First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Backstreet?


__ADS_3

Gita hanya diam saja menunduk, ia hanya membatin, ‘Aduh Zico, kenapa dibahas sih, aku kan malu!’


“Kamu nggak marah kan?” Tanya Zico karena melihat Gita yang hanya diam saja.


“Enggak kok!” Sahut Gita singkat.


“Kamu udah selesai belum belajarnya?” Tanya Zico.


“Sedikit lagi sih, memangnya kenapa? Kamu ada butuh apa? Nanti aku ambilkan.” Tanya Gita balik.


Zico tersenyum melihat Gita yang mulai banyak bicara, “Aku nggak butuh apa-apa kok, Aku… cuma butuh... kamu!” Goda Zico sambil mencolek ujung hidung Gita dengan jari telunjuknya.


“iih kamu pinter banget gombal ya, yakin kamu belum pernah pacaran?” Tanya Gita curiga.


“Ya ampun, kamu masih nggak percaya kalau kamu pacar pertama aku hah?” Zico bertanya balik, ia berdiri dan menarik Gita dari tempat duduknya, “Ayo, kita ke Sean , kamu tanya sendiri sama dia.”


Sambil berjalan tertatih, ia menggenggam tangan Gita dan berjalan menuju ruangan khusus Zico dan teman-temannya main PS bersama di lantai bawah.


Gita hanya diam saja mengikuti Zico, tapi sambil berjalan otaknya terus berpikir, ‘Kalau Zico membahas ini sama Sean, nanti Sean bisa tau kalau kita jadian, terus nanti anak-anak disekolah bisa tau semua dong? Ah nggak boleh nggak boleh!’


Lantas Gita menahan langkahnya, Zico pun menghentikan langkahnya Berbalik ke arah Gita, “Kenapa? Kok berhenti? Ayo kita tanya Sean supaya kamu percaya sama aku kalau aku tuh nggak bohong!” Seru Zico dengan nada dinginnya.


“Iya aku percaya kok sama kamu, please ya Zico, nggak usah lah kita tanya ke Sean, nanti kalau Sean tau kita pacaran, anak-anak disekolah juga pasti bakal tau semua, aku nggak mau, cukup kita aja yang tau ya?” pinta Gita.


“Memang kenapa kalau anak-anak di sekolah tau?” Wajah Zico sudah menunjukkan kemarahan.


“Aku malu Zico.” Gita mengucapkannya pelan dan menunduk.


“Malu? Malu kenapa? Kamu malu jadi pacar aku?” Tanya Zico mulai terdengar emosi dan agak terdengar seperti membentak.


Mendengar Zico bicara seperti itu, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia paling tidak menyukai jika lawan bicaranya emosi, lebih baik ia meninggalkannya daripada terus meladeni.


“Bisa nggak kamu nggak usah emosi kaya gini? Aku nggak suka!” ketus Gita, ia berbalik dan setengah berlari ke kamar Zico untuk mengambil tasnya. Ketika keluar kamar, Zico sudah ada didepan pintu kamarnya.


Wajahnya terlihat menyesal, “Gita kamu mau kemana?” tanya Zico.


“Pulang!” Jawab Gita singkat dan mulai melangkahkan kakinya, tetapi Zico menggenggam tangan Gita dengan cepat.


“Gita jangan pulang! Please?” Zico memohon.


“Aku nggak suka ngomong sama orang yang suka emosi!” tegas Gita.


“Maaf Git, please maafin aku ya, aku cuma kesal kenapa kamu harus malu pacaran sama aku.” Ucap Zico.


“Aku itu cuma nggak mau jadi pusat perhatian orang-orang Zico, Tolong ngerti!”


“Terus kamu mau kita Backstreet gitu?”


“Iya!” jawab Gita singkat dan tegas.

__ADS_1


“Kalau aku nggak mau gimana?” tanya Zico tidak setuju dengan keinginan Gita.


“Ya kalau kamu nggak mau backstreet ya udah kita nggak usah pacaran!" Tegas Gita.


“Kamu kok gitu Git? Kamu sebenarnya sayang nggak sih sama aku? Kok semudah itu kamu ngomong seperti itu?” Zico balik ke mode dinginnya.


“Kalau aku nggak sayang sama kamu aku nggak mungkin terima kamu! Aku cuma butuh waktu Zico, please ngertiin aku!” sahut Gita dengan tegas.


Zico menghela nafas dengan kasar, “Okay! Tapi sampai kapan kamu mau kita Backstreet?” tanya Zico tak kalah tegas.


“Kasih aku waktu 1 bulan, setelah itu, terserah kamu!” pinta Gita.


“Okay! Cuma 1 bulan ya? Janji?” Jawab Zico.


“iya aku janji!” sahut Gita.


“Ya udah ayo kita balik ke kamar.” Zico menggenggam tangan Gita lagi menuntun kembali ke kamarnya.


Didalam kamar Zico meminta Gita duduk si sofa disudut kamarnya, Zico seketika rebahan disofa dan menaruh kepalanya di pangkuan Gita.


Gita seketika membelalakkan matanya, “Zico, jangan seperti ini ah! Nanti ada Mommy lho!”


“Tenang aja, Mommy kalau udah nyalon sama temennya, pasti pulangnya malam, soalnya sekalian shopping, belum lagi kalau dijemput Daddy, pasti dinner diluar dulu deh tuh berdua.” Zico tanpa sadar berbicara panjang lebar.


