First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
First Love Tak Terlupakan


__ADS_3

Di lorong rumah sakit Yolla sedang berjalan sembari berbincang dengan Mike di ponselnya.


"Ya, Mike?"


(Where are you, Yolla?)


"Aku sedang di rumah sakit!"


(Rumah sakit? What's that?)


"Hospital!"


(Why? Are you sick, Yolla?!)


"No! No! I'm not sick, Mike. Temanku yang sakit!"


(Oh! Teman? Friend?)


"Yes, My friend!"


(Which is your friend? Gita?)


"No, Mike! Bukan Gita, Giselle."


(Oh! Okay, I'll be there.)


"No, Mike! I will come to your place, i'm waiting at the restaurant, Okay?"


(Okay, Yolla! Take care!)


"Mmmm.."


Setelah menyelesaikan percakapannya pun Yolla berpamitan lagi kepada teman-temannya, ia hanya tidak ingin Mike bertemu dengan teman-temannya terutama Sean.


Ceklek...


Yolla membuka pintu kamar Giselle.


"Guys, Sorry ya, gue harus pergi sekarang!" pamit Yolla.


"Lho? Teman siapa, Bel? Mike lagi?" tanya Gita penasaran.


Yolla hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Ya udah, hati-hati ya, La!" Seru Gita.


Yolla pun pergi ke restoran yang ada di hotel yang sedang Mike tinggali.


***


Dua hari kemudian di depan ruang operasi..


Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan memastikan bahwa kondisi Giselle sudah stabil, Akhirnya tiba waktunya Giselle akan menjalani operasi, di depan ruang operasi sudah berkumpul Sean dan semua sahabat-sahabat Giselle termasuk juga kedua orangtuanya.


"Giselle, Semangat ya, Nak. Ibu dan Ayah akan selalu do'ain kamu supaya operasinya lancar dan kamu bisa sehat lagi seperti dulu." imbuh sang ibu kepada Giselle yang sedang berbaring di brankar.


Giselle menjawabnya hanya dengan anggukan dan seulas senyum di wajahnya.


"Sayang, kamu semangat, ya! setelah ini kamu akan sehat lagi seperti dulu, aku janji, setelah kamu sehat kita akan ngedate untuk yang pertama kalinya sebagai pacar aku." tutur Sean sembari mengelus pucuk kepala Giselle dan mengecup tangannya berkali-kali.


'Ya, Tuhan! Apa kalau dulu aku menerima Sean, dia akan bersikap semanis itu juga padaku?' pikir Yolla dalam batinnya yang sedang memperhatikan perhatian Sean pada Giselle.


Sungguh hatinya merasa sangat perih melihat perhatian dan kasih sayang Sean kepada Giselle yang setulus itu.

__ADS_1


"Sel, semangat ya! Lo jangan tegang, operasinya pasti lancar." seru Nadhira yang juga memberi semangat kepada sahabatnya itu.


"Iya, Sel. Kamu jangan tegang ya, kamu pasti kuat, kamu pasti sehat lagi setelah ini." tutur Gita yang juga ikut memberinya semangat.


"Semangat, Sel!" Yolla turut menyahut.


"Sudah ya ... Pasien akan kami bawa masuk sekarang, permisi!" ucap seorang perawat perempuan yang bergegas mendorong brankarnya bersama dua perawat laki-laki lainnya.


Mereka semua menunggu dengan wajah yang terlihat cemas.


Tiba-tiba saja ada sosok orang asing yang menghampiri Yolla.


"Yolla!!!" teriak Mike.


"Oh My God!" seru Yolla sambil mengurut pelipisnya.


Semua yang ada di sana memandangi sosok Mike, tak terkecuali Sean.


"Beib, itu kali ya gebetan bule Yolla yang dibilang Gita?" bisik Nadhira pada Alex.


"Mana aku tau!" ketus Alex pada kekasihnya yang sedang memandangi Mike. Ya, pasti saat ini Alex sedang cemburu akut.


Yolla menghela nafasnya dengan kasar, dan menarik lengan Mike agak menjauh dari mereka.


