
"What's?" pekik Gerald terkejut, karena ternyata Gita adalah Tasya yang sangat ia lindungi saat kecil, yang membuatnya selalu merengek pada mommy nya untuk dibuatkan adik perempuan seperti Gita.
"Dia beneran Tasya, Uncle? Tasya yang imut-imut itu?" tanyanya lagi.
"Iya! dia memang Tasya yang itu!" jawab daddy Austin.
Sontak Gerald pun menghampiri Gita ingin memeluknya, tetapi dengan gesit Zico mencegahnya.
Gita hanya diam saja tak mengerti, bagaimana bisa Gerald mengenalnya? Entah mengapa ia tak mengingat sama sekali tentang Gerald. Ia hanya mengingat Zico kecil yang dikenalnya dengan nama Willi.
"Enak aja lo mau peluk-peluk Gita! Jangan sentuh dia sehelai rambut pun!" ketus Zico sambil menunjuk wajah Gerald dengan jari telunjuknya, tak ingin kekasihnya di sentuh oleh Gerald.
"Ahahaha ... telat lo baru ngomong gitu sekarang! Semalam aja gue kok yang gendong dia bawa ke rumah sakit!" ejek Gerald.
"Damn! Memang beneran dia yang gendong kamu, Sayang?" tanya Zico menatap tajam Gita.
"Lho? Aku mana tau? Kan aku pingsan! Mana aku tau siapa yang gendong aku? Malah tadinya aku kira kamu yang udah gendong dan bawa aku ke rumah sakit ini," tutur Gita.
"Oh Iya, ya!" sahut Zico.
"Salah sendiri! Di telpon nggak diangkat-angkat!" sindir Gerald.
"Zi! Gue boleh ya peluk Tasya? sekaliiiiii aja!" Gerald memohon pada Zico.
"Enggak!" ketus Zico.
"Zi! Please?!" mohon Gerald lagi.
"No!!!" sentak Zico.
"Hussssttt!!! Sudah sudah!!! Kalian ini berdua bertengkar terus! Pusing Mommy tau nggak!" omel mommy Celine.
"Kalian tuh sudah dewasa! Jangan bertengkar terus! Apa kalian nggak malu sama Tasya?" daddy Austin menimpali.
Mereka pun terdiam setelah mendengar omelan dari mommy Celine dan daddy Austin.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
"Gita!" pekik Nadhira karena senang melihat sahabatnya sudah sadar, ia pun berlari kecil dan memeluknya. Ia tiba bersama Alex .
"Giselle mana, Ra? Kok nggak ikut?" tanya Gita yang tidak melihat kehadiran Giselle .
"Dia agak sedikit nggak enak badan, Git. Jadi Sean melarangnya untuk datang ke sini," terang Nadhira dengan wajah sedihnya.
"Oh! Ya benar kata Sean, Giselle nggak perlu ke sini, biarin dia istirahat aja, soalnya dia kan baru aja pulih, nggak boleh terlalu lelah dulu," tutur Gita.
"Giselle itu pacarnya Sean, ya?" sambung mommy Celine.
"Iya, Mom," sahut Gita tersenyum.
mommy Celine menghembuskan nafas panjang.
"Hmmm ..., Sayang sekali, ya! Padahal Mommy ingin sekali bertemu pacarnya Sean," keluhnya. Ia melanjutkan, "Oya! Nanti kapan-kapan kalian semua main ke tempat kami, ya?" pinta mommy Celine sangat ramah.
__ADS_1
"Oh! Iya tante," sahut Nadhira .
"Alex! Ini pacar kamu? Kok nggak dikenalin ke Mommy?" goda mommy Celine.
"Hehe ... Iya Mom, ini pacar Alex, namanya Nadhira," tutur Alex memperkenalkan Nadhira .
"Aku Nadhira, Tante!" ucap Nadhira memperkenalkan dirinya.
Nadhira pun mencium punggung tangan mommy Celine dan juga daddy Austin.
"Kamu cantik sekali!" puji mommy Celine mengulas senyumnya, sangat berbeda dengan daddy Austin yang hanya datar tanpa tersenyum.
"Ah Tante bisa aja! Jadi malu aku!" seru Nadhira tersenyum.
'Mommynya ramah banget, eh Daddynya kok dingin banget macam kulkas, ya? Berarti Zico seperti daddynya nih!' gerutu Nadhira dalam benaknya.
"Panggil Mommy saja ya seperti yang lain, nggak usah panggil Tante!" pinta mommy Celine.
"Oh! Iya Tan ... Eh, maksud aku, Mommy! Hehe!" seru Nadhira menunjukkan barisan gigi putihnya seperti kuda.
Gita dan yang lainnya tersenyum melihatnya, kecuali daddy Austin yang memilih untuk duduk di sofa single dan membaca koran sampai tidak terlihat wajahnya karena tertutup koran yang dibukanya lebar-lebar.
"Tasya! Kamu mau apel nggak? Aku kupasin apel, ya?" tawar Gerald.
"Eng ...," baru saja Gita ingin menjawab sudah dipotong oleh Zico.
"Nggak usah, biar gue aja!" sela Zico.