Gita yang melihat sisi lain dari Zico pun tersenyum, “Kamu ternyata bisa bawel juga ya?” seru Gita sembari mengelus pipi Zico dengan ibu jarinya.


Mereka banyak berbincang-bincang, sampai ada suara ketukan pintu.


Tok… Tok… Tok…


Gita refleks melepaskan tangannya dari genggaman Zico, dan mengangkat kepala Zico dari pangkuannya, Zico pun ikut refleks terbangun, dan ia pun sudah dalam keadaan duduk disebelah Gita saat Alex membuka pintu.


Alex, Kenzo dan Sean masuk ke kamar Zico, mereka semua heran melihat ekspresi Zico dan Gita yang terlihat seperti sedang tertangkap basah.


“Ahahahaha…” Alex dan Sean tertawa terbahak-bahak, sementara Kenzo hanya berjalan santai dan duduk di tepi ranjang Zico.


“Kenapa lo pada ketawa?” Tanya Zico.


“Lo berdua tuh yang kenapa? Kita masuk kok pada kaget gitu? Abis ngapain hayoo?” Goda Alex, Sean pun menimpali, “abis itu ya?” Sean memanyun-manyunkan bibirnya.


Zico seketika melempar bantal sofa yang dipegangnya ke wajah Sean , dan tepat mengenai wajah Sean .


Sean pun membalasnya dengan melemparkan balik bantal sofa itu.


Zico sangat kesal pada Sean , untungnya kaki Zico sedang sakit, jadi mereka hanya saling membalas melempar bantal itu, kalau tidak entah akan membalas apalagi Zico.


Alex tertawa melihat Sean dan Zico, begitupun juga Gita, ia merasa lucu ketika melihat Sean dan Zico yang seperti anak kecil.


“Lo udah baikan Zi?” Tanya Kenzo, yang seketika menghentikan perkelahian Sean dan Zico.

__ADS_1


“Udah kok Ken!” Sahut Zico.


“Oh! Syukurlah!” Jawab Kenzo singkat sembari menganggukkan kepalanya.


Gita melirik Kenzo, ia merasa heran dengan sikap Kenzo yang terlihat seperti tidak suka padanya, karena ia tak pernah sekalipun menegur Gita, bahkan melirik pun tidak, sangat berbeda dengan Alex dan Sean.


“Gita, lo nggak liat tuh pengorbanan Zico segitunya buat nolongin lo, udah lah cepetan jadian aja! Nggak usah pake PDKT segala, kelamaan!” tegur Alex, karena ia pun setiap dekat dengan wanita tidak pernah pakai acara PDKT, langsung to the point.


”Berisik lo!” Kali ini Zico melemparkan bantal itu pada wajah Alex, ia kasihan melihat Gita yang terlihat malu, karna pipinya merona seperti biasa.


“Udah pada main PS di bawah aja sih lo pada, nanti gue nyusul kesana.” Pinta Zico.


“Yaelah nggak mau banget diganggu sih lo!” Ejek Sean lagi.


Kenzo tidak menjawab apapun, ia hanya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zico.


“Ya udah kita ke bawah aja deh, jangan ganggu mereka!” Ajak Alex sambil tersenyum mengejek.


“Okay!” Sahut Sean tersenyum mengejek juga.


Gita dan Zico pun lebih memilih menyusul mereka ke bawah daripada dikira berbuat yang tidak-tidak di dalam kamar, menemani mereka bermain PS, Zico ikut bermain PS, sedangkan Gita hanya duduk di sofa sambil membaca Novel yang belum selesai ia baca.


***


1 bulan pun berlalu, saat pulang sekolah, Gita dan Zico sedang di apartemen Gita, Sesuai janji Gita, Zico memintanya untuk mulai mengumumkan status mereka kepada para sahabatnya.


“Sayang, kamu udah kasih tau Yolla belum tentang status kita?” tanya Zico, ia sudah tidak tahan harus berjauhan dengan Gita dihadapan Yolla dan juga para sahabatnya.


Zico pun sudah terbiasa memanggil Gita dengan panggilan “Sayang”.


Ia terkadang hampir keceplosan mengucapkan kata itu didepan Yolla dan teman-temannya, oleh karenanya ia sudah tidak sabar memberi tahu mereka.


“Sepertinya dia udah tau deh Zi, soalnya dia udah sering menyinggung masalah ini, cuma aku nya suka pura-pura nggak denger aja.” Jelas Gita, Gita masih enggan memanggil Zico dengan kata 'Sayang', dengan alasan ia takut keceplosan saat didepan yang lain, itu juga salah satu faktor kenapa Zico sangat menginginkan orang-orang tahu tentang hubungannya dengan Gita, karna ia ingin dipanggil 'Sayang' oleh Gita.


“Kamu sendiri udah kasih tahu teman-teman kamu?” tanya Gita balik.


“Udah dong.” Jawab Zico tersenyum senang.


Gita membulatkan matanya, “Lalu gimana reaksi mereka?”


“Ya sama seperti dugaan kamu ke Yolla, mereka bilang udah tau, cuma pura-pura nggak tau aja.” Terang Zico.


“Kalau tau gitu ngapain kita nggak bilang mereka ya?” Keluh Gita.


“Lho? Yang minta backstreet kan kamu!” seru Zico.


“Hmm… iya sih.” Sahut Gita, ia melanjutkan, “kalau Mommy gimana Zi? Apa Mommy sudah tau juga?”


 

__ADS_1


__ADS_2