First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kemarahan Yolla


__ADS_3

"Eh ada Nyonya Gita! Silahkan, Nyonya!" ucap Sean membukakan pintu mobil untuk Gita sambil nyengir seperti kuda.


"Apa sih!" jawab Gita ketus mengerucutkan bibirnya sambil masuk ke dalam mobil.


Zico tersenyum melihat Gita, Zico selalu merasa gemas saat Gita mengerucutkan bibirnya seperti itu. Kalau bukan karena takut Gita marah, ia pasti sudah menyam bar bibir Gita saat ini juga.


"Sayang, dimakan dulu sandwich-nya, kamu kan belum sarapan," ucap Zico menatap Gita.


"Iya!" sahut Gita ketus.


"Ekhemm, Ekhemm ... udah sayang-sayangan lagi aja, udah balikan nih ceritanya? Langsung married kali nggak usah pake pacar-pacaran lagi, udah ada anak-anak juga!" goda Sean sambil menyetir.


"Maunya sih gitu, hari ini juga gue nikahin dia kalau dianya siap, tapi dianya yang nggak mau," sahut Zico.


"Lagian siapa bilang balikan? Kamu nya aja yang panggil aku sayang-sayang terus, udah aku larang juga kamu nya ngeyel!" sahut Gita ketus.


Cup!


"Zico!!!" sentak Gita saat Zico tiba-tiba mencium pipinya.


Sean tertawa melihat tingkah Zico dari kaca spion.


"Nggak apa-apa, Zi. Sosor aja terus, nanti juga luluh," goda Sean lagi.


Gita pun menggeser tubuhnya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, ia malas berdekatan dengan Zico.


"Iya-iya Maaf, Sayang. Udah cepetan dimakan dulu itu sarapannya," bujuk Zico.


"Males! Nggak mood!" sahut Gita tanpa menoleh.


"Say ...,"


"Stop ya, Zi! Awas kamu kalau nanti di kantor panggil aku sayang-sayang, aku bawa pergi lagi anak-anak!"


"Iiih serem ancemannya!" cetus Sean.


"Tau nih! Jangan ngancam kayak gitu dong, kamu sama anak-anak tuh segalanya buat aku, kalau kamu pergi lagi, jangan harap aku masih ada di dunia ini! Mending aku mati!"


"Dih, apaan sih kamu, kok gitu ngomongnya?" ucap Gita memicingkan matanya pada Zico.


"Beneran lho, Git! Waktu lo pergi kan dia sempat OD gara-gara kebanyakan minum obat penenang, untung aja keburu ketahuan sama Mommy! Kalau nggak, belum tentu lo sama anak-anak lo bisa ketemu dia sekarang!" bohong Sean sambil menahan tawanya.


"Nih anak, kebangetan banget bohongnya!" gerutu Zico dalam batinnya.


"Maaf," lagi-lagi Gita menitihkan air matanya karena rasa bersalahnya.


Zico menghadap dan menatap Gita lalu menghapus air matanya.


"Udah jangan dengerin Sean, ya!" ucap Zico mencoba menenangkan Gita, lalu ia menendang kursi yang ada di hadapannya, kursi pengemudi yang di duduki Sean hingga Sean tersentak.


"Oya, Sayang. Zayn tuh memang seperti itu ya sikapnya?" tanya Zico mencoba mencairkan suasana.


"Kenapa, Zi? Sama banget kan kaya lo! Ahahaha," ejek Sean terbahak, ia benar-benar tidak ada jeranya walaupun kursinya tadi sudah ditendang Zico. Tapi kali ini Zico tidak sampai menendang kursinya lagi, ia memang merasa kalau Zayn sangat mirip dengannya.


"Nyamber aja sih lo kaya bensin!" ketus Zico.


"Iya bener, Sean. Memang mirip banget sama Zico, nggak cuma wajahnya, sikapnya pun sama persis!"


"Iya, udah kaya kloningannya Zico ya, Git."

__ADS_1


"Eemm... Udah gitu yang anehnya dia malah ngira itu anak Kenzo, mirip aja nggak sama Kenzo!" sindir Gita.


"Ya lagian, kamu udah kaya keluarga bahagia pas lagi di depan lobi kantor di antar dia!" balas Zico.


"Udah udah, jangan di bahas lagi! baru juga baikan lo pada!" tegur Sean.


"Lo yang mulai!" sahut Zico ketus.


"Sorry sorry!" sahut Sean.


Mereka pun terdiam sejenak.


"Sayang, dimakan itu sandwich nya, nanti meetingnya pasti lama lho, belum lagi habis meeting kamu harus bikin laporan 'kan?" tegur Zico melihat Gita yang tak kunjung menyantap sarapannya.


"Aku belum lapar, Zi," sahut Gita.


"Paksain lah, nanti kalau habis meeting kamu nggak sempat makan gimana?"


Gita menghela kasar nafasnya.


"Iya-iya!"


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama 1 jam 40 menit, mereka pun hampir tiba di kantor, namun Gita mendadak minta berhenti di halte depan gedung tower Biantara Group, karena ia tak ingin para pegawai di perusahaan itu tahu tentang hubungannya dengan Zico.


