First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Mimpi?


__ADS_3

"Sayang, kamu dengar itu, 'kan? Zayn panggil kamu Daddy. Itu kan yang selama ini kamu tunggu-tunggu? Ayo bangun, Sayang. Aku mohon kamu bangun," tutur Gita menggoyang-goyangkan tubuh Zico sambil menatap matanya dan menggenggam jemarinya, berharap ada sedikit gerakan di sana.


Zayn membelai dan mencium pipi Zico.


"De-detak jantungnya kembali, Dok!" teriak seorang perawat yang sedang berdiri di dekat monitor.


Suara dari monitor itu tiba-tiba menunjukkan kalau detak jantung Zico telah kembali lagi. Jemarinya yang di pegang Gita pun mulai bergerak kembali.


"Jarinya ada gerakan lagi, Kak!" teriak Gita pada dokter Gerald sambil memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Zico.


Gerald segera memeriksa keadaannya lagi. Dan benar saja, Zico telah kembali ke dunia.


"Zayn ... Zayn terus ajak bicara Daddy, ya. Biar Daddy cepet bangun," pinta dokter Gerald pada keponakannya itu. Ia menyadari interaksi anaknya kepada Zico membuat Zico kembali ke dunia ini. Namun, Zico harus segera sadar, karena jika tidak, ia bisa anfal lagi kapan saja. Yang dapat memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja, hanyalah kesadarannya.


Zayn pun menganggukkan kepalanya sambil menyeka air matanya sendiri.


"Daddy, Daddy bangun, ya. Zayn sayang sama Daddy. Zayn janji nggak akan marah-marah lagi sama Daddy," ucap Zayn sambil menangis lagi.


Zefa ikut menangis melihat sang kakak yang sedang menangis. Apalagi mommy dan genma nya pun sedang menangis terisak.


"Daddy ... Jepa juga cayang cama Daddy. Jepa kangen mau main cama Daddy. Jepa janji Jepa nggak akan cengeng lagi, Daddy," tutur si cadel Zefa.


Setelah kedua buah hatinya terus mengajaknya berbicara, Gita merasakan jika gerakan jemari Zico semakin banyak, tadi Zico hanya menggerakkan jari tengahnya saja. Namun sekarang Zico sudah mulai menggenggam lemah jemari Gita.


"Kak, gerak lagi, Kak!" seru Gita terlihat antusias, sedikit senyuman terulas di wajah sembabnya.


Dokter Gerald pun memeriksa mata Zico dengan membuka sedikit kelopak matanya. Memang terdapat tanda-tanda Zico akan mulai tersadar dari tidur panjangnya.


Ia pun mempunyai ide bagus untuk merangsang kesadaran Zico. Ia membisikkan sesuatu kepada Zayn.


"Zayn, kamu tenang aja, nanti kalo Daddy kamu nggak bangun lagi, Uncle mau kok gantiin jadi Daddy kamu," ujar Gerald yang memang memiliki sifat usil dan paling senang menjahili Zico.


Gita yang mendengar ucapan Gerald pun menampakkan wajahnya yang penuh amarah, ia benar-benar merasa kesal mendengar ucapan Gerald.


Menyadari raut wajah Gita yang penuh amarah, Gerald pun segera memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri sambil mengedipkan matanya.


Benar saja, bola mata Zico mulai bergerak, terlihat dari kelopak matanya yang terpejam. Alisnya pun mulai sedikit berkedut.


Gita pun mulai mengikuti alur Gerald untuk terus merangsang kesadaran Zico.


"Liat aja kamu, Sayang. Kalo kamu nggak bangun, beneran aku bakal nikah sama Kak Gerald!" ancam Gita dengan suara agak kencang.


"Emmm ... atau Kenzo juga boleh, Git. Kan dia selama ini juga udah nunggu lo, Zefa sama Zayn juga sayang banget sama dia," cetus Yolla ikut menimpali.


Jemari Zico mulai menggenggam erat tangan Gita yang sejak tadi terus menggenggam tangannya. Genggamannya sangat erat seolah tak ingin Gita melepaskan genggamannya.


Gita terbelalak, ia memberi tahu semuanya tanpa bersuara, bahwa Zico telah memberikan refleks baru.


Mereka semua yang ada di ruangan mulai sedikit tersenyum sambil menatap mata Zico, berharap Zico akan segera membuka matanya.

__ADS_1


Benar saja, mata Zico mulai berkedut, dahinya pun mulai mengernyit. Zefa yang terus menatap Daddy nya sejak tadi, merasa kesal saat Zico mengernyitkan dahinya, seolah sedang berpura-pura tertidur.


"Daddy! Daddy jangan pula-pula bobo, dong! Kalo Daddy nggak bangun, Jepa nggak mau cayang Daddy lagi!" cetus Zefa mengomel pada sang Daddy sambil mencubit tangannya.


Semua yang ada di dalam ruangan menahan tawa mereka melihat tingkah Zefa yang lucu dengan bibirnya yang mengerucut.


"Euhmm," Zico mulai mengeluarkan suaranya dengan matanya yang masih saja terpejam. Sepertinya dia merasakan sakit akibat cubitan yang kencang dari sang putri.


"Sayang, buka mata kamu ya, Sayang. Ayo buka! Kita semua kangen banget sama kamu, Sayang," ucap Gita mencoba menuntun Zico agar segera membuka kelopak matanya.


Tidak berselang lama, akhirnya kelopak mata Zico pun mulai terbuka perlahan. Ia tatap langit-langit dengan pandangannya yang masih kabur. Kemudian ia melirik orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang pertama ia lihat adalah Zayn dan Zefa yang sedang duduk tepat di sisi kanan dan kiri kepalanya.


