
***
Gita telah tiba di gerbang sekolah kedua buah hatinya dengan menggunakan taksi online. Dengan tergesa ia pun bergegas turun dari taksi itu karena ia merasa kalau dirinya sudah terlambat menjemput anak-anaknya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah. Namun, saat sedang berjalan tiba-tiba saja ia melihat sosok pria yang dicintainya sedang menggendong sang putri, Zefa. Sedangkan Zayn sedang digendong oleh daddy Austin.
"Mommy!!!" panggil Zefa setengah berteriak dengan suara khasnya yang nyaring.
Mendengar panggilan sang putri, ia pun berlari kecil menghampirinya.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya Gita sambil mengatur nafasnya perlahan.
"Memang kenapa kalau aku di sini? Kamu berharap dia yang ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Gita, ia malah membuat Gita semakin merasa kesal. Gita hanya mendengus kesal sambil memutar bola matanya, malas meladeni Zico yang sedang cemburu buta seperti itu.
Flashback On
Drrtt... Drrrt... Drrtt...
Suara getar ponselnya membangunkan Zico dari tidurnya. Ia pun meraba meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya dengan mata yang masih terpejam.
"Hallo?" jawab Zico dengan suara parau khas bangun tidur, bahkan kelopak matanya pun masih terpejam.
(Son! Kamu di mana? Kok suara kamu seperti baru bangun tidur?) tanya mommy Celine dari seberang telpon.
Ya, memang yang menelpon Zico adalah mommy Celine, karena Zico semalam tidak pulang ke rumahnya, ia pulang ke apartemennya. Sejak tidak ada Gita, Zico memang mulai tinggal di apartemen, karena ia sering sekali pulang dalam keadaan mabuk. Jadi, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen saja. Kemarin pun ia pulang ke rumahnya hanya karena ada Gita dan anak-anaknya yang menginap di sana, oleh karena itu ia tidur di rumahnya.
"Zico di apartemen, Mom. Kenapa, Mom?" tanya Zico.
(Lho? Kamu nggak antar anak-anak pergi ke sekolah? Ini hari pertama mereka pergi ke sekolah, lho! Kamu bener-bener keterlaluan, Son!) omel mommy Celine.
"Astaga, Mom. Zico lupa!" seru Zico yang seketika membelalakkan matanya dan bangkit dari tempat tidurnya.
(Aiishh ... Kamu ini! Ya sudah, nanti jam 11 jemput anak-anak di sekolahnya, ya! Mommy dan Daddy juga nanti ke sana, kita bertemu di sana!) ujar mommy Celine.
"Okay, Mom!"
Zico pun mengakhiri panggilannya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi.
__ADS_1
Flashback Off
"Mom, Dad," sapa Gita sambil menyalaminya.
"Kamu lelah, ya? Sampai keringetan gitu?" tanya mommy Celine melihat dahi Gita yang berkeringat.
"Enggak kok, Mom. Ini gara-gara barusan lari. Udah lama nggak olahraga jadi gini, deh," jawab Gita mencoba tersenyum, padahal hatinya sedang merasa kesal pada Zico.
"Ooh, ya udah terus gimana nih? Mommy sama Daddy langsung bawa pulang anak-anak ke rumah nggak apa-apa kan, Sayang?" tanya mommy Celine.
"Mom, apa nggak ngerepotin Mommy sama Daddy, ya?"
"Tentu saja tidak! Mereka kan cucu kami!" tegas daddy Austin.
"Iya, Sayang. Kamu jangan ngomong gitu terus, ya? Kami sama sekali tidak merasa direpotkan, kami sangat senang ada mereka di rumah. Lagi pula itu kan rumah mereka juga," ujar mommy Celine menimpali.
"Tapi, Mom. Gita belum bisa dapet baby sitter-nya."
"Kamu tenang aja, Zico udah dapetin baby sitter-nya, kok. Mereka sudah ada di rumah kami sejak tadi pagi," tutur mommy Celine tersenyum.
"Mereka?" seru Gita mengernyitkan dahi.
Gita menghela nafas panjang sambil melirik Zico, namun Zico menatapnya dingin.
"Zefa, Zayn ... selama Mommy di rumah sakit, kalian sama Genma Genpa dulu, ya? Nanti sore Mommy jemput kalian, okay?" tutur Gita.
"Baik, Mom!" jawab sang anak serempak.