"Aduh, Bule-Bule!!! Lo tuh udah gue bilang berapa kali sih? Jangan ikutin gue terus! Gue tuh kesel lo ikutin mulu tau nggak!" omel Yolla yang jelas saja membuat Mike tidak mengerti ucapannya, Mike hanya mengerti bahwa Yolla sedang marah saat ini.


"What are you saying, Yolla?"


"Lo nggak ngerti kan gue ngomong apa? Bagus kalau lo nggak ngerti!" ocehnya lagi.


"Pfffftt," Nadhira dan Alex menahan tawanya mendengar perkataan Yolla pada Mike yang terlihat konyol, bahkan Sean pun ikut menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Yolla yang kalau sedang mengomel memang selalu membuatnya merasa gemas saat dulu.


Rupanya percuma Yolla membawa Mike agak menjauh, nyatanya suara omelannya masih terdengar oleh mereka.


Gita yang melihat dan mendengar omelan Yolla pada Mike dan melihat wajah Mike yang kebingungan, merasa iba pada Mike, ia pun menghampiri Yolla dan Mike untuk membantu Mike mengatasi sahabatnya yang keras kepala seperti batu itu.


"Ck.. Ck.." Gita menggelengkan kepalanya, "Sayang, ayo samperin mereka, itu Yolla ngomel-ngomelin dia kaya gitu, kasian banget aku lihatnya, nggak tega!"


Zico hanya mengikutinya di belakang Gita yang sedang berjalan terburu-buru.


Gita menarik Yolla menjauh dari Mike, sedangkan Zico menghampiri Mike dan sedikit berbincang dengannya.


"La! Lo kebangetan banget deh! Kasian tahu dia mukanya kebingungan gitu." tegur Gita mengerutkan dahinya.


"Abisnya gue kesal banget sama dia, Git! Maunya ngikutin gue mulu!" oceh Yolla yang masih mengerucutkan bibirnya.


"La! Dia itu kan tujuannya jauh-jauh datang ke sini karena memang mau ketemu lo, jadi ya pasti lah dia maunya sama lo terus, dia kan di sini nggak ada siapa-siapa, kan? Jadi ya pasti cuma lo yang dia cari." tutur Gita panjang kali lebar menceramahi sahabatnya itu.


"Tapi, Git ...," kilah Yolla.


"Cukup ya, La! Nggak ada tapi-tapian! kasian dia, bersikaplah sedikit lebih ramah sama dia, jangan sampai nanti lo nyesel seperti dulu." Mendengar perkataan Gita membuat Yolla luluh, ia pun jadi merasa menyesal dan merasa iba melihat wajah Mike yang kebingungan.


"Sorry, Mike!" Yolla meminta maaf pada Mike tapi masih dengan nada ketusnya.


"Aku minta maaf, Yolla!" Ucap Mike dengan logat bulenya.


Ya, Mike bahkan belajar bahasa Indonesia hanya karena dia ingin Yolla merasa nyaman saat berada di dekatnya tanpa menggunakan bahasa Inggris apalagi Prancis.


Karena ternyata Yolla memang seperti itu, setiap mengomel pada Mike, pasti saja dia menggunakan bahasa indonesia tanpa mau memberi tahu arti dari perkataannya pada Mike.


"Iya!" Ketus Yolla lagi dan berlenggang pergi menghampiri Nadhira dan duduk di sampingnya.


"Come on, Mike!" Ajak Zico.

__ADS_1


Mike pun mengangguk dan mengikuti Zico.


"La, lo ternyata konyol juga ya!" Kekeh Nadhira berbisik pada Yolla.


"Hehe..." Yolla hanya menunjukan barisan giginya yang putih.


Setelah 5 jam berlalu, dr. Felix keluar dari ruang operasi.


"Uncle, gimana keadaan Giselle?" tanya Gita yang bergegas menghampiri dr.Felix saat baru keluar dari ruang operasi.


"Kamu tenang aja ya, operasinya berjalan lancar kok, Kita hanya perlu menunggu sampai kesadaran Giselle kembali." ucap dr.Felix sambil memegang sebelah bahu Gita.


Semua yang ada di ruangan itu terlihat bahagia mendengar perkataan dr.Felix, Akhirnya mereka bisa bernafas lega saat ini.