"Daddy!" seru Zayn dan Zefa serempak.


Gita pun seketika menciumi punggung tangan Zico berkali-kali.


Mereka semua akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat Zico tersadar dari tidur panjangnya. Lima minggu sudah Zico terbaring di ruang ICU itu.


Gerald meminta semuanya untuk menunggu di luar, hanya Gita yang diperbolehkan tetap di dalam, karena tangan Zico yang terus menggenggam erat tangan Gita.


Setelah sekitar dua jam kemudian, Zico mulai dipindahkan ke kamar rawat inap, tentunya di ruang VVIP.


Saat Zico dipindahkan, ternyata keluarganya, Yolla dan juga Sean sudah menunggu di sana.


"Daddy!" teriak Zefa menghampiri Zico yang baru saja tiba di ruang rawat inapnya itu.


"Daddy! Daddy belum bisa duduk?" tanya Zayn dengan matanya yang mengembun.


Zico terbelalak menatap Zayn lalu bergantian menatap Gita. Menatap penuh tanya pada Gita.


"A-Aku nggak salah denger 'kan, Sayang?" tanya Zico dengan mata yang mengembun.


Gita menggeleng pelan, "Enggak, Sayang ... memang kamu nggak denger tadi? Yang bikin kamu bangun kan karena Zayn panggil kamu Daddy, kamu langsung kasih refleks."


"Aku kira itu cuma mimpi."


"Mimpi?" Gita dan yang lainnya ikut tertawa.


"Terus berarti yang tadi bukan mimpi?" tanya Zico memicingkan matanya pada Gita.


"Tadi? Apaan maksudnya?"


"Tadi aku mimpi Gerald mau gantiin aku jadi Daddy nya anak-anak kita kalo aku nggak bangun-bangun."


Mereka yang ada di dalam ruangan itu pun terbahak serempak, tak terkecuali Gita dan Gerald.


"Kasian banget lo, Zi. Abis dibedah otak lo agak error," ejek Gerald.


"Jelas-jelas itu asli gue ngomong kaya gitu, bukan mimpi," lanjutnya sambil merangkul bahu Gita.

__ADS_1


Seketika Zico menarik tangan Gita agar menjauh dari Gerald.


"Jiaaah ... abis tidur lama kirain posesifnya ilang, ternyata sama aja," cetus Yolla sambil menggelengkan kepala.


Gerald yang baru sadar ada wanita cantik di ruangan itu pun menyapanya.


"Hei, Cantik! Nama kamu siapa?" sapa Gerald menggoda Yolla sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Yolla sebagai perempuan normal tentu saja terpesona melihat ketampanan Gerald yang terlihat seperti aktor korea Kim Bum.


"Nama aku Yolla, Dok," sahut Yolla tersenyum ramah, ia mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Gerald.


PLAKK!


Mendadak tangan Yolla di tepuk pelan oleh Sean.


"Iissh, maksud lo apa sih? Kenapa pukul tangan gue? Sakit tau!" omel Yolla menatap kesal pada Sean.


"Itu ada nyamuk tadi di tangan lo, makanya gue bunuh tuh nyamuk sebelum lo kegatelan," sahut Sean sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Nyamuk dari mana? Mana ada nyamuk di sini!" ketus Yolla mengerucutkan bibirnya sambil melirik sinis.


Gerald merasa tambah tertarik pada Yolla merasa gemas saat melihat Yolla mengomel seperti itu pada Sean.


"Parah emang lo, masa iya cewek cantik begini lo pukul tangannya. Ck ... Ck ..." sahut Gerald.


"Orang beneran tadi ada nyamuk, kok."


Gita yang memperhatikan mereka bertiga pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kamu makan, ya? Kamu mau makan apa? Nanti aku beliin," tawar Gita pada Zico sembari mengelus pipinya.


"Mommy, Jepa lapel," rengek Zefa. Zefa memang tidak pernah kuat menahan lapar.


"Nawarin Daddy kok kamu yang menyahut laper?" goda Gita terkekeh pelan sambil mencubit ujung hidung sang putri.


"Aku ikut Zefa aja, Sayang. Aku akan makan apapun yang Zefa makan," sahut Zico tersenyum.


"Okay, Sayang. Ya udah aku ke bawah dulu ya cari makanan sama Zefa. Zayn mau ikut nggak, Nak? Oya, Zayn mau makan apa?"


"Enggak, Mommy. Zayn mau jagain Daddy aja di sini," sahut Zayn membuat Zico lagi-lagi terharu saat mendengarnya.


Ia selalu menantikan momen itu, momen di saat putranya mau mengakuinya sebagai seorang ayah dan memanggilnya dengan sebutan daddy, bukan uncle.


"Sean, tolong lo sama Yolla temenin Gita ya ke bawah, gue nggak mau ada orang jahat yang kemarin mencoba mencelakai gue," ujar Zico meminta tolong pada Sean.


Sean dan Yolla pun beradu pandang, mereka merasa heran, padahal mereka belum menceritakan apapun tentang hal itu, bahkan Gita pun belum tau apapun tentang hal ini. Tapi rupanya Zico sudah mempunyai dugaannya sendiri.


"Maksud kamu apa, Sayang? Maksudnya kecelakaan yang menimpa kamu ini dilakukan secara sengaja?" tanya Gita terkejut. Ia selama ini tidak pernah mencari tahu tentang itu, ia benar-benar hanya fokus merawat Zico.

__ADS_1


__ADS_2