulu, Nak," titah Gita.
"Okay, Mom! Udah dulu ya, Jepa mau ke Bunda Yolla dulu."
"Jangan turun sendiri lho, Sayang. Nanti tunggu Genma selesai mandi dulu ya, Nak," pesan Zico.
"Okay, Daddy. Bye, Mom. Bye, Dad," ucap Zefa kemudian mematikan panggilannya.
Rasa lelah Gita seperti menghilang seketika setelah melihat Zefa yang terlihat ceria saat di panggilan video tadi. Senyuman merekah di bibirnya. Karena ia memang sangat mengkhawatirkan Zefa, takut jika Zefa rewel dan merengek terus pada mommy Celine.
"Gitu dong, jangan manyun terus. Kan tambah cantik istri aku kalau senyum gini," goda Zico sambil memeluk tubuh Gita.
"Aku tuh nggak enak sama Mommy, Sayang," jawab Gita.
"Nggak enak kenapa? Kan Mommy juga yang nyuru kita honeymoon, kamu lupa sama pesan mommy yang bilang kalo kita harus kasih cucu lagi buat mommy sama daddy?"
"Inget, lah."
"Ya udah makanya ayo kita ronde kedua, Sayang," ajak Zico sambil menghujani ciuman di pipi Gita.
"Sayang, tolong ngerti dong, badan aku lagi capek banget. Nanti malam aja, ya?" rengek Gita memelas sambil membelai pipi Zico.
"Ya udah, ayo kita tidur dulu aja, sekalian save energy buat ronde kedua," goda Zico tersenyum usil sambil memeluk erat tubuh Gita dan menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.
Mereka pun tertidur lelap sampai keesokan paginya hingga melewatkan jam makan malam mereka. Sebenarnya saat tengah malam Zico terbangun dari tidurnya ingin meminta jatah ronde keduanya pada Gita. Namun, ia tak tega membangunkan Gita yang sedang tertidur begitu lelap.
Saat ini masih jam lima pagi, namun Zico sudah terbangun lagi. Merasa sang istri sudah beristirahat cukup lama, tangan Zico mulai bergerilya menyusuri tu buh Gita. Mulai dari pa ha, perut, hingga ke dua buah kehidupan Gita. Ia mulai meremas sebelah buah kehidupan Gita dengan lembut sambil menyesap leher jenjang putih nan mulus milik Gita.
Gita yang sedang tertidur lelap pun sudah terbangun sebenarnya saat tangan Zico terus menyusuri tubuhnya, tapi ia memilih untuk berpura-pura masih tertidur. Namun, saat bibir Zico yang sudah menyesap lehernya dan memainkan lidahnya di sana, ia pun mulai mele nguh, apalagi tangan Zico mulai mere mas salah satu buah kehidupannya.
"Eunghh," satu lengu han keluar dari bi bir manis Gita yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Nggak usah pura-pura tidur, Sayang. Aku tau kamu udah bangun," goda Zico berbisik di daun telinga Gita.
Gita pun merasa bertambah malu untuk membuka matanya. Ia terus memejamkan matanya menikmati setiap sentu han dari jemari dan bi bir sang CEO.