
Yolla memundurkan langkahnya saat Mike mencoba menghampirinya.
"Mike? A ... are you okay?" ucap Yolla gugup, ia tiba-tiba tergagap melihat Mike hanya memakai handuk putih yang melilit di pinggangnya.
"Why? You like it, right?" jawab Mike menyunggingkan senyumnya dengan tatapan merendahkan Yolla sambil terus melangkahkan kakinya menghampiri Yolla yang juga terus berjalan mundur.
"What do you mean, Mike?" kini Yolla benar-benar ketakutan, tubuhnya gemetar karena ketakutan pada Mike, tatapan mata Mike seperti binatang buas yang ingin menerkam mangsanya.
"Ka ... kamu ... Kamu mau apa, Mike?" ucap Yolla yang terus berjalan mundur sambil menoleh ke belakang, dan ternyata di belakangnya adalah ranjang king size yang berada di kamar hotel tersebut, dengan cepat Yolla berlari menuju pintu, namun ternyata pintu itu sudah terkunci dan Mike lah yang memegang kartu akses untuk membuka pintu itu.
Mike seketika menyambar bibir Yolla dengan sangat kasar, Yolla terus memukul-mukul dada Mike, namun Mike tak kunjung melepaskan Yolla, ia malah semakin kasar menghisap bibir Yolla.
Air mata Yolla pun mengalir di pipinya, membasahi wajah cantiknya, ia teringat akan peringatan Sean tadi siang sebelum Sean pergi meninggalkan kantornya dalam keadaan marah. Ia merasa sangat menyesal karena tidak mendengarkan perkataan Sean tentang Mike.
Yolla mulai mengatur nafasnya karena ujung hidungnya yang terasa pengap dan tidak bisa merasakan udara. Mendadak terlintas ide dalam pikiran Yolla, Yolla menggunakan sebelah lututnya untuk menghajar inti tubuh milik Mike.
"****!" Mike melepasnya dan memekik kesakitan, Yolla pun berlari ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
Dengan tangan yang gemetar, ia membuka sling bag miliknya dan mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi Sean.
"Han, tolong aku, aku ... aku ada di kamar hotel Mike ... Mike mau melecehkan aku, Han. Tolong aku," bisik Yolla sambil menangis terisak.
(****! Kamu sekarang di mana?) sahut Sean dari sebrang telponnya.
"Aku di dalam kamar mandi, Han. Aku kunci pintunya," bisik Yolla lagi.
__ADS_1
(Kamu yang tenang ya jangan panik, aku akan segera menyusul kamu ke sana, okay. Sekarang juga kamu share lokasi kamu ke HP aku,) pinta Sean.
Yolla pun mengirim lokasinya pada Sean.
"U ... udah, Han. Ka ... kamu cepetan ke sini, ya. Aku takut banget," ucap Yolla lagi semakin terisak.
(Iya, aku ini ada di dekat hotel itu, kok. Lima menit lagi aku sampai, kamu jangan matiin telfonnya, ya.)
"Iya, Han," jawab Yolla.
"Yolla! Open the door!" teriak Mike dari balik pintu toilet.
"Mike, aku mohon, kamu jangan seperti ini Mike, aku minta maaf kalau aku udah buat hati kamu sakit. Aku minta maaf, Mike," rengek Yolla dari dalam toilet.
Yolla benar-benar tidak menyangka ternyata Mike berubah drastis seperti ini saat hatinya terluka. Padahal sebelumnya Mike adalah pria yang sangat lembut, jangankan menciumnya secara paksa, membentaknya atau sekedar mendiamkan Yolla saja tidak pernah ia lakukan.
Yolla sadar, mungkin ketulusan Mike yang dibalas dengan kesakitan seperti ini yang membuatnya kehilangan akal, sehingga ia bisa melakukan hal nekat seperti saat ini.
