First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kabar Baik


__ADS_3

"Ya! Giselle udah tau, Git!" jawab Sean.


"Serius? Kapan dia tau? Lo yang kasih tau dia, Sean?" tanya Gita beruntun, ia tersentak akan jawaban Sean.


Selama ini ia mengira Giselle tak tahu apapun mengenai masa lalu Sean dan Yolla, karena dirinya tak pernah memberi tahu Giselle akan hal itu.


"Nggak lah, Git! Nggak mungkin gue yang kasih tau dia!" Kilah Sean.


"Terus dia tau dari mana?" tanya Gita lagi.


"Katanya dia ... Nemuin foto lo dan Yolla, Git!" Tutur Sean hati-hati.


"Hah?" Gita menutup mulutnya yang terbuka karna terkejut dengan kedua tangannya.


Flashback On


"Lho? Kok foto ini ada di sini?" gumam Gita saat menemukan fotonya dengan Yolla yang tergeletak di lantai kamar kost Giselle.


"Hmmm... Semoga aja Giselle tadi nggak lihat foto ini, Untung aja gue yang menemukannya bukan Giselle!" Gumamnya lagi.


Flashback Off 


'Berarti Giselle yang udah nemuin foto itu sebelum gue yang nemuin.' Batin Gita.


"Sean! Jangan bilang, Giselle drop kemarin itu karena lihat foto itu?!" duga Gita.


Sean hanya diam saja menunduk tak berani menatap Gita.


"Sayang! Aku harus temui Giselle, Aku ... Aku harus jelasin sama dia semuanya," Ucap Gita pada Zico, ia benar-benar merasa bersalah atas kondisi Giselle saat ini, benar seperti dugaan Giselle, ini lah yang Giselle takutkan saat Gita mengetahui tentang hal ini.


"Git! Gue mohon lo jangan kasih tau Giselle kalau lo udah tau tentang hal ini, gue takut Giselle drop lagi karena masalah ini." lirih Sean.


Gita pun mematung memikirkan perkataan Sean.


"Iya, Sayang. Lebih baik Giselle nggak usah tau, ya?" bujuk Zico menangkup wajah Gita dan mengusap wajahnya yang sekarang ini sudah basah karena bulir dari sudut matanya yang terus mengalir.


Gita pun mengangguk setelah memikirkan kondisi Giselle, karena Kondisi Giselle memang benar-benar harus stabil sebelum menjalani operasinya.


***


Keesokan harinya Yolla menjemput Gita di gerbang asramanya.


Sekarang Yolla sudah diperbolehkan mengemudikan mobilnya sendiri oleh kedua orangtuanya, tidak di antar lagi oleh pak yadi.


Saat Gita keluar dan melihat mobil Mini Cooper berwarna Oranye yang terparkir di depan gerbang, ia sempat merasa ragu untuk menghampirinya, Yolla yang melihat keraguan Gita pun membuka jendela mobilnya dan memanggilnya.


"Git! Ini, gue!" teriak Yolla.


Gita pun tersenyum menghampiri dan masuk ke mobil Yolla.


"Mobil baru ya, La?" tanya Gita.

__ADS_1


"Hehe.. Iya, karena gue udah punya SIM jadi Papa beliin mobil ini. Padahal gue mau pake mobil yang ada di rumah aja, eh Papa malah ngotot beliin mobil ini." Jawab Yolla mengerucutkan bibirnya.


"Nggak apa-apa lah, kan lo tau sendiri Papa lo tuh manjain lo banget." Sahut Gita tertawa sembari memakai sabuk pengamannya.


"Iya juga sih, tapi kadang gue risih tau, Git. Papa tuh terlalu lebay sama gue, masa waktu 3 bulan pertama gue di sana, Papa tuh tiap bulan selama 3 bulan berturut-turut datangin gue ke sana, sampai gue ancam gue mau berhenti aja sekolah di sana, baru deh Papa nggak ke sana lagi kecuali kalau lagi ada perjalanan bisnis." gerutu Yolla.


"Hussst... Lo nggak boleh gitu, La. Lo harusnya bersyukur Papa lo masih ada di dunia ini dan sangat menyayangi lo. Coba lihat gue? Nggak ada lagi sosok Ayah yang biasa manjain gue waktu kecil, nggak enak kalau jadi gue, La." Keluh Gita tapi ia  mengulas senyumnya, sekarang ia tak lagi bersedih jika sedang mengingat mendiang kedua orang tuanya itu. Gita sudah menjadi sosok gadis yang lebih tegar saat ini, berkat Zico yang selalu mencoba menguatkan hati Gita yang rapuh itu.


"Iya juga ya, Git." Jawab Yolla.


"Iya! Makanya lo harus banyak-banyak bersyukur karena masih mempunyai orangtua yang lengkap." Imbuh Gita sambari memegang bahu Yolla.


Yolla pun membalasnya dengan anggukkan dengan seulas senyum di wajahnya.


"Oya, kita sekarang ke Mall dulu yuk, Git! Gie kangen banget udah lama nggak hang out bareng lo, nanti habis itu baru deh kita ke rumah sakit lagi ketemu Giselle dan Nadhira." Tutur Yolla.


'Gue bilang nggak ya tentang Giselle yang udah tau tentang masa lalunya sama Sean? Tapi kalau gue bilang, nanti Yolla malah merasa nggak enak sama Giselle. Ah, sepertinya gue nggak usah bilang aja deh sama Yolla!' Bukannya menjawab ajakan Yolla, Gita malah melamun memikirkan masalah kemarin.


"Hei, Git! Kok malah melamun sih? Mau apa nggak nih?" Tanya Yolla lagi sembari menepuk paha Gita.