Gita dan yang lainnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Memang kita pernah ketemu ya, Kak?" Gita malah bertanya balik.
"Kamu beneran nggak inget? Kamu kan dulu kalau dijahili Zico selalu mengadu sama aku!" terang Gerald.
"Masa sih, Kak?" Gita menyatukan alisnya.
"Tanya saja Aunty kalau kamu nggak percaya!" titah Gerald.
mommy Celine pun tersenyum saat Gita menatap ke arahnya.
"Itu benar, Sayang. Bahkan kamu bilang kalau kam ...."
"Mom!" panggil Zico agar mommy nya tidak mengatakan perihal tentang Gita yang ingin menikah dengan Gerald saat kecil dulu.
"Kenapa, Nak?" tanya sang mommy yang merasa dirinya dipanggil oleh putra kesayangannya itu.
"Nggak apa-apa!" kilah Zico.
"Waktu itu Tasya bilang apa, Aunty?" tanya Gerald sambil melirik Zico, ia merasa ada hal yang ingin Zico tutupi.
Seketika Zico menatap tajam sang mommy sambil menggelengkan sedikit kepalanya, sang mommy pun tertawa.
Mommy Celine mengerti maksud Zico, ia baru menyadari ternyata perihal itulah yang membuat Zico sangat cemburu pada Gerald, karena Gita tidak mengingatnya, mommy Celine pun berpikir untuk merahasiakannya saja dari Gita dan Gerald, biarkan ini menjadi rahasia Zico dan dirinya.
'Kenapa seperti ada yang disembunyikan oleh Zico dan Aunty, ya?' duga Gerald dalam benaknya.
__ADS_1
Gita mengernyitkan dahinya, merasa bingung dengan semuanya.
"Tasya!" Suara berat daddy Austin tiba-tiba menggema di dalam ruangan itu.
"Iya, Dad?" sahut Gita.
"Nanti kalau sudah boleh pulang, kamu tinggal di rumah kita!" titah daddy Austin tegas, tak ingin dibantah.
"Tapi, Dad ...," baru saja Gita ingin menolak, tapi perkataannya sudah lebih dulu dipotong oleh daddy Austin.
"Nggak ada tapi-tapi!" tegas Austin.
Gita memandang Zico memberi isyarat agar membantunya menolak kepada daddy Austin, tetapi Zico tidak mau melakukannya.
'Maaf, Sayang! Kali ini aku setuju sama perintah daddy! Aku nggak mau kalau sampai kamu ketemuan di luar sana sama Gerald!' gumam Zico dalam batinnya.
"Sayang! bantu aku ngomong sama Daddy dong!" bisik Gita.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu di rumah aku aja, biar kamu nggak telat makan lagi, Okay?!" tutur Zico tersenyum usil, ia malah sengaja mengencangkan suaranya agar didengar sang daddy.
'Nyebelin banget, Sih! Malah dikencangkan gitu suaranya!' gerutu Gita dalam batinnya sembari mengerucutkan bibir mungilnya.
"Benar kata Zico dan Daddy, Sayang. Kamu tinggal sama kita aja, ya?" pinta mommy Celine.
"Iya, Mom," Gita hanya bisa menuruti keinginan mereka, tak berani membantah lagi, apalagi mommy Celine memintanya dengan lemah lembut seperti itu.
'Yes!' Zico kegirangan dalam batinnya.
***
Keesokan harinya di mansion Zico ...
Gita sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, dan seperti permintaan Austin, Gita pun pulang ke mansion kediaman keluarga Zico, bukan ke asramanya.
"Tasya! Kamu tinggal di lantai 3 saja di dekat kamar kami!" titah Austin.
"Tapi, Dad! Kan di sebelah kamar Zico juga ada kamar," Zico berharap Gita akan tinggal di sebelah kamarnya.
"No! Enak saja! Kalau Tasya satu lantai dengan kamu, mana Daddy tau kalau tengah malam kamu tiba-tiba menyelinap ke kamarnya," tegas Austin.
"Ck.., Daddy!" gerutu Zico.
"Sudah sudah! Ck..., Kalian ini! Baru saja sampai rumah sudah berdebat seperti ini, bagaimana Gita bisa betah di rumah kita kalau kalian sering ribut seperti ini," omel mommy Celine sambil mengerutkan dahinya.
Akhirnya kedua lelaki itu pun terdiam mendengar omelan mommy Celine.
"Ya sudah, Sayang. Benar kata daddy, kamu tinggal di kamar di lantai yang sama saja dengan kami, ya?" titah mommy Celine.
"Iya, Mom," Gita menjawabnya dengan mengulas senyumnya, tapi dalam batinnya ia terkekeh karena melihat ekspresi Zico yang terlihat kesal.
'Hehe ... Rasain kamu, Zi! Pasti nggak sesuai sama ekspektasi kamu, kan?' kekeh Gita dalam batinnya.
"Hmmmmm!!!" Zico menghembuskan kasar nafasnya sambil membawa koper dan boneka Gita ke kamar yang disediakan untuk Gita.
mommy Celine dan Gita tertawa melihat Zico mengerucutkan bibirnya, terlihat seperti anak kecil yang tak dituruti saat meminta dibelikan mainan.
__ADS_1