
Tok... Tok... Tok...
"Zi!!! Ini, gue!" teriak Gerald dari balik pintu.
"Ck ..., Ngapain lagi sih tuh orang?!" cebik Zico.
"Sayang, kamu kenapa sih musuh banget sama Kak Gerald?" tanya Gita yang penasaran kenapa Zico terlihat sangat memusuhi Gerald.
"Dia nyebelin!" sahut Zico singkat.
"Zi!!! Lo sama Gita lagi ngapain sih?! Lama banget buka pintunya!!!" teriak Gerald lagi.
"Tuh, kan! Nyebelin kan mulut dia tuh kalo ngomong!" Gerutu Zico pada Gita.
"Ya udah buka aja sih pintunya, nanti Mami Papi denger teriakan Kak Gerald disangkanya kita beneran ngapa-ngapain lho!" bujuk Gita.
"Memang tadi kita abis ngapa-ngapain, kan?" goda Zico memperlihatkan barisan giginya yang rapih sambil menaik-naikkan alisnya.
PLAAKKK!!!
"Iissh! Kamu!" cebik Gita memukul paha Zico, lalu melanjutkan, "Ya udah, aku bukain ya pintunya? Nggak apa-apa, kan?" tanya Gita hati-hati takut kekasihnya yang super pencemburu itu berpikir macam-macam.
"Jangan! Aku aja yg buka! Kamu rapihin aja rambut kamu, Sayang," titah Zico melihat rambut Gita yang berantakan.
"Zico!!!"
Ceklek...
"Aakkkh!!!" pekik Zico yang tak sengaja terkena ketukan tangan Gerald, karena saat Gerald hendak mengetuk pintu lagi, tiba-tiba Zico membuka pintunya. Jadi yang kena ketukan tangan Gerald adalah dahi Zico.
"Sorry Sorry, Zi!!! Gue nggak sengaja! Ahahaha!" Gerald malah menertawakan Zico.
"Sengaja kan, lo?!" ketus Zico.
"Sumpah gue nggak sengaja, Zi!" seru Gerald masih menertawakan Zico.
"Lo mau apa lagi sih ke sini?" tanya Zico kesal.
"Gue mau pamit pulang sama Gita." jawab Gerald dengan entengnya, padahal ia tahu ucapannya itu akan membuat Zico marah, tapi Gerald memang sengaja ingin membuat Zico marah, Gerald sangat senang melihat Zico marah-marah.
"Ciih! Ngapain lo pamit sama cewek gue, hah?" Zico mulai terlihat kesal.
"Dia kan junior gue di kampus! Kali aja nanti kalau lo berdua udah putus, Gita mau sama gue!" goda Gerald yang semakin menjadi membuat Zico kesal.
Zico seketika menarik kerah baju Gerald dan memukul wajah Gerald bertubi-tubi dengan kepalan tangannya.
Gita berusaha meredakan amarah Zico dengan memeluknya dari belakang, "Stop it, Sayang! Please!" Zico masih tidak mendengarkan permintaan Gita, ia masih saja menghajar Gerald.
"Zico! STOP!!!" teriak Gita kemudian terisak, ia sangat takut melihat Zico marah seperti ini, karena sejak menjadi kekasihnya, belum pernah sekalipun Gita melihat Zico emosi sampai seperti itu, Zico yang ia kenal selalu bersikap lembut padanya.
Mendengar teriakan Gita, Zico pun melepaskan Gerald, Gerald menyunggingkan senyumnya sembari menyeka darah yang ada disudut bibirnya.
Gita pun menyambar tas kecilnya kemudian berlari keluar dari kamar Zico.
__ADS_1
Saat sedang berlari, Gita tak sengaja menabrak Mommy Celine yang sedang berjalan dengan Daddy Austin menghampiri kamar Zico karena mendengar teriakan Gita barusan.
Menyadari bahwa yang ditabraknya adalah Mommy Celine, Gita pun seketika memeluknya.
"Gita? Kamu kenapa nangis, Sayang?" Mommy Celine melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Gita sembari menyeka air matanya, "Tadi kamu kenapa teriak? Kamu berantem sama Zico?" tanya Mommy Celine beruntun.
Zico yang tiba di sana pun segera menghampiri Gita, "Sayang, kamu mau pulang? Aku antar kamu, ya?" Zico memegang lengan Gita mencoba membujuknya, tapi ditepis kasar oleh Gita.
Keadaan Gerald yang keluar dari kamar Zico pun membuat Mommy Celine dan Daddy Austin lebih terkejut lagi.
"Gerald!!! Kenapa wajah kamu?! Zico! Kamu berkelahi dengan Gerald?!!" Sentak Daddy Austin.
"Biasalah, Uncle!" sahut Gerald santai.
"Zico!!! Minta maaf kamu pada Gerald!" titah Daddy Austin.
Zico diam saja tak menjawab, kali ini ia tak mau menuruti perintah papinya, ia benar-benar merasa sangat kesal pada semuanya, ia genggam pergelangan tangan Gita dan menarik nya agar mengikutinya berjalan, Zico hendak mengantarkannya pulang.
"Lepasin, Zico! Lepasin tangan aku! Sakit, Zico!!!" pekik Gita.
"Zico!!! Lepaskan tangan Gita!!!" sentak Daddy Austin, suara nya sampai menggema di dalam mansion mewahnya.
Zico melepaskan tangan Gita dan pergi begitu saja keluar dari mansionnya meninggalkan Gita.
Ia benar-benar merasa sangat kesal pada Gerald karena perkataannya yang terdengar seperti sedang menyumpahi ia putus dengan Gita.
Zico berpikir keberadaan Gerald hanya akan membuat hubungannya dengan Gita akan menjadi rumit nantinya.
Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, entah kemana tujuannya kali ini, ia hanya berputar-putar saja, saat menyadari bahwa dirinya tak ada tempat yang ingin dituju, ia pun menepikan mobilnya.
Zico menggebrak-gebrak setir mobilnya, ia merasa menyesal karena sudah meninggalkan Gita yang sedang menangis.
Ia pun mengemudikan mobilnya kembali ke mansionnya.
Tapi sayang, saat tiba di gerbang mansionnya mobil Zico berpapasan dengan mobil Gerald, Gerald sengaja membuka kaca mobilnya untuk memperlihatkan pada Zico kalau Gita duduk di sampingnya.
Sontak Zico pun menginjak rem mobilnya mendadak.
Ia tatap tajam Gita yang ada di dalam mobil Gerald, tapi Gita tak memandang ke arah Zico sedikitpun, ia hanya menatap lurus ke depan.
Melihat Gita mengabaikannya Zico pun mengemudikan kembali mobilnya dengan kecepatan penuh dan mengerem mendadak saat tiba didepan teras mansionnya sampai terdengar suara berdecit lalu menabrak sedikit belakang mobil maminya.
BRAAKKKK!!!
Mendengar suara ribut di depan membuat Mommy Celine, Daddy Austin dan bu Wati yang sedang berbincang di ruang keluarga pun beranjak keluar untuk melihat apa yang telah terjadi di luar.
"Ya, Tuhan! Zico!!!" sentak Mommy Celine, ia tak mengerti lagi kenapa emosi Zico menjadi seperti ini.
Zico mengabaikan siapapun yang ada di sana, ia masuk ke dalam mansionnya dengan dahinya yang berdarah akibat terbentur setir mobil saat dirinya mengerem mendadak tadi.
Ia masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya sangat kencang.
Ia duduk di atas ranjangnya dengan nafas yang memburu karena emosinya.
__ADS_1
"AAARRGGHHH!!!" teriak Zico sembari menjambak rambutnya sendiri, ia banting semua barang yang ada di atas nakasnya, termasuk ponselnya.
Tok... Tok... Tok...
"Son! Buka pintunya, Nak! Mommy mau bicara!" panggil Mommy Celine yang berusaha membujuk putra semata wayangnya itu.
Mommy Celine sangat tahu apa yang membuat Zico marah saat ini, pasti karena Gita pulang dengan Gerald tadi.
Sebetulnya tadi Gita pun sudah menolak saat Gerald menawarkannya mengantarkan pulang ke asramanya. Tapi karena Daddy Austin yang memaksa Gita agar pulang dengan Gerald, Gita pun tak berani menentangnya.
Mommy Celine menjadi sangat kesal saat ini pada suaminya itu, padahal tadi Mommy Celine sudah berusaha mencegah agar Gita tak pulang bersama Gerald, karena Mommy Celine khawatir jika Zico melihatnya, hanya akan menjadi menambah keributan saja nantinya.
Benar saja, apa yang dipikirkan Mommy Celine benar terjadi.
"Zico!!! Buka pintunya!!!" teriak Daddy Austin.
"Kamu bisa diam saja nggak?! Sudah sana pergi saja ke kamar! Aku yang akan membujuk Zico! Kamu di sini hanya membuat Zico bertambah emosi saja!" ketus Mommy Celine pada sang suami.
Daddy Austin yang melihat kedua netra sang istri sedang tersulut emosi pun hanya bisa menuruti perkataan istrinya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar saja.
"Zico! Mommy mau bicara, Nak! Tolong buka pintunya, ya? Daddy udah kembali ke kamar kok!" bujuk Mommy Celine lagi.
Ceklek...
Zico akhirnya membuka pintu untuk sang Mommy.
"Son! Kepala kamu luka, Sayang! Biar Mommy obati ya lukanya?" Mommy Celine pun mengambil kotak P3K yang ada di dalam almari Zico.
Ia mengobati luka putra kesayangannya itu.
"Son ... Mommy tau kamu marah pasti karena cemburu kan pada Gerald, kan?"
Zico hanya diam saja tak menjawabnya.
"Jawab dong, Nak. Mommy kan lagi bertanya sama kamu."
"Kalau Mommy sudah tau, kenapa tadi Mommy nggak mencegah Gita untuk pulang sama dia?" ketus Zico.
"Mommy sudah mencegahnya, Nak! Tapi Daddy mu itu yang memaksa Gita, padahal Gita pun sudah bersikeras menolaknya," tutur Mommy Celine.
Zico hanya menghembuskan kasar nafasnya.
"Sudahlah, Mom. Zico mau istirahat, Mommy bisa tinggalin Zico?" pinta Zico, ia benar-benar sedang malas berbincang dengan siapapun.
"Son ... Mommy cuma minta, kamu jangan kasar sama Gita, ya? Kamu nggak boleh bersikap kasar seperti itu pada Gita, kamu sayang kan sama dia?" pinta Mommy Celine.
"Mom, Please! Tolong tinggalin Zico sendiri! Zico mau istirahat, Mom!" tegas Zico. Ia benar-benar tak bisa menerima masukan apapun, karena hatinya benar-benar masih tersulut emosi.
"Ya sudah, kamu istirahat ya, Nak. Nanti malam Mommy antarkan makan malam kamu ke sini," tutur Mommy Celine.
"Mmmm!" jawab Zico singkat.
Setelah Mommy Celine keluar dari kamarnya, Zico membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Dirinya membayangkan saat-saat tadi ketika ia bermesraan dengan Gita sebelum adanya keributan itu.
"Kenapa sih kamu tadi menolak saat aku mau mengantarkan kamu pulang, dan malah mau pulang bersama si kadal itu?" gerutu Zico.