"Oh iya! Mau lah, La! Apa sih yang nggak buat lo." Sahut Gita sambil menggelitik dagu Yolla.


"Oya, Git! Hampir aja lupa lagi! Yang ini oleh-oleh untuk lo, kalau ini untuk Giselle dan Nadhira." Ucap Yolla sembari mengambil 1 kantung paper bag besar  dan 2 kantung paper bag kecil di kursi belakang dan memberikannya pada Gita.


"Wah! Apa ini, La?"


"Itu yang untuk lo parfum sama Syal, yang untuk Giselle dan Nadhira hanya parfum."  Tutur Yolla.


"Aaah! Thankyou, My Sister." Ucap Gita memeluk dan mencium pipi Yolla. Membuat Yolla tersenyum merekah melupakan rasa sakit patah hatinya.


Tak lupa pula mereka menonton film yang sedang laris di bioskop dan juga makan siang di restoran padang pinggir jalan yang terletak dekat Mall.


Yolla sangat merindukan makanan khas-khas indonesia, terutama nasi padang yang saat ini sedang disantapnya.


Karena makanan yang ada di negara fashion tersebut kurang srek dengan lidahnya, oleh sebab itu ia menjadi langsing seperti sekarang, karena ia lebih memilih memakan salad sayur dan buah-buahan saja di sana.


Setelah selesai makan, Yolla melajukan mobilnya ke rumah sakit.


***


Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek...


"Hai, Sel!" Sapa Yolla tersenyum canggung, karena di situ sedang ada Sean yang duduk di tepi ranjang, dan kedua orangtua Giselle yang sedang duduk berdua di sofa.


"Hai, La! Sini masuk!" Sahut Giselle sambil mencari keberadaan Gita.


"Lho? Gita nya kemana, La? Kok kamu sendirian?" Tanyanya lagi.


"Gita lagi nunggu Zico di bawah, Sel!" jawab Yolla.

__ADS_1


"Selamat sore! Om, Tante.." Sapa Yolla sembari mencium punggung tangan kedua orangtua Giselle.


"Sore... Cantik sekali kamu, Nak. Kamu temannya Giselle?" Puji Ibunya Giselle.


"Ah, Tante. Bisa aja. Iya aku temen Giselle, Tan." Sahut Yolla.


Yolla pun berbincang dengan kedua orangtua Giselle.


Tak lama kemudian Zico dan Gita tiba di kamar Giselle.


"Sely, Lo udah siap kan operasi? Tadi Uncle Felix telpon, katanya beliau sudah menemukan donor yang cocok untuk lo."


Zico membawa kabar baik dari uncle nya kalau Giselle sudah mendapatkan donor yang cocok untuknya.


"Benarkah, Nak Zico?!" Seketika kedua orangtua Giselle pun berdiri mendengar kabar baik yang sudah sangat dinantikannya itu, rasa bahagia menyelimuti raut wajah mereka, begitu pula dengan Gita dan Yolla yang mendengarnya, bahkan mereka berdua segera menghampiri Giselle dan memeluknya.


"Iya benar, Om, Tante. Kata beliau, keadaan Giselle harus stabil jangan sampai drop sampai waktu operasinya tiba. Besok pagi beliau akan datang ke rumah sakit ini untuk memeriksa kondisi Giselle, dan kalau kondisinya sudah memungkinkan, Lusa beliau sendiri yang akan mengoperasinya."


"Selamat ya, Sel! Kamu sebentar lagi sehat, Sel!" Seru Gita menangkup wajah Giselle dan memeluknya lagi begitu erat.


Giselle hanya mengulas senyum dengan air mata yg mengalir di pipinya yang merona karena kebahagiaan.


"Thank's ya, Zi!" Ucap Sean sembari memeluk Zico.


Zico pun membalasnya dengan anggukkan.


Lantas Sean pun menghampiri Giselle dan memeluknya sembari menciumi pucuk kepala Giselle berkali-kali.


Yolla yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya berat, mencoba menahan rasa sesak di relung hatinya sambil tersenyum getir dan menggigiti bibir atasnya menahan agar air matanya tak tumpah.


Nadhira dan Alex yang tiba di ruangan itu pun ikut bahagia setelah mendengar kabar bahagia tersebut, Nadhira memeluk Giselle yang sudah terlepas dari pelukan Sean.


"Selamat ya, Sel! Lo bentar lagi sembuh, Sel!" Ucap Nadhira yang masih mendekapnya erat.


Setelah momen haru itu, mereka bertujuh pun sedang berbincang dan bersenda gurau di ruangan itu.


Sedangkan kedua orang tua Giselle sedang pulang ke apartemen Gita, bergantian dengan Sean untuk menjaga Giselle.


Drrrrt... Drrrrt... Drrrt...


Suara ponsel Yolla bergetar, melihat panggilan itu dari Mike, Yolla pun pamit untuk keluar dari ruangan itu.


Sekalian ia ada alasan untuk menitihkan air matanya yang sedari tadi sudah mendesak ingin keluar.


"Guys! gue pamit keluar sebentar ya, ada telpon." Pamit Yolla sembari menunjuk ponselnya dan berjalan keluar.


Sean hanya meliriknya tajam, entah mengapa ia masih tidak bisa bersikap ramah kepada Yolla seperti yang diminta Gita.


Giselle pun diam-diam memperhatikan lirikan Sean kepada Yolla yang sedang berjalan keluar.


'Kenapa Sean menatapnya seperti itu ya? Apa dia masih memiliki perasaan pada Yolla?'

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__________________________________________________________________________


__ADS_2