"No, Mike! Aku nggak pernah melakukannya sama dia lebih dari kissing ... Mike, aku sayang sama kamu. Tapi rasa sayang aku hanya sebatas sahabat, Mike. Kamu sahabat terbaik aku. Maaf karena aku nggak bisa balas perasaan cinta kamu ke aku, tapi aku mohon Mike .... " Yolla terus memohon agar Mike memaafkannya. Ia benar-benar tidak mau kesuciannya terenggut secara paksa.
BRAKKK!!!
Mike mendobrak pintu kamar itu hingga terbuka lebar, untung saja Yolla berada di sisi bathtub, jadi ia tidak terkena pintu yang rusak setelah di dobrak oleh Mike itu.
Yolla menggeleng-gelengkan kepalanya ketakutan, tatapan Mike terlihat sangat memburu, sangat menakutkan bagi Yolla. Ia baru melihat sisi lain Mike hari ini. Dulu, jangankan seperti ini, sekedar merajuk pada Yolla saja Mike tidak pernah melakukannya.
__ADS_1
Mike menggendong paksa Yolla dengan membawa tubuh Yolla di sebelah bahunya kemudian melemparkannya ke atas ranjang. Yolla pun mencoba merangkak untuk kabur namun dengan cepat Mike mendorong tubuh Yolla kembali hingga Yolla terlentang, ia buka handuk yang melilit di pinggangnya hingga tubuhnya saat ini tak terhalang satu helai benang pun. Kemudian Mike mengungkung paksa Yolla, kedua telapak tangannya ia tempatkan di atas kepala Yolla di tahan menggunakan satu tangannya, dan mengunci tubuh Yolla. Kemudian menyambar bibir Yolla lagi.
"Eumph, eumppph!" Yolla terus berusaha memberontak dengan mengunci rapat bibirnya dan terus menggerak-gerakkan tubuhnya, namun Mike sengaja menggigit bibir ranumnya sehingga Yolla terpaksa membuka bibirnya, dengan leluasa lidah Mike mulai menautkan lidahnya pada lidah Yolla. Air mata Yolla terus mengalir di pipinya, ia benar-benar sangat menyesal tidak mendengarkan perkataan Sean tadi siang.
Setelah puas bermain di bibir Yolla, Mike pun mulai menyusuri leher Yolla dengan lidahnya, namun Yolla berteriak kencang meminta tolong.
"Tolong! Tolong!" teriak Yolla sekencang-kencangnya.
"Percuma, Baby. Sekencang apapun kamu berteriak, tidak akan ada yang bisa mendengar kamu, kamar ini kedap suara, Sayang," ucap Mike berbisik di ceruk leher Yolla.
"Mike, Please! Lepasin aku, Mike," lirih Yolla terisak.
"No, Baby. Kamu nikmati saja semua sentuhanku, aku akan membuat kamu menjadi tergila-gila padaku," bisik Mike lagi di daun telinga Yolla hingga membuat Yolla meremang.
Sebelah tangan Mike mulai membuka kancing blouse Yolla satu persatu hingga terpampang dua buah kehidupan milik Yolla yang masih terhalang oleh penutupnya.
"No! No, Mike. Please!" ucap Yolla terus menangis sambil menggelengkan kencang kepalanya.
Baru saja Mike ingin membuka pengait bra milik Yolla, terdengar suara bel, ada seseorang yang menekan tombol bel itu dari balik pintu.
Mike bangkit dan melepaskan kungkungannya, Yolla pun bangkit dan duduk di atas ranjang menutup bagian depan tubuhnya sambil menangis dan memeluk dirinya sendiri.
Mike memungut handuk yang tadi dipakainya yang tergeletak di atas lantai, kemudian berjalan ke arah pintu dan mengintipnya terlebih dulu dari balik pintu sebelum membukanya, setelah memastikan bahwa yang mendatanginya adalah salah seorang pegawai hotel, ia pun membuka pintunya.
Baru saja ia menekan handle pintunya, mendadak tubuhnya terjengkang karena ada seseorang yang telah menendang pintu itu begitu keras, hingga Mike yang berdiri di balik pintu pun terlempar dan tergeletak di atas lantai.
__ADS_1