Setelah perdebatan yang lumayan panjang akhirnya Zico mengizinkan Gita turun di halte.


Gita pun meminta Zico untuk bersikap profesional dan menjaga jarak dengannya jika sedang berada di perusahaan.


Setelah menyelesaikan meetingnya dan keluar dari ruangan meeting tersebut, tiba-tiba saja Vino menghampiri Gita, ia menyapanya lalu berbincang dengan Gita sambil tertawa-tawa.


Zico yang melihatnya pun merasa panas saat melihatnya, namun ia sudah berjanji pada Gita untuk menjaga jarak dengannya saat di kantor.


Zico : Sayang, kamu ngobrolin apa sih? sampe ketawa-tawa gitu sama si mata empat!


Gita : Apa sih, Zi?! Cuma ngobrol biasa doang!


Zico : Udahan ngobrolnya! Panas banget aku liatnya!


Gita : ???


Dan ternyata bukan hanya Zico yang sedang memperhatikan mereka. Di sisi lain pun ada dua pasang mata yang juga sedang memperhatikan Vino dan Gita.


Ia adalah Anya, tunangan Vino. Anya adalah manager accounting di perusahaan itu.


"Kenapa sih dia bisa jadi sekretaris eksekutif di sini? Masa iya baru masuk langsung jadi sekretaris eksekutif, biasanya dari orang-orang lama yang diseleksi, pasti ada sesuatu nih," bisik Fani kepada Anya. Fani adalah sahabat Anya yang juga merupakan seorang staff marketing di perusahaan itu.


"Katanya sih karena dia lulusan luar negeri, dan pengalamannya pun dari perusahaan besar gitu di paris," sahut Anya.


"Lo nggak cemburu Nya liat Vino akrab banget gitu sama dia?" hasut Fani lagi.


"Nggak usah ditanya!"


"Terus kenapa lo diam aja?"


"Nanti Vino bisa marah sama gue! Soalnya dia kemarin udah jelasin sama gue, kalau dia tuh cuma temen SMA nya," tutur Anya.


"Oooh ... ya udah, gue ke ruangan gue dulu ya, bentar lagi ada visit keluar soalnya," pamit Fani lalu meninggalkan Anya dan pergi ke ruangannya.


Anya pun ikut kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Vino kembali ke ruangannya setelah Gita pamit pada Vino bahwa ia ingin segera menyelesaikan laporannya.


***


Dua jam pun berlalu, Gita telah selesai mengerjakan semua laporannya. Ia membuka ponselnya, ia terkejut karena ternyata ia mendapatkan banyak panggilan tak terjawab dari Yolla.


Ia pun segera menelpon Yolla setelah ia masuk ke ruangannya.


"Hallo, La?"


(Lo sama anak-anak di mana sih?!)


"Gue di kantor, La!"


(Terus anak-anak di mana?)


"Mereka di ...,"


(Di mana?!)


"Di rumah ... Zico, La,"


(What's?! Terus lo juga tidur di sana?!)


"I-iya, La,"


(Nggak bisa! Lo harus ajak anak-anak pulang hari ini, kita ajak anak-anak tinggal di rumah gue aja, gue udah bilang sama Mama tentang anak-anak, pokoknya lo tinggal di rumah gue aja!)


"Tapi kan La, biar gimana pun juga mereka kan darah dagingnya."


(Daebak! Lo benar-benar ya, Git! Dia itu udah bilang lo ******! Lo maafin dia begitu aja?)


"Tapi kan gue juga salah, La. Kalau gue hari itu langsung nemuin dia, pasti dia juga nggak akan salah paham sama gue,"


(Terserah lo deh!)


Yolla pun memutuskan panggilannya sepihak, karena merasa kesal pada Gita yang semudah itu memaafkan Zico, sedangkan dirinya saja masih merasa sakit hati atas ucapan Zico tempo hari.


"Yaaah ... dia ngambek," lirih Gita.


Ia sudah tahu kalau Yolla pasti akan marah padanya seperti ini, oleh karena itu sejak kemarin malam ia tak berani membalas pesan dari Yolla.


Drrrt ... Drrrt ...


Ponsel Gita bergetar, ada panggilan masuk dari Zico.


"Heumm???" sahutnya malas.


(Kamu udah selesai, Sayang? Aku udah tunggu kamu di depan nih!)


"Aku naik taksi aja!" tolak Gita ketus. Ia masih merasa kesal pada Zico karena pesannya tadi siang saat ia sedang berbincang dengan Vino.


(Kalau kamu nggak mau pulang sama aku, sekarang juga aku samperin kamu ke ruangan kamu, ya?) ancam Zico.


"Yaudah iya-iya! Tapi di halte aja! Jangan di lobby!" omel Gita.


(Okay, Sayangku!)


Gita menghembuskan nafasnya kasar dan memutuskan panggilannya. Setelah berganti pakaian. Ia pun bersiap untuk pulang dan berjalan sendirian ingin menghampiri Zico yang sudah menunggu di haltenya.

__ADS_1


Namun, saat baru saja ia sampai di lobi, ternyata ada Kenzo yang sudah menunggunya.


__ADS_2