Setelah kedua buah hatinya dibawa oleh mommy Celine dan daddy Austin, Gita pun segera membuka ponselnya hendak memesan taksi online. Ia ingin mampir ke kantor Yolla untuk membujuk Yolla yang sedang merajuk. Zico terus memperhatikan Gita yang sedari tadi mengacuhkannya. Padahal ia masih berdiri di sebelahnya. Karena merasa kesal melihat Gita yang terus fokus pada ponselnya, Zico pun menarik Gita ke parkiran.
"Iiishh, kamu tuh kenapa, sih?" sentak Gita sambil menghempaskan kasar tangan Zico.
"Kamu yang kenapa? Aku dari tadi ada di sebelah kamu tapi dicuekin!" balas Zico.
"Lho? Kan kamu lagi marah sama aku, ya udah ngapain juga aku tegur kamu! Di tegur juga jawabnya malah nggak enak, kok!" cibir Gita.
__ADS_1
"Udah cepetan kamu masuk! Kamu nggak malu dilihatin orang-orang?" titah Zico dengan suara agak rendah sambil melihat ke sekitar.
Gita mendengus kesal kemudian masuk ke dalam mobil Zico yang pintunya sudah dibukakan oleh sang empu.
Setelah mereka memakai seatbelt-nya masing-masing, Zico pun memulai percakapan di antara mereka.
"Kamu langsung ke rumah sakit atau mau ke mana?"
"Aku mau ke kantor Yolla!" sahut Gita singkat, tanpa menatap Zico dan hanya memandang ke arah kiri jalan.
"Ya udah biar aku temenin, ya?" ucap Zico sambil melajukan mobilnya menuju ke arah kantor Yolla sesuai dengan keinginan Gita.
"Emang kamu nggak sibuk apa?" ketus Gita.
"Aku ke kantornya nanti, kok. Jam dua aku ada meeting di kantor pusat," jawab Zico sambil melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Sekarang kan baru jam setengah 12, masih banyak waktu, kok," lanjutnya.
"Oh!" sahut Gita singkat.
Mereka hanya saling diam satu sama lain sepanjang perjalanan. Ketika tiba di parkiran yang ada di basemen tower perusahaan milik Yolla, Gita segera melepaskan seatbelt nya dan hendak menarik tuas pintu mobil. Namun, ternyata Zico masih mengunci pintu mobilnya. Membuat Gita mendengus kesal dan mengerucutkan bibir sambil bersedekap melipat tangannya di depan dada.
Zico yang melihat itu pun segera mendekatkan tubuhnya, dipegangnya dagu Gita dan di arahkan kepadanya, dan seperti biasa, Zico melu mat bibir manis Gita beberapa detik kemudian dilepasnya.
"Masih mau manyun?" goda Zico tersenyum.
Namun Gita masih saja mengerucutkan bibirnya lagi, membuat Zico melu matnya lagi lebih lama dibandingkan sebelumnya. Zico melu matnya begitu lembut, dan seperti biasa, Gita terbuai akan sentuhan bibir Zico yang terus melu mat bibirnya dan juga li dah Zico yang mulai melesak masuk ke dalam mulutnya. Gita membalasnya melu mat bibir bawah Zico, ia begitu menikmatinya sampai menghadapkan tubuhnya ke arah Zico dan memejamkan matanya sambil membe lai tengkuk Zico, Zico yang merasa berhasil telah membuat luluh Gita pun tersenyum di tengah-tengah ciu mannya, kemudian terus melanjutkan ciu man mereka sampai Gita tiba-tiba menghentikannya karena ponselnya yang terus bergetar. Mereka pun melepaskan ciu mannya dengan nafas yang masih memburu.
Gita mulai mengatur nafasnya dan segera mengangkat panggilan di ponselnya.
"Ha ...," sapa Gita terpotong.
(Lo kebangetan banget, sih? Gue lagi marah juga nggak ada sama sekali telpon gue!) omel Yolla memotong kalimat Gita dari sebrang telpon.
Yolla yang merasa kesal pada Gita karena tidak ada kabar berita sama sekali sejak dirinya marah, akhirnya memutuskan untuk mengomeli Gita.
Gita pun tersenyum mendengar sahabatnya itu mengomel.
__ADS_1
"Iya, Sayangku ... Maaf-maaf!" sahut Gita terkekeh pelan.
Mendengar Gita mengatakan Sayangku kepada seseorang di sebrang telpon membuat Zico menatap tajam Gita. Dirinya saja belum pernah mendengar Gita mengucapkan kata seperti itu untuknya. Tapi Gita mengucapkannya kepada seseorang yang Zico belum tahu siapa orang di sebrang telpon itu.