***


Dua minggu kemudian di dalam ruang VIP tempat Giselle di rawat...


Seperti biasa mereka semua berkumpul di ruangan Giselle setelah menyelesaikan jam kuliahnya, termasuk Yolla dan Mike yang juga ikut berkumpul di ruangan itu.


Mike sekarang sudah banyak belajar bahasa Indonesia dari Zico.


Sean terlihat sangat telaten dalam merawat Giselle, ia terlihat begitu perhatian dan kasih sayang, Giselle yang sekarang sudah melihat kalau Yolla selalu membawa Mike, menjadi tak khawatir lagi mengenai masa lalu tentang Yolla dan Sean.


"Sel, Lo cepetan pulih ya! Nanti kita pergi camping kemana gitu, kita kan ada 4 pasang nih, pasti seru banget deh!" seru Nadhira.


"Boleh juga ide kamu, Beib!" Alex menimpali.


"Hei! Giselle itu baru boleh menjalankan aktifitas yang berat itu nanti setelah empat sampai enam minggu, kalau sekarang belum bisa lah, apalagi camping, pasti kan jalannya sedikit mendaki." sahut Gita turut menimpali.


"Iya, lagian gue juga udah mau balik ke paris, Ra." Ucap Yolla tersenyum memaksa.


Sebenarnya liburan Yolla masih lama dan ia pun masih ingin berlama-lama di negara asalnya ini, tapi ia sudah tidak tahan melihat perhatian-perhatian Sean pada Giselle, hatinya selalu terasa perih seperti luka sayat yang disirami alkohol. Ya, sangat perih. Ia ingin segera move on dari Sean dan mulai membuka hatinya untuk ... Mike.


"Lho, La! Kata lo liburannya 2 bulan? Kok udah mau balik aja? Baru juga 2 minggu lo di sini!" tanya Gita dengan dahinya yang berkerut.


"Mmmm ... Itu ... Mike! Orangtua Mike memintanya pulang, jadi mau nggak mau dia harus pulang." bohong Yolla sembari menggaruk alisnya yang tak gatal dengan jari telunjuknya, dan menatap mata Mike memberikan Mike kode untuk mengiyakan perkataannya yang membuat Mike pun mengangguk.


"Tapi lo kan bisa pulang nanti, La! Kita baru hang out sekali lho, La! lo tega sama gue!" cebik Gita yang benar-benar kecewa pada sahabatnya itu, ia melihat kebohongan di kedua netra Yolla.


"Sorry ya, Git! Besok deh! Gimana kalau besok kita hang out lagi?" bujuk Yolla melihat Gita yang mengerucutkan bibirnya.


"Nggak bisa! gue besok ada jam kuliah dan praktek sampai sore!" ketus Gita.


Mendengar penolakkan Gita ia pun hanya bisa terdiam.


'Maafin gue ya, Git! Gue nggak bisa di sini terus, gue nggak kuat lihat Sean dan Giselle, Git! Gue nggak sanggup! Ternyata cinta pertama itu sangat sulit untuk terhapus dari hati kita, Git!' Ucap Yolla pada batinnya dengan netranya yang sudah mengembun, ia merasa air matanya sudah tak tertahan ingin tumpah, ia pun memutuskan untuk pamit ke luar.


"Guys, Sorry ya! Gue ke bawah sebentar cari minuman." pamit Yolla sembari bergegas berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Mike begitu saja, Mike pun bergegas menyusulnya.


"Maaf, Guys! Aku ... ikut Yolla,ya!" ucap Mike yang mulai belajar mengucapkannya dengan bahasa Indonesia.


Mereka pun hanya mengangguk.


"Git! Yolla terlihat seperti mau nangis deh! Matanya aja udah mengembun gitu tadi." cetus Nadhira.


Gita terdiam membenarkan perkataan Nadhira.


"Maaf! Gue susul Yolla ya sebentar!"  pamit Gita pula, ia pun bergegas berlari menyusul Yolla.


Sean yang turut mendengar perkataan Nadhira pun entah mengapa ikut mengkhawatirkan Yolla.


'Kenapa perasaan gue jadi kaya gini ya?'

__ADS_1


BERSAMBUNG...


____________________________________________________________________


__ADS_2